
"PAPAA!! MAMAA!!" pekik seorang gadis dengan rambut tergerai indah miliknya.
Gadis itu berlari kemudian berhambur memeluk Ibu dan ayahnya bergantian, melepas rindu yang sudah tertanam pada benaknya selama hampir sebulan itu.
"Aduh anak mama kok keliatan kurusan sihh?" celoteh Ibunya seraya mengusap pipi mulus putrinya.
"Gak kok Ma... Ran gemukan hehe...." ucap gadis itu terkekeh.
"Udah dulu rindu-rinduannya, yuk masuk." ajak sang Ayah pada istri dan putrinya yang sedari tadi menempel satu sama lain.
"Tante Sherina mana sayang?" tanya Ibunya di sela-sela mereka berjalan menuju pintu utama rumah mereka.
"Ada kok di dalam Ma, didalam ada Vari juga loh." Jawab gadis itu membuat Ibunya tersenyum lalu mengangguk paham.
Sesampainya didalam kediaman mewah keluarga mereka, sang Ayah pun memeluk adiknya dan keponakannya bergantian begitupun juga dengan sang Ibu yang melakukan hal yang sama.
"Duh kak, maaf ya gak sempet jemput di bandara." ucap Sherina yang terlihat merasa tidak enak.
"Gpp kok Sher, lagian kan saya yang seharusnya bilang makasih sama kamu soalnya kamu udah jagain Ran disini." ucap Mama gadis itu (Ran) sembari memegang kedua pundak putrinya.
"Haish... sama-sama kak, lagian saya juga senang kok jagain anak kamu." kata Sherina berbohong dengan senyuman palsunya.
"Eh Mama ma Papa mending istirahat dulu deh, Ayuk Ran antar ke kamar." Ran lalu menarik kedua tangan milik orang tuanya agar mau ikut pergi dengannya.
"Hahaha... iya Ran iya... pelan-pelan aja." Tiba-tiba Ibu gadis itu terlihat bingung sendiri, ada apa dengan sikap putrinya hari ini?
Malamnya, keluarga Ran kini berkumpul di ruang keluarga. Sherina, Tante Ran dan putranya Vari belum pulang ke kediaman mereka pasalnya Ibu Ran mengatakan bahwa mereka berdua tinggal disini saja dahulu sampai hari esok tiba.
"Ran, lagi ngapain tuh?" ucap Ibunya tiba-tiba seraya membelai rambut Ran.
"Lagi main Hape Ma...." ucap Ran enteng yang masih setia menatap layar handphone miliknya.
"Hahaha... iya deh iya, lagi main Hape... oh iya, gini sebenarnya... ada temen Mama yang tinggal di daerah sebelah, dia itu punya satu anak cowok. Nah, sahabat Mama bilang anaknya tuh susah diatur, terus suka keluyuran ampe malam gitu, dia juga susah buat disuruh belajar katanya." ucap Ibu Ran panjang lebar yang hanya diangguki Gadis itu mengerti.
"Terus kenapa Ma?" Ran kini bertanya seraya menatap wajah Ibunya bingung.
"Temen Mama itu, bilang ke Mama supaya kamu mau ajarin anaknya belajar, sekalian disiplin kan dia juga." jelas Ibunya membuat Ran kini terdiam, kenapa harus dirinya yang melakukan hal itu?
"Nah terus, kata temen Mama juga, anaknya tuh kebetulan satu sekolah ma kamu, jadi kamu bisa leluasa gitu ajarin langsung di sekolah." Sambung Ibunya lagi membuat Ran mengangguk-anggukan kepalanya.
"Oh iya Ma, nama anaknya temen Mama tuh siapa?" tanya Ran namun tiba-tiba Ayah gadis itu memanggil Ibunya dari lantai dua diatas, kebetulan Ayah gadis itu sedang merasa tidak enak badan tadi jadi ia sangat membutuhkan Ibu dari gadis itu sekarang, bisa dikatakan bahwa Ayah Ran akan terlihat sangat manja kepada istrinya itu ketika ia sedang sakit.
"Eh aduh, Mama lanjutinnya besok aja ya sayang, Papa manggil." Ibu Ran tersenyum kemudian mengecup singkat pipi kiri gadis itu lalu melenggang pergi dari sana.
"Tapi...." Ran menghela nafasnya menatap punggung Ibunya yang terlihat mulai menjauh "Yaudah besok aja." batin Ran kemudian kembali memainkan Handphone miliknya.
*****
"Lu-Luu??!!" Naufal tiba-tiba muncul dan memekik ketika melihat Ran kini terduduk santai di atas sofa milik keluarga nya.
"Eh?? Kamu? A-aku gak salah rumah kan?!" Ran terkejut lalu bangkit dari duduknya seraya menatap Naufal yang kini berjalan tergesa-gesa kearahnya dengan wajah bingung.
"Lu napa ngikutin gw ampe sini Hagh?!!" ucap Naufal yang kini meninggikan nada suaranya.
"Ih... sapa juga yang ikutin kamu!" Gadis itu dengan keberanian nya kini membentak Naufal dihadapan nya secara langsung.
"Lu sekarang berani ya?!"
"Bundaa... kenapa cewek ini ada disini?" Naufal bertanya seraya mendekat kearah Bundanya.
"Eh, kamu pernah ketemu ma nak Ran?... ah keknya kalian udah saling kenal deh, iya kan?" ucap Calista melihat Ran dan Naufal yang sedari tadi saling tatap-menatap dengan aura kebencian.
