
***
Kami bertiga terdiam, setelah mendengarkan pertanyaan pria itu. Aura yang dimilki oleh pria itu sama mengerikan nya dengan orang yang menyerang Desa Riverbond, namun aura orang ini lebih bersih daripada orang itu. Ia hanya menatap Charlotte dan menginginkan penjelasan darinya, lalu Charlotte menjawab pertanyaan dari Austin.
" Seperti yang anda lihat, General.. saya habis di serbu oleh orang-orang asing saat sedang beribadah di gereja. " ujar Charlotte dengan nada yang datar.
Jendral Austin hanya menatap Charlotte dengan dingin, dia tahu bahwa ada sesuatu yang disembunyikan dari Charlotte namun ia hanya diam menunggu Charlotte untuk mengungkap nya sendiri. Seperti nya mereka berdua cukup ' akur ' hubungan nya di kerajaan ini.
" Oh.. jadi begitu.. ? "
Jendral Austin hanya melihat keadaan gereja itu, gereja itu nampak hancur dan terbakar. Pertarungan tadi seperti nya sangat sengit dan jika tidak di hentikan secepat mungkin bisa jadi satu kota bisa hancur karena Charlotte dan wanita itu seorang. General Austin pergi meninggalkan kami berempat bersama prajurit nya yang lain, namun sebelum pergi ia berpesan kepada kami.
" Kalian berdua bisakah kalian membantu kami dengan mengevakuasi warga yang berada di wilaya sekitar kejadian? saya berjanji akan memberikan kompenasasi yang sesuai dengan jasa yang kalian lakukan. " ujar nya sambil melihat kearah ku dan Lita.
" Ah.. tidak apa kok, kami tidak butuh Moira atau apapun kami hanya membantu sebisanya. "
Jendral Austin hanya tersenyum kepada kami, dan ia memberikan sebuah surat kepada kami berdua. Surat ini nampak dicap dengan sebuah lilin merah yang bagus, nampak nya ini sebuah surat dari sang raja itu sendiri.
" Ini.. bukannya ini surat dari kerajaan? " ujar ku dengan terkejut.
" Ini hanyalah surat rekomendasi dariku, besok jika kalian bertemu dengan sang raja berikan surat ini pada salah satu penasehat nya. "
Aku bingung mengapa orang ini memberikan surat berharga ini padaku, lalu aku pun bertanya pada nya.
" Anu.. maaf mengapa anda mengirim surat dari kerajaan yang sangat berharga ke ini ke orang seperti saya? "
Jendral Austin tersenyum, lalu ia pergi dengan kuda nya dengan mengucapkan sepatah kalimat kepada ku.
" Nanti anda akan tau maksud nya. "
Lalu ia menatap kearah Charlotte dengan tatapan dingin nya, ia berkata.
" Besok kita akan menghadap raja, dan anda Sang Saintess Agung akan memberitahukan semua yang terjadi disini. "
Charlotte nampak mengeluarkan sedikit keringat dingin dari muka nya, ia nampak benar-benar menyembunyikan sesuatu dari kami. Namun karena aku percaya pada nya maka aku tidak akan mengulik masalah ini lebih lanjut.
" Bisakah berikan waktu 2 hari untuk bisa bertemu dengan nya? " ujar Charlotte.
Suasana tiba-tiba terasa begitu tegang, seakan kedua orang kuat ini sedang bertarung disini walaupun saat ini mereka sedang beradu mulut dan bukan pedang.
" Oh.. apakah kamu takut dibakar hidup-hidup oleh sang raja wahai Saintess Agung? " ujar General Austin sambil mencurigai .
" Tidak, hanya saja ini adalah umat-umat Dewi Atageina dan anda harus tau bahwa keselamatan mereka itu lebih utama karena saat ini mereka terkena masalah ini karena ulah ku. " ujar Charlotte dengan tenang.
Jendral Austin nampak terkejut dengan jawaban dari Charlotte, lalu ia menghela nafas nya dan melihat kearah kami.
" Kalau begitu, aku akan bahwa anak-anak ini bertemu pada paduka raja. Jika sang Saintess takut denga prejudis dari para bangsawan maka 2 orang inilah yang akan menjadi saksinya. "
Charlotte mengeluarkan pedang suci nya dengan menggunakan sihir nya, ia menodongkan senjata itu kearah Jendral Austin dan pasukan nya. Para prajurit di sekitar Jendral Austin langsung bersiaga dengan sigap mengeluarkan pedang nya yang telah di infus dengan sihir api. Mereka nampak berseteru karena kami, lalu Charlotte mengancam Jendral Austin tentang perihal membawa kami menuju istana.
" Mereka adalah muridku, jika kau berani membawanya tanpa izin ku maka kau akan mendapatkan konsekuensi nya. " ujar nya dengan tenang.
