Over Ons

Over Ons
OV ON • 1



Gadis berparas cantik itu sepertinya sedang senang hari ini. Kelihatan dari wajahnya yang terus tersenyum.


"Cie lagi seneng nih ye," goda Sabrina saat Merlina hendak duduk di bangku belakang.


"Iya dong," sahut Merlina dengan senyum yang masih mengembang.


"Tumben amat Mer. Ada paan nih?" tanya Sabrina.


"Gini ya Sab. Gue tuh seneng banget bisa sebangku lagi sama si Gorila," jawab Merlina dengan senyum yang semakin mengembang. Sabrina yang mendengarnya pun diam. Melihat perubahan wajah Sabrina, Merlina jadi tak enak hati.


"Santai Sab. Gue gak suka sama si Gorila kok. Gue cuma seneng karena bentar lagi gue bakal dapet info tentang si Chandra aja," jelas Merlina yang dibalas oleh senyum tipis dari Sabrina.


Sebenarnya, Sabrina sudah tau kebiasaan sahabatnya itu. Tapi entah mengapa rasa sesak di hatinya selalu muncul.


---


Pelajaran berlangsung begitu membosankan. Matematika itu alasannya. Tapi tidak dengan dua orang yang berada di bangku pojok paling belakang. Mereka tampak bahagia.


"Mer, lo masih sayang sama Chandra?" tanya Aldrian yang membuat Merlina bungkam.


"Heh bedak Marina! Lo tuh ditanyain malah diem aja kek limbad!" geram Aldrian.


"Apa sih?! Nama gue Merlina bukan bedak Marina! Dasar gorila!" balas Merlina sengit.


"Makanya kalo ditanya tuh jawab!"


"Nah sekarang, lo masih suka sama Sabrina kan?" tanya Merlina.


"Gak," jawab Aldrian sambil menunduk. "Lo juga masih suka sama Chandra kan?" tanya Aldrian lagi.


"Gini ya, karna gue bukan orang munafik kek lo. Jadi, gue akuin deh kalo gue masih suka Chandra," jawab Merlina namun terselip kata yang menyindir Aldrian.


"Hilih! Gak usah nyindir juga kali!" sinis Aldrian sambil menjitak Merlina.


"Aw! Sakit gorila!" geram Merlina.


"Bodoamat bedak Marlina!" balas Aldrian.


"Gorila bacot!"


"Bacot juga bedak!"


"Diem ga lo?!" gertak Merlina yang benar benar-benar kesal dengan sahabat sekaligus tempat curhatnya ini.


"Kalo gamau gimana dong?" tanya Aldrian dengan muka yang dipolos poloskan membuat Merlina ingin muntah seketika.


"Muka lo jijik bangke!" balas Merlina sambil mencubit tangan Aldrian.


"Aw! Aw! Sakit Woy!" Merlina tersenyum devil mendengar rintihan Aldrian lalu melepaskan cubitannya di tangan Aldrian. Dengan cepat Aldrian mengelus elus tangannya yang habis dicubit Merlina.


"Lemah amat jadi cowok! Gitu doang udah kesakitan, sok-sokan jadi playboy pula," ledek Merlina lalu tertawa pelan. Aldrian mendengus.


"Baco--" Ucapan Aldrian terpotong oleh bel istirahat yang terdengar begitu nyaring. Murid-murid mulai berhamburan keluar kelas, kecuali Aldrian dan Merlina.


"Ngambek cie," goda Merlina sambil sesekali menyenggol bahu Aldrian.


"Paan," ucap Aldrian sambil membuang muka. Aldrian terdiam beberapa saat.


"Kantin kuy!" ajak Aldrian lalu menarik Merlina yang meronta.


"Jangan narik narik orang sembarangan woy!" teriak Merlina namun Aldrian tidak peduli.


Banyak pasang mata yang menatap mereka apalagi saat mengetahui Merlina ditarik Aldrian.


"Gorila! Lepas! Malu diliatin!" teriak Merlina kesal.


"Diem! Jangan malu malu in!" balas Aldrian yang juga teriak.


Sesampainya di kantin, Aldrian memilih tempat duduk yang dekat dengan penjual bakso.