"Gak! Naufal gak kenal tuh sapa dia." Kata Naufal ogah-ogahan dengan ucapan Bundanya.
"Idih... dia boong Tan, jelas-jelas ya di sekolah-"
"Woi shuuttt!!... lu berani lanjutin kata-kata lu, gw bakal potong tu lidah!" ancam Naufal seraya menunjuk mulut Ran.
Ran menggeleng sembari menutup mulutnya menggunakan telapak tangan, tak ingin jika lidah miliknya itu di potong hidup-hidup oleh seorang Naufal yang tak kenal ampun. "Haisshh... udah-udah, kalian itu udah keliatan banget kalo dah saling kenal. Kalau begitu saya jadi gak usah dong repot-repot kenalin kalian satu-satu." Calista lalu meletakkan secangkir teh tadi diatas meja kemudian menarik Ran dan Naufal agar duduk di atas sofa.
"Naufal gak mau duduk di sampingnya Bunda." Naufal berucap yang terdengar seperti keluhan manja.
"Ck... ternyata asli manja banget." Batin Ran bersedekap dada kemudian membuang wajahnya kearah lain.
"Hahaha... yasudah, biar Bunda yang duduk di samping nak Ran." ujar Calista membuat Naufal segera berdiri dan menjauh dari gadis itu.
"Cih, ngapain sih tu cewek dateng kerumah gw? ganggu hari libur gw aja bangs4t!" batin Naufal dengan mata yang menatap Ran tidak suka. Begitu pun juga dengan gadis itu, mengapa juga Ibunya menyuruh dirinya agar datang ke kediaman Naufal ini? kenapa bukan kediaman orang lain saja?
Ran sudah lelah dengan tingkah Naufal di sekolah terhadap dirinya, apakah ia harus menghadapi tingkah pemuda ini di luar sekolah juga? ayolah, ini sepertinya tidak benar bukan? Gadis itu sudah putus asa dengan hadirnya Naufal secara tiba-tiba yang menerobos masuk ke dalam kehidupan bahagianya. Ran sudah tak tahan di perlakukan seperti itu, disuruh-suruh dengan alasan yang tak pernah jelas. Namun sekarang gadis itu sudah bisa memberanikan dirinya untuk membentak dan mengelak setiap ucapan Naufal yang selalu seperti mempermainkan dirinya.
"Aduhh... kok pada diam sih? yuk ngomong gih." ajak Calista seraya menatap Ran dan Naufal bergantian yang sedari tadi terdiam itu.
"Nggg... Tante, apa dia anak Tante yang harus Ran ajarin?" Ran bertanya hati-hati seraya menunjuk Naufal membuat sang empu mendelik lalu menatap gadis itu tajam.
"Yaiyalah sayang, orang cuman Naufal anak saya. Oh iya, saya denger loh dari Mama kamu kalo kamu itu juara kelas mulu, jadi Tante berinisiatif buat kamu ajarin anak Tante yang bandelnya gak ketulungan ini. Jadi Tante mohon, ajarin anak Tante ya?" ujar Calista yang mana membuat Naufal melotot, terkejut.
"A-apa??" Naufal berucap refleks seraya menatap Bundanya tak percaya.
"Loh kenapa? kamu kan emang bandel? otak kamu juga pas-pasan... gimana masa depan kamu nanti. Semisalnya kalo Ayah udah pensiun jadi CEO, siapa yang nerusin dong kalo bukan kamu." Calista kini mulai menceramahi Naufal yang tadinya terlihat menolak mentah-mentah keputusannya.
"Yaudah kalo gitu, kan gampang... Naufal tinggal gak nerusin perusahaan Ayah aja. Jadi gosah pake belajar-belajar gitu." jelas Naufal enteng.
"Astaghfirullah...." Calista terlihat mengusap-usapi dadanya membuat Ran yang duduk disebelahnya kini ikut mengusap-usap punggung wanita itu "Yang ngajarin kamu ngomong gitu sapa sih Fal?"
"Durhaka kamu! entar ya kalo Bunda kamu dah ngerasa nyesel lahirin kamu, bakal di kutuk nanti!" peringat Ran membuat Naufal melotot padanya.
"Enak aja lu ngomong gitu."
"Tante jadi ngerasa nyesel lahirin Naufal nak Ran, pengen coba kutuk aja." kata Bunda Naufal itu berpura-pura yang mana membuat Naufal mendelik.
"Bundaa... jangan gitu dong Bunn... pleasee... nanti Naufal bakal dengerin kata-kata Bunda ya!." rengek Naufal seperti bayi yang mana membuat Ran berusaha mati-matian menahan tawanya melihat tingkah pemuda itu.
"Nah gitu dong, Yasudah kalo gitu... belajar yang bener gih ma nak Ran. Nak Ran juga, tolong ajarin Naufal ya." Calista kini beralih menatap Ran memelas membuat gadis itu terkekeh malu.
"Oke Tan, serahin aja ma Ran ya!" semangat Ran sembari tersenyum memperlihatkan deretan gigi nya yang putih.
"Ck!... sok iye lu!" hardik Naufal sembari menatap Ran tidak suka.
"Biarin." gadis itu berucap percaya diri seraya menjulurkan lidahnya namun hal itu segera ia urungkan ketika pemuda itu malah menatap tajam dirinya seolah-olah ingin membunuhnya dengan tatapan itu.
...----------------...