RaNauf

RaNauf
Episode 4 _Babu...?_



"Ha-ha lucu ya?" ucap Naufal seraya melirik Ran yang sedang tertawa kecil.


Semuanya tiba-tiba terdiam, suasana mendadak sunyi menciptakan kesan horor. Terlihat Ran membisu dengan kepala yang kembali di tundukkan, apakah yang akan pemuda itu lakukan padanya?


"Maaf." Ran berucap yang nyaris tak terdengar.


"Gw nanya lu, lucu ya? lucu ya jadiin gw mainan?!" Naufal tiba-tiba meninggikan nada suaranya membuat Ran terkejut namun kembali diam membisu. "Lu bisu ya?!!" sontak Ran mendongak menatap wajah pemuda itu hingga membuat iris hitam Naufal bersitubruk dengan iris gadis itu.


Naufal membuang wajahnya menahan kesal, kemudian kembali menatap gadis itu benci. "Sekarang gw nanya, tadi lu ngapain Ampe nyiram gw make jus jeruk? kurang kerjaan banget, iya?!... atau lu emang sengaja caper ke gw?!" bahu Naufal terlihat naik turun akibat menahan amarahnya mati-matian, mencoba tak melakukan apapun pada gadis ini.


"Maafin aku." Ran akhirnya mengeluarkan suara miliknya setelah beberapa saat membisu, sedangkan Naufal yang mendengar kata-kata gadis itu malah tertawa remeh.


"Ha? apa? lu bilang 'maaf'? Hahaha...." Naufal tertawa seraya menutup wajah miliknya dengan satu telapak tangannya.


Sedangkan Fadlan, Raka dan Doni kini berada dimana sekarang? oh tentu saja mereka bertiga masih berada di tempat itu seraya duduk di bawah lantai, menyimak amukan Naufal yang naik turun. Lalu Zevi? pemuda itu kini berdiri di belakang Naufal, berfikir akan menahan sahabatnya itu ketika ingin melayangkan Bogeman kuatnya kearah gadis itu ketika emosinya sudah lepas.


"Dari tadi gw denger lu bilang maaf terus, jadi capek gw dengernya... tau gak?!" Naufal menghentikan tawanya kemudian membentak gadis itu kesal.


"Ka-kalau aku gak minta maaf terus apa?" Ran terdengar menjawab dengan polos membuat Naufal tersentak lalu menoleh menatap tajam gadis itu.


Kakinya terangkat maju kearah gadis itu perlahan membuat Ran berfikir apakah hidupnya akan berakhir sekarang? sedangkan Zevi yang melihat tindakan Naufal sontak langsung menyentuh pundak pemuda itu mencoba menghentikan langkahnya. Naufal menoleh menatap siapa yang melakukan itu, hingga ia mendapati wajah Zevi yang terlihat serius kemudian menggeleng.


Naufal menghela nafasnya lalu menghempas lengan Zevi yang berada di pundaknya. Pemuda itu nampak kembali menatap wajah Ran "Lu sok polos ato gimana sih?" Ucap Naufal seraya memicingkan matanya menatap gadis itu yang kembali menunduk.


Tak ada jawaban, lagi-lagi gadis itu terdiam membisu. "Ohhh... gw tau kenapa lu ngelakuin itu, karna lu suka kan sama gw?!" Ran tersentak, ternyata pemuda ini juga sama halnya dengan siswi di sekolah ini, sama-sama salah paham terhadap nya.


Gadis itu terlihat mencoba mendongak menatap pemuda itu, membalas tatapan tajam pemuda tinggi dihadapannya "Aku gak pernah suka kamu."


"Wah seru nih... lanjut-lanjut!" seru Raka seraya menggigit ujung kuku jari jempol miliknya dengan mata yang masih setia menatap Naufal dan Ran bergantian, greget dengan pembicaraan gadis dan pemuda itu.


"Udah lah dek! bilang aja kalo lu itu suka, Napa sih?" celutuk Doni yang langsung diangguki oleh Fadlan. "Tinggal lu jawab aja 'Karna suka', nanti masalahnya bakal langsung kelar." timpal Fadlan yang juga mulai jengah dengan gadis itu.


"Woi!!... kalian bisa diam gak sih?!!" pekik Naufal seraya menatap tajam ketiga pemuda itu membuat mereka mencibir kesal.


Naufal kemudian kembali menatap gadis itu tajam, sepertinya gadis ini sulit untuk mengakui kesalahan nya. "Ohh... jadi lu nyiram gw tadi buat caper?!" lagi-lagi tebakan pemuda itu salah, Ran terlihat menggeleng secepat mungkin kemudian berkata "Aku gak caper, itu cuman salah paham." Ran mencoba meluruskan semua masalah ini, bagaimana pun pemuda itu telah keliru dengan kesalahpahaman yang tak di sengaja ini.


