
Aku sedang berjalan di lapangan rumput hijau yg luas
Begitu damai dan tentram tanpa ada suara bising apapun
Baru berpikir seperti itu, petir mulai menyambar dari langit
"Astaga dragon!" Gumamku kesal
Kemudian aku mulai berlari ke sebuah pohon untuk berteduh
Sebelum aku sempat berlari, aku melihat ada yg turun dari langit
"AKIRAAAAAAAAAAAAA..." teriak suara yg dari langit yg semakin mendekat
Tunggu, semakin mendekat?
Muncul seseorang yg meluncurkan tendangan dari langit
Aku pun berlari tapi...
"Kok, lariku lambat?!" Aku pun bingung
Benda itu semakin dekaaaaat
Dia menendekati wajahku dan...
Aku terbangun dengan kaki di wajahku
"Rio...!" Gumamku kesal
Aku menyingkirkan kakinya, tapi belum beberapa saat kakinya di wajahku lagi
"Grr...! Kujadikan mochi nih orang!" Kekesalanku mulai tak tertahankan
...🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹...
Matahari mulai bersinar dari balik jendela, tanda sudah pagi
Dari tadi aku masih bangun sambil melipat tanganku dan duduk di kasur
Rio baru bangun dan mulai mengusap-ngusap matanya
"Selamat pagi, Akira" sapanya
"Iya, selamat pagi" jawabku yg marah
"Kau sudah bangun dari tadi?"
"Aku sudah bangun dari jam 3 tadi"
"Hebat, ya"
"Iya, hebat. Kalau tidak diinjak tadi aku juga bakalan tidur lebih lama"
"Hah? Ooh... hehehehe. Mangap"
"Iya, mangap yg lebar biar TAK codotin LILINNYA dr. Qwerty sini!"
"Hahahaha! Maaf, maaf. Sudah, ayo kita mandi dulu" Rio mulai beranjak dari ranjangnya
Aku juga
Rio mulai berjalan duluan, tapi kuhentikan dengan menghalanginya dengan lenganku
"Biar aku yg mandi dulu" kataku sambil senyum sok keren
"Eh...? Biasanya kan kita mandi bareng" kata Rio dengan bingung
"Siapa bilang? AKU MAU MANDI SAMA IBU!" Aku berlari duluan dengan kencang
"Tu- CURANG!" Rio mulai mengejarku
Aku sudah sampai duluan dan langsung membuka pintu kamar mandi
"IBU! Aku mau mandi bareng!" Seruku
Tanpa pikir panjang, aku langsung jebur ke bathub
"AAAAH!!! Akira curang!" Umpat Rio yg kesal
Aku menertawainya
"Kalian jangan bertengkar!" Suara seorang pria malahan yg terdengar
Aku tersadar kalau suara itu adalah suara ayah
"A-ayah?!"
"Kenapa Papa?" Tanya Rio
"Mama-mu sudah selesai mandi dari tadi" ayah berdiri
"Ayah, udahan?" Tanyaku
"Iya. Kalian yg akur" ayah keluar dari kamar mandi
Rio akhirnya masuk ke bathtub dan mandi bersamaku
"Rio, mulai malam ini kita harus menjaga jarak antara zona tidurku dan tidurmu!" Kataku
"Untuk apa?" Tanyanya
"Karena setiap jam 2 aku selalu mendapat mimpi buruk tentang kau jatuh dari langit dan menimpaku"
"Ahahaha. Itu tanda"
"Tanda apa?"
"Tanda tangan"
Spontan, aku langsung mencubit pipinya dengan kesal
"Aku serius!" Ujarku
"Hehe. Aku uwa iwus" jawabnya sambil tertawa
Aku melepaskannya
"Tunggu! Kalau kau tau aku kebiasannya tidur jaran, kau seharusnya pindah ke bawah dong!" Serunya yg baru tersadar
"Buat apa harus?! Harusnya kau yg mengalah!"
"Siapa kau berani memerintahku! Kau bukan kakakku, aku kakakmu!"
Dahi kami saling bertempelan sambil debat
"Haaah?! Siapa bilang kau lebih tua kalau kau sering ngompol, ingus!"
