
Semenjak menguasai kegelapan, aku terus dilatih oleh ayah
Aku yg dilatih dan bukan Rex
Semenjak menguasai kegelapan, aku juga menjadi seorang yg ambisius
Cita-citaku sekarang adalah menjadi
Tapi, mimpi utamaku adalah menemukan Silence Killer dan membunuhnya
Sekarang aku sedang di sekolah
Aku sedang duduk bertiga bersama Rio-chan dan Sakura-chan
"Hey, kalian berdua tau Silence Killer?" Tanyaku
"Oh, maksudmu salah satu pembunuh dalam karya Realta-sensei? Tentu tau" jawab Rio-chan
"Bener. Konon katanya dia itu nyata, loh" lanjut Sakura-chan
"Kau bagaimana, sih? Semua karya Realta-sensei itu nyata, tau! Bahkan Papa juga menjadi salah satu ceritanya" kata Rio-chan
"HEH?! Benarkah?!" Tanya aku dan Sakura-chan
"Benar loh, nama bukunya Time Demon. Aku tidak mau spoiler, kalau mau baca di rumah ada" jawab Rio-chan
"Rumah? Benarkah? Ah, jadi tidak sabar mau baca" kataku yg semangat
"Hei! Aku juga pingin baca!" Kata Sakura-chan
"Boleh saja. Nanti ke rumahku" jawab Rio-chan
"Kalau Silence Killer? Aku pingin tau dia seperti apa" aku penasaran
"Silence Killer, ya? Dia adalah pembunuh berantai yg tidak kenal ampun, bahkan dia akan membunuh anak kecil kalau dia akan menjadi sanksi mata. Yg membuatku kagum padanya adalah cara dia melakukan pembunuhannya tidak pernah terdengar suara sedikit pun, bahkan dia sendiri juga tidak pernah mengeluarkan suara saat membunuhnya. Hihihehe" jelas Rio-chan
Aku dan Sakura-chan saling berpelukan karena takut
"R-Rio-chan, seleramu itu..." kataku
"Sungguh menyeramkan" lanjut Sakura-chan
"Ahahaha~ bercanda, bercanda. Tentu saja yg kusuka adalah Time Demon alias Papa" kata Rio-chan sambil tertawa
"Kalau kau, Sakura-chan. Ayahmu pernah menjadi salah satu karya Realta-sensei?" Tanyaku
"Hmm... kalau tidak salah judulnya Youth Hero. Pak tua disana masih kecil, mungkin dengan ayah kalian seumuran. Ceritanya tentang Realta-sensei yg bertemu pak tuaku ketika masih berumur 13 atau 14, entahlah. Waktu itu pak tua kalau tidak salah baru dapat kekuatannya" jawab Sakura-chan
"Kau ini... bisa tidak berhenti memanggil ayahmu 'pak tua'? Itu tidak sopan tau" perintahku
"Hmph! Apa urusanmu dengannya? Dia pak tuaku bukan pak tuamu" jawabnya yg benar-benar membuatku jengkel bukan main
"Bocah ini! Alasan aku ingin menguasai dunia ini adalah menghukum bocah seperti ini" pikirku
"Oi, Akira! Apa yg baru saja kau pikirkan!" Kata Rex yg membuatku tersadar
Aku langsung menggelengkan kepalaku
"Gadis aneh, kau kenapa?" Tanya Sakura-chan
"Ne, Sakura-chan. Apakah Yami-mu punya efek samping?" Tanyaku balik
"Membuatku selalu marah, mungkin efeknya" jawabnya
"Begitu, ya. Kalau kau Rio-chan?" Tanyaku ke Rio-chan
"Membuatku selalu senang, karena Papa selalu menyuruhku untuk selalu bahagia" jawabnya
"Begitu, ya. Efekmu sangat enak" kataku
"Memangnya kenapa, gadis aneh?" Tanya Sakura-chan
"Tidak, tidak apa-apa" jawabku menunduk
"Sama seperti panggilannya. Gadis aneh pastilah aneh" kata Sakura-chan yg kini membuatku benar-benar muak
"Hei, jaga ucapanmu terhadap saudariku!" Kata Rio-chan
"Hah! Bukan saudari kandung kenapa kau membelanya?" Lanjut Sakura-chan yg membuat seisi kelas mendengarnya
Rio-chan langsung menarik kerah seragamnya
"Jaga ucapanmu, malink kundang!" Kata Rio-chan
Bel masuk berbunyi di saat yg tepat
Rio-chan segera melepaskan Sakura-chan
"Kalau Papa dan Deku-san tidak berteman, maka kau sudah habis dati awal" ancam Rio-chan
"Sudah kuputuskan, anak ini harus kuberi pelajaran" pikirku
"Akira, sadarlah dengan apa yg baru saja kau pikirkan!" Perintah Rex
"Berisik, Rex! Aku tidak menerima perintah darimu!" Tolakku
"A-Akira-chan, kau tidak apa-apa? Jangan dengarkan si belatung ini, percaya pada saudarimu sendiri. Ya?" Kata Rio-chan dengan nada khawatir
Aku mengangguk tanpa menunjukkan wajahku
"Syukurlah..." katanya lega
"Yeah, syukurlah dia tidak kuhancurkan sekarang" pikirku
"AKIRA!" Teriak Rex
...🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹...
