
Beberapa waktu kemudian..
Kami berdua berhasil menangkap 5 orang bandit yang pingsan itu kedalam penjara yang ada di barak, Toni langsung memanggil para penjaga untuk mengurusi 5 orang tersebut, Lita dan lainnya muncul agak telat tapi bersyukur bahwa aku masih baik-baik saja. Walaupun begitu ia masih aja menasehati ku agar tidak membuat keputusan yang terlalu terburu-buru dan harus berfikir dingin di segala situasi.
Toni merupakan instruktur pasukan yang ada di barak, dia yang bertanggung jawab untuk melatih para prajurit baru. Pangkat nya lebih rendah dari Austin dan masuk kedalam kategori Kesatria sama seperti Risa. Namun Seperti nya Austin sedikit mengakui kehebatan nya sebagai seorang prajurit muda yang bisa mengatur pasukan nya dengan baik sama seperti Risa.
Tak lama setelah kami berbincang kami pergi menuju barak Kerajaan, disana banyak sekali prajurit muda yang sedang berlatih dengan giat. Namun setelah melihat Lita mereka langsung mengerubungi nya dan menanyakan bagaimana keadaan nya.
" Ke-ketua kelas ada disini ! "
Semua orang heboh melihat Lita, namun mereka nampak tidak memerdulikan diriku. Toni dan Risa menghampiriku dan berbicara padaku.
" Oy.. kamu darimana saja? semua orang mencari kalian selama 6 bulan lalu loh.. " ujar Toni.
" Oh.. dia? Arkan ditaruh di tempat yang berbeda dari kita, mungkin karena pada saat itu hanya mereka lah yang tidak duduk di bangku saat kamu menyelamatkan Lita dari pecahan kaca itu. " ujar Risa dengan teori nya.
Aku tidak tahu tentang itu, namun itu sebuah kemungkinan yang masuk akal bagiku. Karena seluruh orang yang duduk di bus itu ditempatkan di tempat yang sama yaitu di kota ini, berbeda dengan aku dan Lita yang ditempatkan di Desa Riverbond.
" Ah tidak usah pedulikan masalah itu, yang penting kamu dan Lita sudah disini. " ujar Toni.
" Iya makasih Bro.. "
Lalu para bandit yang tertangkap tadi Toni serahkan kepada prajurit lainnya untuk di interogasi nanti.
" Tolong bawa orang-orang ini ke penjara bawah tanah, nanti para pasukan elite yang akan mengurus nya. "
" Baik pak.. "
Bandit itu dikawal oleh 3 orang penjaga masuk menuju barak, aku merasa agak bersalah karena telah menghajar nya sampai segitu nya. Namun mau bagaimana lagi jika mereka ingin membunuhku, aku harus bertindak cepat. Lalu Austin menghampiri kami dan berterima kasih pada kami.
" Umm kalian berdua, terima kasih ya telah menangkap para bandit ini. Akhir-akhir ini ada banyak tindakan kriminal di Wolfpass. Tapi puncak nya pada saat beberapa hari yang lalu setelah rombongan nya Arkan datang kemari. "
Mendengar hal itu aku sedikit curiga, apa hubungan nya tindakan kriminal yang dilakukan oleh para bandit ini dengan ku. Mungkin ini hanya sebuah kebetulan, namun di sisi lain diriku berkata ada seseorang yang mengatur hal ini dibelakang layar.
" Tidak mungkin Arkan yang melakukan nya kan? ia saja dihajar habis-habisan sama mereka tadi. Jika aku tidak muncul dia bakal tepar tidak berdaya. " ucap Toni pada Austin dengan bangga.
" Oy nggak usah ungkit-ungkit yang dulu lah.. " ujar ku kepada Toni.
Lalu nampak seorang prajurit yang menghampiri Austin, ia nampak memberi sebuah surat yang ada cap lambang Bavaria di tengah nya.
