
"Gw-Gak-Suka!" jawab Naufal enteng tak memperdulikan keadaan Ran yang sudah pusing tujuh keliling.
"Hah?!!" Ran memekik terkejut di hadapan pemuda itu.
"Apa? kenapa? udah sana ganti!" Naufal terlihat mendorong minuman botolan yang telah Ran bawa untuk yang ke lima kalinya.
"Hish!... iya." Ran berucap kesal kemudian beranjak pergi dari depan meja Naufal dan teman-teman nya.
Ke empat sahabat Naufal itu hanya bisa menatap Ran kasihan, mereka tak mampu melakukan apapun untuk gadis itu karena Naufal sendirilah yang sedang bertindak sekarang, sulit untuk menyela pemuda itu.
Ran pergi dengan wajah kusutnya, sudah lima kali Naufal mengatakan 'Tidak suka' dengan berbagai jenis minuman yang ia bawa sebelumnya. Ran juga sudah lelah dengan setiap alasan yang ia buat ketika Ibu kantin bertanya mengapa dirinya mengembalikan minuman yang ia beli dan menukarnya dengan jenis minuman yang berbeda.
"Hish... bawel banget sih tu cowok, dia maunya minuman yang kek apa sih?!" Batin Ran setelah mengembalikan botol berisi minuman yang ia beli untuk Naufal tadi kemudian mencari jenis minuman berbeda yang pastinya sang Naufal itu tak akan menolak untuk yang ke enam kalinya lagi.
Tak menunggu lama, Ran kemudian kembali lagi dengan sebuah minuman kaleng yang berada di tangan nya. Naufal terlihat melirik minuman itu kemudian menatap gadis itu dengan satu alis yang terangkat.
"Nih!" Ran berucap galak kemudian meletakkan minuman kaleng itu dengan kasar.
"Apa ni?" Naufal bertanya seraya menatap minuman kaleng yang berdiri kokoh di atas meja tepatnya berada di hadapan pemuda itu.
"Ck!... ya minuman lah!" Ran berucap kesal seraya bersedekap dada menatap pemuda itu.
"Ohhh... lu cerita nya udah berani nih sekarang?" Naufal bangkit dari duduknya kemudian menatap tajam gadis yang berada dihadapannya itu. Ran menelan ludah nya kasar kemudian menggeleng menatap pemuda itu takut.
Pemuda itu terlihat mengambil minuman kaleng tadi kemudian menatap nya beberapa saat, awalnya Ran pikir bahwa pemuda ini sepertinya menyukai minuman itu, namun tebakan nya salah ketika pemuda itu malah melemparkan minuman itu kearahnya sontak gadis itu langsung menangkap benda tersebut.
"Gw gak suka."
"Heeehhh?!!" Ran membulatkan matanya menatap Naufal yang sedang memasang mimik wajah datar kearahnya seolah-olah tak terjadi apapun.
"Lu kira gw suka minuman soda?" Naufal berucap menatap Ran jengkel sedangkan gadis itu hanya menggeleng, tau apa dia?
"Sadis amat lu Fal." Tiba-tiba Raka berucap seenaknya membuat Naufal meringis lalu menatap sahabatnya itu tajam.
"Lu mau gantiin ni cewek beliin gw minum?" Raka menggeleng kemudian memperlihatkan deretan gigi nya yang rapi.
"Yaudah." Naufal tiba-tiba beranjak pergi dari sana dengan enteng membuat sahabat-sahabatnya itu menatap nya aneh termasuk Ran.
"Tu anak kenapa?" ucap Doni yang hanya di jawab gelengan oleh teman-temannya.
"Woi! kalian ngapain?! nunggu kiamat?!" tak menunggu lama tiba-tiba pekikan dari seorang Naufal terdengar dari arah pintu kantin membuat ke empat pemuda itu termasuk Ran langsung berlari pergi mengejar Naufal.
Semua orang nampak terkejut dengan teriakan pemuda itu, ada apa ini? apa sedang terjadi sesuatu?
*****
"Assalamualaikum...." lirih Ran saat setelah masuk kedalam rumah nya.
Sepi, tak terlihat satu pun orang di kediaman keluarga mewah itu. "Tante Sherina mana ya?" batin Ran seraya menoleh kanan kiri secara hati-hati.
"Huftt....* Gadis itu menghembuskan nafas lega lalu pergi beranjak ke arah kamarnya.
Ran tinggal bersama kedua orang tuanya, tetapi sayangnya orang tua gadis itu terlalu sibuk dengan dunia perbisnisan sampai-sampai mereka terlalu sering bolak-balik dari luar dan dalam negeri. Ran dulunya kadang sendirian di rumah besar miliknya ini sewaktu kelas 6 SD dulu. Namun sekarang sudah tidak lagi, Ayahnya meminta adiknya yaitu Tante Ran sendiri untuk tinggal bersama putrinya itu sementara dirumah mewah mereka ini selama mereka berpergian ke luar negeri.
Sherina sudah seperti menjadikan Ran sebagai tempat pelampiasan kemarahannya. Dulunya ia tak seperti ini, sampai mantan suaminya meminta cerai padanya. Hal itu membuatnya depresi dan menjadikan gadis kecil yang tak tau apa-apa itu menjadi tempat pelampiasannya. Sherina itu juga memiliki satu anak lelaki yang berumur 2 tahun lebih muda daripada Ran.
Ran terlihat seakan-akan sudah terbiasa dengan perlakuan Tante nya ini, ketika Sherina marah, ia hanya bisa terdiam membisu seraya menunduk dan tak melakukan tindakan apapun.
