
"Jangan lupa kedip Ndra," cetus Aldrian.
"Ap-apaan?" sewot Chandra yang salah tingkah.
"Gak usah salting gitu Ndra," goda Aldrian. Seandainya tidak ada Chandra disini, pasti Merlina sudah mencubit Aldrian dengan cubitan kepitingnya.
"Eh Bu Juwa dateng!" teriak Alsa. Kali ini Alsa benar benar serius.
Murid-murid kembali ke tempat duduk masing-masing dan mulai mengeluarkan buku meski hanya sebagai pajangan.
"Mari kita lanjutkan matematikanya," ucap Bu Juwa. Terdengar helaan nafas kasar dari sebagian siswa.
"Kalian ya, gitu doang udah pada dengus. Lihat dong nilai matematika kalian itu gimana. Masa hampir satu kelas nilai matematikanya jelek?" sinis Bu Juwa. Okey, murid XII IPA 5 sudah kebal dengan omelan juga sindiran Bu Juwa yang memang menusuk hati.
"Udah nilainya jelek jelek, cerewetnya gak bisa dikontrol, nakalnya juga. Tuh Merlina sama Aldrian kalo dilihat juga pendiem tapi ternyata sama saja," ucap Bu Juwa sambil geleng geleng kepala.
Merlina yang sedari tadi mencoret coret buku nya tidak jelas pun terkejut. Sama hal nya dengan Aldrian yang menatap keluar jendela.
"Kok bisa gue?" tanya Merlina pelan dengan muka bingung.
"Udahlah guru kek begitu gak usah di ladenin," jawab Aldrian pelan lalu menyenderkan kepalanya ke tembok.
"Ye! awas kena azab," ketus Merlina. Aldrian pun terkekeh.
Bu Juwa mulai menjelaskan dan lagi-lagi Merlina tak memperhatikan. Sungguh ia lelah jika setiap hari dihadapkan matematika yang notabenya adalah kelemahan Merlina.
Merlina benar benar bosan. Apalagi Aldrian yang kini badmood mendadak. Entah apa penyebabnya, Merlina kurang tau.
"Pengen cabut ih!" gumam Merlina kesal.
"Jangan keseringan cabut waktu pelajaran," jawab Aldrian datar.
"Gak asik lo!"
"Iya gue lagi gak asik. Males gue lihatin pemandangan ga enak di depan gue," ucap Aldrian sambil mendengus. Merlina mendongak. Melihat ada apa di depannya. Dan benar saja, ternyata Sabrina sedang bercanda gurau dengan Ahmad.
"Yaelah gitu doang badmood. Kayak gue gini loh. Chandra sama Afya gue strong," ucap Merlina menyombongkan diri.
"Strong? Stres tak tertolong kali," ketus Aldrian. Merlina pun membalasnya dengan cengiran khasnya.
Antara Aldrian dan Merlina pun hening kembali. Sungguh Merlina benci situasi seperti ini. Terlebih lagi ia sedang bosan.
"Ayolah 10 menit lagi pulang," gumam Merlina.
"Mer, nanti pulang sekolah lo bareng siapa?" tanya Aldrian tiba-tiba
"Gatau. Naik taksi kali," jawab Merlina acuh.
"Bareng gue aja ya?" tawar Aldrian. Mata Merlina berbinar.
"Boleh," jawab Merlina. Ia tak mungkin menyia-nyiakan kesempatan dimana ia bisa sedikit menghemat uang saku.
"Mer, kalo sekiranya gue bunuh orang dosa ga ya?" tanya Aldrian. Merlina mengernyitkan keningnya.
"Ya dosa lah. Emang ngapain lo bunuh orang? Lo bukan psikopat kan?" ucap Merlina dengan nada yang di buat buat
"Kagak lah. Gue pengen bunuh Ahmad masa? Biar gak ada yang jadi orang ketiga antara gue sama Sabrina," jawab Aldrian. Merlina terkekeh geli.
"Cinta itu buta ya ternyata," ucap Merlina. Tatapannya lurus menerawang ke depan.
"Gue ingetin ya Al. Cinta boleh tapi bego jangan," sambung Merlina sambil menunduk. Aldrian yang melihat perubahan dari nada bicara Merlina pun mengernyitkan dahi.
"Lo kenapa dah?" tanya Aldrian.
"Al, gue pernah suka sama orang," ucap Merlina.
"Gue tau."
"Gue suka sama orang itu sampe bego," sambung Merlina. Aldrian mengernyitkan dahi lagi.
"Terus kenapa?" tanya Aldrian yang masih tidak paham.
"Tapi begonya gak ikutan pergi. Gimana dong?" tanya Merlina dengan muka melasnya.
"Ngerasa juga kalo bego," jawab Aldrian terkekeh.
