
"Ck... berisik banget." Naufal menatap tajam Raka dan Doni yang berteriak histeris dihadapan nya.
"Wanj/r pertama kali dalam sejarah! seorang Babang Nopal bilang dah jadian ma seorang cewek!" Raka berucap histeris dengan mata melotot kearah Naufal.
"Gila nj/r, mempermainkan perasaan wanita itu sama saja dengan mempermainkan suatu ibadah." Doni berargumen dengan wajah songongnya membuat Naufal ilfeel dan ingin segera hengkang dari sana.
"Serah lu ah!... Bab juga gak masalah tuh." Naufal menarik satu sudut bibirnya kemudian membentuk wajah jahatnya. "Lagian gw gak beneran jadian nj/r, mana mau gw." Sambungnya dengan nada muak, mana mungkin ia jatuh cinta semudah itu pada seorang gadis terlebih lagi gadis seperti Ran.
"Dih, ngakunya gitu... sapa tau beneran suka Ahahaha...."
BLETAK!
"Setan lu Nyet!"
"Cari cewek itu."
*****
Seorang gadis berlari kearah seorang pemuda yang tengah berdiri membelakanginya jauh didepan sana. Gadis itu mempercepat langkahnya saat melihat pemuda itu menoleh menatapnya seraya tersenyum manis namun entah mengapa dimata gadis itu wajahnya terlihat sangat buram.
Gadis itu terisak dengan air mata yang terus berjatuhan dari pelupuk matanya saat melihat tubuh pemuda yang jauh dihadapannya itu perlahan menghilang bagai serpihan debu yang terbang menghilang bersama angin.
"Gpp... gw sayang lu kok, tenang aja." seraya tersenyum, pemuda itu pun berucap sesuatu sebelum tubuhnya benar-benar lenyap menjadi abu.
"RANN!!!"
Gadis itu refleks berhenti berlari, kemudian menoleh kebelakang punggungnya. Mendapati seorang pemuda dengan wajah shock dan sangat terkejut menatap dirinya.
Ia terdiam menatap pemuda itu heran, ada apa dengannya? beberapa kali ia terus berteriak memanggil namanya dengan lantang diantara kegelapan.
"AWAS!" Netra gadis itu membulat saat melihat dirinya kini berada ditepi jurang yang sangat dalam dan gelap. Belum sempat melakukan apapun, gadis itu malah terpeleset tak bisa menahan keseimbangan tubuhnya kemudian terjatuh kedalam jurang itu. Tubuhnya terasa sangat lemas, dan sudah seperti mati rasa, air matanya pun terus berjatuhan dengan derasnya tanpa berhenti.
"Hah!!" Ran tiba-tiba terkejut kemudian terduduk dari tidurnya. Keringat dingin bercucuran ditubuhnya serta nafas yang terasa berat. Gadis itu menyeka air mata yang keluar disudut mata kanannya, ia merasa ia tak pernah menangis sebelumnya, namun mengapa ada setetes air mata nya disana?
Terlintas dipikiran nya mimpi yang sebelumnya ia lihat, mimpi yang aneh namun berhasil membuatnya terbangun lebih awal hari ini. Ran tak ingin berfikir jauh lagi tentang mimpi itu, ia memilih turun dari atas ranjangnya mencoba berjalan kearah kamar mandi.
"Udah hampir jam tujuh, Ran mana?" Afifah terlihat mondar mandir didepan pintu tak biasanya Ran seterlambat ini. "Jangan jangan dibully diluar lagi? atau lagi disuruh suruh Kak Naufal? duhh kok khawatir gini sih." Batin Afifah yang kini terduduk di kursi nya.
KRIRIRIRIRINGGG!
KRIRIRIRIRIRIINGGG!!
"Duduk! bel udah bunyi tuh!" Ujar Ketua kelas dengan sikap tegasnya seperti biasa. Tak menunggu lama seorang guru datang dengan beberapa buku yang didekapnya. "Selamat pagi anak-anak, seperti biasa... sebelum memulai kelas kita akan mengadakan kuis." Ucap Guru tersebut dengan senyum manisnya yang dijawab dengan beberapa keluhan dan ketidaksetujuan siswa didalam kelas itu.
"Baik sebelum kuisnya dimulai, Ibu mau lihat siapa yang belum hadir." Tampak Ibu Guru tersebut celingak-celinguk menatap wajah semua muridnya, melihat siapakah siswanya yang belum datang. "Loh? Ran mana?"