Sepulang sekolah, seperti biasa aku pasti dijemput Angelo
"Hmm... entah kenapa aku tidak ingin dijemput hari ini" kataku
"Heh? Menangnya kenapa, maou-sama cilik?" Tanya Angelo
"Yah... kalian tahulah akhir-akhir ini aku sering latihan dengan ayah. Aku ingin mengasah kemampuanku dengan berlari cepat dari sini sampai rumah" jawabku
Rio-chan tersenyum mendengar jawabanku
"Baiklah, bagaimana kalau kita adu balap lari dari sini, kemudian mengelilingi dunia sampai rumah?" Tantangnya
"Muka gila. Kejauhan! Mending dari sini, keliling Jepang, lalu kembali ke rumah" usulku
"Boleh!" Terimanya
Lalu aku dan Rio-chan mengambil ancang-ancang
"H-hei, kalian berdua! Tuan bilang tidak boleh terlalu mencolok di depan publik soal kekuatan kalian!" Kata Angelo
"Tenang saja. Kami tidak akan terlihat kalau kami terlalu cepat" kataku
"Hadeh... aku akan dipecat soal ini" gumam Angelo
'WHOOOOOSH!'
Kami berdua mulai berlari sampai-sampai kaca mobil pecah, mengeluarkan gelombang yg sangat dahsyat, bahkan sampai membuat angin yg sangat kuat
Ketika sedang berlari, aku melihat Rio-chan yg tidak nampak serius
"Kalau pakai Time Belt disini, waktunya tidak tepat. Ini balapan bukan pertarungan" pikirku
Dia semakin menjauh ke depan dariku
"Apakah pergerakanku yg melambat? Atau dia terlalu cepat?" Pikirku
Aku mulai mengambil nafas dan menenangkan diri
"Ingat kata ayah, harus tenang. Aku tidak boleh kalah darinya" aku mulai menghela nafas
Pergerakanku semakin kencang
Aku hampir mendekatinya
Lalu, tanpa kusadari, kita sudah sampai dirumah
Meninggalkan Rio-chan sebagai pemenang
"Yaaay! Aku menang! Yay!" Serunya sambil melompat-lompat kegirangan
"Aku kalah dalam kontes, tapi tidak akan kalah dalam pertarungan"
Rex's POV
Anak ini... dia semakin terobsesi dengan kekuatan
Sial! Karena dia sudah menguasaiku, aku tidak bisa bertukar tempat dan mengendalikannya
Akira... ada apa denganmu?
Dimana Akira yg polos yg pernah kukenal?
Kalau ini karena aku ditakdirkan menjadi Yami-nya dan Yami-nyalah yg membuat dia seperti ini, maka itu semua salahku berarti
Andai kau penurut seperti dulu, Akira
"Ne, Rio-chan, nanti kita tanding uang, ya" tantangnya
"Hmm? Masih mau menandingi kecepatan cahaya?" Tanya Rio-chan
"Tidak. Kita tanding kekuatan saja"
"Heh heh~ boleh. Kalah jangan nangis, ya"
Tidaaaaak, Rio!
Kau jangan memanas-manasinya dulu
"Apanya yg tanding ulang?" Tanya ayah yg muncul dibelakang
"Ah, tidak. Akira-chan ingin duel denganku, katanya untuk melihat perkembangan" jawab Rio
"Hmm... aku tadi lihat kalian berdua sedang adu balap lari di jalanan. Kalian tau seberapa sembrononya itu?" Ayah sepertinya memarahi mereka berdua
Mereka berdua langsung menunduk dengan rasa bersalah, tidak untuk Akira
"Kalau kalian tersandung dan terluka bagaimana? Kalau kalian bisa ditangkap bagaimana? Kalau kalian mengundang pengguna Yami yg tidak bertanggung jawab bagaimana? Pikirkan dulu sebelum bertindak!" Kata ayah yg mungkin memang memarahi mereka berdua
"Maafkan kami..." jawab mereka berdua
"Kalau aku tidak menahan ambisiku dan menghajarmu bagaimana, a-y-ah?!" Pikir Akira
Ya ampun... anak ini sudah kehilangan akalnya
Apakah ini efekku?