"Dan jangan sok bilang kau kakaknya kalau kau masih minta bantuanku mengerjakan PR, iler!"
Aku berdua mulai keluar dari kamar mandi dan balapan siapa yg paling cepat ganti baju
Kita seri
Kita kemudian balapan siapa paling cepat ke meja makan
Setelah sampai, kita SERI!
"Mama!"
"Ibu!" Kita bicara disaat yg bersamaan
Kita saling menatap dengan kesal
"Ibu, siapa yg lebih tua di antara kita?!" Tanyaku dulu
"Eh...? Kenapa tiba-tiba?" Tanya ibu yg kebingungan
"Akira mau sok jadi kakak!" Rio menunjukku
"Rio adik yg buruk!" Aku tunjuk dia balik
"Kalian berdua tenang dulu, ya?" Pinta ibu dengan lembut
Kami berdua menarik nafas lalu membuangnya menjadi gas hydrogen, dan karbon dioksida kecil-kecilan, alias kentut
Dan tanpa sengaja kami melakukannya secara bersamaan
Kami mulai menatap satu sama lain dengan kesal lagi
"Jadi begini, Rio selalu ngompol, menendangku ketika aku sedang tidur, ngiler, ngorok, dan hal-hal lain yg membuatku susah tidur. Ya ampun, masih kecil seperti bapak-bapak" jelasku
"Apa itu benar, Rio?" Tanya ibu ke Rio
Rio mengangkat bahunya
"Aku sedang tidur, mana kutahu" katanya yg berusaha suci
Aku menarik seragam sekolahnya
"Jangan berdusta, uban!" Teriakku di depan wajahnya
"Memang kenapa, ketek biru!?" Rio menempelkan jidatnya ke jidatku
Ibu hanya bisa tertawa bingung melihat kelakuan kami
"Bertengkar lagi dapat sabun colek" ayah tiba-tiba nongol sambil memegang bahu kami
"WAAA!!!" Kami berdua terkejut secara bersamaan
Kami melihat satu sama lain sekilas, lalu membuang muka dengan kesal
"Wah. Kalian berdua kompak, padahal tidak kembar" goda ayah dengan nada datar ketika bilang wah
"Tidak perlu kembar untuk kompak, bukan?" Ibu malah membuat situasi semakin buruk
"Papa, antara aku dan Akira siapa paling tua?" Tanya Rio
"Itu tergantung perspektif. Menurutmu, Rio, kaulah yg tertua dan menurut Akira sendiri dialah yg paling tua" jawab ayah
"Kalau menurut Papa?"
"Tergantung siapa yg terlihat dewasa"
"Benar, benar. Kalau kalian tidak diketahui siapa yg lebih tua kenapa tidak bersifat seolah-olah menjadi kakak saja?" Ibu menyarankan
"Ohoho. Tentu aku yg lebih tua karena secara teknis aku lahir duluan sedangkan Rio kan dari masa depan. Bisa saja aku lebih sudah dewasa dan Rio masih kecil di masa depan, benar bukan, ayah?" Kataku dengan besar kepala
Ayah yg hendak makan sarapannya, berhenti karena pertanyaanku
"Hah? Oh, iya" jawabnya yg lalu melahap makanannya
"Bagaimana kalau begini, hari ini kan kerajinan kita disuruh membuat kue apa saja, kita lihat siapa kue yg paling enak. Mama jadi jurinya, kalau Papa pasti Aura Kasih" saran Rio
"Pilih kasih" kataku membetulkan
"Iya terserahku"
Aku mulai mengangguk
"Baiklah! Kalah jangan nangis!" Seruku dengan semangat
"Kalah coret KK!" Kami bersalaman, tanda sudah bulat
Ibu menggelengkan kepalanya sambil menghela nafas
"Namanya juga anak-anak. Kita juga dulu begitu, apalagi kau dengan kakakmu" ayah mengelus punggung ibu
Kami mulai makan dengan tenang
"Iya... ngomong-ngomong soal paman Visco, dia tidak pernah keliatan akhir-akhir ini. Memangnya kemana dia?" Tanya Rio
"Entahlah, mungkin bersama kakek dan nenek" jawab ibu
"Bukankah kakek dan nenek sedang ada acara di Skotlandia untuk reunian bersama teman semasa SMP mereka?"
