RaNauf

RaNauf
Episode 6 _Belajar atau Diajar?_



Jam istirahat sekolah adalah jam yang paling di tunggu-tunggu oleh siswa-siswi di seluruh sekolah. Tiga puluh menit waktu maksimal istirahat, waktu yang di gunakan untuk beristirahat dari materi dan pembelajaran yang membuat otak terkuras disetiap jam nya.


Namun tak begitu bagi seorang siswi dengan name tag 'Laila Ranifah Kirani'. Gadis cerdas dan memiliki nilai sempurna di setiap tahun, siswi kebanggaan guru-guru tertentu. Gadis itu meski terlihat lelah ia tetap giat melakukan suatu pekerjaan yaitu mengerjakan tugas-tugas siswa tingkatan Tiga. Hal yang tak pernah ia inginkan untuk dilakukan, namun mau bagaimana lagi? menurut gadis itu nyawa sudah menjadi taruhannya disini.


Tak habis Naufal menyuruh-nyuruh Ran sedari pagi tadi mengenai hal-hal yang sungguh tak penting dan tak pernah bermakna apapun menurutnya. Pemuda itu seperti terus saja mempermainkan emosi Ran yang kini sudah seperti berada di genggamannya.


Terlihat Ran sedang terduduk di dalam kelasnya seraya berhadapan dengan beberapa buku berisi tugas kelas tiga yang semestinya belum waktunya untuk gadis itu pelajari.


"Aarrrrggghhh!!" Ran memekik seraya menatap kesal buku-buku yang berserakan di mejanya. "Kenapa juga sih aku mesti ngerjain tugas mereka? mana bukunya kebanyakan kosong! gak pernah nyatet ato apa sih?" Monolog Ran yang hampir mencabik-cabik buku Naufal dan teman-teman nya yang di biarkan berserakan di hadapan gadis itu.


Untungnya tak ada satu pun siswa atau pun siswi di kelas itu yang melihat kelakuan Ran yang sekarang bisa dibilang sedang terlihat stres (Gila). Ran tak dapat menolak ucapan Naufal untuk tidak mengerjakan tugas miliknya dan teman-temannya yang terbilang sulit itu, pasalnya gadis itu akan terkena amukan berhari-hari tanpa jeda dan akan sulit hilang dari pikiran nya jika berani menolak ucapan pemuda itu.


"Kalo lu nolak... lu bakal tau rasanya gw pukul...."


Ran menggeleng menghilangkan kalimat Naufal yang sedari tadi terngiang-ngiang di kepalanya. Tak ada yang mampu gadis itu lakukan selain menerima apapun yang di ucapkan oleh Naufal itu sendiri.


"Ck... mana ini tugas kelas tiga lagi, bagaimana mo di kerjain coba?" Batin Ran yang semakin pusing dengan jalan kehidupannya kali ini.


"Loh Ran?" Ran membulatkan matanya mendengar suara yang sungguh sangat ia kenali itu.


"Afifaahhh... tolongin akuuhh...." gadis itu terdengar merengek pada sahabat nya yang kini melirik buku-buku yang berserakan di hadapannya itu.


"Keknya gada tugas deh, apa tuh yang kamu kerjain?" tanya Afifah setelah menatap jelas soal-soal yang bahkan ia tak tahu apa jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang memiliki jumlah yang banyak di buku-buku itu.


"Lupa ya kalo aku tuh lagi jadi babunya si Naufal itu!" Afifah tersentak kemudian menatap Ran dengan tatapan menjengkelkannya.


"Oh iya ya kamu kan dah di jadiin Ubab... Wkwkwk." Afifah tertawa menatap wajah Ran yang kini menatap dirinya cemberut.


"Hish... kamu itu ya! bukannya bantuin malah ketawain." Ran mendorong tubuh Afifah menjauh dari dirinya sontak membuat gadis itu berhenti tertawa lalu menatap Ran dengan wajah datar.


"Yaudah kalo gak mau ku bantuin." gadis itu malah berlalu pergi meninggalkan Ran lagi sedangkan gadis yang ia tinggal itu malah mengamuk dan berteriak-teriak menyuruh Afifah kembali ke sana.


"Baek-baek ya bestik kuu." tiba-tiba Afifah kembali dan mengintip di balik pintu kemudian menjulurkan lidahnya lalu segera berlari pergi dari sana.


"Awas Ya!"


*****


"Menurut gw ya Fal, tugas-tugas kita tuh gak bakal selesai." ujar Doni seraya bertopang dagu di atas meja kantin.


