RAFAEL

RAFAEL
Episode 3



"Kenapa, nggak mau yah?" tanya Rafael


Anak itu menggeleng gelengkan kepalanya membuat Rafael menyeritkan dahinya bingung, lantas mengapa mengeleng jika tidak mau, pikir Rafael.


"Lia mau ikut sama kakak tapi.." ujar Lia menggantung ucapanya membuat Rafael penasaran.


"Daddy bilang Lia harus disini terus sampai dia kembali, Lia tidak boleh kemana mana kalau Lia tidak mau dihukum daddy" sambung Lia dengan polos.


Karena ucapan Lia yang menyangkut tentang hukuman yang akan daddy Lia berikan jika Lia pergi entah mengapa membuat Rafael menahan gejolak amarah yang sebentar lagi akan meledak.


Itu artinya Lia sudah sering di pukul, karena terbukti dari ekspresi wajah yang menunjukkan ketakutan, walau pun ia sampaikan dengan nada yang polos dan lugu, itu yang Rafael pikirkan.


Karena tidak ingin gejolah amarahnya semaki besar ia tidak ingin menanyakan tentang orang tua dari Lia.


"Tidak akan Daddy nya Lia tidak akan memukuli Lia lagi" ujar Rafael dengan lembutnya.


"Tapi Lia Takut" ujar Lia, dengan kepala yang menunduk kebawah.


"Lia denger kakak kita pergi ya sekarang, kamu bisa panggil Kakak Daddy kamu ok" tawar Rafael dengan mantap.


Seketika Lia terkejut dan mengangkat kepalanya dan melihat wajah tampan seora g Rafael yang baru saja menawarkan diri menjadi daddynya.


Lia menatap Rafael dengan cengo, karena belum bisa menangkap inti pembicaraannya dengan orang di depannya itu.


"Daddy?!. Lia bisa panggil kakak daddy? " tanya Lia yang baru saja ngeh dengan apa yang diucapkan Rafael. Dapat Rafael lihat juga ada binar di mata itu walau masih ada keraguan.


Mungkin karena merasa masih mempunyai daddy asli, pikir Rafael.


"Iyah" jawab Rafael dengan mengangguk anggukkan kepalanya


Hal itu membuat Lia Berteriak kegirangan, tetapi sedetik kemudian kegirangan itu hilang, Rafael kbali binggung.


"Kenapa?" tanya Rafael sambil mengusap surai rambut panjang Lia.


"Bagaimana dengan daddy ku dan mommy ku? " tanya Lia, yang membuat Rafael menahan amarahnya lagi karena mendengar sebutan daddy kepada orang yang telah meniggalkan Lia disini seorang diri, sungguh Rafarl sangat ingin orang itu hilang di dunia ini.


"Tidak masalah, sekarang akulah daddy mu" ujar Rafael


"Dan jangan memanggil orang lain daddy selain aku mengerti?" sambung dan tanya Rafael.


Anak itu menganggukkan kepalanya dengan semangat, dan segera menarik leher Rafael untuk dipeluknya, dan dengan senang hati juga Rafael menerima pelukan itu dan membalasnya dengan senyum yang mengembang bahagia karena anak yang ia temui ingin menerimanya menjadi ayahnya. Tidak jauh beda dengan Lia senyumnya mengembang sempurna karena senang mendapatkan dadd yg baru. Dan ingat seorang Lia yang berumu sekitar 4 tahun setengah dapat menerbitkan senyum seorang Rafael yang dingin tak tersentu, dapat membuat nada bicara seorang Rafael menjadi lembut.


Karena bertemu dengan Lia seorang anak kecil perempuan berumur 4 tahun setengah membuat Rafael melupakan tujuannya sehingga bisa melewati taman itu. BASECAMP.


"daddy ayok kita jalan jalan" ajak Lia dengan senang, hingga tak sadar bahwa perkataannya membuat hati Rafael menghangat karena Lia memanggilnya dengan sebutan daddy.


"Baiklah putri daddy kelihatannya sudah tidak sabar untuk berjalan jalan dengan daddy yah" ujar Rafael dengan sedikit menggoda Lia uang sekarang menjadi putrinya dengan mencolek ujung dagu sang putri.