"Iya, tapi Mama dengar pamanmu sedang ada di Inggris. Entahlah dimana Mama tidak tau dan tidak pedul. Pamanmu sangat menyebalkan"
"Seperti Akira ya?" Rio menunjukku
"Siapa yg kau tunjuk, kelingking bayi?" Tanyaku dengan nada sarkas
"Yg kutunjuk itu kau , jempol gagak!"
"Dari yg kedengar sih, pamanmu tidak pernah ada kerjaan disana. Dia sering jalan-jalan"
"Wah! Paman enak ya bisa pulang ke Inggris. Memangnya dia biasanya disuruh ngapain?"
"Entahlah, cari pekerja untuk perusahaanya di Manchester. Mungkin"
"Sepertinya masih banyak keseruan di Inggris ya. Apalagi Liverpool"
"Kamu mau ke Inggris?" Ibu tersenyum ketika menanyakan hal itu
"Tentu! Tapi aku mau ke Irlandia, mumpung tetangaan" jawab Rio
"Kalau begitu liburan tahun ini kita ke Inggris. Ok?"
"Ok, mother"
Ibu dan Rio masih asik mengobrol, sedangkan aku tidak paham
"Ayah paham?" Bisikku
"Apapun yg merujuk ke arah keluarga mereka dan cikal bakal Britania Raya, aku tidak paham kecuali soal nenek, kakek, dan pamanmu" bisik ayah balik
"Kita orang luar, mereka orang dalam sih enak"
"Valid, no debat"
Beberapa saat kemudian
Kami keluar gerbang bersama, di saat yg bersamaan, mobil jemputan kami datang
"Pagi, para putri penerus bangsa yg kalau keluar rumah rambutnya dikuncir" kata Angelo dari dalam mobil
"Sangat lucu, ayah" Angela keluar dari mobil
Dia mulai berjalan menuju rumah
Aku berusaha untuk tidak menatap Angela secara langsung karena dia lolicon yg berbahaya, cocok dengan ayah
"Hati-hati dijalan, maou-sama~" kata Angela dari kejauhan
Aku dan Rio pun masuk ke mobil dan perjalanan menuju sekolah dimulai
"Ada apa dengan kak Angela? Dia kelihatannya tertarik denganmu" tanya Rio
"Kembali di duniaku, aku sangat dikagumi oleh Angela sebagai Rex. Dan karena kutukan tua gundul ini aku jadi bereinkarnasi" aku menunjuk Angelo
Angelo terlihat tersenyum dari spion
"Kemudian aku kembali ke The Aref. Singkatnya aku bertemu dengan Angela, dia rela menjual jiwanya hanya untuk diriku, untung buatnya aku bukan Rex yg dulu lagi. Ini kesempatan untuknya, dia mulai tergila-gila dengan tubuh kecilku" jelasku
"Maou-sama cilik, andai kau tau kalau Angela sudah seperti itu sejak dia punya adik" kata Angelo
"Biar kutebak, aku membunuh adiknya karena dia melawanku" tebakku
"Benar. Dan kalau tidak salah kau juga membunuh istriku"
"Oooh~ sangat tragis! Andai aku peduli masa laluku" jawabku dengan sarkas
"Kalian berdua kelihatannya punya hubungan permusuhan yg cukup erat di masa lalu ya?" Komen Rio
"Tentu. Aku berhasil menjadi raja di kerajaan Maou-sama cilik ketika dia kukutuk dan kukirim ke Bumi ini"
Beberapa saat kemudian
Aku dan Rio mulai turun dari mobil dan menuju gerbang
"Lihat, tali sepatumu belum diikat" aku menunjuk sepatunya Rio
