
2 hari kemudian..
\~\~\~
Tak kusangka dua hari telah berlalu, hari dimana kami akan bertemu dengan sang raja. Charlotte yang sudah menyelesaikan tugasnya di gereja akan menghampiri kami pada malam ini. Kami segera bersiap-siap untuk menemui sang raja dengan pakaian yang diberikan Austin sore tadi. Tapi pada saat itu aku melihat ekspresi Austin yang nampak gelisah seperti memikirkan sesuatu.
" Arkan, ini baju dari kerajaan.. kamu nanti bakal memakai ini pada saat bertemu dengan sang Raja nanti. "
Austin memberikan baju putih dengan desain ala zaman renaisance eropa, baju ini dibuat dari katun yang sangat lembut dan nyaman untuk dipakai. Dengan senang hati aku mengambil nya dan mengucapkan terima kasih pada Austin.
Tapi aku tak terlalu memperdulikan nya dan langsung bersiap menunggu tumpangan kami di depan barak. Aku melihat Lita dengan gaun putih nya yang indah nan mempesona, ia seperti seorang putri cantik yang sangat indah dan berwibawa layak nya seorang bangsawan. Lita melihat ku dan dengan memalingkan wajah nya dari ku ia berkata dengan malu nya.
" A-Apa? kenapa kau melihatku seperti itu? "
" Umm nggak apa, cuman kamu hari ini keliatan cantik. "
Ia hanya diam, memuka nya merah seperti tomat . Ia berkata dengan memegangi rambut nya.
" Ba-baru pertama kali aku mendapatkan pujian seperti itu. "
Setelah mendengar perkataan nya aku langsung memalingkan pandangan ku dari nya, aku takut jika Lita merasa jijik atau tidak nyaman saat aku memuji nya seperti itu.
" Ah.. ma-maaf kalau kamu nggak nyaman jika aku memuji mu kayak gitu.. "
" Ah.. nggak apa-apa, santai aja Arkan.. "
" Ahaha aku nggak bermaksud apa-apa kok, cuman memuji mu aja.. "
Lita hanya terdiam, aku mulai berfikir bahwa seperti nya aku mengucapkan sesuatu yang kurang enak didengar pada nya. Namun dia membalas perkataan ku tadi secara tiba-tiba.
" Te-terima kasih.. "
" U-Umm.. tak masalah.. "
Mendengar perkataan nya aku membuat ku sedikit terkejut, aku tak menyangka bahwa Lita tidak menganggapku aneh karena telah memuji nya seperti itu. Aku langsung menutup mulut ku agar tidak mengatakan hal yang aneh lagi, aku takut jika Lita mengira aku sedang merayu nya seperti buaya darat. Lalu ada seseorang dari belakang menepuk pundak ku dan Lita, ia tersenyum sambil menyapa ku dengan suara nya yang khas.
" Uy lagi pada ngapain? PDKT? "
" R-Risa apa yang barusan k-kau bilang? " ujar kami berdua secara bersamaan.
Risa muncul di belakang ku, dengan seorang siswi perempuan. Ia adalah Isa orang yang di rundung oleh Anggun 2 hari yang lalu
" Waduh.., lagi denial ini maksudnya? "
" Nggak ! "
Lita dan aku melihat antara satu sama lain, kami memalingkan wajah kami kearah yang berkebalikan antara satu sama lain. melihat ini Risa hanya bisa tertawa.
" Hahaha.. maaf-maaf, melihat kalian kayak gitu lucu banget tau nggak.. "
" Iya-iya orang yang sudah pacaran.. "
" Ayolah Arkan jangan marah kayak gitu, oh btw ini ada yang mau berterima kasih pada kalian. "
Isa berjalan kearah ku, dan ia mengucapkan terima kasih nya kepada ku untuk kejadian beberapa hari yang lalu.
" Ha-Halo Arkan, te-terima kasih karena telah menyelamatkan ku 2 hari yang lalu.. maaf jika aku tidak berterima kasih pada mu lebih awal. "
" Ah.. tak masalah, aku hanya kebetulan ada disana.. "
" T-Tidak semua itu sudah ditakdirkan, jadi aku sangat berterima kasih pada mu Arkan. "
Isa ini anak yang agak aneh menurutku, karena ia selalu mengucapkan ini merupakan takdir atau semacam itu. Orang memilik berbagai macam kepribadian nya masing-masing jadi aku tidak terlalu memikirkan nya.
