
"Ngerepotin banget." Batin Naufal setelah tiba di dalam rumah besar miliknya kemudian mengedarkan pandangannya saat tak merasakan keberadaan Bundanya di rumah. "Bunda!"
Naufal mengerutkan keningnya kemudian berjalan pergi kemarnya acuh "Lagi keluar mungkin." Lirih pemuda itu setelah merebahkan tubuhnya diatas ranjang.
Hening, tak ada suara sekecil pun yang mengusik telinganya saat ini. Begitu tenang dan damai, keadaan seperti inilah yang menjadi favorit pemuda itu. "Naufal." Tersentak kemudian langsung terbangun begitu mendengar suara lembut Bundanya dari depan pintu kamar. "Loh Bunda, dari mana?" Tanya Naufal seraya menggaruk kepalanya.
"Ruang kerja Ayah." Naufal terdiam sejenak lalu menoleh menatap Bundanya "Ayah udah balik?"
Calista tersenyum kemudian mengangguk "Sanah gih temuin Ayah, udah lama juga Ayah gak di rumah." Seperti ada sesuatu yang menampar dirinya begitu saja setelah mendengar ucapan Calista. Seseorang yang tak pernah ia harapkan kini telah berada di dalam kediaman ini, perasaan tidak suka timbul membuat Naufal begitu muak.
"Naufal mau mandi dulu." Calista mengangkat satu alisnya bingung, Naufal baru saja mengacuhkan dirinya begitu saja setelah sekian lama. Namun ia merasa baik-baik saja, Tentu saja seperti inilah sikap putranya sedari dulu. "Jangan lama-lama di kamar mandi, udah malam loh ini, lagian tadi Ayah nyariin kamu loh soalnya kamu telat pulang. Gak biasanya Fal, ada masalah ya disekolah tadi?" Naufal menghentikan langkahnya tepat didepan pintu kamar mandi miliknya begitu selesai mendengar ucapan Bundanya "Gak pa-pa Bun."
Pemuda itu kemudian melanjutkan langkahnya masuk kedalam kamar mandi. Calista sedikit terkejut ketika pintu kamar mandi terdengar sengaja di banting keras oleh Putranya. Sekarang Ia mengerti, bahwa sesuatu telah terjadi atau apakah mungkin Naufal kini tengah menghadapi hari yang buruk? Calista hanya mencoba berfikir positif tentang sikap Naufal padanya yang tak biasa, mau bagaimana pun Naufal akan kembali seperti semula nantinya.
"Jam setengah lapan." lirih Naufal melirik kearah jam dinding di kamar nya. "Makan malam." Suara helaan nafas terdengar dari pemuda itu, bertemu langsung dengan Ayahnya merupakan suatu hal berat yang sangat ingin ia hindari.
Tok tok tok!
Ketukan pintu mengalihkan perhatian Naufal kemudian disusul dengan kenop pintu yang terputar dan memperlihatkan wajah Bundanya yang menjadi pelaku. "Kenapa Bunda?" Tanyanya membuat Calista berkacak pinggang dihadapan nya.
"Makan, udah siap tuh dimeja." Calista menatap jengkel Putranya karena pemuda itu selalu lupa tentang makan. Pemuda itu biasanya hanya akan makan jika Bundanya datang memanggil dirinya dan mengingatkannya untuk makan bahkan setelah ia coba untuk peringatan kan beberapa kali pun namun tetap tak digubris oleh nya.
"Yaudah." Naufal meletakkan Smartphone milik nya setelah beberapa saat yang lalu terus ia genggam dengan mata yang tak luput dari layar yang menyala. Pemuda itu kemudian menapakkan kakinya dilantai dan berjalan kearah Calista.
"Oh iya, Bunda masih ada kerja di dapur tuh, sekalian panggil Ayah buat makan malam." Sebelum melanjutkan langkahnya Calista lalu menoleh kembali menatap Naufal yang kini mengekor di belakang nya.
