RaNauf

RaNauf
Episode 8 _Cinta_



"Salah Naufal!" ucap Ran membentak Naufal seraya memukul punggung pemuda itu.


"Bangs4t ya lu! nyari mati Ha?!" Naufal beralih membentak Ran juga seraya menajamkan tatapannya kearah gadis yang duduk di sebelahnya itu.


"Ohhh gitu ya... mau aku telpon Bunda kamu terus aku laporin sekarang? hm?" ancam Ran kembali membuat Naufal memejamkan matanya, bungkam. Jika sudah menjadi soal Bundanya, ia sudah tak dapat berbuat apa-apa.


"Kok gw jadi nurut gini?! emang siapa dia hah?!" batin Naufal seraya melirik Ran yang kembali membaca buku miliknya.


Ran merasakan bahwa ia kini sedang di tatap oleh Naufal, karena risih ia pun beralih langsung menatap pemuda itu kemudian berkata "Apa? udah selesai? sini aku liat." Ran menarik buku catatan milik Naufal membuat pemuda itu malah balik kembali menariknya.


"Siapa juga yang bilang selesai bego! main narik aja lu." Ran melepaskan buku catatan Naufal membuat pemuda itu segera menarik buku itu kembali kehadapan nya dan mengerjakan soal-soal yang Ran berikan tadi padanya.


Pada akhirnya Naufal mau belajar dengan Ran, itupun ia lakukan karena terpaksa akibat dari ancaman maut Bundanya. Awalnya pemuda itu tak setuju dan menolak mentah-mentah, namun sahabat-sahabatnya itu juga beralih mendukung Ran dan Calista agar Naufal ingin belajar. Dan beginilah posisi pemuda itu sekarang, sedang berhadapan dengan buku serta pulpen.


Kedua remaja itu kini sedang berada di perpustakaan, lebih sunyi dari pada di kelas atau pun tempat-tempat lainnya. Naufal sedari tadi ingin kabur dari sana dan pergi bolos bersama sahabat-sahabat nya yang sudah lebih dulu pergi keluar sekolah. Namun apa yang bisa ia lakukan? gadis itu selalu saja mengancam dirinya pasal Bundanya membuat ia hanya bisa pasrah dan ikut saja.


"Napa juga gw mesti belajar pelajaran kelas sepuluh ma kelas sebelas sih anj1ng!" Naufal sudah muak dengan soal-soal itu, terlihat pemuda itu mendorong kasar buku-buku yang berserakan dihadapannya menjauh dari dirinya lalu melipat kedua tangannya diatas meja kemudian menidurkan kepalanya disana.


"Eh? kamu kenapa tidur sih Fal? itu soalnya udah dikerjain belum?" Ran menatap Naufal tajam yang kini sedang menutup matanya menikmati kesunyian yang memberatkan mata.


"Lu gosah sok akrab ma gw, sok manggil nama segala." hardik Naufal menoleh kan wajahnya ke sisi yang lain lalu kembali memejamkan matanya.


"Ya karna umur kita kan sama Naufal, masa aku manggil kamu 'kakak'? kan enggak banget." Ran berucap illfeel seraya melirik buku catatan milik Naufal tadi kemudian meraihnya dan melihat hasil dari pekerjaan Naufal.


Memang benar apa yang dikatakan oleh Ran, bahwa Naufal kini berumur 17 tahun sama seperti dengannya, yang membedakan adalah tingkat kelas mereka. Terkadang sahabat-sahabat Naufal itu bertanya-tanya, mengapa lelaki dengan umur yang jauh lebih muda dari mereka ini memiliki keahlian yang hebat serta kekuatan fisik yang luar biasa dari pada mereka? Naufal lah yang paling termuda namun dari mana pemuda ini belajar beladiri sampai sekuat itu?


"Astaga, ini soal kelas 10 loh Fal... kok salah semua sih?" geram Ran lalu meletakkan buku catatan Naufal tadi.


"Ya bodo, kalo salah tinggal di benerin." enteng Naufal yang masih setia menutup matanya.


"Iihhkk... sana kerjain ulang!" Ran menarik-narik lengan Naufal agar pemuda itu mau kembali membuka matanya dan mulai mengerjakan tugas yang ia berikan tadi.


Naufal terdengar berdecak kesal di balik lipatan lengannya, ia sedari tadi sudah lelah untuk berfikir, tak mampu lebih jauh lagi. "Gak usah pegang-pegang gw bangs4t!" Naufal menghempaskan tangan Ran yang sedari tadi menarik-narik lengan seragamnya membuat gadis itu melotot padanya.