Rio bilang perasaan Yami dan penggunanya akan menyatuh, itulah efeknya
Tapi yg kumau hanya keadilan dan dendam untuk Silence Killer
Apa masa laluku itu efeknya?
Waktu aku dulu masih kecil, ambisiku adalah menguasai kerajaan dan meneruskan kisah raja iblis
Tapi sekarang aku tidak punya ambisi semacam itu
"Ayo masuk. Makanan sudah siap" kata ayah yg kemudian masuk duluan
Mereka berdua mulai mengikutinya
"Akira, sebenarnya apa yg terjadi padamu?" Tanyaku
"Eh?! Kenapa? Apa yg akhir-akhir ini kupikirkan? Apa yg terjadi padaku?" Akira mulai sadar?
"Akira-chan, kau tidak apa-apa?" Tanya Rio
Akira mulai memegangi kepalanya
"Ghg! GHG!" Kepalaku juga sakit
I-ini... rasa sakitnya menyatu
"S-sakit...! Kepalaku sakit, mataku sakit!" Rasa sakitnya kita rasakan bersama
"Akira?" Ayah mulai tersadar
Kami berjalan menuju ayah sambil menahan sakit
"A-ayah! S-sakit...! SAKIT!" Tangisnya
Ayah langsung memegangi kami
"Akira, Rex, kalian kenapa?!" Tanya ayah
"Ayah ini bukan... GHG! Saat yg tepat untuk mempertanyakan itu" kataku memakai tubuh Akira
"Aku juga pernah mengalami ini. Mataku sakit, itu juga karena suatu alasan, tapi kalian... aku tidak paham" kata ayah
Akira masih terus menangis kesakitan
"Ayah...! Sakit!" Rintihnya
"Ayah, utamakan Akira... aku juga kesakitan, tapi biarkan Akira selamat dulu" kataku
"Aku paling tidak kuat melihat orang yg kusayangi tersakiti. Rio, panggil Mamamu! Suruh dia ke kamarmu!" Ayah menggendong kami dan langsung lari ke kamarku
Sesampainya disana, ayah langsung membaringkan kami di kasur
"Akira, Rex, bertahanlah!" Katanya sambil memegang tangan kami
Tangannya besar juga lembut
Kami berdua sempat tenang, tapi sakit di mata dan kepala timbul lagi
Akira memegang mata kanannya yg sakit lalu mengeceknya
Betapa terkejutnya kami melihat mata kami mengeluarkan darah
"Ayah... apakah kami akan baik-baik saja?" Tanya Akira
"T-tenang saja! Kalian berdua akan baik-baik saja!" Jawab ayah dengan gugup, tapi wajahnya masih tidak menunjukkan ekspresi apapun
Baru pertama kalinya aku melihat orang yg cemas dengan wajah yg datar
Lalu, ibu datang bersama Rio disaat yg tepat
"Akira-chan!" Katanya dengan panik
Lalu dia menyentuh kepala kami dengan lembut, dan cahaya muncul dari tangannya
"Kau tau penyebabnya?" Tanya ibu ke ayah
"Kau yg punya pengalaman yg sama harusnya tau, dong!"
"Kenapa kau mengatakan seloah-olah aku tau segalanya?"
Rio menarik baju mereka berdua sambil menangis
"Mama... Papa... jangan bertengkar... aku tidak mau Akira-chan terluka, aku juga tidak mau kalian bertengkar... hiks" katanya
"Rio..."
Mereka berdua terdiam
Aku terdiam karena sensasi ini...
Sensasi penuh kehangatan dan kelembutan
Kami perlahan mengantuk dan akhirnya tertidur
Akira's POV
Gelap... sunyi... sepi...
Sama seperti mimpi-mimpiku sebelumnya
Awalnya selalu sama
Aku memutuskan untuk berjalan-jalan di tempat hitam tanpa ujung itu
Hingga akhirnya aku menemukan anak kecil berambut putih
Aku mendekati anak itu
Aku sampai di belakangnya
Dia berbalik
Tunggu, dia tidak asing bagiku
Oh, iya, dia juga aku
Bedanya dia bertanduk di dahinya dan berambut putih
"Akira? Kau kah itu?" Tanya diriku sendiri ke... aku?
