
"A-apa-apaan kau ini?! Cepat lepaskan!" Kata Sakura-chan yg kakinya masih kupegang
"Le-lepaskan, Akira-chan!" Pintanya
"Hoh? Jadi sekarang itu maumu? Maka jadilah" aku melempar Sakura-chan sampai menabrak pohon
'DUK'
"GUHUK!" Dari mulut Sakura-chan keluar darah
"Ara ara. Maafkan atas kelancanganku. Apakah itu menyakitimu?" Tanyaku dengan meledek
"Kau! Siapa sebenarnya kau?! Suara itu... KAU PASTI BUKAN AKIRA-CHAN!" Teriak Sakura-chan
Sepertinya dia menyadari bahwa raja iblis telah kembali
Selama ini aku hanya bisa mengendalikan setengah dari tubuh Akira
Kesadaranku terkadang masih tergantikan oleh milik Akira
Tapi kini aku sudah sepenuhnya mengendalikan tubuh kecil milik Akira
Meskipun agak aneh berbicara dengan suara pria dewasa menggunakan tubuh gadis kecil
"Ara? Kenapa kau sangat peduli dengannya? Bukannya kau tadi membencinya. Kan, Sakura Remy?" Tanyaku
Dia mencoba untuk berdiri meskipun akhirnya tidak bisa karena kakinya sedikit terkilir
"Aku tidak bilang aku membencinya! Dia memang berisik dan menyebalkan, tapi aku tidak membencinya!" Jawab Sakura-chan
"Hmm... naruhodo. Dilihat dari psikologi tingkah laku, dia memang tidak membenci Akira. Haruskah aku membiarkan Akira yg mengendalikan?" Pikirku
"Kau cepat lepaskan Akira!" Pintanya
"Bagaimana kalau tidak mau?" Tanyaku
"Maka aku harus mengambilnya secara paksa" dia mulai melesat dengan kecepatan tinggi meskipun kakinya terluka
Aku juga tidak mau kalah
Aku juga melesat ke arahnya dengan kecepatan yg hampir sama besarnya
Dari tangannya keluar api yg membara
Dari tanganku juga keluar air yg jernih
'BOOOOOOOM'
Cahaya yg menyilaukan di antara aku dan Sakura-chan
Tanganku berasa ada yg memegang
Ketika cahaya itu padam, di depanku ada ayah yg memegang tanganku sambil menatapku dengan tatapan hampanya
"A-ayah?" Aku terkejut bukan main
"K-kau?!" Sakura-chan juga ada yg memegangi
"Ada apa kalian berdua ini? Kenapa kalian bertengkar?" Tanya ayah
"Remy, kau memang anak yg tidak bisa diatur, ya?" Kata pria yg memegangi Sakura-chan
"Apa urusanmu orang tua?! Gh! Aww!!" Sakura-chan merintih kesakitan
"Akira, apa yg kau lakukan pada Remy?" Tanya ayah
Aku hanya terdiam
"Sial. Aku tidak bisa berbicara sekarang, karena mungkin dia akan tau kalau aku bukanlah Akira yg sebenarnya" pikirku
"Jawab saja. Ayah tidak marah kok" kata ayah sambil mengelus kepalaku
"DAN, lebih baik biarkan saja putrimu. Sebenarnya Remy lebih cocok diperlakukan seperti ini" kata pria yg kuyakini sebagai ayahnya Sakura-chan
"Pak tua, dia mematahkan kakiku, dia juga bukan Akira!" Kata Sakura-chan
"Diam lah, Sakura-chan! Aku bisa ketahuan nanti" pikirku sambil ketakutan
"Jangan memanggil orang tuamu DENGAN SEBUTAN ITU!!!" Teriak ayahnya Sakura-chan dan hendak memukulnya
Ayah memegang tangannya
"Dilah, kau jangan asal main tangan. Biar bagaimanapun juga dia adalah anakmu" kata ayah dengan tenang
Lalu ayah mendekati Sakura-chan dan menyentuh kakinya yg terkilir
Sekejap kakinya bisa digerakkan lagi
"Ngomong-ngomong, Akira. Kau membangkitkan Yami di dalam tubuhmu, ya?" Tanya ayah
Aku malah semakin takut karena pertanyaan itu
"Ce-celaka! Ini akibat rambutku yg berubah warna"
"Tidak perlu takut. Ayah tau kau membangkitkan kekuatan tersembunyimu, kan?"