Terlihat Naufal menunduk menggigit bibir bawahnya, beberapa saat kemudian mengangguk menuruti Bundanya lalu berjalan pergi kearah Ruang kerja Ayahnya. Calista tersenyum kemudian dengan santai ia pun berjalan ke arah dapur.
Tidak, bukan membenci namun hanya tidak suka dengan sikap Ayahnya. Mengapa harus pekerjaan yang menjadi prioritas utama nya, bukannya pekerjaan hanya suatu kegiatan sampingan? seorang Ayah seharusnya mampu menghabiskan waktu bersama keluarganya walaupun hanya sebentar. Hal itulah yang terus menjadi pemicu Naufal begitu tidak suka Ayahnya bahkan ketika Ayahnya kembali ke rumah sekalipun.
Tok tok tok!
"Naufal."
"Ya, masuk." Jawaban dari dalam ruangan itu membuat Naufal segera memegang dan memutar kenop pintunya. Naufal melangkah perlahan masuk kedalam ruangan yang menurutnya terasa sungguh begitu pengap, dirinya bahkan tak pernah betah jika masuk ke dalam sana. "Ayah disuruh Bunda turun buat makan malam." Seperti tergesa-gesa, Naufal tak ingin lebih lama lagi di sini.
Naufal menatap dingin Ayahnya yang beberapa menit kemudian setelah ia berbicara tak ada sahutan darinya yang kini sedang sibuk didepan komputer dan beberapa berkas perusahaan. Kembali kerumah pun ia akan tetap bekerja, karena itulah Naufal begitu tidak suka sikap Ayahnya ini. "Ayah."
"Ah, baiklah." Pria setengah paruh baya itu lalu menghentikan gerakan jarinya yang sedari tadi beradu dengan keyboard komputer, kemudian segera mendongak menatap Naufal yang tetap enteng berdiri kokoh didekat pintu ruang kerja miliknya.
"Kenapa telat pulang sekolah? abis bolos lagi?" Naufal menundukkan kepalanya tak ingin menatap wajah Ayahnya.
"Naufal!"
Merasa tak akan ada jawaban dari pertanyaan nya, Ayah Naufal yang bernama lengkap Harrison Alex Bhalendra yang kerap di sapa dengan nama Alex itu hanya bisa menghela nafasnya. Mengintrogasi putranya tak semudah mengupas kulit bawang, pemuda itu sangat keras kepala dan suka membantah setiap apa yang ia katakan.
"Naufal, kamu itu udah kelas 3 SMA, udah kelas 12! kamu berfikir dewasanya kapan?! Ayah udah capek sama sikap kamu! Minggu kemarin Ayah sampai di telpon sama wali kelas kamu, katanya kamu suka bolos disekolah! kamu pikir Ayah gak tau apa-apa?! Ayah juga sering dapet laporan kalau kamu masih suka berantem! itu bener kan Naufal?!" Bentak Ayahnya marah yang tak di jawab apa-apa lagi oleh Naufal.
Naufal terlihat memejamkan matanya dengan tangan yang dikepal kuat. "Gak ada bedanya ama Ayah." Batin pemuda itu tak menyahut ucapan dan bentakan Ayahnya yang sedari tadi mencoba membuat Naufal berhenti bungkam. "Pernah dengerin kata-kata Ayah gak sih Naufal?! kamu jadi anak kenapa bandel banget?!"
"Ayah pikir Ayah tau apa yang Naufal rasain selama Ayah gak ada dirumah?! Naufal gak suka Ayah yang gak pernah pulang kerumah! selalu aja kerja! gak pernah mikirin kebaikan Bunda! mikirin Kebaikan Naufal! selalu aja Ayah berpikir negatif sama Naufal! Ayah pikir Naufal ngelakuin ini karna Naufal mau ngebantah sama Ayah?! Enggak! Ayah yang gak pernah mau ngertiin Naufal!" Mata pemuda itu memerah dengan bahu yang naik turun menatap Ayahnya yang kini terkejut mendengar ucapannya. Sangat terkejut sampai tak ada satupun kata yang lolos dari mulutnya, Tak biasanya Naufal berkata padanya seperti ini bahkan meninggikan suara di depannya saja tak pernah.
