RaNauf

RaNauf
Episode 2 _Kesalahpahaman_



Hari ini adalah hari tersibuk yang pernah Ran alami di sekolah. Entah mengapa di jam istirahat pun ia disibukkan dengan kertas dan pulpen. Bahkan, saat ini setumpuk buku yang tebal nan berat sedang berada diatas kedua lengan miliknya. Ran sempat di suruh oleh seorang guru agar membawa buku-buku itu ke dalam ruang guru tadi.


Lalu buku yang bertumpuk itu juga membuat Ran sulit berjalan di koridor sekolah, sulit menatap arah dihadapannya. Takutnya ia menabrak seseorang dihadapannya, namun ketakutan nya itu seperti nya akan benar-benar terjadi. Seseorang dengan isengnya menyenggol bahu Ran dengan sengaja sehingga membuat keseimbangan gadis itu hilang kemudian terhuyung ke depan dan....


Bughh!!


Brukk!


"Ugh... duh sakit...." Gumam Ran seraya mengusap-usap kepalanya yang sempat tertimpa oleh beberapa buku tadi.


Kini Ran terduduk diatas lantai setelah dirinya terhuyung lalu menabrak seorang pemuda. Gadis itu menatap tubuh pemuda yang ia tabrak tadi, sungguh ia tak sengaja. Pemuda itu menoleh kearahnya beserta sahabat-sahabatnya, pemuda itu terlihat sungguh sangat kesal.


"M4mpus...." Umpat Ran dalam hatinya saat menatap wajah salah satu pemuda disana yang sedang menatapnya kesal, cepat-cepat Ran memunguti buku-buku tebal tadi dan meletakkannya dilantai untuk sementara, lalu segera berdiri dan membersihkan rok nya beberapa saat. Kemudian kembali menatap pemuda itu takut.


"Sorry...." Ucap Ran kemudian menundukkan kepalanya.


"Eh? bukannya lu itu cewek yang kemaren ya?" Tanya salah seorang pemuda disana yang sepertinya mengenal wajah gadis ini.


"Lu??... Ampe kapan lu berenti ngikutin gw Hah?!!" ucap pemuda dengan suara berat yang sama dengan suara pemuda yang kemarin ia tabrak.


"A-aku gak ikutin-" Ran menggantung ucapannya saat mengingat bahwa pemuda ini adalah seorang Athif Naufal Bhalendra yang dikenal dengan kekejamannya yang dikatakan oleh Afifah kemarin, kemudian Ran terlihat menggigit bibir bawahnya "Ma-maafin aku."


"Ck!... Lu!-"


"Fal, mereka dah nungguin kita." Ucap salah seorang teman dari pemuda itu, membuatnya berdecih lalu melenggang pergi begitu saja meninggalkan gadis itu yang di susul oleh teman-temannya.


"Fiuhh...." Ran merasa bersyukur karena pemuda itu dan sahabat-sahabatnya kini melangkah menjauh dari nya.


Tiba-tiba Ran tersadar bahwa sedari tadi para siswi-siswi di sekitar koridor ini menatap dirinya sinis dan aneh membuat perasaan Ran kembali gelisah.


Dengan tergesa-gesa gadis itu pun segera mengangkat buku-buku itu lalu pergi membawanya ke ruang guru.


"Merinding juga ya lama-lama...." Gumam Ran di tengah-tengah perjalanannya menuju ruang guru.


*****


Keesokan harinya disekolah. Entah bagaimana menurut Ran, sekolah ini kini bertukar menjadi sekolah yang bertema horor. Banyak tatapan-tatapan benci dan tajam yang di lontarkan padanya dari seluruh penduduk sekolah ini. Gadis itu heran, mengapa mereka semua menatap nya aneh seperti ini? apakah ada yang salah pada wajah dan pakaiannya?


Ran tak terlalu peduli tatapan-tatapan itu dan segera berjalan menuju kelasnya. Sesampainya di depan pintu kelasnya, netra gadis itu tiba-tiba menangkap wajah Afifah yang terlihat sungguh khawatir.


"Afifah! pagi!!" Ran berucap bersemangat seraya memegang pundak Afifah berniat mengejutkan sahabatnya itu.


Afifah yang sebelumnya melamun tiba-tiba dikejutkan dengan ucapan Ran sehingga membuyarkan lamunannya. Gadis itu lalu menoleh pada Ran yang sedang tersenyum manis padanya, menatap Ran seolah-olah gadis itu akan pergi untuk menerima hukuman mati.


"Afifah kamu kenapa?" Ran terlihat bertanya, khawatir dengan tatapan Afifah yang menatap dirinya gelisah... tak seperti Afifah yang selalu menatap dirinya dengan tatapan mengejek.


"Ran, duduk." Afifah segera berdiri dari kursi tempat Ran kemudian segera duduk pada kursi yang berada di hadapan meja Ran itu.