"I-iya. Kau siapa?" Tanyaku balik
"Aku? Aku Rex tau!" Jawabnya
"EHHHHHHH?! REX?! Tidak mungkin! Rex kan cowok kerempeng, penyekitan, kurang gizi, dan tua!" Kataku
"Oi, oi! Aku sendiri juga baru sadar kalau tubuh kita sama, meskipun beda jiwa" jawabnya
"Jadi, kenapa kita di sini?"
"Hmm... mungkin ini alam bawah sadar kita. Ngomong-ngomong, Akira. Kenapa tadi kau sangat berbeda" omongannya mulai terdengar serius
Aku hanya menunduk
"Seakan tadi itu bukan dirimu. Haus akan kekuataan, kekuasaan, dan kepuasan pasti bukan dirimu. Akira yg aku kenal adalah Akira yg polos, lugu, baik hati, penyabar, bersahabat, dan sangat mencintai hewannya. Dan yg tadi bukan Akira" kata Rex yg semakin serius
"Kau tau, Rex, itu semua memang bisa dibilang efek dirimu. Tapi aku tidak menyalahkanmu. Itu akibat karena keinginanku untuk menemukan Silence Killer dan menjadi lebih kuat darinya, itu hanya ke egoisanku" jawabku
"Itu baru Akira yg kukenal!"
"Aku juga dari dulu ingin bertemu dengan orang yg ada di dalam tubuhku ini. Aku ingin melihatnya dalam wujud apapun. Kesenangan yg kita lewati, kesialan, keseruan tidak ada maknanya tanpa orang yg di dalam tubuhku ini. Orang itu pastinya orang yg dari awal kuanggap seperti saudaraku sendiri. Nama orang itu Kawasaki Rex! Dan temannya Kawasaki Akira!" Mendengar itu Rex mungkin terharu
Aku melihat wajahnya, dia hanya terdiam dengan tatapan bingung
Dia langsung memelukku sambil menangis bahagia
"Terima kasih, Akira. Terima kasih atas semua yg kita lalui" dia perlahan menghilang
"Rex? Kau kenapa? Tubuhmu..." aku hanya menyaksikan tubuhnya menjadi butiran cahaya
"Aku sudah tidak lagi menjadi Yami-mu. Aku menjadi bagian dari tubuhmu, kekuatanku masih tersimpan di dalam tubuhmu. Sekarang adalah terakhir kalinya kita bertemu, Akira"
Aku juga memeluknya balik sambil tersenyum
"Petualangan kita selama ini sudah cukup menyenangkan. Terima kasih, Rex" kataku
"Terima kasih juga, Akira. Selamat tinggal, Akira" itulah kata-kata terakhir Rex sebelum menghilang menjadi butiran cahaya
Ruang yg serba hitam tadi menjadi putih
Aku menutup mataku
Aku merasakan ada yg tumbuh di dahiku, itu adalah tanduk Rex
Kekuatan kita sekarang menjadi satu
Aku akan selalu merindukan Rex, aku juga tidak akan melupakanmu Rex
Mulai sekarang tidak ada Rex dan Akira
Sekarang hanya Akira!
Aku membuka mataku dan yg kulihat pertama adalah plafon rumah
Aku mulai duduk
Disampingku ada Rio-chan yg sedang tertidur pulas
"Jam berapa ini?" Gumamku
"Sekarang? Sekarang jam 9 malam dan kau harus tidur" suara ibu dari ujung ruangan
Yap, itu ibu dan dia mulai mendekatiku dan duduk di kasur di dekatku
"Ibu? Sejak kapan?" Tanyaku
"Sejak kau tidak sadarkan diri. Apakah itu tanduk?" Ibu menunjuk tandukku
"Benar. Rex sudah tidak ada dan sekarang hanya aku sendiri"
"Kau tidak sendiri kok. Kau masih punya ayah, ibu, Rio-chan, dan siapa yg melupakan Arny?"
"Apakah itu berarti Rex menjadi Hikari?"
"Heh heh~ tentu tidak. Hikari itu datang entah dari mana dan sifat Hikari biasanya membantu bukan memberi kekuatan. Kalau Yami datang dari sisi gelap bulan"
"Tapi kata ayah..."