Dengan gugup aku menjawab sebisaku
"I-iya" dengan suara berat ala pria dewasa
"Hmm? Sepertinya kau bukan Akira, tapi Yami milik Akira yg mengambil alih tubuh Akira. Sekarang kau biarkan Akira mengambil alih!" Kata ayah
"H-haik"
Bagaimana pun caranya aku keluar dari tubuh Akira dan Akira tersadar
Akira's POV
"A-ayah? Kenapa ada disini? Dimana Sakura-chan?" Tanyaku
"Remy, baik-baik saja. Akira, apa kau ingat apa yg terjadi?" Tanya ayah
"Tidak, memang kenapa?" Tanyaku balik
"Tidak apa-apa"
"A-Akira-chan, m-maafkan aku soal yg tadi" kata Sakura-chan yg mendekatiku dengan wajahnya yg memerah
"Tidak apa-apa kok, lagipula kita kan teman" jawabku sambil tersenyum
"Aku harap kalian memang bisa berteman" kata pria yg memegang kepala Sakura-chan
"Halo, Akira! Namaku... hm, tidak usah diberitahu. Panggil saja aku Deku" kata pria itu yg kuyakini sebagai ayahnya Sakura-chan
"Dia ingin dipanggil Deku karena dia terlalu ngefans sama Boku no Hero Academia" balas ayah
"Uh-uh. DAN, sudah kubilang berapa kali untuk jangan bilang soal itu" jawab paman Deku
"Ya, nama aslinya Dilah. Dia hanya seorang Wibu akut tingkat Chuunibyu" kata ayah
"Jadi aku harus memanggil paman siapa? Deku atau Dilah?" Tanyaku
"Panggil saja pak tua!" Balas Sakura-chan
'BLTAK'
"ADAWW!!!"
"Tidak usah dipanggil paman, panggil saja kak Deku, comprendre?"
"Kak Deku? Memangnya kau masih muda?" Aku mendengar suara di kepalaku
Aku menoleh ke samping dan orang yg ada hanya ayah, Sakura-chan, dan ayahnya Sakura-chan
"Baiklah. Aku dan Remy mau pulang dulu. Jaga dirimu baik-baik, Akira" kata ayahnya Sakura-chan
"Akira-chan, lain kali kita main lagi, yuk!" Kata Sakura-chan
"Iya, iya, tapi jangan marah lagi, ya" Jawabku
"Bien!" Jawab Sakura-chan yg mungkin berarti "baiklah"
Ayah dan ayahnya Sakura-chan melakukan tos sebelum pergi
"Au revoir!" Kata mereka berdua dari kejauhan
Dan dari kejauhan mereka nampak bercanda, meskipun tadi sempat bertengkar
"Akira, ayo kita pulang juga!" Ajak ayah
Aku hanya mengangguk dengan tersenyum manis
"Tadi suara siapa, ya?" Pikirku
...🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹...
Sesampainya di rumah Rio-chan meminta maaf kepadaku akibat lupa dengan janjinya
Ya aku tidak terlalu peduli dengan itu, asalkan aku dapat teman baru
Aku masuk ke kamarku sendirian dan melihat ke cermin
"EH?!?! APA INI?!!" Betapa terkejutnya aku melihat rambutku berubah warna
"Ke-kenapa dengan rambutku? Tunggu kalau diingat-ingat kemarin ayah bilang tentang Yami. Apa aku mendapat kekuatan semacam itu?"
