RAFAEL

RAFAEL
Episode 2



Setelah tiga jam masa pembelajaran akhirnya bel istirahat berbunyi.


KRING KRING


"Baiklah, sampai sini pelajaran ibu hari ini, silahkan istirahat" ujar bu Rani sambil membereskan peralatan pembelajarannya dan mempersilahkan murid murid untuk istirahat, kemudian setelah membereskan barang barangnya ia pun keluar dari kelas.


Seluruh murid yang berada di dalam kelas keluar untuk ke kantin atau ke tempat yang mereka mau. Terutama Rafael dkk kecuali Leon dan Azka.


Mereka keluar dan pergi ke kantin, kenapa tidak mencari Leon dan Azka, karena mereka tau bahwa bisa di pastikan dua curut itu sudah ada di kantin.


Mereka berjalan melewati koridor menuju kantin dimana banyak siswa siswi yang berlalu lalang, menjadikan mereka pusat perhatian karena paras mereka yang diatas rata rata terutama Rafael.


Sampainya mereka di ambang pintu masuk kantin mereka juga menjadi pusat perhatian tetapi mereka tidak peduli, tetap berjalan dengan gaya cool khas mereka masing masing.


Bisa mereka lihat di bangku pojok kantin yang merupakan bangku khusus untuk mereka, sebenarnya bukan khusus hanya saja mereka yang mencap meja tersebut, juga tidak ad yang berani untuk duduk di bangku itu jangankan duduk memyentuhnya saja mereka tidak berani.


Ke 6 orang itu menghampiri Leon dan Azka yang sudah duduk santai di bangku itu.


"Hoii diem diem baek" ujar Aksa, mengejutkan Leon dan Azka yang sedang menikmati makannya, sampai sampai Leon sempat tersedak.


"UHUK.. UHUKK" batuk Leon, dengan segera ia meneguk minuman yang untung saja sudah ia pesan terlebih dahulu.


Hahahahahah


Tawa Rafael dkk kecuali Rafael, Galen dan Garry.


"Sialan lu sa, hampir mati gua tau nggak" ujar Leon, dengan nada yang kesal karena acara makannya di ganggu.


"Alah lebai banget lu yon" timpal Aska yang masih berusaha meredakan tawanya.


Baru saja Leon ingin membalasnya lagi, tetapi suara seseorang membuatnya langsung ciut dan diam.


"BERISIK" tukasnya dengan tatapan dingin dan wajah datar memandang satu persatu temannya. Yah siapa lagi kalau bukan Rafael.


"Pesen" sambungnya lagi, sambil menyodorkan uang ke arah Leon.


Dengan segera Leon mengambil uang itu dan menanyakan pesanan nya.


"Lo mau pesen apaan?" tanya Leon


"Biasa" singkat Rafael


"Lo pada mau apa?" tanya Leon kepada yang lain.


"Samain aja biar cepet" sahut Adam, yang diangguki oleh semua.


"Ok. Yok ka bantuin gua bawa entar" sahut Leon, sambil mengajak Azka untuk membantunya.


Belum sempat Azka menjawab tangannya sudah di tarik duluan oleh Leon.


"Udah ayok" ujar Leon menarik tangan Azka


Azka!? dwia sudah pasrah ditarik oleh Leon.


Sedanngkan yang lain hanya geleng geleng kepala melihat kelakuan keduanya.


Beberapa saat kemudian Leon dan Azka datang dengan nampan yang berisikan pesanan ke 6 nya.


Mereka memakan makanan mereka masing masing.


Tepat setelah mereka makan. Bel masuk berbunyi


"Aelah baru juga selesai makan dan bel aja" dumel leon


Beberapa saat kemudian Leon dan Azka datang dengan nampan yang berisikan pesanan ke 6 nya.


Mereka memakan makanan mereka masing masing.


Tepat setelah mereka makan. Bel masuk berbunyi


"Aelah baru juga selesai makan dan bel aja" dumel Leon


"Tau tuhh, nggak ngebiarin orang seneng sebentar aja" timpal Azka dengan kesal


"Kelas" suruh singkat Rafael dengan berjalan terlebih dahulu di ikuti yang lain.


Mereka melewati koridor. Sama seperti tadi mereka masih saja menjadi pusat perhatian.


Sampai di kelas, mereka duduk anteng di bang ku masing masing.


"WOI KITA JAMKOS, PAK BENY NYA KAGA ADA WOII" teriak salah satu murid, DANI dari luar kelas berlari ke dalam


"YANG BENER LU" teriak murid lainnya


"IYAH LAH MASA GUA BOONG" sahut Dani lagi


"YESSS" sahut murid satu kelas, kecuali Rafael,Galen dan Garry


"YOK LAH KITA KONSERR" ajak Leon, kepada semuanya.


"YOK" sahut murid murid


"TANSAH KELINGAN KEPINGIN NYAWANG SEDELO WAE UWIS EMOH TENAN" nyanyi Leon dan Azka


"KOYO NGENE RASANE WONG NANDANG KANGEN RINO WENGI ATIKU RASANE PETENG" nyanyi Leon dengan suara yang abstrak


"TANSAH KELINGAN KEPINGIN NYAWANG SEDELO WAE UWIS EMOH TENAN" nyanyi Leon dan Azka


Sedangkan yang lain bergoyang


"HOAK HOEK" sahut semua


"CIDRO JANJI TENAGE KOWE NGAPUSI NGANTI SEPRENE SUWENE AKU NGENTENI" nyanyi Leon dan Azka berbarengan dengan bergoyang asal


"Udah ah sampai situ aja habis ntar suara gua" sahut Leon dengan lebay nya, membuat teman sekelasnya kecewa seketika.