"Mau makan bakso?" tawar Aldrian.


"Mau," jawab Merlina dengan antusias.


"Lo ngidam bakso ya Mer?" selidik Aldrian ngawur.


"Ngaco lo! Lo kira gue hamil apa? Pake ngidam segala pula," ketus Merlina. Aldrian terkekeh lalu pergi untuk memesan makanan.


Merlina mengeluarkan ponselnya. Melihat oppa Korea kesayangannya. Tapi tiba tiba ada yang mengalungkan tangannya di leher Merlina.


"Kamu lagi apa sih, Beb? Kok aku dikacangin?" Suara itu terdengar begitu familiar di telinga Merlina.


"Gorila bangke! Minggir ga lo?!" Merlina terus meronta supaya Aldrian melepas tangannya.


"Makanya jangan kacangin cogan kek gue," ucap Aldrian sambil terkekeh. Lalu dia melepas tangannya dan duduk di samping Merlina


"Najis!"


---


"Merlin romantis banget sih sama Aldrian? Harusnya kan gue yang ada di posisi itu. Pengen marah tapi gue inget kalo Merlina itu sahabat gue," dengus Sabrina yang masih melangkah tetapi matanya melirik ke meja Aldrian.


Disisi lain, Chandra juga melakukan hal yang sama dengan Sabrina.


"Kenapa sahabat gue makin deket sama si Merlina? Kan harusnya gue yang ada diposisi itu sekarang," gumam Chandra


Mereka sama sama berjalan sambil menatap orang yang mereka cintai tengah bermesraan dengan sahabatnya.


Brak!


"Aduh!" ringis Sabrina.


"Makanya jalan liat liat dong!" ucap Chandra ketus. Matanya masih menatap Merlina dan Aldrian yang bermesraan.


Sabrina melihat arah mata Chandra. "Lo panas liatin mereka kan?" selidik Sabrina


"Lo kenapa bisa putus sama Merlin sih? Kan sekarang mereka jadi deket," ucap Sabrina lesu.


"Lah salah lo juga kenapa mutusin Aldrian seenak jidat!" balas Chandra tak mau kalah


"Bodoamat. Salah siapa Aldrian sering nyakitin gue," jawab Sabrina acuh


"Kalo bodoamat, kenapa lo cemburu hm?" sindir Chandra


"Lo juga panas kan? Gausah sok tegar deh!" balas Sabrina


---


Bel kembali berbunyi, menandakan istirahat telah berakhir. Murid-murid kembali ke kelas dan duduk diam untuk menunggu guru. Berbeda dengan kelas XII IPA 5


Mereka menginjakkan kaki ke kedalam kelas dengan nyanyian yang membuat kelas gaduh.


"EH BU JUWA DATENG!" Teriak Alsa. Seketika kelas hening, semua mulai mengeluarkan buku meski hanya untuk pajangan belaka.


"TAPI BOONG!" Sambung Alsa sambil tertawa.


"KAMPRET!" teriak satu kelas yang membuat Alsa nyengir. Bukannya diam, justru kelas semakin ramai.


"Rame lagi," dengus Merlina.


"Udah ga usah di dengerin. Mending lo dengerin gue curhat," ucap Aldrian sambil nyengir.


"Curhat paan?" tanya Merlina antusias.


"Lo tau kan kalo gue suka Sabrina?"


"Satu sekolah juga udah tau kali," jawab Merlina ketus.


"Nah it--"


"Ttp," potong Merlina.


"Ttp apaan?" tanya Aldrian bingung.


"To the point, Gorila!" geram Merlina.


"Eh hehe. Jadi, gini yakali Ahmad nikung gue?" ucap Aldrian sambil menatap langit-langit kelas.


"Idih gitu doang galau. Mana julukan playboy lo weh?" ucap Merlina ketus.


"Lo juga tau kalo waktu itu gue ngaku jadi pacarnya kak Hanifa kan? Jujur aja itu akting," jawab Aldrian. Merlina melongo.


"Anjir! Goblok lo ya! Seenak jidat ngakuin anak orang jadi pacar lo! Ntar ketauan pacarnya kak Hanifa mampus lo! Lo tau gak? Selama ini Sabrina sakit hati gara gara lo pacaran sama kak Hanifa. Eh tau nya boongan" jelas Merlina panjang lebar.