" Permisi General, ini ada surat untuk anda. "
Setelah melihat surat itu, ia langsung paham tentang apa yang sedang terjadi. Dengan ekspresi datar ia langsung mengangguk kepada prajurit itu dan prajurit itu pun pergi meninggalkan kami.
" Aku ada urusan sebentar ke istana, paduka Raja sedang mencari ku. " ucapnya sambil memperlihatkan surat itu.
" Ah sampai nanti.. " ujarku.
Austin melambaikan tangan nya, lalu ia pergi meninggalkan kami dan bergegas menuju ke istana.untuk memenuhi tugas nya. Lalu kami lanjut berbincang mengenai para bandit yang barusan kami tangkap itu. Toni mengerutkan dahi nya setelah mendengar perkataan Austin tadi, lalu ia bertanya padaku tentang kejadian tadi.
" Bro.. aku agak curiga sama pergerakan mereka akhir-akhir ini, sebelum kamu datang kemari pergerakan mereka nampak pasif dan tersembunyi. Namun setelah kalian berdua datang ke ibukota mereka lebih aktif dan terorganisir. Sejauh yang kutahu bandit ini sering melakukan tindak kriminal sendiri dan nggak terlalu terorganisir, ada yang aneh menurutmu Arkan? "
Aku terkejut mendengar perkataan nya, mereka saat itu berbincang tentang bos mereka yang merupakan orang Outlander sama seperti kami. Namun apa yang dikatakan oleh Toni sangat berbanding terbalik dengan apa yang baru saja kualami, mereka sangat terorganisir dan kuat.
" Tunggu-tunggu, mandiri? pasif? apa kau bercanda? aku barusan mau mati di karena mereka sangat terorganisir seperti itu."
Toni nampak terkejut mendengar pernyataan ku, ia nampak kebingungan dan merasa ada beberapa informasi yang tidak sama dengan apa yang ia dapatkan di laporan militer. Ia bertanya kepada ku tentang apa saja yang aku dengar dari para bandit itu.
" Ada hal lain yang kau tahu? "
" Kalau tidak salah mereka bilang bahwa mereka mempunyai seorang bos yang status nya masih misterius, namun aku mendengar bahwa bos mereka merupakan seorang Outlander sama seperti kita. "
Mendengar hal itu Toni langsung berfikir dengan keras, ia nampak bingung setelah mendengar hal itu. ia merangkum seluruh informasi yang barusan kuucapkan pada nya.
" Jadi kamu bilang bahwa para bandit ini bisa menyerang secara berkelompok yang dulu nya mereka sama sekali tidak suka melakukan hal secara bersama. Namun ada seseorang yang menyatukan mereka dan orang itu merupakan seorang Outlander seseorang yang sama dengan kita. Begitu maksudmu? "
Aku hanya bisa mengangguk, itu adalah kesimpulan yang paling masuk akal untuk saat ini. Toni mungkin tidak terlalu pintar di bidang akademis, namun otak nya kurang lebih bisa berfikir dengan logis dan menyimpulkan suatu kejadian secara teratur dan rapi.
" Kalau begitu ini gawat, aku harus segera memberitahu ke semua orang yang ada di barak ini untuk menaikan patroli yang ada di kota dua kali lipat dari sebelum nya. Dari kejadian mu kemungkinan mereka mengincar para pendatang atau bisa jadi para Outlander seperti mu. "
" Bisa jadi.., yah ada baik nya untuk berjaga-jaga bukan? "
Toni menganggukan kepala nya, setuju dengan perkataan ku tadi.