" Omong-omong Risa apakah kamu tidak di undang ke istana dengan kami? "
" Ah itu, aku tidak bisa karena masih ada banyak tugas yang harus dilakukan disini. Ingat kejadian bandit 2 hari yang lalu? kita akan meningkatkan patroli malam karena kejadian itu. Kalau masalah pergi nya, Katanya sih kalian bakal ikut sama Jendral Austin nantinya. "
" Oh gitu.. yaudah hati-hati, minta tolong sama Toni aja kalau ada masalah. "
" Iya santai aja.., kalian juga jaga sikap kalau disana mereka itu bangsawan tau. "
" Ya nggak usah di beritahu pun aku juga udah tau. "
Lalu sebuah kereta kuda dengan kuda putih berhenti didepan gerbang barak, lalu keluar Charlotte dengan baju zirah nya yang berwarna biru nan indah. Baju itu adalah baju seorang Saintess yang biasa di pakai disaat acara-acara formal atau pun dipakai hanya untuk kepetingan perang saja. Ia menyapa kami dengan senyum nya yang indah, meminta kami untuk segera masuk kedalam kereta kuda.
" Halo apa kabar kalian ber- empat? "
" Ah halo Saintess Charlotte, senang bertemu dengan anda.. " sahut Risa dengan gugup.
Risa tidak bisa melakukan itu, anak ini meskipun dia sangat outgoing nya minta ampun. Tapi dia sangat hormat kepada orang yang lebih tua dari nya. Risa hanya mengangguk kepada Charlotte, anggukan nya terasa sangat tidak natural da n seperti nya dia selalu seperti ini saat bertemu Charlotte.
" Hahaha.. Risa kamu lucu juga, nah yang ini siapa Arkan? "
Charlotte menunjuk kearah Isa, sebelum aku mengucapkan seucap kata Lita menyerobot perkataan ku dan mulai memperkenalkan Isa pada Charlotte.
" Master, ini Isa teman kami. Sama seperti Risa kita satu sekolah bareng. "
" Ah.. salam kenal, aku Charlotte senang bertemu dengan mu Isa. "
Isa hanya menjabat tangan nya Charlotte tanpa bersuara, hal itu membuat Charlotte bingung.
" Haha.. ternyata temen kalian ada yang pemalu juga, yaudah kalau gitu kalian berdua ayo langsung masuk Para bangsawan lainnya sedang menunggu. "
Kami pun masuk kedalam kereta kuda itu, Risa melambaikan tangan nya kepada kami. Aneh nya disini Isa nampak bermuka masam entah mengapa alasan nya, Namun aku mungkin hanya berhalusinasi saja karena tidak mungkin dia akan membuat muka semacam itu. Melihat ekspresi bingung ku, Lita bertanya padaku.
" Arkan? kamu nggak apa? "
" Ah iya.. aku mungkin cuma asal liat aja.. "
" Ah oke.. "
" Tadi itu beneran atau nggak sih? "
Kami berjalan di jalanan kota, nampak banyak sekali lampu-lampu jalan yang menyala dengan menggunakan benda sihir seperti rune sihir api yang dapat mengeluarkan sihir api dengan batas waktu tertenu. Orang-orang melihat kereta kuda yang sedang kami tumpangi, karena warna nya yang sangat kontras dengan gelap nya malam hari. Didepan gerbang istana para penjaga pun mengecek identitas kami dengan berhati-hati.
" Halo selamat sore, saya ingin bertemu dengan sang raja. " ujar Charlotte dengan menunjukan surat undangan berkop merah kepada sang prajurit itu.
