RaNauf

RaNauf
Episode 3 _Akibat Dari Kesalahan_



Hari ini, Ran sedang duduk didekat jendela sembari meneguk minuman orange yang berada dalam sebuah botol yang dipegangnya. Gadis itu terlihat termenung dengan mata menatap lurus.


Ia lebih memilih berada di kelasnya daripada terkena gosip serta tatapan-tatapan aneh di luar sana. Ran kini merasa risih bersekolah sekarang, bahkan kini teman-teman sekelasnya pun mulai membisik-bisikkan sesuatu tentang dirinya akibat Vidio yang tersebar tersebut.


"Emang apa sih istimewanya cowok itu?" Ran terdengar bergumam ditengah-tengah pikirannya yang tengah kalang kabut.


"BAA!!!!"


Seseorang tiba-tiba muncul dari belakang gadis itu membuat Ran terkejut dan membuat minuman dengan penutup yang tak tertutup itu pun terlepas dari genggamannya lalu terjatuh.


Terlihat minuman milik Ran tersebut jatuh dan mengenai seseorang tepat di bawah sana. "A-astaga...." Gadis itu terlihat menatap seorang pemuda dibawah sana yang terkena jus nya, terkejut.


"Ihhh!!!... Afifah!" Pekik Ran kesal setengah takut sedangkan gadis yang di teriakinya itu malah menjulurkan lidahnya merasa tak bersalah.


"Fah... kamu sadar gak? jus aku jatuhhhhh...." Ran terdengar mengeluh membuat Afifah hanya mengedikkan bahunya tak tahu. "Kena orang Fah!"


Gadis itu tiba-tiba membulatkan matanya kemudian menoleh ke bawah bersamaan dengan pemuda yang terkena minuman itu yang menatap kearahnya terkejut sekaligus kesal.


"Anj1r yang kena kak Naufal!" Ran terlihat semakin panik, bisa-bisanya yang terkena minuman itu ialah seorang Naufal, kenapa bukan orang lain saja?


"Haisshh... gimana ni Faahhh...." Afifah hanya menggeleng pasrah sedangkan Ran kini semakin panik, apa yang akan pemuda itu lakukan padanya kali ini? apakah ia akan di pukuli habis-habisan?


Sedangkan empat pemuda yang tengah berdiri di belakang seorang Naufal kini membeku saking terkejutnya. Mereka ber-empat tak percaya jika seorang gadis berani melakukan itu pada leader mereka yang bahkan mereka pun tak akan mau melakukan hal segila itu.


"Pfftt...."


"Ah bangs4t! Wkwkwkwk... apaan tu di baju lu Fal wkwkwk!" bukannya menolong mereka malah menertawakan pemuda itu, sungguh teman-teman yang tak berguna.


"Sial4n tu cewek!" Naufal menatap tajam teman-teman nya yang tertawa membuat mereka langsung terdiam dan mencoba menahan tawanya.


"Ceritanya lu mo mukul tu cewek sekarang? mau langsung ke kelasnya ato gimana?" Seorang pemuda yang kerap di sapa 'Raka' oleh teman-temannya kini malah memberi usul bodoh membuat salah satu sahabat nya itu memukul kepalanya kesal.


"Ni minggu gw gak mau masuk BK dulu, bokap gw dah peringatin... gimana kalo kalian semua bawa tu cewek ke rooftop, gw punya cara buat tu cewek jera." Naufal terlihat menyeringai seraya mengusap wajahnya yang mulai terasa lengket.


"Lu mau mukul tu cewek? ya kali lah! dia cewek Fal!" Pemuda bernama Zevi itu berucap ingin menghentikan aksi gila Naufal yang tak pernah memandang fisik maupun jenis itu.


Naufal menoleh pada Zevi, menatap pemuda itu tajam "Lu pikir gw peduli? sekarang gw gak bisa diem lagi, tu cewek dah kurang ajar ma gw!" Naufal membentak Zevi kesal lalu berlalu pergi begitu saja.


"Yaudah! gw ngikut aja kalo gitu!" Zevi meningkatkan nada suaranya membuat Naufal yang tadinya berjalan tergesa-gesa kearah toilet kini terhenti kemudian menoleh pada Zevi lalu kembali beranjak pergi lagi.


"Biar gw susul tu anak." Doni pergi mengejar Naufal yang kini seragam putih miliknya perlahan berubah menjadi warna orange.