Ran terlihat bingung namun hanya menurut, ia terduduk pada kursinya mengikuti ucapan Afifah. Afifah kemudian segera membuka layar handphonenya yang sedari tadi ia pegang.


"Nih liat." Gadis itu tiba-tiba menyodorkan handphone miliknya ke hadapan Ran membuat gadis itu bingung.


Ran terlihat hanya mengikuti ucapan Afifah lalu segera melihat apa yang tertera pada layar handphone sahabatnya itu. Sebuah Vidio tertera pada layar nya, segera Ran memutar Vidio tersebut dan betapa terkejutnya ia bahwa isi dari vidionya itu adalah dirinya sendiri.


Sebuah Vidio yang menampilkan dirinya yang kemarin tak sengaja menabrak seorang pemuda di koridor sekolah. Sebuah kata-kata ya tercetak jelas di Vidio itu juga membuat Ran semakin tak terkutik, ia sungguh terkejut dengan Vidio itu beserta kata-kata yang menjadi pelengkapnya.


"Fah... I-ini gak bener Fah! Aku... aku gak pernah mikir buat caper!" Wajah gadis itu terlihat pucat dengan suara yang terdengar bergetar.


"Ran, jujur sama aku... kamu suka ama kak Naufal?" tanya Afifah membuat Ran tersentak dan menggeleng secepat mungkin.


"Ya kali! orang aku gak kenal ama dia, masa langsung suka?!... emangnya siapa sih yang buat Vidio kek gini? gak bener ini mah!" Ran berucap galak seraya menunjuk-nunjuk handphone milik Afifah membuat pemiliknya melontarkan tatapan tajam kearah gadis itu.


"Lah terus ini cerita nya kamu itu gak sengaja nabrak kak Naufal?" Afifah bertanya lagi, mencoba meyakinkan dirinya bahwa sahabatnya ini tak mungkin berniat seperti apa yang orang-orang pikirkan.


"Yaiyalah, masa kamu gak liat buku yang berserakan itu? itu tuh yang buat aku nabrak cowok itu." Afifah terlihat mengangguk-anggukan kepalanya mengerti.


"Jadi ini salah paham dong intinya?"


"Udah aku bilang iya!"


"Hilih, kamu bilangnya kapan coba."


*****


"Woi Ran! kalo jalan tuh jan cepet-cepet Napa sih!" keluh Afifah saat Ran mulai semakin mempercepat langkahnya, entah karena apa itu.


"Kamu tuh yang jalannya lelet!" Ran berucap galak membuat Afifah berdecih di belakangnya.


"Kamu kenapa sih?" Tanya Afifah yang mencoba menyamai langkah Ran.


Terlihat Ran hanya terdiam dan terus berjalan kearah kantin, tidak menggubris pertanyaan Afifah. Gadis itu terlihat masih kesal dengan Vidio berdurasi satu menit tadi yang membuat seluruh warga sekolah ini mengira jika dirinya mencoba 'mencari perhatian' seorang kakak kelas yang bernama 'Athif Naufal Bhalendra' tersebut.


Mereka juga sungguh terlalu cepat mengambil kesimpulan tanpa berfikir dulu bahwa ia 'menyukai' pemuda itu yang jelas-jelas ia bahkan tak tahu siapa identitas pemuda itu.


Sesampainya mereka berdua dikantin sekolah, terlihat suasana tempat itu sungguh sangat padat dibarengi dengan tatapan-tatapan dan bisikan-bisikan aneh yang menyambut dirinya disana.


"Astaga... jadi dia itu ceweknya??"


"Idih... modal tampang kek gitu aja udah sok nge-caper segala!"


"Caper!!"


"Eh kalo gak salah dia itu cewek yang paling pintar di kelas 11 kan?"


"Gak usah sok deket ma kak Naufal Lo!"


"Katanya yah, dia itu ngikutin kak Naufal mulu...."


Kata-kata itu terus saja terngiang-ngiang di telinga Ran, ia belum pernah mendapat hal semacam ini di sekolah, sungguh ia sangat shock. Rasanya Ran ingin berteriak kepada seluruh siswi di sekolah ini bahwa hal itu tidak benar dan hanya sebuah kesalahpahaman semata.


"Ran... gosah makan di kantin yuk, kita kekelas aja... ada sandwich buatan mama aku di tas." Afifah terlihat memegangi pundak Ran membuat gadis itu tersadar setelah tenggelam di dalam banyaknya ucapan-ucapan yang tidak benar itu.


Gadis itu terlihat menoleh pada Afifah dan tersenyum manis, kali ini hanya Afifah yang menjadi penyemangat dan pembelanya di sekolah sekarang. Meskipun hanya ia, namun Ran bahagia... setidaknya Afifah tidak semunafik seperti orang yang lain.


Ran kemudian mengangguk setuju dengan usul Afifah, lalu mereka berdua pun berjalan beriringan kembali menuju kekelas.


...----------------...