RaNauf

RaNauf
Episode 1 _Ceroboh_



Burung berkicau lembut diantara pepohonan rindang yang menghiasi jalan. Bunyi deruan mobil dan motor yang seperti saling berlomba-lomba untuk mengeluarkan suara yang ternyaring. Para siswa siswi pelajar tengah berjalan kaki di trotoar menuju sekolah mereka masing-masing, tak ada yang berubah... begitulah kehidupan ini menurut seorang gadis manis dengan baju seragam sekolah putih abu yang tengah berjalan santai di trotoar jalan, Ia belum tau apa yang akan menantinya di didepan.


Laila Ranifah Kirani, itulah nama yang tertera pada name tag gadis itu. Sederhana namun itulah ia, gadis yang tak pernah peduli bagaimana penampilannya, baginya ia hanya seorang gadis biasa yang hidup di kehidupan biasa.


Ran terlihat sedang berjalan santai menuju sekolah nya, hingga ia mendapati sebuah gerobak es krim yang seperti sedang berteduh di bawah pohon rindang. Awalnya ia iseng membaca es krim yang dijual oleh pedagang pemilik gerobak itu hingga membuat matanya berbinar.


Ternyata pedagang itu menjual sebuah es krim yang seingatnya pernah ia nikmati dulu sewaktu ia kecil. Ran berlari pergi menghampiri pedagang es krim tersebut lalu sesampainya ia disana segera ia meminta pedagang itu untuk memberikannya satu jenis es krim rasa cokelat.


Tak lama kemudian, pedagang itu pun memberikan es krim yang Ran katakan tadi lalu sebaliknya Ran pun memberikan uang senilai Rp. 5.000 kepada pedagang itu.


Ran lalu segera pergi dari sana, tak ingin mengulur waktu yang mana akan membuatnya terlambat masuk sekolah. Sesampainya di dekat gerbang sekolah, Ran yang tengah asik menikmati es krim miliknya itu malah tersandung oleh sebuah batu yang mana membuat es krim yang ia beli beberapa menit yang lalu terlempar jauh beberapa kaki di hadapannya dan....


Pluph!!


Ran mendongak menatap punggung beberapa pemuda di hadapannya. Mulut gadis itu ternganga saat melihat es krim itu ternyata sekarang menempel pada punggung baju dari salah seorang pemuda disana.


Ran segera berdiri dan membersihkan serpihan-serpihan tanah yang melekat pada seragam nya. Ran menggigit bibir bawahnya merasa ngilu melihat es krim nya yang kini melekat sempurna pada punggung seragam pria di hadapannya itu. Hingga pemuda itu menoleh kearahnya yang diikuti oleh teman temannya yang juga ikut terkejut atas kejadian itu. Ran refleks menunduk kemudian segera meminta maaf atas perbuatannya itu.


"Sorry ya dek, lu ngapain?" Ran tersentak mendengar ucapan salah seorang pemuda di hadapannya itu.


"Palingan cewek caper, udah deh dek gosah caper... nanti di tolak nangis." Sambung pemuda yang lainnya membuat teman-teman nya itu tertawa.


"Lu nyari masalah hah?!"


Suara berat kali ini adalah suara pemuda yang terkena es krim itu pada punggungnya, entah nasib apa yang akan gadis ini hadapi kedepannya.


"Maaf...." Ran menunduk takut, sepertinya pemuda ini sungguh marah besar kepadanya.


"Haahh... Fal, maafin aja ni cewek... gak sengaja kali." Pemuda satu ini terdengar sedang membela Ran membuat hati Ran terasa lega beberapa saat hingga ancaman pemuda tadi itu membuatnya kembali tegang "Kali ini, gw lepasin lu... tapi kalo lu ulangin lagi... awas aja." Pemuda itu terlihat melepas seragamnya lalu melemparnya ke gadis itu asal.


Sedangkan gadis itu tiba-tiba refleks menangkap seragamnya lalu menatap wajah pemuda itu. "Yaudah cabut."


