
Ran mendongak menatap wajah Naufal yang menatapnya terkejut. Perlahan Ran menyentuh hidung miliknya kemudian merasakan sebuah cairan kental yang mengalir disana. Rasanya pusing, seperti ada sesuatu yang telah menimpa kepalanya.
"Bab... Lo jangan pingsan disini woi!" Ran jatuh begitu saja dihadapan Naufal, yang mana membuat pemuda itu semakin panik. "Gw harus ngapain ini anj!". Naufal mengambil langkah yang seharusnya tidak ia lakukan, mencoba membawa Ran ke UKS untuk segera mendapatkan pengobatan.
Pemuda itu mencoba mengangkat dan menggendong gadis itu. Tak tahu penyakit apa yang gadis ini idab, Naufal hanya ingin segera membawa gadis ini pergi dari sana. "Bego!".
*****
"Adu-duh! Bun pelan pelan! akhhh!...." Naufal meringis ngilu pada punggungnya yang sedang dipijat santai oleh bundanya.
"Gimana sih sayang? katanya jangan terlalu pelan, nah ini bunda kuatin pijitannya kamu masih ngeluh juga." Celetuk Bundanya itu kemudian dibalas gelengan kepala oleh Naufal.
"Ya kan gak gitu Bundaa... ini belakang Naufal makin sakit nanti." Naufal terdengar merengek mencoba menghentikan bundanya yang semakin asik.
"Yasudah nih, kalau masih sakit jangan suruh bunda pijat lagi ya." Wanita itu menghentikan gerakan tangannya kemudian membiarkan putranya memperbaiki posisinya yang sedang tengkurap.
"Dari mana sih Nak? kenapa belakang kamu ini pegel pegel? abis tawuran ya!" Ucap Bundanya dengan mata melotot membuat pemuda itu terkejut dan menjadi takut.
"Mana ada Bunda, gak tau tiba tiba pegel aja." Naufal terlihat mendengus dengan mata yang tak berani menatap wajah bundanya. "Masa? cerita sini ayo." Bukannya berhenti bertanya, Wanita itu malah semakin menyudutkan putranya.
"Haish... Bunda ini ya, gak ada apa-apa... kok." Merasa ada yang janggal, Calista selaku Bunda Naufal menaruh curiga pada putranya. "Jangan-jangan...." Dengan tatapan menggoda Calista menaruh curiga dengan perasaan yang menggelitik. "Kenapa Bundaaa... gak ada ah." Naufal mencoba mengelak dan ingin segera melenggang pergi dari sana.
"Hmmm... Naufal sekarang nakal ya?" Semakin menggoda, Calista lalu memukul lengan Naufal yang tengah menggaruk-garuk kepalanya.
"Emang Naufal nakal Bunda." Katanya kemudian mencoba meraih kaos oblong polos nya yang tengah tergeletak tepat disebelah Bunda nya. "Jangan-jangan abis gendong cewek?! biasanya sih gitu ya, gak mungkin kamu ngangkat gerobak tiba tiba belakang sakit. Soalnya Bunda pernah." Calista berucap semakin menggoda putranya dengan kata yang diakhiri lirihan.
"Gak ada kek gituan Bunda!" Naufal berdiri dengan wajah terkejut sedikit memerah. "Nah loh, kepancing." Calista tertawa kemudian tersenyum menatap Naufal yang kini mencoba untuk tidak menatap matanya.
"Iya iyaa... iyadehh... Naufal sayang, Hahahaha... sini pake baju, malu udah gede masih suka telanjang dada." Calista kemudian menyodorkan kaos oblong putranya yang sempat di tariknya tadi. Baru saja ingin menerima sodoran bundanya, pekikan dari pintu utama membuat perhatian keduanya teralihkan.
"HALO BUNDA NAUFALL!!! HALO NA-"
Naufal melotot kan matanya menatap kearah pintu utamanya yang tiba-tiba terbuka dengan teman-temannya yang menjadi empu.
"Anj/r! mata gw ternodai bngst!"
"Astaghfirullah Babang Naufal berdosa!"
"Pake baju lo kampr/t."