"Ayah gak pernah tau, Bunda... Bunda pernah nangis karna Ayah gak ngasih kabar... Ayah yang gak pernah ngertiin Naufal ma Bunda." Naufal berbelok menghadap pintu ruangan itu dengan tangan yang bersiap memutar kenop nya.
"Naufal!" Naufal kemudian dengan segera memutar kenop pintu ruangan kerja Ayahnya kemudian berjalan secara tergesa-gesa pergi dari sana hingga berpapasan dengan Bundanya yang langsung memasang wajah tanda tanya begitu melihat dirinya.
"Loh mau kemana malam-malam?" hanya sekilas menatap wajah Bundanya kemudian segera pergi meninggalkan wanita itu. Calista semakin mengerutkan keningnya menatap punggung Naufal yang mulai menjauh dari pandangan nya, putranya baru saja mengacuhkan dirinya lagi.
"Jangan-jangan..."
Calista bergegas menuju ruang kerja suaminya, setelah tiba didepan pintu segera ia memutar kenop pintunya lalu masuk kedalam sana ingin segera mendapat kan jawaban dari pertanyaannya yang kini semakin menggunung. Calista awalnya sedikit terkejut melihat bentuk gaya posisi suaminya saat ini yang tak seperti biasanya, pria itu tengah menyandarkan punggungnya pada kursi dengan mata yang terpejam serta beberapa kali helaan nafas lolos dari mulutnya seperti ada perasaan berat dalam dirinya.
"Alex?" ucap Calista mendekati suaminya yang masih setia dengan posisi itu. Tak ada sahutan dari pria itu, Calista mencoba memegang bahunya namun masih tak ada respon darinya. "Kenapa tadi Alex?"
"Calista... udah berapa lama aku gak pulang?"
*****
"Cih, ngumpulnya ngapain dirumah gw j1r." Keluh Raka seraya mengusap-usap kakinya yang dipenuhi memar memar biru. "Soalnya Mom lu Baek." jawab Doni santai seraya tersenyum songong.
"Lah lu Nopal, tumben nginep bareng kita-kita, mo Mabar bang?"
"Sehari aja gak usah ajak gw bicara bisa?!" melotot Naufal menatap teman-temannya yang kini terdiam menatap dirinya yang tiba-tiba marah. "Gak usah kebawa emosi gitu lah Fal, gw juga mau protes kali ma lu. Masa lu tadi bawa kabur cewek gak mikirin kita-kita yang jadi tumbal." Doni berucap mengeluh seraya memegang pipinya yang di tutupi plester luka.
"Iya juga ya, kita berempat lawan Rehan ma temen-temennya, lu malah kabur bawa cewek."
"Iya gw tau...." Naufal memegangi dahinya dengan mata memejam. "Bokap lu balik?" Zevi membuka suara yang kini sedang bersandar di dinding kamar menatap Naufal yang terduduk di sofa.
"Gw nginep." Setelah helaan nafas terdengar, Naufal lalu bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari kamar menuju teras rumah Raka.
"Hadeh... Naufal, Naufal... cerita dikit kek." Raka berucap berkacak pinggang kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya. "Emang Naufal seemosional itu soal Bokapnya?" Sambung Raka lagi menatap Zevi yang berjalan menuju ranjang miliknya dimana Fadlan tengah tertidur pulas disana.
"Ya, gosah bahas soal Bokapnya." Zevi terduduk dibibir ranjang seraya menyalakan benda pipih perseginya.
"Ohhh... Pantes." Doni dan Raka mengangguk-anggukan kepalanya mengerti bahwa selama ini Naufal memang begitu sensitif saat topik pembicaraan mereka mengenai Ayahnya sendiri.