Primodial Quest

Primodial Quest
Chapter 34: פּרימאָרדיאַל Dungeon ' Bavaria Bagian I



" Semua nya mari bersiap dan segera pergi menuju gerbang barat ! "


Hari ini merupakan hari dimana kita akan berangkat menuju reruntuhan itu, semua orang sudah siap di pos nya dan regu nya masing-masing. Sharon ikut dengan grup petualang atau tentara bayaran lainnya, Sedangkan kami berada di grup Otherworlder. Pasukan dibagi menjadi 3 yaitu Regu Otherworlder, Regu Petualang dan Tentara bayaran, dan Regu Kerajaan. Hal ini dapat memudahkan manuver para petinggi kerajaan atau jendral dalam mengatur pasukan pada saat masuk ke reruntuhan itu. Jumlah total pasukan adalah 200 orang saja, 30 Otherworlder dan 20 petualang dan 150 pasukan kerajaan. jumlah nya tidak banyak karena harus ada pasukan lainnya yang di alihkan menuju medan perang di timur dan ada pula yang harus memenuhi tugas nya menjaga ibukota.


Keamanan di kota ini telah di dinaikan, kota ini sama seperti sedang mengalami lockdown di dunia nyata. Para penjaga mulai berpatroli tanpa lelah, para warga mengunci dirinya dirumah dan tidak ada yang boleh keluar masuk kota dengan semudah itu karena untuk mencegah terjadi nya korban jiwa karena Stampede yang bisa saja muncul secara tiba-tiba. Raja pun sudah membuat rute evakuasi bagi para warga nya melalui jalur laut yang dimana mereka akan di pindahkan ke Kerajaan Asetherion untuk mengungsi sementara jika kota ini hancur karena Stampede. Oleh karena itu kita harus bekerja keras untuk mencegah hal itu dimasa depan.


Aku berjalan menuju gerbang bagian barat dan melihat banyak petualang dan teman sekelasku berkumpul disana.


" Ohh.. semua nya sudah siap ternyata? "


" Seperti nya begitu.. " ujar Lita.


Kami melihat Sharon disana bersama para petualang lainnya, ia melambaikan tangan nya pada kami dan kami pun membalasnya. Beberapa menit kemudian Austin dan Risa menghampiri kami dengan pasukan elite nya di belakang nya. Risa pun menyapa kami dengan senyuman nya.


" Apa kabar kalian berdua.., sudah siap? " tanya Risa kepada kami.


" Ah.. iya kami sudah siap untuk melakukan perjalanan.., kamu? " tanya Lita.


"  Sudah sih, bagian ku sudah selesai dan aku sudah mempersiapkan kebutuhan untuk nanti pada saat di reruntuhan itu. "


" Bagaimana dengan regu kavaleri mu Risa? bukankah kau adalah kapten kavaleri? " tanya Lita.


" Ah itu.. " sebelum Risa menjawab Austin menyela pembicaraan mereka.


" Itu adalah tugas ku untuk sementara, Nona Risa bisa mengikuti ekspedisi dan di liburkan dalam bertugas hingga ekspedisi ini selesai. " ujar nya.


" Oh.. begitu.. " jawabku dengan menghadap kearah Risa.


" Nona Risa adalah seorang Otherworlder, kami tidak membedakan dengan status namun dengan origin masing-masing pasukan. Nona Risa sama seperti kalian berdua jadi akan lebih mudah jika ditempatkan di tempat yang sama dengan orang yang ia kenal bukan? " ujar Austin.


" Bagaimana dengan mu Austin? kau tidak ikut? " tanya ku pada nya dengan penasaran.


Austin menghela nafasnya, ia pun memegang sebuah surat yang ia perlihatkan pada kami yang bertuliskan tentang perintah bagi para pejabat militer penting, kecuali Saintess agar tetap di Wolfpass dan mengamankan nya.


" Ah.. jadi begitu... hahaha eman sekali ya kamu tidak bisa ikut. "


" Kok bisa Charlotte bisa ikut tapi aku tidak ahh.. mengesalkan.. "


" Ahaha.. sabar.. " ujar Lita dengan tawaan yang canggung.


Austin pun melihat kearah ku dan bertanya tentang Elixir yang diberikan oleh sang raja kepadaku.


" Arkan.. bagaimana Elixir pemberian yang mulia? apakah sudah bekerja. "


Aku menggelengkan kepala, Elixir yang di berikan raja waktu itu nampak nya tidak berhasil menyembuhkan jaringan mana ku yang rusak akibat kejadian waktu itu. Hasil nya pun tetap sama, jika aku ingin mengeluarkan sihir dari tanganku maka sekujur tubuhku akan merasakan sakit yang sangat parah hingga membuatkuhampir tidak bisa berfikir dengan tenang.


" Kalau begitu.. bukankah harus nya kamu tetap berada disini Kan? " ujar Lita dengan cemas.


" Tidak, yang mengusulkan untuk menyelidiki tempat itu adalah kita bukan? jika kita tidak ikut dengan mereka bukankah itu sama dengan pengecut bagimu? " ujar ku dengan tegas.


" Tapi kau tidak bisa memakai sihir lo Arkan.. " ujar Risa dengan cemas.


" Tak apa, kalian berdua tidak perlu mencemaskan itu. Aku bisa bertahan walaupun tidak bisa memakai sihir tenang saja. " ujar ku untuk menyakinkan mereka.


Lalu tiba-tiba terompet terbuat dari taring yang besar dibunyikam dan menghasilkan suara yang besar untuk membuat kami menoleh kearah nya. Lalu salah satu petinggi kerajaan itu mengucapkan salam dan pidato nya kepada kami.


