
Deg!
"Rehan udah ada di tempat ini." Zevi berucap dengan alis yang dikerutkan. Naufal terdiam, merasa bahwa sesuatu terjadi di sekitar sini. "Fal? lu ngapain ngelamun?" suara Fadlan mengejutkan Naufal yang sedari tadi terdiam seperti ada sesuatu yang terasa tidak mengenakkan di dalam dirinya.
"Gak, Gak ada. Lu bilang apa tadi Vi?" Naufal menoleh menatap Zevi yang sedari tadi telah mencoba mengatakan sesuatu padanya namun tak satu pun kata masuk kedalam telinganya.
"Rehan udah ada disini."
"Btw, Kita bakal gelud lagi ni?" Raka berucap dengan gaya nya yang santai kemudian dijawab dengan bahu terangkat oleh Doni. "Entah."
"Lu napa Fal? gitu mulu dertadi." Kata Doni setelah menatap gerak-gerik Naufal sedari tadi. "Gada." Singkat Naufal membuat ekspresi Doni berubah menjadi datar dan lelah dengan sikap Naufal yang begitu judes.
Krasak....
Kelima pemuda itu menoleh langsung begitu mendengar suara aneh di belakang mereka. "Lu sengaja ya Ka?!" Raka mendelik tak terima, bahwasannya bukan ia yang melakukan hal tadi meskipun ia berada paling belakang diantara mereka.
"Yo!" Suara berat nan tinggi seorang pemuda terdengar dari hadapan mereka, suara pemuda yang sangat mereka kenali berhasil menarik perhatian pemuda-pemuda itu. Tampak ia mendekat dengan diikuti oleh beberapa teman-temannya yang tak terlalu banyak. "Halo Naufal, dah lama nih." Pemuda itu tersenyum miring menatap Naufal yang mengerutkan alisnya benci menatap pemuda dihadapannya, begitu pula dengan teman-teman nya yang lain.
"Rehan... lu mau ngapain lagi hagh?" Naufal berucap berusaha tenang, tak ingin terbawa emosi begitu mudah. "Emmm... tadi sih gw sebenarnya mau ya... adu jotos ma lu. Tapi gw berubah pikiran Hahahaha...." Naufal mengepalkan tangannya kesal menatap pemuda dihadapannya ini, namun untuk saat ini lebih baik ia menahan emosinya.
"Maksud lu apa?" Rehan tertawa lagi kemudian melirik arah belakang punggungnya, tak menunggu lama tiba-tiba seorang pemuda maju seraya menarik seorang gadis dengan mulut yang di sekap.
Netra Naufal membulat mendapati bahwa gadis itu ialah Ran sendiri, seharusnya ia tak membiarkan gadis itu pergi sendiri sebelumnya. "Ghh... Lu!" Naufal menatap tajam Rehan yang tersenyum puas melihat ekspresi nya. "Lu gak usah libatin cewek woi!" Fadlan berucap yang juga terkejut bahwa Ran kini menjadi Sandera seorang Rehan.
"Ngelibatin? gak tuh, gw cuman mau sedikit bernegosiasi dengan Naufal sekalian gw bawa juga ni cewek. Gak salah... kan?" Naufal berdecih, ingin sekali menonjok wajah pemuda songong dihadapan nya.
"Cewek lu cantik juga." Rehan dengan tangan gatalnya lalu menyentuh kemudian mengacak rambut Ran yang sedari tadi menahan air matanya tak ingin seperti ini.
"Awas ya Fal, kalau Ran nanti luka karna kamu!"
"Lepasin dia." Dingin Naufal yang mana membuat Rehan memasang wajah terkejutnya yang sengaja dibuat-buat.
"Lepasin? gak semudah itu, Naufal." Naufal mengerutkan keningnya "Lu mau apa hagh?!" Suara pemuda itu bergetar menahan emosi nya yang kini hampir memuncak.
"Gw mau...."
"Rehan!" Pemuda itu menoleh mengangkat satu alisnya menatap salah satu sahabat Naufal disana, Fadlan. "Lu gak usah libatin Ran!" Rehan tertawa menatap wajah Fadlan yang begitu marah dan kesal padanya. "Lu sekarang jadi berani gini ya? Hahaha... Fadlan." Rehan menarik satu sudut bibirnya menatap Fadlan.
"Lu gak malu diliatin Ibu?!!" Rehan tersentak namun kembali memasang wajah smirk nya tak perduli. "Ibu? buat apa? Heh... adek kek lu cuman modal gak guna! bego! gak bisa diandelin! lu bisa apa hagh? sekarang lu mau lawan gw?!" Fadlan terkejut dengan kepalan tangannya yang kini bergetar menatap Rehan yang kini berucap kesal seraya merendahkan dan menghina dirinya.
"Fadlan, Fadlan... Lu cuman bocah... lu bisanya apa hah? LU BISANYA CUMAN NYUSAHIN!"
Rehan terlihat mendorong Ran membuat gadis itu terjatuh dibawah tanah yang kasar. Rehan dengan mata melotot nya maju kehadapan Fadlan, ingin sekali menonjok adiknya habis-habisan. Naufal melirik Ran kemudian tanpa aba-aba ia langsung berlari lalu menarik Ran pergi jauh dari sana.