"Gw tau lu coba ngelak kan?!" Naufal memasukkan tangannya ke dalam saku celananya kemudian mencondongkan tubuhnya kehadapan gadis itu.


"Enggak." Ran memundurkan langkahnya mencoba menjauh dari pemuda itu.


"Lu benar-benar gak mau ngaku ya?"


Glek


Ran menelan ludah nya kasar seraya menatap pemuda itu takut. Naufal terlihat berjalan mendekat kearah gadis itu membuat Zevi yang berada di belakangnya tersentak dan langsung ingin menghentikan pemuda itu. Naufal terlihat menghilangkan jaraknya dengan Ran yang tadinya satu meter kini jarak mereka hanya terpaut beberapa senti.


Gadis itu terlihat mundur beberapa langkah kebelakang membuat Naufal sontak mencengkeram kasar lengan gadis itu, mencoba menahannya. Pemuda itu kemudian mendekatkan wajahnya dihadapan Ran yang tengah menatap dirinya takut.


KRIRIRIRIRIRINGGG!!!


KRIRIRIRIRIRIRIRIRINGGG!!!....


Bel pertanda jam istirahat telah usai berbunyi memecahkan keheningan yang terjadi sesaat setelah Naufal mengucapkan kalimat nya tadi.


"A-anu... itu bel udah bunyi jadi...." Ran mencoba mundur beberapa langkah dari hadapan pemuda itu membuat Naufal sontak menarik kembali lengan gadis itu kasar.


"Lu ngelak lagi ya?!!"


"Tapi kan bel itu udah-"


"Lu mau nyari-nyari alasan buat kabur? iya?! lu pikir gw bodoh Hah?!!" Naufal membentak gadis itu tepat dihadapan wajahnya, membuat Ran sontak memejamkan matanya takut.


"Kenapa sih air liurnya nyembur kemana-mana...." batin Ran dengan mulut yang terlihat di tekuk.


Naufal memejamkan matanya kemudian menghela nafas, menurut nya gadis yang satu ini sangat sulit untuk ia tebak, emosinya sampai meledak-ledak dibuatnya.


"Ahh... gimana, kalau kita anggap aja masalah ini dah kelar sekarang." Naufal berucap tiba-tiba setelah ia redamkan emosinya sesaat. Semua sahabatnya nampak membelalakkan matanya dan bertanya-tanya, seorang Naufal melepaskan mangsanya begitu saja?


Ran tersenyum bahagia saat Naufal menghempaskan lengannya dari genggaman kuat nya tadi. "Ma-makasih." ujar gadis itu.


Naufal menoleh menatap Ran, kemudian tersenyum miring "'Makasih'?... keknya lu masih belum paham ya? lu pikir gw bakal langsung lepasin lu?" Naufal berjalan menjauh dari gadis itu kemudian kembali menatapnya "Besok Jan lupa tugas lu sebagai Babu gw." Naufal kemudian kembali melanjutkan langkahnya dan melenggang pergi dari sana.


"Ha-hahh??!... aku kan gak bilang-"


"Gada penolakan!"


Ran membulatkan matanya menatap punggung Naufal yang mulai menjauh dari sana lalu menghilang di balik pintu rooftop. "Tapi kan??" Gadis itu bertanya-tanya pada dirinya, apa pemuda itu tidak waras? ia bahkan belum menjawab pertanyaan nya tadi.


"Wow bangs4t...." umpat Raka kemudian berdiri dari duduknya.


"Beruntung lu dek, gak kena terkam ma tu anak tadi... bisa-bisa abis lu." Doni tiba-tiba berucap setelah bangkit dari duduknya.


"Beruntung apanya?" batin gadis itu setelah mendengar ucapan Doni.


"Ah... sabar ya." suara kali ini adalah milik Zevi, sahabat dari keempat pemuda tadi dan hanya ia yang paling dewasa diantara mereka semua.


Ran tersenyum lalu mengangguk namun senyum manis nya itu tiba-tiba berubah menjadi tekukan saat Zevi langsung meninggalkan dirinya di rooftop sekolah ini melihat teman-teman nya sudah pergi meninggalkan dirinya.


"Udah, dah abis masa indah-indah SMA aku." batin gadis itu lalu berjongkok dan menyembunyikan wajahnya di balik kedua lengan miliknya menahan air mata nya yang ingin mengalir deras, kembali kekelas juga sudah sia-sia... guru pasti telah ada didalam sana tengah menjelaskan suatu materi.


...----------------...