Sahabat-sahabatnya itu tiba memekik kuat di didepan pintu menatap dirinya yang kini telanjang dada dengan mata yang melotot kearah mereka berempat.
"Njr roti sobek!" Tiba-tiba Raka memekik dengan mata yang terus menatap kagum lekukan-lekukan pada perut Naufal.
"Homo lu!" Naufal menatap Raka sinis membuat pemuda itu yang sebelumnya ingin mendekat kini mendelik kemudian mendengus.
"Eh Temen-temen ganteng Naufal datang, gimana kalau Bunda bawain cemilan buat kalian?" Calista berucap dengan posisi yang kini telah berdiri dari duduknya di tikar tadi.
Raka, Doni dan Fadlan terlihat mengangguk bersemangat mendengar ucapan Bundanya, sekalian untuk menjanggal perut. Terlihat Calista tersenyum manis kemudian segera pergi menuju dapur, menyisakan Naufal dan Sahabat-sahabatnya yang kini terduduk di tikar itu.
"Ngapain tiba-tiba dateng Lu pada." Naufal berucap kemudian segera memakai kaos oblong nya yang sejak tadi ingin ia gunakan.
"Mampir doang lu." Doni berucap apa adanya kemudian mengeluarkan benda pipih persegi dari sakunya.
"Ngapain lu gak pake baju segala tadi Fal?" Fadlan bertanya dengan mata yang menyipit, kepo.
"Abis dipijitin Bunda." Jelas Naufal kemudian segera diangguki teman-teman nya percaya, berbarengan dengan Calista yang kini telah datang dengan membawa beberapa cemilan ringan untuk pemuda-pemuda itu. "Bunda balik ke dapur dulu ya, mau masak." Calista berucap pamit kemudian melenggang pergi dari sana.
Hawa tiba tiba terasa dingin dan sepi, tiba tiba Raka berceletuk bodoh pada Naufal "Fal, kadang ya gw tuh heran tiap liat lu ma Bunda lu. Bunda Calista tuh bagaikan malaikat lah lu kek iblis, kok bisa lu jadi anaknya Bunda lu? jangan -jangan lu anak pungut ya?" Naufal melotot menatap Raka dengan wajah yang kini seolah-olah sedang berfikir.
Naufal menatap heran sahabat-sahabatnya, sejak kapan mereka sekepo ini tentang kehidupan pribadi nya? apa ada sesuatu yang telah menghasut mereka?
"Gw pernah liat Bokap nya, dari apa yang gw liat udah keliatan sih kalau Bokapnya Naufal itu punya sifat yang sama ama anaknya." Jelas Zevi membuat wajah Raka semakin serius dan semakin ingin bertanya lebih jauh.
"Bokap lu mana cvk?" Raka berucap bertanya lagi membuat Naufal mendengus, ada apa dengan Raka hari ini? apakah pemuda itu sengaja ingin memancing emosinya?
"Luar negri, kerja." Setelah terdiam beberapa saat, Naufal akhirnya berucap yang sebenarnya merasa terpaksa. Bukannya membenci ayahnya tetapi Naufal hanya tidak suka, ayahnya lebih suka menghabiskan waktu bersama pekerjaannya itu dibandingkan bersama dirinya dan Bundanya. Ia tau betul bagaimana perasaan Bundanya ketika ia tak pulang sehari penuh, dan menurut nya seperti inilah yang Bundanya rasakan ketika Ayahnya tak memberi kabar.
"Emangnya Bokap lu kerja apaan?"
"LU SENGAJA HAGH?!"
"Weh Fal Jan emosi!"
*****
Hari ini disaat jam istirahat, terlihat Naufal dan Sahabat-sahabatnya sedang berkumpul di kantin sekolah. Sedari tadi wajah Naufal terlihat tidak senang dan beberapa kali mendengus kesal, dikarenakan Ran sebagai babunya tak kunjung datang ke kantin hari ini untuk melayaninya.
"Eh eh! Ampe lupa gw... Fal, gw mau nanya sesuatu Ama lu. Jawab jujur oi." Raka tiba tiba-tiba berucap geger seraya menatapnya aneh.
