
...8. ...
...KONSER DADAKAN...
...Aneh, ya, kamu. Tidak suka jika tidak dipedulikan, tetapi malah suka sama dia yang tidak peduli....
...•••...
Karena akan ada ulangan Matematika, pagi ini, kelas XII IPA 1 lumayan lebih tenang dari biasanya. Senja dan beberapa murid lainnya fokus pada buku masing-masing seraya menghafal rumus-rumus yang kemungkinan akan keluar di soal nanti. Jika yang lainnya sedang belajar, tidak dengan Rain. Gadis itu asyik bermain ponsel walaupun sudah di suruh Senja untuk belajar.
Sementara Agum, jangan ditanya. Cowok itu sibuk bergelut ria dengan Aber dan juga David. Agum tiba-tiba mengapit leher Aber di antara ketiaknya, sedangkan David tengah menjitak kepala Aber. Entah apa yang sedang mereka ributkan.
Ceklek!
Pandangan mereka semua tertuju ke arah pintu kelas yang dibuka oleh seseorang. Mereka kira itu Bu Melda, tetapi ternyata bukan. Itu Mahmud, si ketua kelas yang tadi sempat keluar karena dipanggil ke kantor. Mahmud berdiri di depan papan tulis.
"Hari ini, semua wali kelas lagi rapat, kita enggak jadi ulangan."
Perkataan Mahmud sontak membuat murid kelas XII IPA 1 berteriak kesenangan.
BRAK! BRAK! BRAK!
Mereka semua langsung terdiam dan menoleh ke belakang saat Agum, Aber, dan David tiba-tiba memukul meja secara bersamaan dengan keras. Agum menggerakkan alisnya, matanya seperti sedang memberikan kode pada sang ketua kelas. Mahmud yang mengerti langsung mengambil sapu dan melempar ke arah Agum yang berjalan ke arahnya.
Agum memegang sapu tersebut layaknya memegang mikrofon. "Ekhem! Ekhem! Cek, cek, 1, 2, 3!"
"Mulai lagi, kan, gilanya," gumam Rain.
Senja yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya bosan. Kelasnya ini memang sangat luar biasa kompak jika akan memulai keributan.
"MUSRIKKK!" teriak Agum, ia menunjuk ke arah Mahmud.
"MESKI COWOK BILANG IDEAL YANG PUNYA KEPRIBADIAN BAIK!" Mahmud si ketua kelas mulai mengawali konser dadakan mereka pagi ini.
"PENAMPILAN ITU MENGUNTUNGKAN," sambung Aber.
"SELALU HANYA GADIS CANTIK SAJA YANG, KAN, DIPILIH MENJADI NOMOR SATUU!" Agum melanjukan.
"PLEASE, PLEASE, PLEASE, OH, BABY. LIHATLAH DIRIKUUU!" Agum, Aber, David, dan Mahmud serentak bernyanyi.
"Goyang terus, Mang!" David heboh saat Agum menggoyang-goyangkan pantatnya.
"YANG MENCINTA, FORTUNE COOKIE!"
"CANGKANG ITU, AYO, CEPAT PECAHKAN SAJA!"
"HEY, HEY, HEY!" Agum menunjuk Senja agar gadis itu melanjutkan, tetapi gadis itu hanya diam seraya menatap Agum datar.
"APA YANG KAN TER—" Agum berhenti bernyanyi saat semuanya mendadak diam.
Aber menggerak-gerakkan dagunya, menunjuk ke arah belakang Agum. Karena posisinya sedang membelakangi pintu, Agum pun memutar badannya.
"Mampus gue," batinnya.
"Agum Firlana, kamu ikut saya sekarang!" ujar Bu Nunung tegas.
Agum menatap Mahmud, Aber, dan David bergantian, lalu menggerakkan jari telunjuknya di lehernya sendiri seperti sedang mengancam."Awas lo bertiga."
"AGUM, CEPAT!!!" teriak Bu Nunung dari luar.
"Iya, Bu!" Lalu, dilemparnya secara sembarangan sapu yang dia jadikan mikrofon tadi.
***
Keributan yang Agum ciptakan di kelas membuat dirinya dihukum berjemur di lapangan sendirian sampai jam istirahat berakhir. Sementara itu, ketiga temannya malah keenakan pergi ke kantin, tidak ikut menemaninya. Dasar teman durhaka.
Di mana letak keadilan ini? Bisa-bisanya hanya dia sendiri yang dihukum. Padahal, mereka ributnya tadi bersama-sama. Namun, giliran dihukum, malah sendirian.
"Masa cuma saya sendiri, sih, Bu, yang dihukum?" protes Agum pada guru berkacamata itu.
"Karena kamu biang ributnya."
"Enggak, dong, Buk. Yang namanya ribut itu rame-rame. Tadi kami nyanyinya juga rame-rame. Sejak kapan nyanyi sendirian dibilang ribut?" bantah pria berambut messy itu tanpa rasa takut.
Bu Nunung menatap Agum, "Mau saya tambah hukumannya?"
Setelah Bu Nunung mengatakan hal tersebut, Agum pasrah dan tidak protes lagi. Ia pun menjalankan hukumannya dengan berat hati.
***
Senja dan Rain baru saja keluar dari kantin. Senja melihat Agum yang masih berjemur di lapangan, cowok itu tampak menyeka keringatnya. Senja lalu menyuruh Rain untuk lebih dulu ke kelas dan kembali ke kantin.
