Over Ons

Over Ons
Makam



...13. ...


...MAKAM...


...Katanya, janji itu harus di tepati. Tetapi, setelah aku tepati, kenapa kamu malah pergi?...


•••


[+**628** **** ****]


Senja


Besok jadi, kan?


[**Me**]


Siapa?


[+628 **** ****]


Astaghfirullah, Senjaaa


Lo gk tau, gw siapa?


[Me]


Siapa, sih?


[+628 **** ****]


Gw Agum!


Pacar lo!


[Me]


Oh.


[+628 **** ****]


Oh?


Oh doang?


[Me]


Terus apa?


[+628 **** ****]


Bisa-bisanya lo gk nyimpen no gw


Dasar pacar durhaka


[Me]


Terus lo mau putus?


[+628 **** ****]


Ehh ngakkk lah


Ngancem nya gt mulu


[Me]


Kenapa?


[+628 **** ****]


Besok jd?


[Me]


Jadi apa?


[+628 **** ****]


Lo yg ngjk, Lo yg lupa


[Me]


Oh, iya, jadi.


[+628 **** ****]


Besok pagi gw jemput


[Me]


y.


Senja meletakkan kembali ponselnya di atas nakas, mandinya jadi tertunda karena chat dari Agum. Di tambah lagi, Rain tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya dan langsung mengobrak-abrik isi lemari bukunya.


"Lo ngapain, sih, Rain?"


"Itu, gue nyari komik lo yang pernah gue baca dulu," jawab Rain sembari terus mengeluarkan isi lemari Senja.


"Harus banget yang itu?"


Rain mengagguk tanpa menoleh. Tangan nya terus bergerak mengobrak-abrik isi lemari Senja.


"Gue lupa simpan di mana," kata Senja memberi tahu.


"Ini makanya gue lagi nyari. Lo jangan malah ngajak gue ngobrol, gue lagi serius ini."


"Ya udah, gue mandi dulu." Senja mengambil handuk yang sempat dia letakkan di atas kursi.


"Nanti rapiin lagi, ya."


Rain kembali mengangguk.


Setelah hampir tiga puluh menit menghabiskan waktu di kamar mandi, Senja keluar dengan rambut yang sudah dililit oleh handuk.


"Udah ketem—" Senja menghentikan kalimatnya. Matanya membulat saat melihat Rain yang sedang membolak-balikkan buku tahunan SMP miliknya. Dia berjalan cepat ke arah Rain.


"Rain?" panggil Senja.


Rain menatap Senja dengan tatapan yang tidak bisa ia baca. "Lo satu SMP sama Arnav?"


Senja membeku. Dia bingung harus menjawab apa dan alasan apa yang harus dia katakan pada Rain.


Senja mengambil buku tahunan tersebut dari tangan Rain. "Hah? Masa, sih? Gue enggak ingat," jawab Senja sambil melihat foto-foto yang ada di buku itu.


Rain menunjuk foto Arnav. "Ini, lo juga sekelas. Masa lo enggak ingat?"


"Lo, kan, tau, gue jarang bergaul dulu."


Rain mengangguk-angguk. Senja memang tidak suka bergaul. Teman dekat saja Senja tidak punya.


"Ya udah, gue ke kamar dulu."


"Udah ketemu komiknya?" Rain mengangkat tangan kanannya yang memegang komik tersebut, lalu segera keluar. Tidak lupa dia tutup kembali pintu kamar Senja.


Senja menatap pintu yang sudah ditutup oleh Rain. "Maafin gue, Rain," lirih Senja.


***


Motor Agum berhenti di salah satu tempat pemakaman umum. Agum tidak bersuara atau bertanya pada Senja. Dia mengikuti Senja menuju sebuah makam. Gadis itu juga sudah membeli air dan juga bunga saat di perjalanan tadi.


Senja dan Agum kemudian membersihkan beberapa rumput liar yang tumbuh di dua makam tersebut. Setelahnya, mereka berdua menaburkan bunga dan tidak lupa juga memanjatkan doa. Masih tidak ada suara, Senja menatap dua nisan di depannya secara bergantian. Tertulis nama Dewi dan Doni di sana. Nama kedua orang tuanya.


Senja menjulurkan tangannya, mengusap batu nisan mamanya. "Mama sama Papa apa kabar? Mama sama Papa pasti udah bahagia, kan, di surga?" Senja tersenyum getir. Dia benar-benar merindukan kedua orang tuanya.


"Maafin Senja, ya, karena udah jarang datang ke sini. Tapi, Senja selalu kangen dan ingat, kok, sama Mama dan Papa."


Senja mengalihkan pandangannya pada Agum yang sedang berjongkok di depannya. Cowok itu hanya diam menatap Senja. Sampai akhirnya, Agum memegang nisan Doni. "Assalamualaikum, Om, Tante. Kenalin, saya Agum, pacar Senja. Setelah sekian lama, akhirnya saya diajak berkunjung ke rumah Om dan Tante."


Agum menatap Senja, lalu kembali menatap nisan di depannya."Om sama Tante pasti bangga di sana karena punya anak sekuat dan sebaik Senja. Om sama Tante enggak perlu khawatir di sana. Senja pasti bahagia, kok, di sini.”