"Yasudah kerjain ini lagi kalo gitu." Ran mendorong buku-buku yang sempat Naufal jauhkan dari posisinya tadi kembali kehadapan pemuda itu.


Naufal terlihat memperbaiki posisi duduknya kemudian menatap Ran tajam "Maksud lu apa perintah-perintahin gw? lu pikir lu udah bebas ha? lu itu masih jadi babu gw!" Naufal meraih pulpen yang sempat ia lepaskan dari genggaman nya sebelumnya. Kini aura menyeramkan sang Naufal menguar kuat yang bahkan Ran sendiri dapat merasakan itu, pemuda ini benar-benar sudah kesal namun ia selalu menahan dirinya meski itu sama sekali bukan keahliannya.


Sebenarnya Ran ogah-ogahan membantu Naufal belajar, tapi melihat tatapan memelas Ibunya dan juga Calista membuat dirinya tak tega untuk mengatakan 'Tidak' pada mereka. Lalu pada akhirnya gadis itu pun berakhir dengan mengajari sang Naufal apa itu belajar.


"Terserah kamu aja deh, aku itu cuman ngajarin kamu belajar." tutur Ran kemudian kembali membaca bukunya santai.


"Kalau bukan karna nyokap gw, ni cewek dah abis di tangan gw." batin Naufal seraya mengeratkan genggaman nya pada pulpen tadi menahan kesal.


*****


Tiga tahun sebelumnya... seorang gadis cantik dengan rambut ekor kuda khasnya terlihat sedang berlari di koridor sekolah setelah bel istirahat berbunyi beberapa saat yang lalu. 'Nandira Azka Aqilla' atau yang lebih sering di sebut 'Nandira', seorang gadis SMP kelas IX yang sangat di minati banyak pemuda khususnya para pemuda-pemuda SMA.


Nandira kini berlari menuju lapangan basket sekolah, mencari keberadaan pemuda yang sebelumnya menyuruh dirinya agar pergi ke tempat itu saat setelah bel istirahat berbunyi. Terlihat gadis itu menerawang jauh di tengah-tengah lapangan basket yang tak ada satu pun siswa maupun siswi yang bermain disana.


"Lah, katanya suruh kesini? kok gak ada?" batin Nandira seraya menoleh kanan kiri mencari seorang pemuda yang menyuruh dirinya untuk datang ketempat ini.


"Oi! Nandira!" Gadis itu menoleh mendapati sahabat pemuda itu yang selalu ia sapa dengan panggilan 'Vivi'.


"Eh Vivi?" pemuda itu terlihat mendelik kemudian menghela nafas beratnya "Ze-Vi!... ingat tuh." Nandira terkekeh geli kemudian mengangguk.


"Ada apa emang? oh iya, Naufal mana?" Nandira bertanya kepada pemuda itu mencoba mencari tau letak keberadaan 'Naufal' kepada sahabat karibnya itu.


"Lu disuruh pergi ke kantin katanya."


"Hah? tadi lapangan basket kok sekarang jadi kantin sih?" kata Nandira yang terkadang lelah dengan sifat pemuda itu.


"Mana gw tau, gw cuman disuruh." Zevi berucap enteng lalu mengedikkan bahunya.


"Yaudah, aku ke kantin dulu ya Vi!" Nandira tersenyum kearah Zevi lalu berlari pergi dari lapangan basket itu.


"Ini kesempatan lu."


Tak membutuhkan waktu yang lama, akhirnya gadis itu pun sampai di kantin sekolah yang kini padat pengunjung. Nandira tersenyum menatap tangan seorang pemuda disana terangkat lalu melambai padanya di salah satu meja di kantin itu.


"Hish... Naufal! kok kamu gak bilang-bilang sih kalo gak jadi di lapangan basket?" pemuda yang di panggil nya 'Naufal' itu pun tertawa kemudian mengusap rambut Nandira yang kini sedang duduk di sebelahnya dengan wajah cemberut.


"Iya-iya maaf, ini aku udah pesen mie ayam... makan gih." Naufal berucap lembut pada gadis itu yang hanya di jawab cengiran lalu segera menyantap makanan yang Naufal pesan tadi.


"Lu manis banget."


"Uhukk... uhuk...." Mata Naufal membulat terkejut kemudian segera menyodorkan botol mineral dengan tutup yang sudah dibukanya kepada Nandira.


Nandira terlihat meminum air yang ada di dalam botol itu secara tergesa-gesa membuat Naufal mengerutkan keningnya "Hati-hati entar keselek lagi."