Senja menyodorkan minuman yang dibelinya kepada Agum yang tengah hormat di depan tiang bendera. Cowok itu menerima minum tersebut dengan wajah sumringah walaupun wajahnya terlihat sudah memerah karena panasnya terik matahari.
Senja mengangguk. Agum masih tidak percaya dengan apa yang barusan terjadi. Senja si gadis yang sangat cuek padanya itu tiba-tiba memberikannya minum.
Botol minum ini wajib dimuseumkan, batin Agum.
"Jangan GR. Gue cuma merasa bersalah gara-gara yang kemarin." Setelah mengatakan hal tersebut, Senja langsung meninggalkan lapangan tempat Agum dihukum tersebut.
"MAKASIH, SENJA!" teriak Agum kepada gadis yang sudah pergi menjauh itu.
***
"Wah, wah, teman macam apa lo berempat?!" seru Rain kepada Aber, David, dan Mahmud yang baru saja masuk ke dalam kelas. "Bisa-bisanya lo pada enak-enakan makan di kantin, tapi Agum dihukum sendirian!" lanjut gadis itu.
"Gini, ya, Mbak Rain yang terhormat. Kami tadi lapar, makanya ke kantin," ujar Aber lebay.
"Terus lo pikir Agum enggak lapar gitu?!" balas Rain.
"Wait, wait, sejak kapan lo jadi peduli sama Agum?" tanya David heboh. Sebab, satu kelas sudah hafal kebiasaan Rain dan Agum. Setiap hari, mereka berdua selalu ribut. Ada saja yang kedua orang itu perdebatkan.
"Ih, siapa juga yang peduli? Gua cuma kasihan aja sama dia."
"Alah, bohong! Bilang aja lo suka!" selaAber.
"NAV! NAV! LIHAT, NIH, PACAR LO MAU SELINGKUH SAMA AGUM!" teriak Mahmud pada Arnav yang sedang berada di kelas mereka.
Arnav yang tengah bermain game di ponselnya mengalihkan pandangannya sebentar pada Rain. Merasa tidak penting, dia kembali fokus pada game yang dia mainkan. Selain suka belajar, cowok itu juga suka bermain game.
"Enggak, Nav! Ih, sumpah, mulut lo lemes banget. Enggak cocok lo jadi ketua kelas!" Rain kesal pada Mahmud.
"Ih, sumpah, bisa-bisanya lo nikung Senja!" balas Mahmud dengan mengikuti gaya bicara Rain.
Semua yang berada dalam kelas tersebut sontak tertawa melihat perdebatan mereka berlima.
Rain menatap Senja yang hanya diam melihatnya "Senja, tolongin gue, dong."
Senja hanya mengangkat bahunya, tidak peduli.
"Tolong-tolong, emangnya lo kita apain?" sahut David.
"Gum, Gum, sini, deh!" panggil Aber pada Agum yang baru saja datang.
Agum menatap tiga orang itu kesal. "Gue lagi enggak mau ngomong sama lo pada, sana jauh-jauh!"
"Ih, marahnya nanti aja. Ada good news, nih!" kata Mahmud, ia masih saja mengikuti gaya bicara Rain.
"Sumpah, Mud, mulut lo kayak Rain!" David berkomentar.
"Rain suka sama lo, Gum!" kata Mahmud dengan semangat.
Aber yang berdiri di samping Mahmud langsung menjepit kepala cowok itu di antara ketiaknya, lalu diikuti David yang menjitak kepala sang ketua kelas dengan keras.
"Pake pembukaan dulu, Bambang! Main semprot aja lo," kata Aber.
Rain mengibas-ngibaskan tangannya dan menutup hidungnya saat Agum mulai mendekat ke arahnya. "Sana lo jauh-jauh, keringat lo bau terasi!"
"Sorry, ya, Hujan. Gue enggak bisa balas perasaan lo. Lo enggak selevel sama gue. Perasaan gue cuma buat Senja seorang," Agum berbicara dengan gaya sok kerennya.
"Dih, najis! Siapa juga yang suka sama lo? Gue udah punya Arnav yang jauh lebih ganteng dan lebih pintar dari lo!" Rain melipat tangannya di depan dada. "Dan lo juga enggak selevel sama gue!"
Syifa bersuara, "Eh, tapi setelah gue lihat-lihat, Arnav, tuh, lebih cocok sama Senja tau. Terus kalau Agum, lebih cocok sama Rain."
"Syifa, mata lo mau gue colok?!" ancam Rain. Dia tidak suka dengan perkataan Syifa, si bendahara kelas mereka.
"Bebeb Syifa, kalau Arnav sama Senja pacaran, yang ada mereka berdua setiap hari mengheningkan cipta, dong," timpal Aber.
"Kalau Agum sama Rain, yang ada tiap hari mereka berdua perang dunia ketiga," sambung David.
"Tapi, kalau Agum sama Senja, kasihan Senja, enggak, sih? Lama-lama bisa stres sama Agum," lanjut Aber.
"Iya juga, ya. Kalau Arnav sama Rain, lo semua tau, kan, betapa tertekannya Arnav?" ujar Mahmud. Setelahnya, mereka bertiga pun tertawa.
"Lo bertiga kenapa malah ngurusin percintaan orang lain, sih?!" pekik Rain, mood gadis itu seketika jadi kacau.
"Lo pada bisa diam, enggak? Pusing gue dengernya!" timpal Senja kesal.
"Taukk! Malu gue punya teman rempong kayak kalian. Mulut, kok, kayak ibu-ibu komplek?!" sambung Agum, lalu ia beranjak menuju tempat duduknya.
To be continued
•••