
Seminggu kemudian, pada malam hari
Aku, Papa, dan Mama sedang makan malam
"Apa tadi kau dengar, soal pembunuhan massal satu keluarga?" Kata Papa yg membuka topik pembicaraan
Aku dan Mama terkejut
"Papa! Jangan ngomongin soal itu ketika makan!" Bentak Mama dengan halus
"Ahahaha. Maaf, maaf. Lagian gak ada topik pembicaraan apa?" Jawab Papa
Mendengar itu aku jadi mengingat masa laluku
Dulu keluargaku dibunuh oleh para petualang utusan kerajaan dikarenakan hubungan terlarang antara iblis dan manusia
Dan ya, sebenarnya aku adalah setengah iblis
Dulunya aku setengah iblis ketika menjadi raja Rex
"Andai aku punya kekuatan. Sama seperti dulu ketika aku menjadi raja Rex" pikirku
"Akira-chan! Akira-chan!" Panggil Mama
Sedangkan aku masih bengong memikirkan hal tadi
"Akira-chan!!"
"Ah iya? Ada apa?" Tanyaku yg terkejut
"Ya ampun, kamu dari tadi Mama panggil gak dijawab kenapa sih? Gak enak badan?" Tanya Mama
"Hm? Ah, tidak apa-apa kok! Cuman aku sudah kenyang" jawabku
"Kalau sudah kenyang, kamu tidur sana!" Pinta Mama
"Iya, tapi..."
"Tapi kenapa?" Tanya Papa
"Aku takut gara-gara cerita Papa tadi. Anterin donk!" Pintaku dengan manja
"Ahahaha. Akira jadi penakut" ejek Papa
Aku hanya tersenyum
"Baik, baik. Papa antar" kemudian Papa menggendongku dan berjalan menuju kamar
Setelah sampai Papa menaruhku di kasur
"Selamat malam" Papa mencium keningku
"Papa, apa tadi cerita Papa sungguhan?" Tanyaku sambil memegang baju Papa sebelum dia pergi
"Hmm? Memang kenapa? Takut ya..." ejek Papa
Aku mengangguk kepalaku dan sejujurnya aku takut kehilangan keluargaku
"Tenang saja. Papa dan Mama akan selalu melindungi Akira"
"Yg kutakutkan bukanlah ancaman terhadap diriku, melainkan terhadap Papa dan Mama" pikirku
"Lagipula berita itu hanya Urban Legend"
"Urban Legend?"
"Iya, Urban Legend? Seperti dongeng"
"Dongeng? Papa, boleh ceritakan satu dongeng? Satu saja!"
"Hmm... yakin gak takut? Karena cerita ini dari penulis novel terkenal sekarang, Realta-sensei"
"R-Realta-sensei?! Penulis novel terkenal yg katanya semua novelnya isinya kisah nyata semua?!" Aku terkejut bukan main karena Realta-sensei juga orang yg kukagumi
Ya hampir setiap waktu luang aku membaca buku novel
Sebenarnya aku sudah memahami bahasa dari dulu sebelum menjadi gadis kecil
Di hari pertama aku bisa membaca adalah di umur 4 tahunku
Papa dan Mama sempat terkejut karena aku sudah bisa membaca hingga mereka menganggapku jenius
Pada dasarnya aku memang jenius meskipun sebelum menjadi gadis kecil
Secara harfiah juga aku sudah berumur 446664 tahun ditambah empat tahun
"Benar. Jadi mau cerita yg mana?" Tanya Papa
"Bagaimana kalau 'Beside the Window'?" Jawabku
"Monster dibalik jendela ya. Terserah, asalkan jangan takut" ejek Papa
Aku pun memberanikan diri dan menangguk
'Gulp...'
Papa memulai ceritanya
"Pada waktu itu Realta-sensei sedang menyelidiki sebuah misteri. Kasus ini terjadi ketika malam hari di rumah korban. Setiap malam sang korban tidak bisa tidur, kenapa? Karena dia selalu mendengar bunyi ketukan di jendelanya..." Papa masih melanjutkan ceritanya sedangkan aku mulai takut dan mengantuk disaat yg bersamaan
"Realta-sensei mencoba untuk menginap di rumah sang korban. Malam tiba dan Realta-sensei masih belum tidur, dia begadang semalaman untuk menyelidiki kasus itu. Beberapa menit kemudian Realta-sensei mulai mengantuk dan tertidur sebentar yg pada akhirnya dibangunkan oleh suara ketukan di jendela..."
"Tuk... tuk... tuk... TUK..."
"Suaranya semakin membesar dan Realta-sensei diharuskan untuk melihatnya agar tau siapa yg sering menganggu di malam hari. Realta-sensei membuka tirai jendela dan jawabannya kosong, tidak ada apa-apa. Realta-sensei masih memperhatikan jendela itu yg ternyata memiliki jidik jari dan bekas cakaran. Realta-sensei mencoba untuk melihat dari luar dan jawabannya masih kosong, tidak ada siapa-siapa, lalu dia mendengar sesuatu..."