"Gak semudah itu bngst!" Fadlan menarik lengan kakaknya kuat kemudian refleks meninju wajahnya melihat pemuda itu juga ingin ikut berlari mengejar Naufal. Tak terima dengan perbuatan Fadlan, Rehan dengan sigap hampir meninju dengan keras bagian perut Fadlan namun dengan cepat Fadlan mundur untuk menghindar lalu dilanjutkan dengan bogeman kuatnya menghantam perut Rehan.
Sedangkan disisi Naufal dan Ran saat ini, mereka berdua sedang mencoba berlari secepat mungkin untuk keluar dari tempat itu. "Mmmhhh!!!" Naufal menoleh menatap gadis dengan kaki yang masih berlari kuat, sesekali ia juga menatap ke depan.
Naufal berdecih lalu berhenti berlari agar dapat menetralkan nafas nya dengan sempurna. Naufal menarik Ran kearah sebuah belokan gang, saat belok ternyata gang tersebut terlihat sangat sempit dibandingkan gang lainnya apalagi terdapat tong sampah besar disana. "Masuk." Ran membulat kan matanya namun Naufal tetap Keukeh dan mencoba mendorong gadis itu masuk kesana. "Lu mau ketangkep lagi?" Naufal sedikit meninggikan nada bicaranya namun masih terdengar sedang berbisik.
Ran mencoba masuk kesana kemudian di buat terduduk dibawah tanah oleh Naufal setelah tiba disana. "Mmh!" Ran mendelik namun Naufal tak mengerti, pasalnya mulut gadis itu masih disekap. Ran dan Naufal kini terlihat duduk bersama dibelakang tong sampah besar sebelumnya, tempat itu juga terlihat aman jadi Naufal bisa menyembunyikan gadis ini dari anak buah Rehan.
"Mmh!!! Mmmhhh!!" Naufal meringis mendengar suara gadis itu yang tak ada hentinya seperti ingin berteriak saja ditempat itu. "Lu mau kita ketauan?! diem!" Ran menatap tajam Naufal, bisa-bisanya Naufal begitu tak peka melihat mulut nya masih disekap serta pergelangan tangan nya diikat kuat dengan tali oleh teman-teman Rehan sebelumnya.
"Lepas sendiri." Singkat Naufal dengan mata tak luput dari jalan luas gang dihadapan mereka, berusaha melirik Ran sesekali namun tak begitu peduli dengannya. "Mmhh!!! mmhhh!!"
"Ck! shutt!!!" Naufal dengan kesalnya lalu menutup mulut gadis itu dengan telapak tangan kanannya kemudian meletakkan jari telunjuk kirinya dihadapan bibirnya. "Diemm!" Naufal memajukan wajahnya dengan mata melotot, pasalnya gadis ini sangat keras kepala.
Ran menggeser tubuhnya sedikit menjauh dari Naufal kemudian mengangguk pasrah. "Bukain kek!" Batin gadis itu dengan mata menajam menatap Naufal. Beberapa saat kemudian Naufal lalu kembali melirik Ran yang kini sudah lelah dengan tangan yang diikat kuat serta mulut yang di tutup dengan sebuah selotip.
Perlahan Naufal menyentuh tali yang melingkar sempurna dipergelangan tangan Ran membuat nya tersadar, lantas Ran menoleh langsung menatap tangannya dan melihat Naufal kini berusaha membuka tali itu. Tak menunggu lama akhirnya tali itu terlepas dan meninggalkan jejak memar dipergelangan tangannya namun tak terlalu peduli lalu segera melepas selotip yang menyekap mulutnya.
"Hahh!... Makasih." Lirih gadis itu setelah melepas selotip tadi dari mulutnya. Tak mendapat jawaban Naufal, Ran memilih diam kemudian melirik kearah mana Naufal menatap.
"Tadi itu si-"
"Shttt!!" Naufal tiba-tiba menutup mulut Ran dengan telapak tangannya membuat Ran sungguh terkejut dengan mata membulat, sedangkan Naufal kini mencoba mengintip ke depan sana.
"Ck... Kabur! gimana ini?"
"Blom jauh itu... ayo cari lagi!"
Suara-suara beberapa pemuda disana membuat Naufal semakin berwaspada, pasalnya beberapa Minggu ini ia harus menahan dirinya agar tak membawa luka memar ditubuhnya. Bundanya beberapa hari lalu mengatakan bahwa ayahnya akan kembali dalam kurun waktu yang dekat, jadi karena itu ia harus menahan dirinya agar ayahnya tak mendapati dirinya dengan luka berat ditubuhnya akibat perkelahian.
Merasa telah aman, Naufal kemudian menghembuskan nafasnya kasar. Bukannya tak ingin berkelahi namun ia terpaksa melakukan hal yang menurutnya bodoh seperti ini.
"Akhhh!!" Naufal hampir berteriak kuat ditempat itu saat telapak tangannya digigit Ran. Ran bukannya ingin mencari masalah, namun Naufal dengan santainya terus menempelkan telapak tangannya pada mulut gadis itu membuatnya tak nyaman.
"Lu ngapain sih!...." Naufal melotot kan matanya menatap Ran dengan telapak tangan yang diusap-usap. "Kamu sih!" Ran menolehkan wajahnya kearah lain, tak ingin menatap wajah Naufal saat ini.
"Bego." Singkat Naufal kemudian kembali berjaga-jaga.
...----------------...