"Nih ya Al, gue kan udah tau tuh orang pergi tanpa alasan yang pasti. Orang itu juga yang sia-siain gue, gak hargai perjuangan gue. Tapi nyatanya, sekarang gue masih disini. Bertahan dengan luka yang membekas. Berjuang sendiri membangun impian yang belum sempat kami raih. Dan begonya lagi, gue masih berharap balikan sama dia," ucap Merlina manyun.
Aldrian tau siapa orang yang Merlina maksud. Aldrian tau betapa bencinya Merlina pada orang itu.
"Kok lo bisa putus sama Chandra itu gimana sih? Perasaan awalnya kalian gak ada masalah deh," tanya Aldrian. Merlina menarik nafasnya dalam-dalam.
"Emang kita gak ada masalah. Chandra. Dia ngechat gue malem-malem. Dia ngomong banyak sama gue. Bercanda, ngegombal dan masih banyak lagi. Sampai akhirnya dia minta kita udahan. Dan lo tau alasan Chandra mutusin gue?" tanya Merlina pada Aldrian. Aldrian menggeleng.
"Dia bilang kalo dia mau fokus belajar. Alasan basi," ucap Merlina sinis.
"Dia mutusin gue sehari sebelum anniversary kita yang ke 8 bulan. Lebih tepatnya tanggal 28 Agustus. Sungguh mengenaskan. Tapi lebih mengenaskan kalo dia mutusin gue di hari anniversary kita yang ke 8 sih," sambung Merlina.
Aldrian terdiam. Ada apa ini sebenarnya? Tanggal 28 Agustus itu juga hari dimana Aldrian dan Sabrina mengakhiri hubungan mereka. Sabrina yang meminta dengan alasan ingin fokus belajar karena mereka sudah kelas 12. Tidak ingin mengganggu konsentrasi Sabrina, akhirnya Aldrian meng-iyakan saja.
Ada apa ini? Apakah ini kebetulan? Apakah ini kesengajaan? Aldrian bingung memikirkannya.
"Mer," panggil Aldrian. Merlina menoleh.
"Apa?"
"Kita senasib," ucap Aldrian dengan suara parau.
"Kok bisa?" tanya Merlina bingung.
"Gue putus sama Sabrina itu juga tanggal 28 Agustus dan alasan Sabrina mutusin gue itu juga sama kayak alasan Chandra mutusin lo," jawab Aldrian.
Setelah Aldrian yang dibuat bingung karena cerita Merlina, kini Merlina yang dibuat bingung oleh cerita Aldrian.
"Kok bisa pas gitu ya?" tanya Merlina. Aldrian hanya mengedikkan bahu.
"Sebenernya ada apa sih ini? Bingung gue," tanya Merlina pada dirinya sendiri yang masih bisa di dengar Aldrian.
"Lo aja bingung apalagi gue," balas Aldrian
"Kita akhiri pelajaran hari ini. Semoga bermanfaat. Yang tidak mendengarkan jangan harap bisa mengerjakan soal saat ujian," ucap Bu Juwa membuat Aldrian dan Merlina diam.
Beberapa detik kemudian, bel pun berbunyi. Murid murid bernafas lega karena pelajaran sudah berakhir.
Mereka mulai keluar kelas satu persatu. Begitu pun Aldrian dan Merlina. Mereka berjalan beriringan dengan Aldrian yang menggenggam erat tangan Merlina.
"Acie makin nempel aja nih," goda Ahmad. Aldrian melirik Ahmad sekilas.
"Kalo jadian jangan lupa pajak ya!" timpal Chandra. Jujur dalam hati kecil Chandra, Chandra terluka melihat kedekatan Merlina dengan Aldrian.
"Siap. Lo orang pertama yang gue kasih pajak kalo gue jadian sama nih Bedak Marina," jawab Aldrian sambil tersenyum devil.
Merlina bersyukur karena Aldrian mau membantunya supaya terlihat tegar di hadapan Chandra.
Chandra menatap ke arah Merlina lalu tersenyum dengan sangat manis.
Deg!
"Apalagi ini? Kok gue deg-deg an sih?" tanya Merlina dalam hati. Ia membalas senyuman Chandra dengan canggung.
"Gue pulang dulu bro!" ucap Aldrian pada Chandra dan Ahmad. Aldrian melepaskan genggaman tangannya pada tangan Merlina lalu merangkul pundak Merlina dengan mesra
"Yuk Beb," ucap Aldrian pada Merlina
Hei! Merlina saja geli mendengar kata 'beb' dari mulut Aldrian. Apalagi Aldrian yang mengucapkannya.
Tapi tak apalah. Ini demi mereka juga. Iya demi mereka. Supaya mereka sama sama bisa menunjukkan kepada mantan mereka bahwa mereka bisa tanpa sang mantan. Mantan yang sudah menghempaskan mereka begitu saja. Siapa lagi kalo bukan Sabrina dan Chandra.