Di bahuku ada Arny yg entah dari mana datangnya
"Arny? Dari mana saja kau? Hah? Bermain? Dengan siapa? Ooooh, iya, iya"
"Halo, Akira-chan" aku mendengar suara lagi
"Siapa itu?! Arny, siapa yg berbicara itu?" Tanyaku
"Dirimu sendiri yg berbicara" jawab suara itu
"Diriku sendiri?" Tanyaku lagi
"Benar. Aku adalah dirimu sebelum mati"
Aku melihat ke cermin dan terkejut lah aku melihat pantulanku adalah pria dewasa berbadan kurus tapi tinggi, bersayap, bertanduk, dan pantulan Arny berupa naga
"S-siapa paman?!"
"Sudah kubilang, aku adalah dirimu sebelum mati. Dulu kau adalah aku, dan setelah aku dipindahkan oleh penyihir sialan aku bereinkarnasi menjadi dirimu, Akira" jawab orang aneh itu
"Nama paman siapa?" Tanyaku
"Panggilanku raja iblis Rex, dan jangan panggil aku paman! Akira, aku juga merasakan kesedihan ketika kau kehilangan orang tuamu, karena secara harfiah mereka adalah orang tuaku juga"
"Kenapa raja iblis Rex bisa tau?"
"Karena sebelum kejadian tadi, aku mengambil setengah kesadaranmu dan itulah caraku mengendalikan tubuhmu. Setelah kejadian tadi dan bangkitnya Yami di dalam tubuhmu, yaitu aku, aku tidak bisa mengambil alih kesadaranmu lagi. Pada akhirnya aku harus mengambil alih seutuhnya dan tidak bisa setengah-setengah"
"Jadi Yami di dalam tubuhku itu raja iblis Rex?"
"Bisa dibilang begitu"
Pintu terbuka tanpa kusadari
"Akira-chan, kau sedang bicara dengan siapa?"
"Gawat! Itu Rio-chan!" Pikirku
"A-ah, tidak bicara dengan siapa-siapa kok, hanya sedang ngobrol dengan Arny saja, iya kan, Arny? Ahahaha" Arny mengangguk
"Akira, Arny dulunya seekor naga. Dia nagaku, jadi dia juga ikut tereinkarnasi menjadi hamster. Itu alasan kenapa dia seperti makhluk hidup yg punya perasaan" kata Rex di dalam pikiranku
"Oh, pantas saja aku tiba-tiba mendapat ide nama untuk Arny, tenyata karena waktu itu kesadaranku masih diambil alih" jawabku
"WAH! Akira-chan ngomong sendiri!" Teriak Rio-chan
"Bu-bukan seperti it-"
"Tapi boong"
"Aku sudah tau kok, kalau Akira-chan punya Yami. Setiap pemilik Yami akan berbicara dengan dirinya sendiri"
"Ooooh, naruhodo"
"Bisa begitu?!" Kata Rex
"Kau DIAM!" Kataku dengan gregetan
"Eh? Akira-chan marah?" Rio-chan mulai mengeluarkan air mata
"Bu-bukan begitu! Aku sedang bicara dengan Rex!" Aku mulai gugup
"Rex?"
"Maksudnya, dengan Yami-ku!"
"Kerja bagus! Sekarang kau membuatnya sedih. Wahaha!" Kata Rex
"Tolong diam dulu!" Gumamku
"Ngomong-ngomong, Rio-chan, apa kamu punya Yami juga?" Aku mulai duduk di kasur
"Punya, memangnya kenapa?" Rio-chan duduk di sampingku
"Rio-chan pernah mengobrol dengan Yami milik Rio-chan?"
"Pernah dan sering"
"Yami milik Rio-chan menamai dirinya apa?"
"Hmm... bagaimana, ya? Sebenarnya Yami-ku adalah Papa"
"Eh? Ayah?"
"Iya, ayah. Aku sebenarnya bukan dari zaman ini"
"Aku mengerti! Dia adalah penjelajah waktu dari masa depan!" Kata Rex
"Jadi Rio-chan semacam penjelajah waktu?"