Dia mulai membungkuk untuk membenarkannya
"Yg sampai duluan dia menang!" Aku berlari sekenca
"Curang! TUNGGU KAU!" Sekilas Rio sudah ada di sampingku
Setelah cukup dekat dengan kelas, kami melompat
Tak peduli siapapun yg ada di depan kami, kami menabraknya hingga membuatnya terpental hingga langit ke tujuh
"WAH?! Ada apa ini? Ada apa?" Salah satu teman perempuan kami bertanya
"Miu! Siapa yg duluan!?" Tanyaku sambil terengap-engap
"Seri" jawab Miu seperti seorang wasit, teman kami yg tadi terkejut
Teman kami yg terpental tadi mendekati kami sambil memegang kepalanya
"Kalian sedang apa sih?! Pagi-pagi sudah ribut!" Tanyanya
"M-maaf, Takeo-chan. Aku sedang lomba melawan Akira" jawab Rio
"Lomba? Soal apa?" Tanya Miu
"Untuk menunjukkan siapa yg pantas menjadi kakak"
"Kalau kalian tanya aku sih aku pilih Akira" Sakura nyelonong masuk
"Eugh! Aku tidak perlu voting orang yg IQ-nya tengkurep sepertimu" tolakku
"Ditolong tidak mau, yaudah" Sakura langsung berjalan menuju tempat duduknya dan segera duduk
Kita mulai terdiam
Aku dan Rio saling melirik dengan kesal lagi
"Takkan kubiarkan kau memenangkan ini, saudariku!" Aku berdiri seolah seorang MC anime shounen
Rio mulai tertawa jahat
"Kuhuhu. Dan akan kubiarkan kekalahanmu memalukan kali ini, saudariku" jawabnya dengan pose penjahat anime
"Adakah di antara kalian berdua yg punya adik?" Tanyaku
"Aku punya" Takeo mengangkat tangannya
Aku memegang tangannya
"Oh, Takeo-chan, kau adalah bidadari surgaku" kataku dengan nada orang sedang puisi
"Tunggu-tunggu-tunggu! Tunggu!" Rio memisahkanku
"Pa-paan kau ini, Rio?!" Tanyaku kesal
"Aku juga mau tau rahasianya jadi kakak dong!" Serunya
"Miu, kau punya adik?" Tanyaku ke Miu
"?! Mungkinkah aku berani bertanya ke kakaknya Miu bagaimana cara jadi kakak?!" Pikirku dalam hati
"Akira, pasti kau berpikir tentang bertanya ke kakaknya Miu bagaimana cara jadi kakak agar bisa mengalahkanku, kan?" Seperti yg kalian lihat, Rio dapat membaca psikologis seseorang, seperti ayah
Tapi, aku Akira, sudah punya cara jituh untuk melawan ini
"Salah 100% persen salah 0% benar! Lagi disalahkan!" Seruku agar tidak terlihat panik
"Sial!" Rio menggigit kukunya, gregetan
Faktanya, mereka bisa membaca psikologis seseorang dengan membaca pola pikir seseorang yg repetitive atau gampang ditebak
Untuk menyangkal hal ini, aku membuat diriku seolah-olah berpikir yg lain dan melupakan apa yg kupikirkan tadi
Kalian sering lupa mau ngomong apa, kan? Maka dari itu aku berusaha melupakan apa yg barusan kupikirkan agar mereka tidak bisa menebakku
Yg paling penting adalah menjaga ekspresi agar tidak terlihat panik, gugup, atau ketakutan, karena mereka bakalan gampang menebakmu kalau kau itu membual
Dan kenapa penjelasan ini seperti anime drama-psychological?