Pemuda itu ialah seorang pemuda yang kini sedang berstatus sebagai teman dekat seorang Nandira itu. Naufal ini tak tahu kapan ia mulai merasakan perasaan yang lebih terhadap gadis itu, setiap perbuatannya dan perlakuan nya seperti sedang mengode dirinya. Naufal selalu berfikir, apakah Nandira juga menyukai nya? apakah gadis itu akan dapat menjadi miliknya?


Itu hanya akan menjadi sebuah pertanyaan, hingga ia mempunyai nyali besar dan berusaha untuk mengungkapkan perasaan nya. Nandira selalu saja terlihat seperti sudah menjadi miliknya, mulai dari sikap gadis itu yang selalu memperlakukan dirinya seperti seorang pasangan, keseharian mereka yang selalu saja dihabiskan berdua serta ucapan-ucapan gadis itu yang seperti menggambarkan bahwa ia juga menyukai dirinya.


"Mau ke cafe gak entar sore?" Naufal berucap setelah beberapa saat menatap wajah Nandira lekat yang kini sedang menyantap mie ayam yang menjadi milik Naufal sebelumnya.


Nandira menelan makanan yang sebelumnya ia kunyah kemudian menatap Naufal sesaat seperti sedang berfikir, "Oke, lagian nanti aku gak kemana-mana." Nandira kemudian mengangguk lalu kembali menyantap mie ayam nya.


•••••


Nandira terlihat berjalan-jalan santai di trotoar jalan menuju sebuah Cafe yang sebelumnya Naufal katakan namun tiba-tiba suara seorang pemuda membuat dirinya menghentikan langkah nya "Eh? loh Cutie?" Nandira tersentak, suara yang sangat familiar di telinga nya itu terdengar di belakangnya.


Nandira menoleh mendapati seorang pemuda tampan yang sungguh sangat berarti baginya "Eh Fafa? kamu ngapain disini?" Nandira terlihat sangat bahagia kemudian langsung memeluk pemuda itu.


"Malu loh Cutie."


"Ish... Jan panggil aku 'Cutie' Fafaa...." Nandira berucap malu kemudian memukul pelan dada pemuda itu.


Pemuda itu kerap di sapa Erfan oleh orang-orang namun Nandira berbeda, ia lebih memilih untuk memanggil pemuda itu dengan nama 'Fafa'. "Oh iya kamu mau kemana emang?" Erfan berucap kemudian memegang tangan gadis itu seperti tak ingin jika ia pergi meninggalkan nya.


Tidak jauh dari sana, terlihat Naufal sedang mengendarai motor ninja miliknya dengan kecepatan sedang. Pemuda itu tak sabar ingin menemui Nandira di Cafe lalu mengutarakan perasaannya yang sesungguhnya. Ia belum pernah melakukan ini, namun ia tak ingin jika Nandira menjadi milik pemuda lain.


Ckiiiieettttt!!


Naufal mendadak tiba-tiba menarik kedua rem motor miliknya. Pemuda itu sungguh sangat terkejut melihat gadis yang sangat ia cintai itu kini bermesraan dengan seorang pemuda yang bahkan ia tak kenal sama sekali.


"A-apa...." mata Naufal terlihat memerah di balik helm full face miliknya, rasanya sakit dan sesak "Jadi... selama ini cuman gw yang baper?" Naufal tertawa yang terdengar menyedihkan di telinga orang yang mendengarnya.


Pemuda itu tertunduk menahan sesak yang menyelimuti dirinya, ia tak pernah menyangka jika akan seperti, tersakiti karena perasaan yang belum pernah pasti. Pemuda itu kembali menyalakan mesin motornya kemudian melaju pergi dari sana.


Sesaat Nandira terkejut setelah mendengar deruan motor yang berbunyi cukup nyaring yang lewat di belakangnya, tepatnya seperti bunyi motor milik Naufal. Gadis itu menoleh menatap punggung seorang pemuda yang tengah melajukan motornya dan terlihat semakin jauh lalu hilang di balik beberapa mobil.


"Kenapa Cutie?" Erfan ikut menatap kearah kemana mata gadis itu menatap.


Nandira mendelik lalu memukul pelan lengan Erfan "Ishh... Jan panggil aku 'Cutie'!... malu Fafaaa." Nandira berucap lucu membuat Erfan gemas dengan tingkah gadis ini.


•••••


KLING!


KLING!


"Iya, dia bener-bener udah punya pacar."


"Sorry Fal."