"Masa sih Sabrina sakit hati? Bukannya waktu itu Sabrina malah ketawa bahagia bareng Ahmad ya?" tanya Aldrian tak percaya.


"Dih ga percaya lo? Dia aja nyampe nangis," jawab Merlina ketus. Kini gantian Aldrian yang melongo. Dalam hati, dia menyesal telah salah sangka pada Sabrina.


"Eh ilernya netes tuh," ucap Merlina asal. Aldrian gelagapan sambil memegang mulutnya.


"Anjir! Kaga ada iler. Bedak Marina kampret!" gumam Aldrian kesal. Merlina hanya mengedikkan bahu acuh.


"Al, lo udah ngerjain hal 54 belum? Kalo udah gue nyontek dong," ucap Chandra tiba-tiba.


"Lo bukannya udah ngerjain ya, Chan?" tanya Aldrian. Chandra gelagapan. Dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Eh itu, buku gue hilang," jawab Chandra asal.


"Ambil aja tuh," Chandra mengambil buku Aldrian. Sesungguhnya bukan itu tujuan Chandra datang.


Chandra datang hanya ingin merusak kemesraan Aldrian dengan Merlina saja. Chandra benar benar panas. Tapi egonya mengalahkan rasa cemburunya.


"Eh Chan, lo suka sama Afya?" tanya Aldrian tiba-tiba. Merlina menoleh ke arah Aldrian.


"Gorila apaan dah? Mau bikin gue panas nih ceritanya?" batin Merlina ketus.


"Kagak," jawab Chandra datar


Aldrian menyenggol tangan Merlina. Matanya seolah berkata,


"Denger sendiri kan lo? Makanya jangan asal nuduh." Merlina mendengus. Sahabatnya benar-benar menjatuhkan harga dirinya!


"Lo masih sayang sama dia gak, Chan?" tanya Aldrian dan menunjuk Merlina dengan dagunya. Chandra bungkam. Dia bingung harus menjawab apa.


"Gorila," geram Merlina.


"Apa bedak Marina?" tanya Aldrian tanpa wajah berdosanya. Merlina menatap Aldrian dengan tatapan membunuh. Aldrian hanya nyengir.


"Eh Chan, tadi si Merlin bilang kalo dia cemburu sama Afya" ucap Aldrian lagi. Merlina mencubit paha Aldrian dengan keras.


"Aw! Aw! Bedak Marina lepasin! Kampret lo! Aw!" Tidak cukup sampai disitu, Chandra juga mulai memojokkan Aldrian ke tembok.


"Duh gile! Gue salah ngomong kali ya? Mampus gue disiksa dua orang yang saling mencintai tapi tidak bersatu karna rasa egois dalam diri masing-masing," ucap Aldrian sok dramatis


"Diem lo!" ucap Merlina. Chandra masih terus memojokkan Aldrian. Tangan Aldrian berada di genggaman Chandra. Aldrian menggunakan kesempatan itu dengan baik.


Aldrian mendorong tangan Chandra membuat tangan Chandra bersentuhan dengan tangan Merlina.


"CIEEE!" sorak teman sekelas mereka. Ternyata mereka sedari tadi memperhatikan Merlina, Aldrian dan Chandra yang sedang berseteru.


Blush!


Merlina yakin sekarang pipinya memerah. Merlina menundukkan kepalanya. Merlina tidak bisa menghentikan senyumannya yang semakin kesini semakin mengembang.


Chandra melihat pemandangan itu. Chandra diam-diam tersenyum melihat tingkah Merlina. Chandra rindu dengan kelakuan Merlina saat sedang blushing. Ingin rasanya Chandra menoel-noel pipi Merlina yang blushing itu.


Sadar atau tak sadar Chandra melepaskan tangannya dari Aldrian. Chandra tak berkedip menatap Merlina. Ia sungguh rindu dengan gadisnya.


Tunggu ... gadisnya? Kedengarannya memang begitu egois karna Chandra menganggap Merlina adalah gadisnya padahal mereka sama sekali tidak terikat dalam hubungan apa-apa.