" Oh.. Nyonya Saintess.. silahkan masuk raja sedang menunggu kedatangan anda. "
Para penjaga membukakan gerbang nya untuk kami, kami pun masuk kedalam istana yang megah nan indah tersebut. Disana banyak orang yang menanti kedatangan kami, ada beberapa tentara pasukan elite kerajaan yang bersiap di setiap sudut. Pada saat kami sampai di pintu gerbang menuju bangunan utama Austin menunggu kami dengan pakaian formal nya. Ia membukakan pintu kereta kuda nya kepada kami, disana sudah tersedia karpet merah yang sedang menyambut kedatangan kami.
" Silahkan masuk para tamu terhormat. " ujar salah satu pelayan
Kami pun masuk kedalam istana terebut melewati lorong-lorong panjang yang megah. Disana terdapat sebuah singgasana megah yang berada di tengah ruangan. Disana terdapat Raja Beowulf III duduk dengan gagah di depan banyak bangsawan lainnya. Seperti nya mereka sedang menunggu kedatangan kami, Austin memberiku aba-aba untuk tata cara menyabut para tamu kerajaan nanti nya. Saat ini aku harus mengikuti apa yang ia suruh agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan. Kami pun masuk kedalam royal hall, dan seluruh mata mengarah kepada kami. Dengan arahan Austin kami berjalan lurus menghadap sang raja itu sendiri. Lalu kami disuruh untuk berlutut dihadapan sang raja.
" Yang mulia, saya telah membawa orang-orang yang bertanggung jawab atas kejadian 2 hari yang lalu. "
Raja menganggukan kepala nya, mengapresiasi apa yang telah Austin lakukan saat ini.
" Terima kasih Austin von Helen, kinerja tidak diragukan lagi. Sebagai kapten pasukan elite kerajaan kau memang patut di apresiasi atas kerja keras mu selama ini. Namun masalah hadiah kita bisa pikirkan itu nanti. "
" Baik yang mulia, saya merasa terhormat karena mendapat pujian dari yang mulai semata. "
Austin mundur menuju belakang kami, lalu sekarang giliran Charlotte yang akan maju menghadap sang raja dengan berlutut kepada nya. Aku menoleh sedikit kearah Lita, ia nampak sangat gugup berdiri di depan seorang bangsawan. Di negara yang tidak ada namanya seorang bangsawan, kami pasti akan merasa gugup jika bertemu secara perdana saat ini. tanpa basa-basi Raja Beowulf pun bertanya kepada Charlotte.
" Boleh kah saya bertanya Saintess Charlotte? "
" Iya yang mulia? "
" Siapa.. kedua orang ini yang engkau bawa di depan hadapan ku ini? "
" Mereka adalah kedua murid ku dari Desa Riverbond, Yang Laki-laki bernama Arkan dan yang satu nya bernama Lita. "
Aku dan Lita pun mengucapkan salam kepada sang Raja.
" Senang bertemu dengan anda yang mulia.. "
Seisi ruangan ricuh akibat respon kami terhadap sang raja, namun dengan satu suara dari sang raja suara itu pun menjadi senyap seketika. Lalu sang raja kembali melihat kearah kami.
" DIAM ! "
Seisi ruangan pun senyap tak bersuara, kami yang mendengar teriakan dari sang raja membuat kami gemetar karena suara nya yang begitu keras dan garang. Lalu ia kembali berbicara kepada kami dengan nada yang lemah lembut berbeda dengan diri nya yang sebelumnya.
" Senang bertemu dengan kalian, tamu dari dunia lain. Pasti kalian sudah bertemu dengan teman-teman kalian yang lainnya bukan? "
" Iya yang mulia. " ucap Lita dengan gugup.
" Aku harap kalian betah tinggal disini ya. "
Kami tidak bisa berkata apa-apa, karisma orang ini benar-benar terlalu tinggi sampai mulut saja tidak bisa mengluarkan kata-kata apapun karena kejadian barusan. Hebat nya Lita masih bisa mengucapkan beberapa kata walaupun dengan nada yang gugup. Lalu sang raja pun kembali menatap Charlotte.
" Wahai Saintess Agung, bisa kah anda ceritakan bagaimana kejadian 2 hari lalu bisa terjadi? "
Dari muka nya kita pun sadar, pertemuan ini bukanlah untuk acara penyambutan tapi merupakan acara sidang perdana didepan para bansgawan lainnya.