" Kalau begitu aku lapor dulu ke atasan, mungkin ia akan memberitahu apa langkah yang tepat selanjutnya. "
" Iya, kurasa itu pilihan terbaik. "
" Oke kalau begitu, mumpung Risa dan Lita lagi asik ngobrol kamu bisa isthirahat terserah mau ngapain. Yang penting jangan aneh-aneh aja.. "
Aku mengacungkan jempol ku kepada Toni, lalu Toni pun pergi kedalam barak untuk memberitahu kepada atasan nya. Aku berniat untuk duduk di dekat menara penjaga di dekat barak, sekalian isthirahat dari kejadian barusan yang agak membuat tubuh ku terluka walaupun itu hanya sedikit saja.
" Haah.. aduh-duh, sakit juga tendangan nya mereka. "
Lalu tiba-tiba mendengar suara tangisan kecil dari arah belakang barak ini, aku bergegaspergi mengecek apa yang sedang terjadi disana. Tak kusangka bahwa aku melihat seseorang sedang di bully oleh sekelompok orang, dan mereka merupakan teman sekelasku sendiri. Aku bersembunyi dibalik tembok untuk mendengar percakapan mereka.
" Kamu punya uang yang ku minta tadi ? " ujar cowok itu kepada seorang siswi.
" I-Ini semua yang kupunya.. "
" Nah gini dong.., terus kasih uang ke kami nanti kami akan tidak mengganggu mu. Tapi jika kau beritahu ini semua kepada orang lain, awas aja nanti. "
Siswi itu nampak ketakutan, ia ingin bilang sesuatu tapi ketika berbicara mulut nya seakan terbata-bata karena takut ingin mengucapkan perkataan selanjutnya.
" Ta-Tapi aku tak punya uang lagi.. "
" Apa kau bilang ?! kau pasti nya uang di saku ku bukan? "
Siswa itu mencekik leher siswi perempuan itu, lalu ia berkata kepada seseorang di belakang nya.
" Bos ini gimana jadi nya? "
Bos yang dimaksud orang itu adalah Anggun, orang yang pernah membully ku di sekolah, Anggun nampak senang melihat ekspresi siswi yang kesakitan itu. Dan ia berkata kepada teman satu nya untuk segera menghabisi siswi tersebut dan ambil seluruh uang nya yang ada di saku nya.
" Habisi dia, dan ambil uang yang ada di saku nya. "
Aku tidak bisa menghiraukan ini begitu saja dengan cepat aku berlari menuju Anggun dan Grup nya langsung mengancam mereka dengan pedangku.
" Berhenti !.. itu sudah keterlaluan Anggun ."
Anggun terkejut melihat ku, ia nampak kesal ketika melihat diriku. Teman-teman nya yang lain mengancam ku dengan menodongkan pisau kearah ku, namun aku hanya diam dan menatap anggun yang sedang memegang siswi tersebut.
" Oh.. siapa ini? haha ada mangsa baru rupa nya.. " ujar salah satu dari mereka.
" Lepaskan anak itu..., kamu tidak ingin ada nya pertarungan disini bukan? "
" Oh iya? " kata seseorang diantara mereka dengan menghunus pedang nya dan mengarahkan nya kearahku.
" Kamu tau jika kita bertarung disini nanti seluruh orang yang ada disini bakal melihat kita bertarung, dan kalian akan terkena masalah besar. "
" Hahaha.., terus kenapa? Kamu kan yang mulai duluan. "
Aku hanya terdiam memikirkan sesuatu agar konflik ini bisa reda tanpa ada nya pertarungan yang tidak berarti.
" Tapi dengan reputasi kalian yang jelek, menurutmu mereka akan memihak kepada ku atau kalian? apa kita coba saja dan lihat siapa yang akan dipenjara nanti? "
Mendengar hal itu, mereka semua ketakutan dan mundur perlahan kearah belakang mereka. Mereka tau bahwa jika pertarungan ini di lihat oleh banyak orang nanti mereka akan disalahkan karena mereka yang akan dianggap pertama kali yang melakukan penyerangam terhadapku dan siswi tersebut. Anggun maju
"Sudah lama kita tidak berjumpa.. Arkan. "
Anggun menjawab pernyataan ku itu dengan tenang, ia nampak tidak takut dengan ancaman yang barusan ku ucapkan itu. Ia mengeluarkan sihir elemen api dari tangan nya seakan ingin mengancam ku dengan sihir nya itu. Ia memiringkan kepala nya dan tersenyum kearah ku, namun entah mengapa senyuman nya itu sangat membuatku tidak nyaman.