"Otak tu anak kapan encernya ya?" Raka berucap miris membuat Zevi dan Fadlan menatap dirinya heran.


"Lu pikir otak lu dah encer?" Fadlan berucap galak membuat Raka cengengesan.


"Yaudah yok nyari tu cewek." ucap Raka lalu segera pergi meninggalkan Fadlan dan Zevi yang menatap dirinya bingung.


"Woi salah jalan lu bangk3!!" Fadlan berteriak mencoba menghentikan langkah kaki Raka yang mulai semakin menjauh saja.


Pemuda itu nampak menoleh melihat keberadaan Zevi dan Fadlan dibelakangnya, namun betapa terkejutnya ia saat melihat kedua punggung pemuda itu malah berjalan kearah yang sebaliknya.


"Woi monyet tungguin gw!!" Raka berlari mengejar punggung Zevi dan Fadlan yang semakin menjauh tanpa menyadari keberadaan dirinya yang kini mengejar kedua pemuda itu di belakang.


*****


Ran dan Afifah kini semakin panik dengan kejadian selang beberapa menit yang lalu, takut jika seorang Naufal itu akan sangat murka hingga menghancurkan alam semesta ini. "Ini tuh karna kamu tau Fah!"


"Enak aja yah! itu tuh salah kamu karna gak nutup botolnya!" tuduh Afifah sebaliknya kepada Ran membuat gadis itu melayangkan tatapan tajamnya.


Tak berselang lama beberapa pemuda yang asing di mata Ran masuk kedalam kelas mereka itu dan terlihat mendekat kearah meja guru. Beberapa murid terlihat histeris dengan kedatangan ketiga pemuda itu yang tak lain adalah seorang Zevi, Raka dan Fadlan.


BRAKK!!


"Eh copot-copot!" Afifah yang sebelumnya tak fokus kini malah dikejutkan oleh gebrakan meja yang dilakukan oleh Raka. "Hiss... diem!" Ran kemudian mengetuk kepala gadis itu gemas.


"Halo adek-adek kelas 11, kalian udah tau gak kita-kita ini siapa?" Raka terlihat bertanya dengan senyum buayanya yang membuat beberapa siswi di kelas itu meleleh.


Semuanya nampak mengangguk terkecuali Ran yang bingung, siapa ketiga pemuda di depan ini?


Ketiga pemuda itu kemudian menatap wajah Ran sesaat lalu berjalan menuju kearah gadis itu. "Fah, mereka tuh sapa?" Ran yang terlihat berbisik kepada Afifah membuat gadis itu menoleh padanya.


"Teman-temannya kak Naufal." jawab Afifah kemudian segera memaksakan senyumnya saat ketiga pemuda itu telah sampai di hadapan Ran.


"Dah bener ni cewek?" Fadlan terlihat bertanya kearah Raka sedangkan pemuda itu kini menoleh menatap name tag Ran lalu mengangguk "Bener nih."


"A-ada apa ya?" suara Ran terdengar bergetar membuat ketiga pemuda itu tau betul jika gadis ini tengah ketakutan.


"Hmmm... 'Laila Ranifah Kirani'... Oke dek Ran, kenalin nama 'Kakak' Fauzan Raka Hidayah... panggil kak Raka aja gpp." Raka mengedipkan satu matanya genit kearah Ran membuat gadis itu merasa tak nyaman.


"Masih sempet-sempetnya ya lu nge-buaya? mau buat Naufal ngamuk ma lu?" Kata-kata Fadlan itu membuat Raka tertohok.


Pemuda itu kemudian menatap tajam Fadlan kemudian berdecih sebal karena Fadlan selalu saja mengganggu kesenangan nya. Raka beralih menatap Zevi, menyerahkan semuanya pada pemuda itu.


"Sorry ya, kita tuh gak mau maksud apa-apa ma lu, kita cuman disuruh buat bawa lu ke rooftop... mau gak mau lu mesti ngikut." Zevi berucap selesai.


Sedangkan Ran semakin merasa gelisah dan takut, apakah Naufal akan melempar dirinya dari atas rooftop? atau apakah pemuda itu akan menghajar dirinya habis-habisan di tempat itu?


"Ta-tapi buat apa?" Ran bertanya was-was.