"Terdengar suara 'Apakah anda orang sini? Apakah anda ingin bermain atau mati?' Kata suara itu, kemudian Sensei menjawab 'aku, Realta-sensei, menginginkan kenyataan bahwa kau harus pergi dari sini' dan dari situ terdengar suara gerangan..."
"Grrrr. Setelah gerangan, suara itu muncul lagi 'memang manusia sepertimu bisa menemukanku? Tantanganmu adalah menemukanku dalam waktu 10 hari dan yg punya rumah sudah menghabiskan 9 hari 23 jam, 40 menit. Berarti kau hanya memiliki waktu 1 jam 10 menit untuk menemukanku atau kau menjadi santapan yg lezat dari ketakutanmu sendiri' lalu Realta-sensei hanya tersenyum penuh kemenangan dan menjawab 'dimana letak kau berada sudah tertulis dalam kenyataan' lalu dia..." Papa berhenti bercerita
"Kenapa, Papa? Lanjutkan donk!" Pintaku
"Sudah malam. Besok saja, ya?"
"Aaah! Curang! Jadi menyangkut ceritanya"
Kemudian Papa mencium keningku dan pergi
"Oyasumi"
Dan pada akhirnya aku pun tidur
...🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹...
Setelah lama tidur dan tepatnya sudah jam 3 pagi
Aku terbangun karena mendengar suara
'Tess... tess... tess...'
Dan suara yg sama terdengar terus
Suara itu mirip seperti suara air dari kamar mandi
Aku terbangun dan mengusap mataku
"Siapa sih yg habis ke kamar mandi gak dimatikan airnya?" Pikirku
Aku menuju kandang Arny untuk membawanya menemaniku
"Arny, temanin aku ya" kataku
Kemudian aku menaruh Arny di kepalaku dan mulai berjalan menuju kamar mandi
'Sreet'
Aku menyalakan lampu
'Tlek'
Dan di dalamnya airnya mati
"Kalau bukan kamar mandi, lalu dari mana suaranya?" Pikirku yg masih mengantuk
"Arny kamu tau dimana suaranya?" Tanyaku ke Arny
"Hah? Di kamar Papa sama Mama? Ok" jawabku sendiri
Lalu aku menuju kamar Papa dan Mama
'Kriyeeet'
Aku menyalakan lampu lagi
'Tlek'
Ternyata Papa dan Mama tidak ada
'Tess... tess... tess...'
Lalu aku mendengar suara orang sedang berjalan
'Tap tap tap'
"Itu pasti Papa" pikirku
Lalu terdengar bunyi gesekan besi
'Singg...'
"Are? Papa lagi bawa golok, ya? Buat apa ya?" Pikirku
Lalu aku mendekati suara Papa yg sedang berjalan
Ketika aku dekat dengannya, masih mengantuk aku memeluknya
"Papa, temenin aku tidur donk!" Pintaku ke Papa
Dan Papa masih belum menjawab
"Papa? Papa kena-" aku terdiam membeku melihat orang yg kupeluk bukanlah Papa
Wajahnya tak terlihat, hanya tertutup kegelapan, dan mata kirinya bersinar terang warna biru
Lalu dia mengangkat tangannya yg memegang senjata pedang katana
Aku masih terdiam takut melihatnya
Orang itu mengayunkan pedangnya untuk menyerangku
Arny menggigit rambutku yg membuatku sadar dan menghindar
"H-hampir saja! Terima kasih Arny" lalu aku lari ke ruang tamu
Entah kenapa Arny menjadi liar dan menggigitku
"S-siapa orang itu? Papa, Mama, dimana kalian?"