" Oh.. kau berani berperang melawan seluruh Kerajaan Bavaria seorang diri? " ujar Jendral Austin dengan datar.
Mendengar ancaman tersebut beberapa pasukan elite gemetar ketakutan mendengar ancaman Charlotte. Jika itu Charlotte maka aku yakin bahwa dia lah satu-satu nya yang bisa menghancurkan suatu negara dalam 1 hari. Jendral Austin nampak tertekan dengan ancaman tersebut, dan ia menyuruh pasukan nya untuk menurunkan senjata nya kepada Charlotte.
" Baik.. Saya akan menuruti keinginan mu, Saya akan memalsukan laporan ini dengan bilang bahwa gereja ini telah habis terbakar karena sebuah obor yang jatuh karena tikus dan api nya menyambar seisi gereja ini sementara anda Sang Saintess memadamkan nya dengan ' sihir ' nya sehingga membuat api di gereja tersebut padam dan sekarang sedang membantu para prajurit untuk mengevakuasi tempat ini. Anda bisa mendapat waktu 2 hari untuk membereskan ini atas izin saya. Walaupun anda seorang Saintess namun anda harus mempertanggungjawabkan hal ini. "
Apa yang dikatakan membuatku terkejut, seorang Jendral pangkat tinggi meng ' cover ' kesalahan seorang Saintess demi mendapatkan beberapa waktu untuk memperbaiki gereja ini. Namun tidak kusangka bahwa orang ini lumayan jeli terhadap keadaan saat ini. Ia berjalan menuju Charlotte dan membisikan sesuatu di telinga nya, aku mendengar sedikit perkataan nya karena agak sedikit dekat dengan Charlotte.
" Aku tau segala nya Charlotte, bisakah kau dan aku berbicara 4 mata? "
Perkataan nya membuat ku dan Charlotte terkejut, namun General Austin ikut melihat muka terkejut ku itu dan langsung mencekik leher ku dengat erat.
" EKHH... le-lepaskan aku ! "
Jendral Austin hanya diam sambil mencekik ku, Lita dan Risa langsung menodongkan pedangnya kearah nya.
" Lepaskan dia ! " ujar Lita.
" Anak ini tidak tau sopan santun, seenak menguping pembicaraan orang. Orang seperti ini harus di hukum agar jera.
Nafas ku mulai terengah-engah\, cekikan Ba****an ini sangat kuat dan aku bisa saja mati disini.
Charlotte nampak kesal dan langsung menyerang Jendral Austin di bagian samping nya, namun ia sengaja melesetkan serangan nya membuat General Austin goyah.
" Austin.. sekali lagi kamu sakiti anak itu, kau akan ku bunuh disini.. ini sudah keterlaluan ! "
General Austin melepaskan ku, lalu dia mengangkat tangan nya dan menyerah kepada Charlotte.
" Oke-oke aku menyerah, jangan sakiti aku. tadi itu hanya bercanda aja. " ujar nya sambi tersenyum.
Jendral Austin melihat kearah Lita, ia nampak tertarik dengan nya dan ia berkata.
" Kau memilki seorang murid yang berharga disana, mana nya sangat besar sama seperti mu Charlotte. " ujar Austin.
Mereka melepas formalitas mereka disini, jika mereka melakukan ini di depan publik mereka bisa dipenggal kepala nya oleh guilotine jika ada.
" Jika kau menyentuhnya, aku akan mendeklarasikan perang ke negara ini dan seluruh orang didalam nya. " ujar Charlotte.
Austin pun pergi sambil mengangkat tangan nya dan ia langsung menuju ke kuda nya itu. Setelah menurunkan tangan nya ia berkata pada ku dan Charlotte.
" Nak, kau beruntung ada dia disini.. jika tidak aku bisa membunuhmu karena telah mendengar pembicaraan rahasia tadi. "
Aku menelan ludah ku, takut akan kekuatan Austin tadi dan ancaman nya pada ku saat ini. Lalu Austin menatap kepada Charlotte dan ia melambaikan tangan nya di atas kuda nya.
" Sampai jumpa besok, Charlotte.. kalian bertiga akan ikut dengan ku membicarakan hal ini dengan Sang Saintess. "
Austin menunjuk kami bertiga untuk ikut perbincangan Austin dan Charlotte esok hari nya. Sebelum Austin pergi ia berpesan pada Charlotte.
" Ingat Charlotte, aku masih mencurigaimu.. dan sekarang kau berutang pada ku. Tunjukkan bahwa dirimu adalah seorang Saintess sejati atau bukan besok. Itu saja dari ku dan mohon bantuan nya untuk membereskan masalah ini. "
Jendral Austin pergi dengan pasukan nya, sesaat aku merasa lega karena hawa keberadaan nya membuatku ingin kencing dicelana karena saking mengintimidasi nya dia terhadap kami.
" Apa konflik yang barusan kita masuki sekarang? "