"Ha-Hadir Bu! Hosh... hoshh...." Ran tiba-tiba muncul didepan pintu dengan nafas yang tersengal-sengal. "Kenapa baru datang? kamu terlambat 5 menit loh." Tampak wajah Guru tersebut sedikit mengerut kesal dengan Ran yang datang kesekolah terlambat.
"I-itu...."
"Sudah berapa kali Ibu bilang ya sama kalian, tidak ada yang boleh terlambat! apalagi kalau jam pertama seperti ini! Hari ini Ran gak boleh masuk kelas Ibu, sebagai hukuman cepat bersihin lapangan sekolah!" Ran memasang wajah terkejutnya, ia juga sudah berusaha untuk sampai kekelas ini secepat mungkin namun pada akhirnya ia dihukum juga.
Dengan wajah lesunya, gadis itu mengangguk kemudian segera hengkang dari depan pintu kelasnya. Ran berjalan dengan wajah cemberut, belum pernah ia dihukum seperti ini. Sesampainya di lapangan sekolah, gadis itu terdiam saat melihat seorang pemuda tengah memunguti satu persatu sampah yang berceceran di lapangan luas itu sendirian. Seorang pemuda yang selalu Ran coba untuk menghindar darinya, Namun mana mungkin ia pergi dari hukumannya bukan?
Cukup lama Ran bersedekap dada menatap pemuda itu yang sesekali menggerutu yang cukup lucu dan menyenangkan untuk dipertontonkan. Pemuda itu kemudian tersadar bahwa sedari tadi ada seseorang yang sedang memperhatikan dirinya, ia kemudian menoleh pada Ran tiba-tiba membuat iris mereka bertemu. "LU!" Pemuda yang tak lain ialah Naufal itu sendiri menatap dirinya tajam, Terlihat Ran mencoba menahan tawanya menatap ekspresi Naufal ditengah teriknya matahari menjalani hukumannya.
"Ciee dihukum!" Teriak Ran kemudian tertawa yang hanya dibalas tatapan benci dan kesal oleh pemuda itu. Tampak Naufal mencoba mendekat kearah Ran namun dirinya langsung terhenti disaat melihat seorang guru datang menemui gadis itu, Seperti sedang membentak dan memarahinya.
Naufal mencoba sedikit mendekat untuk mendengar pembicaraan mereka, namun tak sempat karena Ibu guru itu pun langsung pergi dan melenggang dari sana. Ran menghela nafasnya berat kemudian kembali menoleh kearah Naufal dan langsung terkejut ketika melihat Naufal kini berada dibelakangnya seraya menatap Guru yang sempat membentak dirinya tadi.
"Pfttt... Lu dihukum juga? sekalian kerjain juga hukuman gw." Naufal berucap enteng kemudian segera memberikan kantong plastik besar yang sempat ia pegang sebelumnya kepada gadis itu.
"Tapi-"
"Ck!" Ran menatap punggung Naufal benci seperti ingin mencabik-cabik nya hidup-hidup kemudian segera berlari kearah kantin sekolah untuk membelikan pemuda itu sebuah minuman, apapun jenis nya itu.
*****
"Heh!! Lah kok aku dibawa kesini?! bentar lagi masuk loh itu!" Ran melotot pada Naufal yang kini menyeret dirinya menuju gang sempit. Terlihat pemuda itu tak menggubris satu pun perkataan gadis itu dan terus berjalan santai menyeretnya.
Ran terus saja memberontak dan ingin segera melepaskan cengkraman tangan Naufal yang begitu sulit untuk dilepaskan. "Lu bisa diam gak sih?!" Naufal tiba-tiba menghentikan langkahnya kemudian menoleh menatap Ran tajam. "Iya-iya." Ran membuang wajahnya dan hanya bisa pasrah kemana pemuda itu membawanya.
Pikiran negatif tiba-tiba muncul dari benak gadis itu, apakah ia akan dibunuh ditempat sepi ini? pikiran sempit terus saja terlintas dipikirannya membuat dirinya merasa gelisah dan ingin segera pergi saja dari sini. Keringat dingin bercucuran di tubuhnya ketika merasakan hawa tajam yang mencekam disekelilingnya "Loh kok jadi genre horror sih heh!" Batin Ran ketika Naufal semakin mempercepat langkahnya dan semakin menguatkan cengkraman tangannya.
"Halo bang Nopal! lah.. lu bawa siapa tuh?!" Ran terkejut menatap pemuda-pemuda dihadapannya yang ternyata adalah sahabat-sahabat Naufal, ternyata mereka memang berencana untuk bolos namun mengapa malah menyeret Ran?