"Kalau aku sih tidak punya saudara, makanya aku bebas" nyeletuk Sakura
"Eh kalian dengar itu?" Tanyaku
"Oh... tadi kayak ada suara orang mau sok jadi MC anime harem, mentang-mentang temennya banyak yg perempuan" lanjut Takeo
"Wah, itu sih terlalu basi namanya. Pamanku saja haremnya seperti itu" lanjut Rio
Yap, kami berusaha meledek Sakura yg mau ikut-ikutan
"Kutandai muka kalian, sialan!" Sakura menggerutu
Beberapa jam berlalu
Sekarang jam istirahat
Takeo sedang berjalan sendirian, melewati kamar mandi
Dari belakangnya, aku menyergapnya dan menariknya ke kamar mandi
Aku melepaskannya setelah dia masuk
"SIALAN KAU, GADIS ANEH!" Takeo memukulku
"Ma-MAAF!!!" Aku menahan serangannya
"Ya ampun, kukira tadi penculik tau" Takeo menghela nafas
"Mana ada penculik mau menculik loli barbar sepertimu" kataku
"KISAMA!" Dia bersiap bertarung
Aku mulai tersenyum jahat
"Muehehehehe! Majulah, manusia rendahan!" Aku juga bersiap
15 menit kemudian
Aku dan Takeo kelelahan
"Tidak akan kumaafkan kau, gadis aneh" kata Takeo sambil terengah-engah
"Ngapain kita berantem sih, padahal aku tadi mau nanya soal adikmu" balasku yg juga terengah-engah
"KENAPA TIDAK BILANG DARI TADI!" Dia memukulku lagi
"Ma-MAAF!" Aku menahan serangannya
"Hadeuh. Jadi, mau nanya apa?"
Aku belutut
"Suhu, ajari aku cara menjadi kakak!" Aku memohon
"Hmph. Kau terlalu cepat 2000 tahun, nak" jawabnya
"MALAH BERCANDA!" Aku memukulnya balik
"Ma-MAAF!" Dia menahan
"Pokoknya aku tidak mau kalah dengan Rio!" Seruku
"Ya. Berjuanglah!"
Tiba-tiba seseorang masuk
"Wah, lagi nyusun rencana jahat apa lagi ini" katanya yg tidak lain adalah Rio
Aku langsung menunjuk wajahnya
"Rio, jangan berlagak suci kau rambut beruban. Kau dari tadi sedang nyusun rencana jahatmu sendiri dengan Miu, kan?" Sanggahku untuk mengalihkan topik pembicaraan
"Ya- bukannya kau yg sedang nyusun rencana jahat dengan Takeo-chan, ya?" Jawabnya dengan tenangnya
"Rio! Dia mau mengalahkanmu!" Takeo teriak
Aku mencubit pipinya dengan kencang
"DASAR PENGKHIANAT!!!" Teriakku
Aku memegang kakinya, memutar-mutarnya dan...
"PERGI DAN JANGAN KEMBALI LAGI!" Aku membuangnya keluar sekolah, menembus langit-langit kamar mandi
"Selalu ingat gosok gigi 3 kali sehari..." katanya sembari suaranya menghilang dari atmosfer
Aku menggos-menggos karena kesal
"Akui saja Akira, aku lebih baik darimu" Rio berusaha memanasiku
"Kalau begitu kita lihat saja setelah istirahat kue siapa yg paling enak!" Bentakku
"Menyerahlah, aku pernah belajar masak dari Mama!" Rio mulai menatapku
Aku membenturkan kepalaku ke kepalanya
Dia tidak bergerak?!
"Aku juga pernah buat makanan enak ketika jadi Rex!"
"Itu kan dulu, kita hidup sekarang, otak kopong!"
"Daripada kau yg tidak punya otak, cebol!"
Tiba-tiba kami mendengar suara potret
"Wah, wah! Kalian akrab sekali ya" kata Sakura yg memotret
"JANGAN MASUK KE KAMAR MANDI PEREMPUAN!" Kami memukulnya di saat yg bersamaan dan merusak kameranya ketika memukulnya
Dia terpental keluar jendela
"Bugatti La Voiture Noire..." serunya sembari suaranya menghilang dari atmosfer
"Dia bilang apa?" Tanyaku
"Itu nama mobil yg ada di rumah asalnya Prancis. Maksudku, itu nama mobil dari Prancis, bukan berarti dia punya mobil termahal yg ada di dunia itu" jawab Rio
Kami tersadar kalau kami sedang musuhan, lalu kami membuang wajah kami dan berjalan menjauh
...🔹️🔹️🔹️🔹️🔹️🔹️🔹️🔹️🔹️🔹️🔹️🔹️🔹️🔹️...
Dan sekarang, the moment ot truth telah dimulai
Waktunya untuk mengeluarkan seluruh kemampuanku dalam hal memasak!