Naufal menoleh, membalas tatapan pemuda itu. "Katanya lu dah jadian ma cewek maren itu?" Naufal mengerutkan dahinya seraya mengernyit bingung. "Siapa?"
"Ran lah, sapa lagi. Emangnya lu beneran jadian ma Ran?" Dimata Naufal, Raka berucap sembrono. Naufal bukan tipe yang dengan mudahnya untuk menjalin hubungan mesra sepasang kekasih dengan seorang gadis, Gadis apapun itu.
"Anjr beneran nih Fal? kagak bilang-bilang lu nyet." Doni menimpali ucapan Raka dengan wajah yang kecewa akibat Naufal yang tak langsung mengatakan hal penting semacam itu.
"Apasih lu pada, gw mana mau jadian ma cewek modelan kek dia." Jelas Naufal kemudian berfikir, sepertinya kejadian kemarin itu kini telah tersebar luas begitu cepat.
"Terus yang di grup kelas kita itu apaan, pada ngomongin lu semua di dalem. Pada tag lu nyet." Raka berucap heran sekaligus kepo, apakah gosip ini benar?
"Ada Nandira." Terdengar pelan dan dingin, seperti bunyi kayu bakar ditengah badai salju. Pemuda itu terdiam, tak lagi berkata-kata, seperti ada sesuatu yang mencegat bibirnya untuk berkata lebih banyak lagi.
Raka mengernyitkan dahi menatap Naufal, Nandira? apakah dia adalah seorang gadis? Tampak diwajah pemuda itu bertanya-tanya apakah semua ini berhubungan dengan gadis itu?
Zevi dengan perasaan yang tiba-tiba meluap kesal dan marah menoleh menatap Naufal yang kini dengan santainya bermain Handphone, meskipun ada perasaan yang tidak mengenakkan yang mengganjal hatinya.
"Nandira?" Naufal menghentikan gerakan jarinya lalu menoleh menatap Zevi, pemuda itu terlihat kesal dan benci pada nama gadis yang baru saja ia sebutkan tadi.
"Ck... gosah ikut campur." Naufal berucap dingin menatap sahabatnya, hal semacam itu merupakan sampah masa lalu dalam hidup nya.
"Lu gak ingat? beg0nya cewek kek dia nipu lu? lu lupa?!" Zevi menekan setiap ucapannya kesal menatap Naufal dengan wajah yang begitu santai dan seakan-akan tak peduli.
"Kenapa?! gw gak peduli! lu napa ikut campur?!!" Naufal melotot menatap Zevi, lagi-lagi pemuda itu kehilangan kendalinya dan hampir memukul wajah mulus sahabatnya, semua itu terjadi karena perasaan yang tak mengenakkan dalam dirinya, perasaan yang terus mengganjal membuatnya kehilangan kendali.
Zevi terdiam, mau bagaimana pun Naufal merupakan pemuda yang keras kepala dan tak suka bila perkataannya di bantah. Zevi tau betul sifat sahabatnya ini, pemuda itu menghembuskan nafas nya tak ingin terbawa emosi. "Fal tenang woi! ini sekolah!" Fadlan menatap Naufal tajam, dilihat dari sisi manapun sekolah bukan merupakan tempat yang baik untuk memulai perkelahian.
Semua pengunjung kantin nampak menoleh pada meja kelima sahabat itu, merasa telah mencuri perhatian, Naufal menutup mata nya sesaat kemudian melipat tangannya dimeja sebagai tempat kepalanya bertumpu. Terlalu lelah belakangan ini.
"Mau dia nipu gw, mau dia ngejelek-jelekin gw, gw udah gak peduli lagi. Masa lalu gw ya masa lalu gw, lu gak usah campur tangan." Pemuda itu berucap dibalik lipatan tangannya membuat Zevi semakin membisu, merasa sangat kasihan padanya, sangat keras namun terkadang tak mampu menopang nya sendiri, perumpamaan yang cocok untuk seorang Naufal.
"Lah terus gosip tentang lu jadian ma Ran tu?" Doni tiba-tiba berceletuk membuat Naufal sedikit terkejut dibawah sana. "Gw yang mulai."
"Hah?!"
...----------------...