"Ihkkk, daddy genit" ujar Lia dengan cemberut dan bersedekap dada dengan memayunkan bibirnya membuat pipiny jadi menggembungkan ,membuat sang daddy tidak tahan untuk tidak mencubit pipi sang putri.


"Uhh lucu banget sih putrinya daddy" ujar Rafael dengan tangan yang mencubit kedua pipi Lia.


"Baiklah ayok kita jalan jalan" ajak Rafael kemudian.


Dan langsung disuguhi wajah yang berbinar senang seperti mendapatkan hadiah yang besar.


"AYOK" pekik senang Lia dengan lompat ke pelukan Rafael minta digendong, dengan senang hati Rafael menggendongnya mengelilingi taman.


SEDANGKAN DI BASECAMP


"Ini si es balok mana sih kaga nyampe nyampe, perasaan dari tadi tuh, betah banget dah di taman tuh" dumel Leon


"Kaga jadi dateng kali dianya" timpal Azka


"Kalo dia kaga dateng yang tadi udah dia bilang dongkol" sahut Leon


"Chat" singkat Garry, yang sudah jengah dengan perdebatan keduanya.


"Ngomong apaan lu, singkat bener dah, kekurangan kata kata ya lu. Sini gua kasi ni gua punya banyak noh stoknya kalau lu mau, jangan kek orang habis kata kata, kata kata tu kaga bakal habis geriSalut" jelas Leon dengan abatrak, karena kesal dengan Garry yang berbicara sangat singkat, lahh 11 12 lah ama si Rafael.


"Mulut lu geriSalut, di tampol Garry tu mulut lu tau rasa lu yon" timpal Aksa. Garry mah B aja atuh


"Garry tu bilang lu chat aja tuh si Rafael, tanya jadi kesini apa nggak, kalau nggak kita susul aja" ujar Aidan yang memang mngerti dengan jalan bicara seorang Garry


"Nah gitu kek dari tadi kan gua kagak pusing" dumel Leon, yang mendapatkan tatapan tajam dari Garry. Seolah berkata udah chat aja kaga usah bacott.


Dengan segera Leon mengambil hendphone nya dan menchat Rafael.


TAMAN


Karena lelah membawa Lia untuk jalan ditaman Rafael duduk di bangku yang berada di dekatnya. Muluruskan kakinya, membiarkan Lia tetap di dalam dekapannya dengan mensandarkan kepalanya pada dada bidang sang daddy.


"Daddy Lia haus" ujar Lia dengan wajah yang sangat imut, membuat tangan Rafael gatal untuk mencubitnya.


"Yaudah ayok kita beli minum dulu" tawar Rafael, dengan tangan yang mencubit kedua pipi gembul Lia.


"Daddy!?" panggil Lia sebelum Rafael beranjak dari duduknya.


Melihat sang daddy dengan puppy eyes miliknya, membuat sang daddy menatap bingung sang anak.


Mengapa anaknya ini mengeluarkan puppy eyes milik nya yang membuat wajahnya sangat sangat imut dimata Rafael.


"Kenapa? " tanya Rafael yang sudah tidak sanggup lagi melihat puppy eyes dari anaknya ini sambil mengusap usap surai panjang anaknya


"Pengen es krim" pinta Lia dengan pelan, karena takut akan dimarahi oleh sang daddy.


"Pengen es krim" pinta Lia dengan pelan, karena takut akan dimarahi oleh sang daddy.


Rafael yang mendengar permintaan sang putri pun terkekeh gemas terlebih lagi Lia memintanya dengan nada takut membuatnya semakin gemas kepada Lia.


"Tidak boleh" tegas Rafael, lebih tepatnya pura pura. Ia hanya ingin melihat bagaimana anaknya ini akan membujuknya.


Lia menggkat pandangannya memandang sang daddy dengan polos, membuat Rafael sangat ingin meledakkan tawanya saat itu juga


Rafael yang mendegar ucapan anaknya itu sangat ingin tertawa tetapi ia tahan karena tidak ingin anaknya bertambah marah nanti.