Aku memakai ikat kepala bertuliskan "no smoking area"
Berbeda dengan Rio, dia malah terlihat santai dan arogan
"Mmm. Mereka berdua terlihat membara" komen Sakura yg hanya bisa menelan ludah
"Miu, Remy, kita juga tidak boleh kalah! Aku tau ini perorang dan tidak mengandung unsur tim, tapi kita juga tidak boleh kalah semangat!" Takeo menyemangati mereka
Aku mulai mengambil mangkuk besar dan mengisinya dengan tepung
Tapi ada yg kurang
Dari yg kuingat, biar tepungnya harum dan lembut
Setelah teringat, aku menyiapkan panci tanpa kukasih minyak dengan sengaja
Aku menuangkan seluruh tepung yg ada di mangkuk untuk "menggorengnya"
"Wow! Sangat kreatif sekali, Akira-chan. Menghaluskan tepungnya agar kuenya tidak kasar" Sensei memujiku
Aku tersenyum sombong didepan Rio
Rio gregetan dan tidak mau kalah
Aku tidak peduli dengannya, aku sibuk mengaduk tepungnya
5 menit berlalu, aku mengangkatnya dan menuangkannya di mangkuk yg tadi
Aku menambahkan telur 3 butir, secentong setengah gula, madu, coklat, susu bubuk tawar, sedikit bubuk kakao, ekstrak vanili beberapa tetes, kopi (percayalah ini tidak akan merusak rasanya, hanya akan menambah harumnya. Yg penting sedikit saja)
Aku mulai mengaduknya dengan mixer dengan sedikit sentuhan ajaib "moe moe"
Sembari mengaduk, aku menari-nari dengan riang dan rasa cinta
Setelah selesai diaduk adonannya, aku menutupnya dengan plastik biasa dan mengovennya selama beberapa detik untuk "menjadikan" adonannya
Setelah mengangkatnya, aku membuka plastiknya dan mulai mengaduk adonannya secara manual, guna untuk membuat kue halus ketika dipanggang
Aku mencicipinya sedikit
"Mmm! Ada yg kurang" gumamku
Aku menambahkan secuil garam, guna untuk membuatnya mengembang dan baking soda
Aku mengaduknya secara manual lagi
Setelah tercampur rata dan halus, aku menaburi bubuk gula di atas adonan agar ketika mengembang, gula itu meleleh dan menyatuh dengan kulit atas
Tidak lupa kutaburi baking soda untuk sedikit eksperimen
Aku mulai mengovennya lagi sampai habis
"Semoga beruntung dengan kue kiamatnya" ledek Rio
"Sama-sama. Semoga kau tidak meracuni ibu" ledekku balik
"Gadis aneh"
"Boneka salju"
"Manusia jadi-jadian"
"Nenek rambut tua"
Dan terus, kami saling lontar ejekan sampai kue kami sudah jadi
Aku sedikit mendekorasinya dengan krim berwarna biru yg sudah kusiapkan hanya dengan madu, susu kental manis, perwarna makanan biru
Sentuhan terakhir, kuberi krim berwarna merah di atasnya dengan bentuk hati
Aku tersenyum penuh kemenangan
Aku mencium dua jariku yg kubuat huruf "o"
"Mamma mia. Cappucino numero uno dikali 8 sama dengan 22" kataku dengan gaya bicara orang Italia, atau Spanyol?
Teman-teman dan Sensei bertepuk tangan untukku
"Wah! Hebat!" Kata mereka
Aku tersenyum senang
Aku melirik ke Rio sedikit dan dia juga sudah selesai dengan kuenya
"Selesai!" Teriaknya
Teman-teman serta Sensei mulai beralih ke Rio dan memuji-mujinya
Dia tersenyum sombong ke arahku
Dia menjulurkan lidahnya
"Blee..." ledeknya
Aku hanya tersenyum karena aku belum bisa membunuhnya
"Muehehehe..." ketawa-ketiwiku
Disisi lain, Takeo, Miu, dan Rio menatapku dengan tatapan takut dan suram
"Rio, saudarimu-" bisik Takeo
"Tidak, ambil saja" bisik Rio balik
"Temanmu tuh, Takeo" bisik Miu
"Kepala bapak kau!"