"Iya. Papa dan Mama sebenarnya belum menikah di zaman dan waktu ini"
"Tunggu sebentar! Apakah itu jawaban kenapa mereka berdua nampak seperti anak remaja?" Kata Rex
"Aku di masa depan berumur sekitar 15 tahun, tapi aku kembali ke masa lalu dan menjadi anak kecil karena pengendalian waktuku belum sempurna" lanjut Rio-chan
"Naruhodo. Itu alasan kenapa dia punya pengalaman bertarung yg lebih, tapi tidak lebih dariku" balas Rex
"Hadeh... dia berisik banget" pikirku
"Kekuatan Yami milik Rio-chan seperti apa?" Tanyaku
"Seperti ini" dalam waktu sekejap tanpa kusadari Rio-chan sudah memegang boneka teddy miliknya
"Sejak kapan?!"
"Biar kutebak, dia mengambil itu dengan menghentikan atau dengan bergerak cepat, kan?" Tebak Rex
"Aku bisa memanipulasi waktu seperti Papa, karena pada dasarnya Yami-ku adalah Papa" jawab Rio-chan
"Berarti aku sama seperti dia. Ayah adalah Yami-nya, sedangkan Rex adalah Yami-ku. Yami kita adalah orang yg mempunyai hubungan dengan kita" pikirku
"Sudah, sudah. Dari pada nganggur mending kita makan" kata ibu dari pintu tanpa kita sadari
"Mama?!"
"Ibu?!"
"Ayo, kita makan!" Ajak ibu sambil tersenyum
Aku dan Rio-chan mulai beranjak bersama menuju ruang makan
"OH IYA, RIO-CHAN! Tadi kamu lupa soal janji kita!" Bentakku
"Janji?" Tanyanya
"Janji tadi katanya mau bertemu di taman bermain!"
"...oh iya, lupa. Hehe" tawanya
"Hmm!" Aku kesal sekali dengannya, pipiku menggembung, wajahku memerah marah
"Gomen, gomen, Akira-chan. Tadi aku langsung pulang soalnya aku..."
"Sudah tidak perlu bertengkar" kata ibu dengan lembutnya serta senyumannya yg menenangkan jiwa
"Akira, ibu tirimu atau lebih tepatnya ibu tiri kita, itu orangnya sangat baik. Terlalu baik untuk hidup di dunia ini. Di duniaku orang seperti dia hanya ada 10 dari berjuta-juta orang" kata Rex
Aku hanya diam mendengarkan dia mengoceh sambil memainkan rambut baruku
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
Di pagi hari yg cerah
Aku berada di halaman belakang rumah, lebih tepatnya di lapangan pribadi ibu
Aku ditemani Arny yg bersembunyi di balik topi kecilku
Aku sekarang sedang menatapi langit pagi yg cerah di hari libur
"Apakah Rex tidak tau siapa yg membunuh Mama dab Papa?" Tanyaku kepada Rex
"Andai saja aku tau, aku juga langsung membunuh si pembunuh" jawab Rex
"Tapi kata ayah membunuh seorang pembunuh tidak mengurangi jumlah pembunuh di dunia. Apa artinya masih banyak pembunuh yg berkeliaran?"
"Dia tidak sepenuhnya salah, tapi dia juga tidak benar. Membunuh seorang pembunuh tidak mengurangi jumlah pembunuh tapi mengurangi jumlah pembunuhan yg terjadi dengan membunuh satu orang pembunuh"
"Seperti itu ya"
"Kau itu masih kecil, lebih baik jangan bicara soal ini"
"Tapi aku tetap akan membalaskan dendam keluargaku!"
"Kau itu keras kepala. Mau bagimana lagi, kita ini satu tubuh jadi aku akan selalu membantumu"
Aku tersenyum semangat
"Sudah bangun? Kenapa tidak sarapan?" Tanya ayah dari belakangku dan mulai mendekatiku
"Ayah?"