" Apa yang ingin kau lakukan Anggun ? "
" Oh ini.., aku mau bilang ke kamu bahwa yang kuat akan menguasai segala nya. Lagian dia tidak menolak nya bukan kah begitu Isa? "
Siswi tersebut nampak ketakutan, Anggun nampak nya sedang mengancam Isa atau siswi tersebut untuk setuju padanya. Isa merupakan seorang teman sekelas ku, ia nampak pemalu dan memiliki rambut pendek berwarna hitam pekat. Ia sering menjadi bahan bully oleh Anggun saat kami masih di bumi, aku sebagai seorang wakil ketua sangat kesal melihat Anggun yang selalu melakukan itu padanya.
" Bisakah kau hentikan ini dan tinggalkan dia Anggun, kau masih sama saja seperti di bumi selalu ingin memanfaatkan orang lain demi kepentingan mu pribadi. "
" Hoho.. kau kan yang pernah melindungi cewe sialan itu bukan? ketua kelas kita tersayang Lita. Apakah kamu masih terus melindungi nya seperti itu? kau kira kau adalah pahlawan hah? jawab aku Arkan? "
Mendengar jawaban dari nya aku hanya bisa terdiam, yang difikirkan nya itu juga ada benarnya, namun disisi lain aku tau bahwa ia hanya memutar balikan semua perkataan nya kepadaku agar dia bisa lepas dari semua tuduhan ini.
" Itu adalah keputusan ku, kau tidak usah ikut campur. "
Suasana tiba-tiba menjadi sangat tegang, aku dan Anggun nampak saling menatap satu sama lain dengan sinis. Salah satu dari teman nya Anggun mengeluarkan senjata nya kearah ku.
" Kgh.. bos anak ini bener-bener kurang ajar ! , bolehkah kami menghajar nya? "
Aku mendengar suara langkah kaki dari arah belakang ku, Lita dan Risa berdiri dibelakangku dengan mengarahkan pedang nya kearah Anggun.
" Anggun.., sudah cukup ! " ujar Risa.
Mendengar Risa, Anggun nampak sangat takut dan akhirnya kabur bersama teman nya.
" Semuanya kita lepaskan Isa, mari kita sudahi permainan nya dan segera kembali ke dalam barak. "
" Tapi bos.. "
Anggun menatap dengan sinis kearah teman nya, ia nampak mengancam orang itu agar tunduk kepada perkataan nya. Lalu setelah itu mereka pergi meninggalkan kami, namun saat kami berdekatan dengan satu sama lain ia berkata.
" Ini belum selesai Arkan.., awas saja nanti. "
Mereka semua pergi meninggalkan kami dan keluar dari jalur awal ku masuk tadi. Risa mengecek keadaan Isa, sementara Lita mengecek keadaan ku.
" Kamu nggak apa? " tanya Lita sambil mengecek sekeliling tubuhku.
" Iya.. tenang aja, dia cuman ngancem tadi.. "
" Hooh syukurlah kalau begitu, apa-apaan sih Anggun itu tadi mau nyerang kamu? "
" Hah.. aku tidak tahu.. "
Perkataan Anggun masih menghantui pikiran ku, Sebaik nya aku waspada kedepan nya. Kami pun bergegas kembali dan melupakan apa yang terjadi. Namun aku masih tidak boleh tenang, ucapan Anggun masih menghantui ku.
Karena aku tau Anggun adalah tipe orang yang akan melakukan sesuatu yang keji kepada orang yang tidak ia sukai nya.