"Ayahmu itu belum tau soal itu"
"Ibu... apakah ibu tidak kerepotan mengurus anak di usia yg masih muda?"
"Bagaimana, ya? Dibilang susah juga tidak. Aku lebih bersyukur ketika mengurus anak karena mereka adalah hartaku paling berharga dan dosa terbesar adalah merusak harta itu"
"Bukannya itu kata-kata yg pernah diucapkan ayah?"
"He he~ karena dia aku akan berjanji untuk membuat Rio-chan tetap ada. Sudah tidur lagi, kau perlu istirahat"
Aku mulai membaringkan badanku
Ibu mengelus kepalaku
"Selamat malam" dia mencium pipiku
Lalu dia keluar dari kamar
"Bagaimana keadaannya?" Aku mendengar suara ayah yg diluar kamar
"Dia tidak apa-apa kok. Hanya dia menumbuhkan tanduk" jawab ibu
"Eh? Tanduk? Hmm... sepertinya dia berevolusi"
"Hehehe~ mereka berdua co cweet" aku mulai tidur lagi
Paginya
"Akira-chan, bangun!" Rio-chan mulai menari-nari disampingku membuat kasurnya bergoyang-goyang
Aku bangun dengan terpaksa
"Iya, iya! Aku bangun! Ya ampun..." kataku dengan tidak semangat, tapi tetap dengan senyuman di pagi hari yg cerah ini
Tidak, tidak cerah
"Apa ini hanya aku atau memang hujan di luar?" Tanyaku yg mendengar suara hujan
"Tidak. Memang hujan dilua- WOAAH! Apa itu tanduk?" Tanyanya balik yg terkejut melihat tandukku
"Terkejut? Aku juga" jawabku
"Tidak, tidak juga. Aku sudah sering melihat Papa berubah-ubah wujud. Tapi tanduk itu, aku suka"
Aku membuka kandang Arny dan mengambil Arny
"Yo-ohayo! Arny" kataku sambil mengelus bulu lembutnya
"Ah, ah, jadi pengen punya peliharaan hamster" kata Rio-chan
Papa mulai memasuki kamar
"PAPA! Aku ingin hamster!" Pinta Rio-chan
"Buat apa? Arny kan juga hamstermu" jawab ayah
"Weh?! Enak aja berbagi! Ini penanggalan berhargaku, tau!" Bantahku
Rio-chan mulai mencubit pipiku
"Berbagi, dasar pelit!"
Aku mencubit pipinya balik
"Berbagi itu komunis, boneka salju!"
Arny melompat ke kepalanya Rio-chan
Kami berhenti cubit-cubitan
"Heh? Lihat! Dia suka aku!" Serunya dengan senang
"Ya, kalau pinjam tidak apa-apa" kataku
"Ampun, dah. Dasar anak-anak" gumam ayah
"Oh, iya. Kita tidak sekolah?!" Tanyaku
"Kalian berdua sepertinya tidak bisa sekolah dulu. Kalian tau alasannya, kan?" Jawab ayah
"Hujan?" Kata Rio-chan
"Ijazah SMA?" Kataku
"Bukan. Tapi... tunggu, bulan apa ini?" Tanya ayah
"Maret" jawab kami berdua
"Oh, iya, karena wabah" katanya
"Wabah Covid-20?!" Tanyaku
"19!" Jawab Rio-chan
"Ya, dan sementara kalian berdua jangan keluar rumah dulu" perintah ayah
"Siap!" Jawab kami berdua g
"Papa, hujan-hujan begini enaknya cerita horor" usul Rio-chan
"EH?! HOROR?! Tidak, ah! Aku takut!" Kataku
Ya, aku memang trauma dengan hal-hal berbau horor
"Hmm? Apa-apaan ini? Takut? Takut hanya kepada yg maha kuasa" kata ayah
"Tau, nih Akira-chan! Penakut...! Hehehe~" ejek Rio-chan
"Mmm! Mou! Terserah lah!" Jawabku
Ayah mulai duduk di kasur
"Baiklah. Cerita apa?" Tanyanya
"Time Demon!" Serentak aku dan Rio-chan
"Buat apa cerita itu, kalau kau sedang berhadapan langsung dengannya?" Tanyanya
"Yah... karena ayah itu sumbernya, jadi aku ingin lihat dari perspektif penjahat utama cerita itu" jawabku
"Hmm... baiklah, akan kuceritakan"
"Yaaay!" Seru kami berdua
"Ini akan sedikit lebih singkat dari yg buku. Jadi waktu itu, beberapa bulan setelah kejadian Time Disaster, Yami-ku memberitahuku kalau ada masalah dalam sejarah. Katanya ada gadis yg sudah mati, tapi malah hidup lagi karena sejarahnya berubah dan aku ditugaskan untuk mengembalikan gadis itu ke tempat asalnya"
"Waktu itu aku belum kenal dengan Realta-sensei, karena aku bukan membaca novel horor. Aku kemudian menemukan orang yg dimaksud. Dia bersama pria yg sebenarnya Realta-sensei itu sendiri. Aku menemuinya di cafe yg biasa kita kunjungi, yaitu 'Mizu-Basho' kalian tau sendiri, kan?"