"Gawat! Dia mungkin mendengar apa yg kita bicarakan tadi! Akira, bersikaplah seperti biasa!" Pinta Rex
"Kenapa kau tidak sarapan? Di dalam sudah ada makanan yg sengaja kubuat lebih awal sebelum Vince bangun" kata ayah
"Ayah bisa masak?" Tanyaku
Mendengar ayah memasak adalah hal yg baru untukku
"Seorang laki-laki bisa memasak? Ini pasti gurauan" jawab Rex
"Kalau tidak percaya lihat saja di dalam. Rio dan ibunya masih belum bangun, jadi aku yg memasak duluan" jawab ayah
Aku tidak bisa menjawab apa-apa
"Akira? Kau kenapa? Sedang tidak enak badan?" Tanya ayah
"A-ah, tidak apa-apa kok!" Jawabku dengan gugup
"Mulutmu bisa berbohong, tapi ekspresimu tidak bisa berbohong. Kau sedang ada masalah pasti"
"Aku hanya ingin cepat-cepat menemukan siapa yg membunuh Mama dan Papa agar dia bisa dihukum dengan hukuman setimpal" kataku sambil mengelus-elus lenganku
Ayah terdiam sebentar mendengar itu
"Akira, boleh ayah bicara dengan Yami milik Akira?"
"Apa maunya?" Tanya Yami
"B-boleh" jawabku
Kemudian kita berpindah tempat
Rex's POV
"Halo, Rex!" Sapanya dengan nada datar dan ekspresi yg tidak berubah dari pertama aku bertemu dengannya (DATAR!!!)
"Kenapa bisa tau namaku?" Tanyaku yg kebingungan
"Rio yg memberitahu" jawabnya
"Sepertinya ini akibat aku dan Akira mengobrol pada waktu itu"
"Rex, kau punya masa lalu, kan?"
"Masa lalu?"
"Jangan pura-pura tidak tau. Kau adalah raja iblis Rex yg ditakuti di duniamu" aku terkejut, mataku membulat, pupil mataku menciut
"Ke-kenapa bisa tau?" Pikirku
"Pasti kau mengatakan 'kenapa bisa tau?' Di dalam hatimu, kan?"
"Ga-gawat! Dia bisa membaca pikiranku!" Pikiranku terbaca olehnya
"Kemudian kau berkata 'gawat. Dia bisa membaca pikiranku' didalam hatimu, kan?"
"Ayah bisa membaca pikiranku?" Tanyaku dengan lancang menyebutnya ayah
"Sialan! Aku keceplosan manggil dia ayah! Ini gara-gara terlalu lama berada di tubuh Akira!" Pikirku
"Selanjutnya kau berkata 'sialan. Aku keceplosan memanggil dia ayah. Ini gara-gara terlalu lama berada di tubuh Akira' di dalam hatimu, kan? Tenang saja aku tidak bisa membaca pikiran, aku hanya membaca psikologis seseorang melalui kata-kata, ekspresi, dan sifat seseorang. Kalau kau mau memanggilku ayah tidak masalah, kita ini keluarga, ingat?"
"Jadi apa maumu dengan masa laluku?" Tanyaku
"Membacanya" ayah mulai memegang pipiku dengan lembut
Seakan penglihatanku bersatu dengannya
Aku melihat diriku sebelum bereinkarnasi, melihat si angsa brengsek, dan kerajaan tempatku tinggal dulu
"Naruhodo. Apa kau mau kembali ke duniamu untuk sebentar dan melihat-lihat?" Tanya ayah
"Eh? Bisakah?" Tanyaku
"Tentu saja bisa" ayah mengeluarkan pedang katana di tangannya dan membelah sebuah dimensi
"Ayo masuk!" Ayah menggandeng tanganku
"Sebelum kita benar-benar masuk, aku mau kau berhenti memakai suara pria di dalam tubuh Akira. Kedengaran menjijikkan tau!" Pinta ayah
"B-baik, ayah!" Jawabku dengan suara Akira
Kemudian kami berdua memasuki portal itu dan menuju duniaku dulu
"Angsa! Tunggu saja kau! Akan kuhajar habis-habisan ketika aku menemukanmu!" Pikirku
...To Be Continued......
Sebelum memasuki Chapter selanjutnya
Kalian harus ingat tentang kejadian pembunuhan di Chapter sebelumnya
Itu akan menjadi plot cerita
Kalian bisa berasumsi siapa yg membunuh keluarganya Akira
Kalian juga boleh menganggap kalau Rex itu bukan orang yg baik
Itu saja yg saya sampaikan
See you next Chapter