"Aaa elo ma gitu yon bilang aja lu kaga tau lagu nya" sahut teman Leon


"Bodo ah Bodo serah lu pada" ujar Leon sambil berjalan ke arah bangku nya


"Lah lu mau kemana raf ?" tanya Leon, saat melihat sang empun berdiri dari bangku sambil mengendong tas nya.


"Pulang." singkat Rafael, dan langsung melenggang


"Udah ayok dah, males juga gua kaga ada kerjaan di sni" timpal Aksa


"Yok" ujar Leon


Kemudian mereka melenggang pergi meninggalkan kelas dan menyusul Rafael kearah parkiran


"Kemana" tanya Garry dengan datar


"Basecamp" balas Rafael


"YOK LAHH" teriak Leon dan Azka berbarengan


Kemudian mereka menaiki motor masing masing dan menuju basecamp.


Sebenarnya Rafael ialah seorang ketua dari geng motor yang bernama GALAKSI, yang mempunyai anggota lebih dari ratusan, GALAKSI sendiri


didirikan oleh Rafael saat ia masih duduk di bangku SMP kelas 2, awalnya hanya ada mereka ber 8 orang, hingga semakin maju dan akhirnya banyak yang ingin masuk ke GALAKSI, geng ini juga merupakan geng terbesar di jakarta ditakuti oleh geng lainnya, tetapi tetap juga memiliki musuh.


Di perjalanan menuju basecamp Rafael menyuruh teman teman nya untuk pergi duluan ke basecamp sedangkan dia ingin singgah sebentar di taman yang akan ia lewati. Dan teman temannya hanya megangguk dan melajukan motor mereka dengan lebih cepat mendahului Rafael.


Rafael singgah di taman, dan duduk dibangku taman yang disediakan untuk para pengunjung taman ketika sedang lelah atau sebagainya.


Ia menyandarkan kepalanya pada sandaran bangku itu dan menengadahkan kepalanya keatas dan menutup mata.


Ia berdiri dari duduknya, dengan langkah lebarnya ia menghampiri anak perempuan yang sudab sesegukan karna menangis.


Setelah sampai didepan anak itu ia pun berjongkok menyamai tinggi dirinya dan anak itu, dengan lembut ia elus kepala anak it membuat ia mendongakkan kepalanya.


Bisa Rafael lihat mata anak itu sudah sembab itu artinya ia sudah sedari tadi menangis di sini.


"Kenapa" tanya Rafael dengan dingin dan datar membuat anak itu semakin ketakutan, bisa dilihat anak itu mumundurkan tubuhnya untuk menjauh daru Rafael.


Rafael yang tau bahwa anak itu sedang ketakutan sebab ekspresi yang ia tentujukan, dengan segera ia ubah elsperesi nya menjadi lembut, menarik anak itu lebih dekat dengan dirinya.


"Jangan takut, aku nggak bakalan nyakitin kamu" ujar Rafael dengan lembut


Anak itu menegadahkan wajahnya menghadap Rafael, menatap Rafael dengan bingung.


Rafael yang tau kebingunggang anak itu segera memberitahu kan siapa dirinya.


"Ok Kenalin Nama kakak Rafael" ujarnya memperkenalkan namanya


"Rafael ? " cicit anak itu dengan sangat pelan,tetapi masih bisa di dengar oleh Rafael.


"Iya" sahut Rafael dengan menganggukkan kepalanya.


"Nama kamu siapa?" tanya Rafael


"Adelia" jawab anak itu dengan ekspresi yang Yang sangat imut, membuat Rafael sangat ingin mencubit kedua pipi gembul anak itu, tapi ia urungkan karena takut membuat anak itu tidak nyaman dengannya.


"Kamu kemapa bisa ada disini!?, dimana mama dan papa mu? " tanya Rafael.


Seketika raut anak itu berubah menjadi murung, Rafael yang melihatnya seketika bingung mengapa ekspresi anak ini tiba tiba saja berubah.


"Daddy dan mommy ninggalin Lia disini kata mereka, mereka akan datang buat jemput Lia lagi, tapi dari tadi Lia nggak di jemput jemput sama daddy dan mommy" jawab anak itu dengan polos.


Rafael yang mendengar penjelasan anak itu seketika bungkam dimana anak sepolos dan selugu Lia ditinggalkan di tempat seperti ini. Radael berpikir apakah sebelum meninggalkan Lia di sini orang tua Lia tidak berpikir bagaimana nasib anak mereka nanti, bagaimana kalau ada yang menculik dan menjualnya kepada orang yang salah bagaiman, itu itulah yang berada didalam pikiran seorang Rafael.


Karena tidak ingin membuat anak itu sedih lagi akhirnya Rafael mengajak anak itu untuk berjalan jalan disekitar taman itu.


"Baiklah kalau begitu bagaimana jika kita berjalan jalan di taman ini" ajak Rafael kepada Lia.


Bisa ia lihat raut wajah bahagia dan binar di mata anak itu, tetapi tidak bertahan lama karena segera digantikan dengan raut wajah yang murung lagi.


Vote + Komen ok