"Anj/r emang lu Fal, seret doi buat bolos." Gerutu Raka mengingat pasalnya bahwa ia belum memiliki seorang kekasih.
"Gw Nemu dijalan." Jawab Naufal santai membuat Ran melotot, apa maksudnya? jelas-jelas ia langsung ditarik ke tempat ini, bahkan disuruh untuk memanjat dinding tembok sebelumnya.
"Kalian mau bolos?!"
"Napa? lu bisa apa emangnya?" jawab Naufal seraya menarik satu sudut bibirnya. "Aku bisa telpon bunda kamu tuh!" Ran kemudian meraba-raba kantong bajunya kemudian tersadar bahwa Handphone nya tertinggal ditasnya yang kini sedang berada dikelas.
"Lah mana?" Batin gadis itu dengan wajah terkejutnya. "Pfttt... kenapa?" Ucap Naufal mengangkat satu alisnya dengan wajah yang songong.
"Lu ngapain bawa Ran?!" Fadlan terdengar membentak Naufal dengan mata menajam. Naufal menoleh menatap Fadlan datar "Terserah gw." Singkatnya.
"Lu gak tau soal Rehan?!" Naufal tersentak dengan ekspresi yang tiba-tiba berubah, ia lupa membuka Handphone nya tadi, ia malah menyeret gadis ini tanpa sengaja dikarenakan keisengannya.
Sesaat Naufal menoleh pada Ran yang sedang memasang wajah yang tidak tau apa-apa. "Cih, lu balik aja sana!" Ucapnya tepat saat Ran menoleh padanya.
"Hah?! Tapi kan aku-"
"Lu masih mau disini?!" Naufal menatap tajam dirinya membuat gadis itu hanya bisa meneguk air liur nya kemudian mengangguk pasrah, ini juga akan menjadi kesempatan untuk dirinya kabur dari Naufal.
Ran berjalan cepat pergi dari sana mencoba menelusuri gang sempit tadi sendirian meskipun hanya menebak-nebak arah selanjutnya. "Emang tu cewek udah biasa lewat sini?" Doni bertanya dengan mata yang tak lepas dari punggung Ran yang mulai menjauh.
"Biarin, gak peduli gw." Cuek Naufal dan segera bertanya tentang apa yang akan seorang 'Rehan' lakukan kepada teman-teman nya. Pemuda itu sangat licik dan selalu membawa orang lebih untuk dimanfaatkan sebagai anggota perkelahian nya. Terkadang Naufal geram dengannya namun tidak mungkin ia membuat pemuda itu babak belur langsung dihadapan adiknya.
Namun disisi Ran kini, gadis itu malah tersesat dan lupa jalan pulang. Seharusnya ia menanyakan jalannya pada Naufal, atau setidaknya ia lebih teliti lagi sebelumnya ia melewati jalan mana. Lagi pula gang ini juga memiliki banyak jalan yang mana hanya bisa membuat dirinya pusing bukannya tau akan melewati belokkan yang mana.
"Astoget... aku kesesat." Batinnya dengan keringat dingin melihat situasi juga tidak mendukung dengan sekitarnya yang terlihat agak gelap.
"Pftt...." Ran menoleh secepat mungkin ketika mendengar cekikikan seorang pemuda yang terdengar tak jauh dari posisi nya saat ini. "Siapa itu...." Gumamnya semakin takut.
"Tersesat?" Suara berat seorang pemuda yang terlihat kini sedang berdiri dibawah kegelapan yang menyelimuti nya, Ran terlihat was-was jangan-jangan ini keisengan Naufal belaka?
"Jangan becanda deh Naufal!" Lantang Ran membuat pemuda dengan wajah yang tertutup itu tersentak.
"Lu kenal Naufal?"
"Si-siapa itu?!" Bukannya menjawab, Ran malah membentak galak pemilik suara itu.
"Ahahaha... jadi, lu ceweknya Naufal ya?" Ran semakin gelisah saat suara langkah kaki seperti mencoba mendekati dirinya, perlahan Ran mundur dengan mata yang selalu waspada menatap sekitar nya.
Dugh!
Tubuh Ran mendadak kaku saat merasakan punggungnya kini mengenai tubuh seseorang bukannya sebuah tembok namun sebuah tubuh pemuda tinggi. "Halo...."
"KYAAAKKK!!!!"
...----------------...