" Hadirin sekalian, Otherwolrder maupun orang asli Bavaria dan wilayah sekitar nya. Terima kasih telah hadir disini membantu kami dalam melakukan ekspedisi yang sangat berbahaya ini. "


Ia pun melanjutkan dengan menjelaskan dengan pidato nya yang meningkat kan moral para Otherworlder maupun orang asli. Otherworlder dinilai lebih unggul dari orang asli Avaria karena bisa menguasai skill apapun lebih cepat dari orang biasa. Yang dikatakan mereka memang fakta, hanya dalam waktu 6 bulan saja kami pun bisa melawan para monster itu dengan mudah di desa saat itu walaupun monster itu terbilang kuat dari pada monster pada umum nya. Tapi entah mengapa, ada sesuatu hal yang mengganjal di pikiran ku.


Aku pun tak tau mengapa dan siapapun itu yang membuat kami ada di dunia ini dan tujuan nya. Namun pada ekspedisi ini aku bisa mendapatkan petunjuk tentang itu, pasti ada alasan nya bukan. Oleh karena itu, jika Primodial Crystal memang ada di reruntuhan itu, kita bisa mendapat petunjuk untuk cara kembali ke dunia asal kami. Seperti apa yang dewi itu katakan kepadaku.


" Terima kasih sudah mendengar pidato yang saya berikan, aku harap kalian kembali dengan selamat ! "


" Austin tolong jaga kerajaan ini ya.. " ujar ku.


" Kau juga, jaga dirimu baik-baik.. jangan paksakan dirimu bocah.."


" Iya.. aku tau.. sampai nanti. "


Pada saat aku ingin berjalan pergi, Austin pun memegang pundak ku dan ia berkata.


" Aku percaya kau bisa melindungi mereka, Arkan.. Jaga teman-teman mu oke.. Terutama Lita.. "


Aku pun menganggukan kepala ku, lalu aku pun langsung menyusul mereka dibelakang.


" Hah.. aku harap ekspedisi ini akan berjalan lancar.. " ujar ku dengan menatap kearah langit.


Karena nasib dunia ini berada di tangan ku seorang, aku harus menyelamatkan semua nya.


Karena Primodial Crystal adalah satu-satu nya cara untuk menyelamatkan dunia ini..


~~ Disisi lain


- Tempat yang tidak di ketahui, Benua Basilia..


Di suatu ruangan ada 10 orang sedang duduk membahas sesuatu, sesuatu yang tak biasa. Mereka duduk di meja panjang di suatu ruangan yang cukup luas disana.


" Ada laporan mengenai keanehan sihir pada Benua Daemon yang mulia. Nampak nya para Otherworlder itu mulai menuju ke sumber sihir itu. " ujar salah satu petinggi disana yang memilki ekspresi monoton.


Wajah mereka tidak terlihat sama sekali, mereka nampak misterius dan mencurigakan.


" Bagaimana dengan 2 anak itu.. " ucap salah satu petinggi disana yang memilki telinga elf dan mempunyai rambut berwarna putih.


" Aku sudah menemui mereka, namun seperti nya akan sangat susah untuk mendapatkan nya. " ujar salah satu petinggi disana dengan berbusana minim layak nya seorang Assasin yang memilki rambut ungu.


" Apa mata-mata kita sudah masuk kedalam sana? " ujar salah satu petinggi wanita yang memiliki rambut berwarna biru panjang.


" Iya.. semua berjalan dengan lancar. " ucap salah satu petinggi yang memilki boneka di tangan nya.


" Apakah ada informasi lain? " ujar salah satu petinggi yang memilki rambut putih yang memilki warna mata yang unik bagaikan pola salju di musim dingin.


Semua orang melihat kearah seorang wanita, orang itu nampak memilki otoritas yang tinggi di tempat itu. Ia mempunyai rambut panjang berwarna pirang dan memilki tampang layak nya manusia, namun dari aura nya pun nampak berbeda dari mereka semua.


" Bagaimana dengan Crystal itu? ada kemungkinan kita bisa mendapatkan nya sebelum mereka? " tanya orang itu.


" Ada di dungeon di barat Wolfpass, Namun kemungkinan besar tim kami akan dibantai disana oleh Saintess itu jika datang kesana, ia sungguh sangat kuat dari apa yang kita bayangkan. " ujar wanita yang mempunyai rambut ungu itu kepada seseorang.


"  Sudah kuduga ini akan terjadi.. ini mengerikan yang mulia , jika ada orang itu disana regu kami bisa binasa. Dasar pengkhianat itu ! " ujar salah satu petinggi dengan telinga binatang nya.


" Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang yang mulia? " ujar salah satu petinggi yang mempunyai tubuh setengah ular di bagian bawah nya.


" Tentu saja langsung menemui mereka bukan?! biar aku saja yang mulia ! " ujar salah satu petinggi dengan rambut merah yang dikuncir dibelakang.


" Semua nya harap diam !  " salah satu ujar petinggi dengan rambut pirang itu dengan keras.


Semua orang pun terdiam medengar hal itu, lalu ia lanjut berbicara kepada seseorang disana.


" Yang mulia, perintah anda? "


Ada satu orang lagi yang sedang duduk di paling ujung tengah diantara mereka. dengan sikap telapak tangan saling menggenggam antara satu sama lain. Dan dengan nada yang mengintimidasi ia berkata.


" Apapun yang terjadi, jangan sampai Crystal itu ada di tangan anak itu..   "