...🔹️🔹️🔹️🔹️🔹️🔹️🔹️🔹️🔹️🔹️🔹️🔹️🔹️🔹️...
Aku dan Rio sudah menyiapkan piring dengan sepotong kue diatasnya
Kami menunggu ibu memakannya
Ibu mengambil punya Rio dulu dan memakannya, lalu dia memakan punyaku
Kami berdua menelan ludah karena tegang
"Bagaimana rasanya, Mama?" Tanya Rio
"Hmm... kalian berdua memasaknya dengan 'cinta', bukan?" Tanya ibu
Kami mengangguk
"Kalau soal rasa... mereka berdua sama-sama enak karena adanya niat dan kasih sayang" komen ibu
"Kami selalu ingat, ibu" kataku
"Cinta adalah bahan terpenting" lanjut Rio
Kami berpose saling memebelakangi
Kami baru teringat kalau sedang bermusuhan dan segera berhenti
"Tapi, kalau soal keenakan dasar, punya Rio hanya cantik dari luar tapi rasanya sedikit terlalu manis. Bagian dalam kuenya pun masih lembek dan tidak teroven atau terpanggang sempurna. Mungkin punya Rio tepungnya terlalu sedikit dan bahan lainnya yg terlalu banyak" heh! Aku melihat kemenangan
Rio mulai melihat kebawah dengan kecewa
"Soal Akira tidak dapat dipungkiri lagi kalau kuenya sangat sempurna. Kelembutan luar dalam sangat perfect. Krimnya pun terkesan dibuat dengan sangat hati-hati, dan rasanya meleleh dimulut. Bagian dalamnya juga terlihat halus" dan itulah komentar kemenanganku
"Aku memanggang tepungnya terlebih dahulu, maka dari itu tepungnya terkesan lebih halus dari biasanys. Kalau ditelan pun tidak akan membuat yg memakan tersedak" jelasku
Aku tersenyum kearah Rio
"Kau tau itu artinya apa kan Rio-chan?" Ledekku
"Diam!" Bentaknya
"Hm hm hm. Sepertinya aku menang total" kataku yg berbangga diri
Aku mulai mendengar Rio sedang tersedu-seduh
Aku memperhatikannya dan ternyata dia MENANGIS?!
Aku terkejut bukan main
"I-ibu, bagaimana ini?!" Tanyaku panik
Ibu hanya tersenyum
"Kau yg membuatnya menangis, 'Onee-chan', bukan aku" balasnya
"Ayolah!"
Aku mulai mengorek saku celanaku
"R-Rio, bagaimana kalau permen?! Kita kan saudara, bukan?" Aku membujuknya
Dia masih menangis
Aku semakin panik
"P-padahal... hiks... aku yg lebih dulu disini... hiks... Akira jahat!" Rengeknya
Aku memakan kuenya Rio sedikit
"Mmm! Kurasa ini memang kurang bagus, kau hanya perlu sedikit improvisasi" kataku untuk membuat alasan
Rio berhenti menangis
"Benarkah...?" Tanyanya
"Iya, benar" jawabku biar dia lega
"K-kalau begitu, ajari aku melakukannya!" pinta Rio
"Weh...? Langsung berubah pikiran!" pikirku yg terkejut
Aku tertawa kecil
"Hm hm... akan kuajarkan kau cara memasak yg baik dan benar, itulah gunanya seorang kakak" kataku bisa menyombongkan diri
"Tolong bantu, Onee-chan!" Eh... entah kenapa dipanggil begitu rasanya aneh
Aku garuk-garuk kepala
"Mmm... kurasa jangan terlalu formal. Panggil saja seperti biasa, ya!" Pintaku
Rio mengangguk
"Hehe~ aku tau putriku bisa mengatasi ini semua" puji ibu
Dia berdiri dan mengelus kepala kita berdua
Dia mulai beranjak pergi
Kami berdua tersenyum kembali dan akrab lagi
Itulah gunanya keluarga, hehe...
...To Be Continued......