"Ho'oh, mana masih muda lagi... kasian kena mental." Raka tiba-tiba menyahut menyetujui ucapan Doni sebelumnya.


"Ngapain di kasianin... orang tu cewek paling pinter di kelas sebelas. lagian kan tu cewek juga udah pernah menang juara cerdas cermat antar sekolah." Fadlan berucap yang hanya di angguki oleh Doni dan Raka, mengerti.


"Eh tau dari mana lu cu*." celutuk Raka seraya melempar tutup botol minuman miliknya kearah Fadlan.


"Mau dia pinter kek mau dia bego kek, asal PR gw jadi." Naufal kini berucap yang sedari tadi hanya diam menyimak obrolan-obrolan sahabat-sahabat nya itu yang selalu mengarah ke 'Per-gosipan'.


"Heran gw ya Fal, setiap kata-kata lu itu... selalu mengandung kesadisan yang haqiqi." ucap Raka yang mana membuat Naufal langsung menimpuk kepala pemuda itu.


"Anj1r setan! tiap hari kena timpuk gw." galak Raka sembari mengusap-usap kepala miliknya.


"Tangan juga gak gatel kali Ka kalo lu gak nyari masalah mulu." Doni lalu menendang kursi yang Raka duduki membuat pemiliknya mendengus kesal. "Perasaan gw mulu monyet!"


"Kok pada ribut bangs4t!" Naufal tiba-tiba saja menggebrak meja kantin membuat seluruh pelanggan di kantin itu menoleh menatap dirinya refleks karena terkejut.


"Ck... doyan banget ya lu mukul meja, apa gak sakit tu tangan." Raka berucap enteng membuat Naufal melayangkan tatapan tajam miliknya kearah pemuda itu. "Gak sakit sih." Naufal lalu kembali memukul meja itu keras kemudian menatap telapak tangannya yang kini berwarna kemerah-merahan namun tak terasa sakit.


"Bang Zevi dari tadi diem mulu kek patung idup." celutuk Doni sontak membuat ketiga temannya itu menoleh kearah Zevi.


"Lu ngapa bro? sakit hati ditinggal si doi?" timpal Raka membuat Zevi berdecak.


"Jiaahh... punya gebetan aja gak, apalagi pacar wkwkwk." Doni tertawa seraya memukul-mukul punggung Raka yang kini ikut tertawa.


"Ck... gw mana mikirin kek gitu bangk3... gw cuman lagi kepikiran UNBK kita nanti, kalo gak lulus ya gimana masa depan kita." Jelas Zevi yang mana membuat teman-teman nya itu terdiam mencoba mencerna ucapan Zevi yang tiba-tiba membahas hal yang berkaitan dengan masa depan mereka.


"Kita? lu aja kali." Naufal berucap enteng yang mana membuat sahabatnya itu mengerutkan kening kearahnya. "Lu pikir contekan itu buat apa?" semua teman-teman nya kini terlihat bersorak bahagia, tak terpikirkan oleh hal ini sebelumnya... contekan akan selalu menjadi kunci jawaban yang tepat di setiap ujian-ujian yang akan di hadapi bukan? begitulah kira-kira menurut Naufal sendiri yang tak pernah ingin tahu tentang apa itu belajar, baginya itu hanya hal bodoh yang dapat membuang-buang waktu.


"Eh anj1r iya!"


"Kita gosah belajar wkwkwk."


"Babang Naufal emang penyelamat."


"Anak setan emang gak bisa di ajarin." batin Zevi seraya memasang wajah datar miliknya melihat ketiga temannya itu memuji-muji Naufal atas ucapan pemuda itu tadi.


BRAKK!!


"SIAPA YANG TADI MAU NYONTEK?!" Ran tiba-tiba muncul lalu berteriak seraya membulatkan matanya menatap Naufal dan teman-teman nya yang terkejut dengan kehadiran dirinya yang muncul secara tiba-tiba.


Seluruh pengunjung kantin sekolah kini menatap gadis itu terkejut kemudian saling berbisik-bisik dengan mata yang tak luput dari menatap wajah Ran, benci. "Lu punya urusan apa?" Naufal terlihat mendongak seraya bersedekap dada menatap Ran.


"Nyontek itu kan gak baik!" timpal Ran dengan mata menajam kearah Naufal.


"Pfftt...." Naufal membuang wajahnya kemudian beralih menatap gadis itu kembali. "Lu tau apa hah?" Naufal menarik ujung bibirnya seraya menatap Ran remeh, gadis ini memangnya bisa apa?


"Aku... aku kan bisa ajarin kalian!"


...----------------...