Naufal menatap handphonenya beberapa saat kemudian menghembuskan nafasnya. Naufal adalah pemuda berumur 14 tahun, pemuda yang baru saja mengenal apa itu remaja dan sulitnya kehidupan remaja, pemuda yang bisa dibilang masih berumur anak-anak pada umumnya.


Ia tau ia belum bisa dikatakan harus mengalami atau harus mengetahui apa itu cinta. Naufal masih remaja yang pemula, ia belum tau apa-apa. Baginya, perasaan ini adalah perasaan 'Ter-brengs3k' yang pernah ia rasakan. Menyukai gadis itu menyenangkan dan dapat membuat nya bahagia, namun ketika mengetahui kenyataan bahwa ia hanya pemuda yang tak pernah spesial di kehidupan gadis itu membuatnya sesak dan sakit untuk mengingat itu kembali.


Naufal sepanjang malam meratapi kenyataan yang sudah memukul keras dirinya, Ia terus berkata 'Gw cuman bocah yang gak tau apa-apa'. Setelah mengetahui jika Nandira ternyata telah mempunyai seorang kekasih yang telah mendahului dirinya membuat hati pemuda itu hancur, memang benar ini terlihat lebay... namun itulah yang ia rasakan saat ini.


Gadis itu bahkan tak pernah bercerita padanya tentang pemuda itu, jadi selama ini dia itu apa? teman atau hanya sebuah pajangan? Naufal berfikir bahwa Nandira sepertinya telah mempermainkan dirinya, mengelabui pemuda itu dengan trik liciknya yang membuat ia terpanah.


"Gw sebangs4t itu gak sih?" Naufal memegangi kepalanya yang kini berdenyut hebat akibat akhir-akhir ini ada banyak hal yang masuk ke dalam pikiran nya.


Naufal bagaikan seorang pemuda dengan umur 14 tahun namun memiliki pemikiran yang dewasa, pemuda itu bahkan mampu bertarung dengan siapa saja. Mampu merasakan cinta yang dalam namun sulit hilang, mampu menjadi seorang yang pekerja keras. Dan sekarang semua itu hanya akan menjadi sebuah angan-angan.


•••••


"Lu gak bilang apa-apa ama gw!!" Nandira tersentak menahan air matanya.


"Lu tau?... gw tiap hari ngira kalo lu itu suka sama gw!! terus apa? lu mainin perasaan gw kek gini aja?!!" Naufal melotot kan matanya kearah gadis itu, ia sebenarnya tak mampu melakukan ini namun disisi lain ia merasa sangat sakit begitu melihat wajahnya.


"A-aku tauu... tapi aku gak maksud buat mainin perasaan kamuu...."


"Ohh... jadi lu selama ini tau kalo gw suka sama lu gitu? jadi lu manfaatin kesempatan ini, iya?!!" Nandira menggeleng, ia memang tau jika Naufal sangat menyukainya namun ia tak pernah berfikir jika perbuatannya ini akan dianggap sangat jauh dan serius oleh Naufal.


"Fal, dengerin aku dulu." Nandira mendongak menatap mata Naufal yang kini memerah akibat emosinya yang memuncak.


"Dengerin lu? udah basi tau gak!" Naufal mendorong Nandira menjauh dari dirinya kemudian pergi meninggalkan gadis itu begitu saja yang kini menangis tersedu-sedu menatap kepergiannya.


"Fal... lu udah keterlaluan banget." Zevi berdiri menghalangi langkah Naufal membuat sahabatnya itu semakin tak terkontrol kan dan langsung menonjok wajah Zevi yang jelas-jelas tak tahu apa-apa. Naufal lalu pergi dari tempat itu dan tak memperdulikan Zevi dan Nandira yang menyuruh dirinya untuk kembali.


...----------------...


Biasa... drama bocil🙏😎 (Buat yang paham aja). Oke, jadi hai readersku yang gak pernah nambah-nambah 🥲... dahlah sad. Jadi gini, Author tuh cuman mau bilang maaf karena cara penulisan kata-kata Author tuh berbelit-belit terus susah di mengerti gitu, soal nya kalo ngetik tuh butuh perjuangan:)... terus cerita nya tuh lebay terus jelek, gitu gak sih? udah jelek cerita nya dah pasaran lagi, Kan gak seru☹️. Cuman pen bilang, Author tuh susah buat mikirin kata-kata and konflik-konflik bagus soalnya ribet (gak suka ribet sih sebenarnya). Karna Author udah kepanjangan curhat, jadi bye-bye aja yak... Jan lupa di share supaya pembacanya nambah hiks:').