Ran juga terkadang bermain dengan putra Sherina. Putranya ini memiliki kepribadian yang baik serta lembut, berbanding terbalik dengan sifat ibunya. Ran terkadang menyapa pemuda itu dengan sebutan 'Vari', pemuda yang kini berumur 15 tahun dengan tinggi yang melebihi tinggi Ran sendiri serta senyum manis yang selalu tercetak jelas di bibirnya. Tak heran jika Ran menjadikan Vari sebagai teman bermainnya sedari ia kecil hingga dewasa.
"Ran!" Teriakan itu berasal dari lantai bawah, cepat-cepat Ran keluar dari kamarnya lalu pergi menemui si empu yang berteriak tadi.
"Kamu kenapa baru dateng Hah?!!" pekik Sherina dihadapan Ran setelah gadis itu sampai di hadapannya.
"Tante kan udah bilang! kalau Tante balik itu jangan diem aja di kamar!" bentak Sherina seraya menunjuk wajah Ran yang sedang tertunduk takut.
Sedangkan di belakang Sherina sendiri terdapat Vari yang sedang menatap cemas Ran, setiap hari pemuda itu selalu saja mendapatkan pemandangan yang tidak mengenakkan seperti ini.
"Ma-maaf Tan...." ucap Ran dengan rasa bersalahnya.
"'Maaf-maaf!!'... sudah! sana bikinin Tante teh! jangan buat Tante nunggu!" titah Sherina terhadap Ran, Sherina selalu saja menyuruh-nyuruh Ran seakan-akan tak ada ART (Asisten rumah tangga) dirumah itu.
Tak lama kemudian Ran datang dengan secangkir teh di tangannya. Kemudian Sherina menyuruh Ran agar meletakkan teh itu diatas meja lalu menyuruh dirinya agar memijiti kaki miliknya itu. Selama Ayah dan Ibunya pergi, Ran sudah seperti pembantu di rumahnya sendiri, tapi disisi lain ia juga akan merasa lega dengan sendirinya ketika Tante Sherina nya ini sudah pergi kembali ke kediaman nya bersama Vari meski sedikit sedih jika pemuda itu juga ikut pergi bersama Ibunya.
"Lembek banget kamu!" ucap Sherina yang kini tengah memejamkan matanya.
"Maaf Tante...." Ran hanya bisa berkata maaf dan maaf, ia tak tau harus berbuat apa selain mengucapkan kata-kata itu.
Setelah Sherina tertidur di kamarnya, Ran pun segera pergi meninggalkan Sherina dari sana. Setiap hari gadis itu hanya akan terdiam dan termenung di kamarnya kadang kala gadis itu terduduk di taman halaman rumahnya menikmati hembusan angin sepoi-sepoi.
Terlihat Ran kali ini sedang terdiam dan tak melakukan apapun dibangku halaman rumahnya. Gadis itu kini tak bisa berfikir jernih, disekolah pun ia di perlakukan sebagai seorang pembantu, begitupun ketika ia berada di rumahnya sendiri.
"Loh Ran?" suara berat itu ialah milik seorang pemuda tinggi yang seringkali Ran sapa 'Vari' setiap harinya.
Gadis itu terlihat menoleh kemudian tersenyum "Eh Vari." sapa Ran saat pemuda itu telah duduk di sebelah kiri Ran.
Pemuda itu kemudian tersenyum membalas sapaan gadis itu namun sedetik kemudian senyum manis itu kini berubah menjadi kerutan.
"Maafin Mama gw ya Ran." Vari cukup merasa bersalah terhadap tindakan Ibunya, meskipun pemuda itu tak melakukan kesalahan apapun.
"Udah Vari gosah dipikirin. Oh iya, kan akhir-akhir ini kamu tuh naik mobil kan kesekolah? nah gimana tuh rasanya diantar jemput ke sekolah?" Ran tersenyum seraya bertanya kepada pemuda itu yang kini menatap dirinya khawatir. Sejujurnya menurut Ran, Vari akan tampak berseri ketika tersenyum, bak malaikat.
"Gw sih awalnya malu-malu gitu, tapi akhirnya gw juga ngerasa nyaman sih... Tapi, lu gpp? Mama gw maksa buat make mobil lu kesekolah terus mobil yang satu nya lagi di pake Mama gw jalan-jalan... Jadinya lu jalan kaki kesekolah...." Vari berujar sendu pada akhir kalimat nya yang hanya di jawab kekehan oleh Ran. Kadang Vari heran, mengapa disaat semua hal buruk yang di timpanya, gadis ini terus saja tersenyum.
"Ish... udah gpp kok, aku seneng kok jalan kaki ke sekolah, Mayan lah olahraga." Ran berucap kemudian terkekeh.
Disisi lain Vari sedikit merasa lega, setidaknya Ran adalah seorang gadis yang sangat kuat dan tabah meski ia telah memikul banyak masalah beban yang ia alami. Vari juga bersyukur karena Ran sendiri tak pernah melaporkan tindakan Ibunya terhadap dirinya sendiri kepada orang tua nya itu.
"Oh iya Ran, lu mau gak bantuin gw kerjain pr? pleasee...." Vari kini terdengar memohon membuat Ran terhenyak lalu tertawa dengan tindakan kekanak-kanakan Vari.
"Dasar ya, tiap hari aku bantuin kamu kerjain PR lohh... kok tiba-tiba ada lagi?" Ran kemudian tertawa lalu memukul lengan Vari pelan.
"Ya kan mana gw tau." Vari kini ikut tertawa seraya menghindari pukulan-pukulan Ran yang dilontarkan padanya berkali-kali.
...----------------...