RaNauf

RaNauf
Episode 15 _Berkunjung_



"Bunda...."


"Shhttt!! udah belajar aja sana." Ucap Calista dengan jari telunjuk didepan bibirnya. "Bunda turun dulu ya Nak Ran, kamu ajarin Naufal bener-bener ya."


Ceklek!


Ran menelan paksa air liur nya saat setelah Calista pergi meninggalkan mereka berdua yang kini terperangkap didalam kamar Naufal. "Lu ngapain datang hagh?" Ran menjauh ketika tatapan tajam Naufal mengarah padanya.


"Ya-ya sapa juga yang gak bakal pergi kalau udah dipaksa ortu. Kamu belajar aja sana." Perintah Ran membuat Naufal memutar bola matanya jengah.


Seharusnya Ran kini menikmati tanggal merah dimana sekolah mereka diliburkan namun kehendak berkata lain saat Orang tuanya berkata ingin pergi mengunjungi keluarga Naufal. Naufal juga tak ingin hal ini terjadi, dirinya malah ketahuan oleh keluarga Ran didepan gerbang rumahnya saat ingin kabur dari rumah sebelumnya.


"Gak belajar Fal?"


"Kenapa? lu mau ngadu ma nyokap gw? hm!" Ran menggeleng secepat mungkin kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan kearah balkon kamar Naufal. "Lu pikir ini kamar lu hah!" Kesal Naufal saat Ran mencoba menyentuh gitar Naufal yang berada disudut kamar.


"Dih, Sensi banget jadi cowok! pms kah!" Jerit hati Ran saat ini dengan mata menatap Naufal tak suka. "Masa kita di kurung kek gini sih! mana Mama aku setuju lagi kita disini berdua." Rasanya Ran ingin memukul seseorang sampai babak belur namun ia sadar karena yang tengah bersama nya kini seorang Naufal lagi pula kamar ini merupakan kamar pemuda itu.


"Harum juga ni kamar, parfum cowok emang the best." Batin Ran kemudian melirik Naufal yang kini terduduk di sofa kamarnya dengan tangan yang menggeser-geser layar Hape. "Merk parfum mu apa? nyengat banget baunya."


"Gw gak suka parfum." Seketika Ran tersentak, ternyata bau yang sedari tadi ia nikmati itu adalah bau tubuh Naufal sendiri, mengapa dirinya tak sadar bahwa bau itu merupakan bau tubuh?


Naufal menaikkan satu alisnya heran saat Ran tiba-tiba berjalan keluar kamar nya secara terburu-buru. "Ck... bakal kena gw." Gumam pemuda itu kemudian meletakkan Smartphone miliknya dan segera pergi menyusul Ran.


Naufal terhenti saat Ran kini berhadapan dengan Ayahnya tak jauh dari sana. Perasaan bingung dan khawatir bercampur aduk. Sebenarnya Naufal tak ingin Ran tiba-tiba terkena amarah Ayahnya pasalnya hal itu akan merusak image keluarga nya dimata Ran nanti.


Perlahan Naufal mendekat saat melihat Ayahnya mencoba berbicara pada Ran "Kamu anaknya Farhan ya?" Ran tersenyum kemudian mengangguk "Iya om."


"Kakak mu mana?" Naufal terhenti, ia sedikit terkejut. Pria dihadapan Ran seperti bukan Ayahnya, Alex terdengar begitu lembut dan ramah pada gadis itu membuat Naufal heran.


"Di luar negeri om, lagi ngurusin perusahaan nya disana." Ran tersenyum menatap Pria dihadapannya dengan wajah tak asing.


"Wah, saya baru tau kalau kakak kamu sudah punya perusahaan sendiri." Alex ikut tersenyum namun senyum tersebut tidak bertahan lama sampai netra nya menangkap Naufal yang tengah berdiri tak jauh dari mereka saat ini.


Perasaan tak enak muncul yang kini dirasakan Naufal, rasa yang aneh namun terasa lega. "Ah... Naufal, bukannya kamu lagi belajar dikamar? kenapa keluar?" Naufal mengerutkan keningnya kemudian mengalihkan pandangannya sontak Ran menoleh kemana mata Ayah seorang Naufal itu menatap.


"Bab... ayo." Naufal berjalan kemudian meraih pergelangan tangan gadis itu hendak membawanya pergi dari sana. "Eh, Om saya pamit dulu ya." Ran berucap sopan kemudian segera melangkah kan kakinya saat Naufal mencoba menarik dirinya pergi dari sana secepat mungkin.


"Kenapa saya gak bisa?" Gumam Alex dengan tatapan layu menatap punggung putranya yang kini semakin menjauh darinya.