"Setelah kuselidiki, gadis itu ternyata kakak dari Realta-sensei yg sebenarnya sudah mati bertahun-tahun silam. Yap, aku seperti melihat hantu. Kemudian aku mencoba untuk membawanya kembali kepada kematian. Mungkin ini terdengar jahat, tapi kalau di dalam sejarahnya sudah mati maka jadilah. Sejarah rusak dapat membuat dunia rusak dan Yami semakin menguasai dunia"
"Aku memulai aksiku di malam hari, karena itu adalah waktu dimana orang lain tidak bisa melihat kesalahpahaman. Aku selalu mengikuti kemana Realta-sensei pergi dan sampai di sebuah rumah. Itu adalah rumah miliknya Realta-sensei yg berada di Tokyo juga. Aku mulai masuk ke rumahnya melewati jendela dengan diam-diam layaknya ninja"
"Daripada ninja, dia mirip pencuri" pikirku sambil menatapnya bingung
"Tapi, teknik ninja-ku kurang sunyi hingga akhirnya aku ketahuan. Belum sepenuhnya ketauhan, tapi mereka tau aku datang. Aku langsung mematikan semua energi listrik yg ada di rumah itu dengan menyerap energi menggunakan Yami dan membuat rumah itu gelap. Inilah saat yg tepat bagiku. Aku perlahan mendekati mangsaku yg buta karena gelap. Aku dapat melihat dalam kegelapan berkat mata kiriku. Aku sampai di belakang kakaknya Realta-sensei dan siap memenggal kepalanya. Tapi Realta-sensei sudah mengetahui keadaaanku"
"Dengan cepat dia menulis sesuatu. Tepat setelah itu, tubuhku berhenti bergerak. Itu adalah kesempatan mereka untuk lari. Mereka berlari di dalam kegelapan, dimana aku bisa melihat kemana arah mereka pergi. Aku mulai bisa bergerak setelah mereka jauh dari penglihatanku"
"Aku mulai mengikuti arah mereka pergi yg di mana mereka menuju sebuah kamar tidur. Aku sampai disana dan yg kulihat hanyalah jendela yg terbuka. Kalian kira aku tau mereka sudah kabur? Oh, tidak. Aku tau mereka mencari cara untuk kabur lewat jalan lain, jadi aku mulai mengacak-acak kamar itu dengan menghancurkan seluruh isinya. Umumnya di cerita horor, para protagonis bersembunyi di bawah kasur, jadi kutusuk-tusuk kasur yg ada di kamar itu dari arah atas. Itu sudah cukup membuat siapapun bersembunyi dibawahnya terlalu takut dan teriak"
"Sudah berkali-kali kulakukan itu, tapi tidak ada suara sedikit pun. Aku akhirnya mencoba untuk mengangkat kasur itu. Usahaku ditahan oleh Realta-sensei yg memukulku dengan sangat kencang dan membuatku cukup tergeser jauh. Pukulan itu tidak ada rasanya, karena memang kalian tau sendiri. Aku membuka portal dibelakang Realta-sensei dan memukul Realta-sensei agar masuk kedalamannya. Setelah Realta-sensei masuk, kakaknya keluar dari persembunyian dan ikutan masuk. Tambah kerjaan, aku diharuskan masuk untuk menghajar mereka. Well, to be continued..."
"Ah...! Ayolah, Papa! Lanjutkan lagi!" Kata Rio-chan
"Iya, tanggung banget!" Lanjutku
"Hah... aku tidak mau meneruskannya, karena kelanjutannya sedikit sadis dan kalian masih kecil. Jadi jika kalian mengizinkanku, maka aku akan pergi" ayah lalu berdiri dan langsung pergi
"Kau tau artinya karantina, Akira-chan?"
"Pfft... entahlah"
"Masuk akal"
...To Be Continued......