Pemuda-pemuda itu terlihat menjauh dari posisi Ran saat ini, sedangkan gadis itu hanya terdiam membisu seraya sesekali menatap seragam pemuda tadi.


"Fiuhh... Untung gak kena hukuman kek Drakor-drakor di tv itu." Ran bergumam lalu kembali menatap seragam pemuda itu. "Terus kenapa dia ngasi aku baju seragamnya? dia gak takut apa di hukum?"


******


"Athif Naufal Bhalendra?" Ran terlihat bergumam seraya menatap tulisan yang tertera pada name tag seragam pemuda tadi.


"OII!!" Seorang gadis muncul di belakang Ran seraya menepuk pundak Ran secara tiba-tiba membuat gadis itu terkejut dan hampir jatuh dari kursinya.


"Astaghfirullah! Afifah!... bisa gak sih tiap pagi munculnya gak kek kuntilanak?!" Ran yang terkejut itu refleks mengomeli gadis yang di panggil nya 'Afifah' tadi sedangkan gadis yang di omelinya itu malah cengengesan merasa tidak bersalah sedikitpun.


"Eh eh ehh?! apa nih?" Gadis dengan nama lengkap 'Afifah Zeline Zakeisha' itu tiba tiba menarik paksa seragam pemuda tadi yang berada di tangan Ran sebelumnya. Terlihat gadis itu menatap seragam tersebut dengan teliti di setiap sisi dan sudutnya.


"Ran, kamu tau ini baju siapa?!" Afifah nampak histeris sedangkan Ran hanya menampilkan tampang biasa-biasanya sekolah tak ada yang terjadi.


"Gak." Ran menjawab enteng sedangkan Afifah kini menepuk dahi nya pelan, lelah menghadapi sahabat nya yang semakin hari semakin bodoh saja menurut nya.


"Ini itu baju seragamnya kak Athif Naufal Bhalendra! cowok populer dan terbadboy di sekolah kita! masa kamu gak tau sihh??!" Ran terlihat hanya mengedipkan matanya dua kali lalu menggeleng tanda tak tau nya ia siapa yang sahabatnya maksud itu.


"Astaga Raannn... ini bajunya kenapa bisa di kamu sih??"


Afifah mengguncang-guncangkan tubuh Ran histeris sedangkan sahabatnya itu malah bingung sendiri dengan sikap gadis dihadapannya itu.


"Gak tau itu orangnya yang ngasi sendiri tadi." Ran berucap polos yang mana membuat Afifah semakin panik.


"Kalau antek-anteknya kak Naufal tau, mereka pasti bakal nyiksa kamu!" Afifah berucap serius membuat Ran ikut panik.


"Lah terus gimana dong?"


"Pertama, kita gak usah pikirin itu dulu... yang penting sekarang kamu harus hati hati sama kak Naufal, jangan cari masalah ma dia. Emang sih dia ganteng, tapi aslinya tuh galak parah." Ran mengangguk-anggukan kepalanya kemudian menatap seragam pemuda itu yang kini beralih pada tangan nya


"Eh, bagaimana bisa sih bajunya ada di kamu?" tanya Afifah yang mana membuat Ran langsung memberitahukan kejadian pagi tadi di depan gerbang sekolah.


Setelah Ran selesai menceritakannya, terlihat Afifah cengo dengan mulut ternganga. "Fah?"


"Astaga Raannn... kamu kok ceroboh banget seh!" Afifah kini mengomeli Ran atas tindakan sahabatnya itu pada seorang Naufal.


"Ya kan aku gak tau Fah...." Ran berucap polos lagi membuat Afifah gemas terhadap sahabatnya yang satu ini.


"Nanti kamu cuci tu baju, terus bawa ke orangnya." Ucap Afifah memberi saran.


"Iya aku tau, tapi kan aku takut." Ran memperlihatkan wajah memelasnya sedangkan Afifah kini memutar bola matanya tak peduli.


"Gak mau Ah...."


"Yeee... temenin Fahh...."


"Gak!"


"Temenin lah!"


...----------------...


Maaf atas penulisan yang salah dan alur yang berantakan. Tolong tinggalkan jejak, terimakasih😄