"Kamu bilang apa baby, daddy tidak sanggup membeli es krim barang hanya satu saja, jagankan satu es krim daddy bahkan bisa membelikan kamu pabrik es krim itu hanya untuk mu baby" ujar Rafael


"Terus kenapa daddy tidak ingin membelikan ku es krim daddy" kesal Lia


"Baikla baiklah kita akan membeli es krim itu tapi dengan satu syarat"


Belum sempat Rafael menyelesaikan ucapannya, malah sudah di potong oleh putri kecilnya yang masih berada diatas pangkuannya ini.


"Apa syaratnya dad!?" potong Lia cepat dengan antusias


"Hey baby bersabarlah" ujar Rafael dengan terkekeh kecil melihat keantusiasan putri nya ini.


"Cepatlah dad, apa syaratnya? " tanya Lia dengan tidak sabaran.


"Cium daddy dulu dong" pinta Rafael dengan menunjukkan jari telunjuk nya pada pipi kanannya, meminta sang putri untuk mencium pipi kanan nya itu.


Cup


Cup


Cup


Cup


Cup


Cup


Dengan segera Lia menangkup wajah sang daddy dan mencium pipi kanan daddy nya tidak hanya pipi kanan sang daddy yang ia kecup tetapi pipi kiri, kening, hidung, bibir dan bahkan juga dagu Rafael.


Membuat Radael yang memdapatkan Ciuman di seluruh wajahnya itu terkekeh karena sang putri mencium seluruh inci wajahnya.


"Sudah dad" ujar Lia dengan semangat 45


"Hahaha, baiklah baby ayuk kita akan membeli es krim yang kau inginkan, tetapi hanya satu tidak boleh lebih ok?" ajak Rafael kepada sang putri


"YESS" pekik senang Lia


"Ok dad" sambung Lia


"Ayok dad kita pergi beli es krimnya" ajak Lia dengan semangat kepada sang daddy dengan bergoyang goyang, membuat Radael gemas seketika.


"Ayok putri daddy kita beli es krim" ujar Rafael menerima ajakan sang putri.


"HOREE" pekik Lia yang berada di dalam gendongan sang daddy, membuat mereka berdua menjadi pusat perhatian tetapi mereka berdua tidak memperdulikannya.


Setelah sampai di penjual es krim yang ada di taman itu, Lia turun dari gendongan Rafael.


"Mau yang mana?" tanya Rafael kepada Lia


"Emmm.. Vanila dengan Strowberi aja deh dad" jawab Lia


"Berapa? " tanya singkat Rafael


"Baik" jawab tukang es nya


"Ini neng manis es krimnya" ujar tukang es


"Yeyy, terimah kasih pak" jawab ramah Lia.


"Berapa? " tanya singkat Rafael


"10.000 aja den" jawab tukang es


Setelah itu Rafael memberikan uang 20.000 kepada sang penjual.


"Ambil aja kembaliannya pak" ujar datar Rafael


Setelah itu segera melenggang pergi dengan menggandeng tangan Lia dan menuntun Lia untuk duduk di bangku taman. Dan tiba tiba handphone Rafael berdering itu artinya ada pesan yang masuk


Leon bobrok


Woi dimana sih lu, kita


tungguin dah tadi juga


kaga datang datang nyasar


dimana sih lu lama bener dah


Setelah membaca pesan dari Leon, ia menepuk jidat mau ngapa ia bisa lupa. Segera ia balas


^^^Sorry gua kagak dateng dulu, ^^^


^^^ntar malem aja suruh pada^^^


^^^kumpul di basecamp^^^


Oke boss


Setelah itu ia tidak lagi membalas chat dari leon.


Tiba tiba ia merasa ada yang aneh di lengannya ketika ia lihat, ternyata perinces kecilnya tengah tertidur pulas di lengannya, dengan es krim yang sudah habis. Dengan hati hati ia menganggkat tubuh kecil itu sang putri ke pangkuannya, dan beranjak dari tempat duduknya ke arah parkiran dimana motor sportnya ia simpan.


Di naikinya motornya dan di lajukan dengan kecepatan yang sedang karena sedang membawa sang perinces kecilnya.


Episode terpanjang


JANGAN LUPA VOTE+KOMEN