"Gak tau tuh, kita kan cuman disuruh." Raka menjawab pertanyaan gadis itu enteng.


"Mau gak mau, lu mesti ngikut ma kita." Final Fadlan membuat Ran menggeleng "Enggak!".


"Yakin gak mau? yang nyuruh Naufal sendiri lohh...." ucap Raka dengan nada menggoda nya.


Gadis itu masih merasa takut dan gelisah, tak mungkin kan ia menyerahkan nyawanya semudah ini? sungguh pikiran gadis itu sedang kalang kabut tak tentu arah. Dan pada akhirnya gadis itu kembali menggeleng tak setuju. Raka dan Fadlan terlihat menghela nafas, mereka terlalu lama mengulur waktu, bisa-bisa Naufal marah lalu mengamuk.


"Udah ikut aja dek, lagian kan katanya ini tuh cuman bentar." bujuk Raka dengan dengan nada lembutnya.


"Ran kan udah bilang gak, be-berarti Ran emang gak mau!" Kini Afifah membuka suaranya, mencoba membela sahabatnya itu.


Fadlan menoleh menatap Afifah dingin "Lu cuman disuruh buat ikut, kita gak bakal mukul kok." Fadlan terdengar merendahkan Afifah, kesal karena gadis itu malah ikut campur dengan urusan mereka.


"Rumit banget sih? apa kita keliatan nyeremin buat lu?" Zevi mengacak rambut nya kasar, sudah lelah dengan gadis yang tak ingin menurut ini.


Ran menatap penampilan mereka bertiga dari rambut sampai ujung kaki, baju seragam yang tak terkancing memperlihatkan kaos oblong polos didalamnya, lalu celana mereka yang tak dilengkapi oleh tali pinggang kemudian sepatu tanpa kaos kaki serta aksesoris yang melingkar di pergelangan tangan mereka yang meyakinkan Ran bahwa penampilan ini adalah penampilan bak preman sekolah.


"Banget." cicit Ran membuat Afifah yang mendengarnya langsung membulat kan matanya kearah gadis itu terkejut.


Sedangkan disisi lain sekolah, tepatnya di rooftop, seorang Naufal kini bersandar pada pagar pembatas tempat itu. Terlihat pemuda itu bersedekap dada menunggu teman-teman nya yang tak kunjung datang. Sungguh ia jengah jika menunggu selama ini.


"Lama banget bangs4t!!" pekik Naufal seraya menendang butiran-butiran debu yang nyaris tak terlihat di lantai itu.


"Gak mau kali tu cewek ngikut." timpal Doni yang kini berjongkok di sebelah Naufal yang juga ikut lelah menunggu ketiga sahabatnya itu.


"Cih... bener-bener ya tu cewek!" Naufal kemudian memukul pagar pembatas rooftop itu kesal sehingga membuat pagar tersebut bergetar.


Sedangkan Doni yang sedari tadi bersandar di sana kini terkejut dan mengira dirinya akan jatuh dari lantai tiga ini. "Kaget monyet!"


"Bodo!" Naufal memilih tak menghiraukan pemuda itu yang mana, mungkin tak akan ada habisnya.


Tak berselang lama, Raka, Fadlan dan Zevi kini memperlihatkan batang hidungnya dengan satu gadis yang mengekor di belakang mereka. Naufal sudah tidak tahan menunggu, nyaris saja ia hengkang dari tempat itu karena suhu panas yang menyengat kulit.


"Baru dateng?" nada bicara Naufal terdengar merendahkan dengan kedua tangan di tenggelamkan di dalam saku.


"Yo Bro!" Raka tiba-tiba mencoba merangkul bahu sahabatnya itu yang terlihat semakin kesal setelah kehadiran mereka yang cukup lama tadi.


"Gosah pegang-pegang lu, homo anj1r."


"'Homo, homo!' ini tuh namanya Persahabatan!" ucap Raka seraya menekan kata 'Persahabatan' dalam kalimat nya tadi.


"Anj1r wkwkwk! keinget lagu 'Persahabatan bagai kepompong' gw!" Kelakar Doni membuat Zevi dan Fadlan termasuk Ran tertawa, sedangkan Naufal dan Raka hanya melayangkan tatapan tajam mereka.


"Ha-Ha... lucu ya?" ucap Naufal seraya melirik Ran yang sedang tertawa kecil.


...----------------...