Ketika aku sampai di ruang tamu, aku terdiam melihat dua orang tuaku berlumuran darah
Pandanganku berubah menjadi pandangan kosong
Aku terduduk menyaksikan mayat mereka berdua
Dan suara air itu berasal dari suara mayat Mama yg tergantung di tembok
"Pa... pa, Mama..." air mataku mulai mengalir
"Papa!! Mama!!" Aku mendekati mayat mereka
"PAPA! MAMA!!" Teriakku sambil menangis
"Untuk ukuran anak kecil, kau memang mengerti kesedihan dan rasa kehilangan, ya?" Kata pembunuh itu dengan nada datar
Aku menoleh ke belakang dengan perasaan marah bercampur sedih
"KAU!!! KAU AKAN MENERIMA AMARAH RAJA IBLIS REX!" Teriakku
"Raja iblis Rex? Apa kau semacam makhluk reinkarnasi?" Tanya pembunuh itu
"A-apa?! Dia kok tau aku ini bereinkarnasi?" Pikirku
"Pantas saja keluarga Kawasaki tidak terdaftar dalam sejarah" lanjut si pembunuh
Sejujurnya aku tidak mengerti apa yg sedang dia bicarakan
Aku berlari hendak memukul si pembunuh dengan bogeman terkuatku, meskipun ujung-ujungnya setara dengan manusia biasa
"Terlalu lambat, gaki" pembunuh itu menghindari pukulanku
Aku terus memukuli dia, meskipun hasilnya tidak ada yg kena
"Memukul itu seperti ini" pembunuh itu memukulku tepat di wajahku tanpa pandang bulu
'BUG'
Aku terhempas jauh hingga menabrak tembok yg menyebabkan retak
"GHAK" mulutku keluar darah akibat benturan keras di belakang
Dan perlahan kesadaranku mulai hilang
Buram, pusing, sakit, dan mengantuk itu yg kurasakan
Papa, Mama, maafkan aku yg sudah tidak bisa melindungi kalian
Aku merasa gagal sebagai Rex dan gagal sebagai anak
Pembunuh itu perlahan mendekatiku
"Andai saja aku bisa lebih kuat" pikirku sebelum hilang kesadaran
...🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹...
Aku tidak tau pasti sudah berapa lama aku pingsan
Aku mulai bangun dan melihat langit-langit
"Dimana ini?" Pikirku
Lalu aku mulai duduk dan melihat sekitar
Di samping kanan ada jendela yg memperlihatkan pemandangan pagi hari yg cerah
"Apa aku di rumah sakit? Siapa yg membawaku?" Aku mempertanyakan diriku sendiri
"Aku yg membawamu" dari arah pintu muncul pria berambut putih yg tidak asing bagiku
"P-paman papanya Rio-chan?!"
Ya dia adalah Papanya anak yg bernama Mario Vince yg kutemui waktu itu
Lalu dia duduk di samping ranjangku, dan melipat tangannya
"Aku menemukanmu tidak sadarkan diri di rumah setelah polisi menyelidiki kasus pembunuhan keluarga Kawasaki. Yg terselamatkan hanyalah seekor hamster yg ada di kepalamu waktu itu" kata Papanya Rio-chan
Lalu aku tertunduk dan mulai menangis karena teringat kejadian tadi
"Kau sempat di operasi karena mengalami luka yg parah di bagian luka belakang. Yare yare, kau memang anak yg kuat, ya"
"Kuat? KUAT KATA PAMAN?!! Aku kehilangan orang tua dan mengalami luka yg parah akibat kecerobohanku, KUAT PAMAN BILANG?!!" Bentakku
Papanya Rio-chan hanya terdiam
"Soal kematian orang tuamu bukan salahmu, tapi soal kau mengalami luka yg parah hingga di operasi itu tentunya salahmu. Kalau kau tidak melawan pembunuh itu dan lari kau tidak akan seperti ini" jawab Papanya Rio-chan
"Maaf untuk mengatakan ini, tapi kau tidak bisa berjalan untuk sementara waktu. Tulang belakangmu terluka parah akibat benturan keras dan perlu di operasi lagi. Semua itu di biayai oleh perusahaan Vince, milik Mamanya Rio"
Aku masih terseduh-seduh sambil mendengarkan
Papanya Rio-chan mengelus kepalaku
"Tenang saja, suatu saat kau pasti menemukan siapa yg membunuh orang tuamu. Bangkai akan tercium juga pada akhirnya" katanya tanpa senyuman atau ekspresi apapun
"Untuk sementara waktu aku akan merawatmu sampai sembuh"
"Hiks... paman tidak mengurus Rio-chan? Hiks..." tanyaku yg masih menangis
"Kan masih ada Mamanya Rio" jawabnya
"Tapi aku akan menemukan pembunuh itu dan balas den-"
'BRAKK'
Papanya Rio-chan menggebrak meja
"Yg kau pikirkan hanya balas dendam. Apa setelah balas dendam kau akan merasa puas? Apakah itu akan membuat orang tuamu tenang? Pikirkan dulu sebelum bertindak!" Potong Papanya Rio-chan sambil menunjuk ke arahku tanpa ekspresi marah
Matanya melihat ke arahku tanpa ekspresi benci, suaranya juga tidak lantang dan terdengar kasar, dia benar-benar seorang ayah yg cocok untuk Rio-chan
"Dan lagi, jangan panggil aku Paman! Panggil aku DAN-san atau apalah!" Pintanya
Lalu aku mengangguk kepala menandakan "iya"
Mulai sekarang, aku bersumpah, aku akan menemukan pembunuh itu dan membunuhnya, meskipun ini bertentangan dengan permintaan Papanya Rio-chan
"Membunuh seorang pembunuh tidak membuat jumlah pembunuh di dunia ini berkurang" katanya
...To Be Continued......