"Alex? ayo turun, Dinah sama Farhan lagi nungguin kamu." Calista tiba-tiba muncul berdiri di sampingnya entah sejak kapan itu. "Aku tau kok ini susah, tapi coba kamu biasakan. Anak mu itu keras kepala banget, sama seperti kamu, gak pa-pa Alex, pelan-pelan aja." Calista tersenyum menatap suaminya yang kini ikut menatap nya dengan tatapan sendu.


"Udah, ayok." Merasa tak akan ada jawaban untuknya dari Alex, ia pun segera menggandeng suaminya untuk berjalan turun menuju ruang tamu.


"Hish, apasih narik narik!" Ran menghempaskan lengan Naufal yang dibalas dengan tatapan tajam. "Lu ngapain keluar hagh? lu mau gw kena marah?!"


"Di-dih! sapa juga ya! aku gak nyaman aja berdua disini sama kamu!" Ran melontarkan tatapan tajamnya mengikuti cara Naufal menatap nya.


"Sok ngatur banget." Gumam Ran mencibir Pemuda itu.


Ran kemudian melangkah kan kakinya menuju balkon kamar Naufal, terasa begitu sejuk disana. "Tau-tau aku tadi disini aja." Ran bermonolog seraya menatap indahnya awan yang kini sedang melayang diatas langit biru.


"Dih sapa juga yang mau berduaan di dalem kamar! kamar cowok lagi!" Ran menggeleng menghilangkan bayangan aneh dikepalanya.


Terlihat dilantai bawah tepatnya di ruang tamu terdapat dua pasangan suami istri yang tengah berbincang hangat yang selama ini sulit untuk dilakukan. "Oh iya, Anak kamu Naufal sekarang udah gede ya Alex, mirip banget sama kamu." Farhan yaitu Ayah dari Ran tersenyum kearah Alex yang kini menoleh padanya.


"Ah, iya."


"Oh iya Aryz kira-kira dimana sekarang? kalau gak salah dia gak lanjutkan kuliahnya tapi lebih milih buat perusahaan sendiri ya?" Tanya Calista dengan wajah tanda tanya.


"Iya, Aryz gak mau ngebebanin keluarga katanya, dia mandiri banget Hahaha... karna itu aku suka khawatir kalau gak keluar negeri buat liat keadaan dia disana." Jawab Dinah yang menyahut ucapan Calista, sahabat nya sedari ia SMA.


"Emang si Aryz nya gak pulang?"


"Nah itu, Dia gak mau ninggalin perusahaan nya disana, katanya saham bakal anjlok kalau ditinggal." Terlihat Dinah dan Calista begitu asik berbincang berdua seakan-akan tak ada siapapun disana kecuali mereka berdua dan memilih mengabaikan suami mereka yang terdiam menatap dan menyimak obrolan mereka.


"Eh Naufal sama Ran lagi belajar ya?"


"Lebih tepatnya Ran yang ajarin Naufal." Alex terlihat sedikit tersentak dengan ucapan itu kemudian segera menatap Calista.


"Kamu belum tau Alex? berkat Ran, Naufal sekarang udah agak meningkat loh." Calista berucap bahagia dikarenakan putranya yang kini sudah tak terlalu bodoh seperti dulu.


"Kapan Naufal mau belajar?"


"Ya sejak aku paksa lah, kamu aja yang selalu sibuk di kantor." Sambung Calista, terdengar helaan nafas dari wanita itu dengan senyuman haru.


"Makasih loh Din, kamu udah mau yakinin anak kamu supaya mau ngajarin Naufal, aku gak tau mau minta tolong sama siapa lagi. Bandel banget anaknya, udah dikasi les privat malah bolos." Dinah tersenyum ikut bahagia kemudian mengangguk.


"Iya, sama-sama Lis."


*****


Dugh!


"Agh... siapa si- oh... ups, Ran." Gadis itu nampak tersenyum saat menyadari bahwa ia menyenggol lengan Ran yang kini menatap bingung dirinya.


"Maaf." Ucap gadis itu segera tak ingin ada kericuhan di tengah-tengah koridor saat ini. "Bareng sama gw dulu bentar mau gak?" Perlahan senyum hangatnya berubah jadi sebuah smirk yang terlihat seperti ada rencana busuk di baliknya.


"Mau ngapain kak?" Ran berucap hati-hati kemudian perlahan menjauh dari gadis dihadapannya.


"Gw cuman mau ngomongin sesuatu sama lo, boleh gak? bentar doang kok." Ran terkejut saat gadis itu tiba-tiba menarik pergelangan tangannya menjauh pergi dari koridor yang dipenuhi siswa-siswi berlalu-lalang.


"Hm? Ran?"