Agum terdiam sejenak, kemudian kembali melanjutkan,


“Saya juga mau minta izin sama Om dan Tante. Izinin saya untuk jaga anak gadis Om dan Tante yang dingin, cuek, dan cantik ini,"


Senja terkekeh mendengar perkataan Agum.


"Kita pamit, ya, Ma, pa. Senja janji bakalan lebih sering berkunjung lagi."


Senja dan Agum beranjak kembali menuju ke tempat diparkirkannya motor cowok itu. Mereka berdua berjalan beriringan. Lalu, tiba-tiba Agum menggandeng tangan Senja dan menggenggamnya erat. Senja tidak protes seperti biasanya. Dia membiarkan Agum memegang tangannya.


***


Tidak jauh dari makam orang tua Senja berada, ada Arnav yang berdiri. Arnav melepas kacamata hitam yang dia pakai. Matanya terus menatap interaksi antara Senja dan Agum. Hari ini tepat sepuluh tahun kepergian orang tua Senja. Dulu, biasanya Senja selalu mengajak Arnav untuk ikut menemaninya. Tetapi, sejak tiga tahun yang lalu, hal itu sudah berubah.


Arnav berjalan menuju makam Dewi dan Doni setelah beberapa menit bersembunyi untuk menunggu kepergian Senja dan Agum. Tanpa sepengetahuan Senja, setiap tahun Arnav selalu datang ke makam orang tua gadis itu.


Arnav berjongkok di depan dua gundukan tanah itu. Tangannya bergerak memegang salah satu nisan. "Om, Tante, aku datang lagi. Kali ini aku datangnya masih sendiri, enggak sama Senja," kata Arnav.


"Maafin aku, ya, Om, Tante, karena enggak bisa menuhin janji aku dulu untuk selalu ada di samping Senja. Tapi, aku janji bakalan tetap jaga Senja walaupun dari jauh." lanjutnya.


***


Setelah dari makam kedua orang tua Senja, mereka tidak langsung pulang. Senja ke restoran untuk membantu Ratna seperti biasanya. Sementara Agum, cowok itu sempat ke rumah sakit untuk menjenguk bundanya, lalu kembali lagi ke restoran.


Setelah mengganti baju kerjanya dengan baju kaus yang dibalut kemeja polos yang semua kancingnya dia buka, Senja keluar dari dapur. Dia sedikit terkejut saat melihat Agum yang baru datang dan langsung menuju panggung kecil yang berada di pojok restoran.


Agum mengambil alih gitar dari salah satu pemain musik, lalu duduk di kursi bulat tinggi yang sudah disediakan. Agum menyetel gitar itu sebentar, kemudian mendekatkan stand mic di depan bibirnya. Setelahnya, Agum mulai memetik gitar tersebut pelan, menciptakan sebuah alunan lembut yang menenangkan untuk para pendengarnya. Lagu Dialog Hujan karya Senar Senja mengalun merdu di dalam restoran.


Bicara rindu


Bicara haru


Luangkan ruang imajimu


Bernyanyi merdu


Bernyanyi sendu


Bebaskan birunya hatimu


Tanpa kata, tanpa nada


Rintik hujan pun menafsirkan kedamaian


Hanya rasa, hanya prasangka


Yang terdengar di dalam dialog hujan


Tanpa kata, tanpa nada


Rintik hujan pun menafsirkan kedamaian


Hanya rasa, hanya prasangka


Yang terdengar di dalam


Tanpa kata, tanpa nada


Rintik hujan pun menafsirkan kedamaian


Hanya rasa, hanya prasangka


Yang terdengar di dalam dialog hujan


Senja diam di tempatnya berdiri, memperhatikan nyanyian dan petikan gitar Agum yang indah. Pantas saja di rumah Agum banyak penghargaan juara menyanyi. Suara pria beralis tebal dan berambut ikal itu sungguh sangat merdu. Tetapi, Agum memutuskan untuk berhenti ikut perlombaan yang berhubungan dengan bernyanyi. Sebab, alasan cowok itu menyukai musik malah mengecewakannya. Dan alasan itu adalah ayahnya sendiri. Ayah Agum sangat menyukai musik hingga menurun pada Agum. Ayahnya juga yang selalu mendukung Agum untuk mengikuti perlombaan yang berhubungan dengan musik.


Semua pelanggan yang ada restoran bertepuk tangan saat Agum selesai bernyanyi. Senja pun ikut bertepuk tangan untuk cowok itu.


Agum turun dari panggung, kemudian menghampiri Senja yang masih setia terdiam di tempatnya.


"Gimana? Bagus, enggak, penampilan gue?"


"Bagus," jawab Senja sambil mengangguk.


Agum berdecak, "Udah dibilang ngomong enggak bayar, lo masih aja ngomongnya irit. Kecuali lo lagi nelepon, baru boleh irit ngomong. Itu baru berbayar, pake pulsa."


"Udah ngomongnya?"


Agum mengangguk polos.


"Ya udah. Kalau gitu, gue pulang dulu."


Dengan cepat, Agum menahan lengan Senja yang hendak beranjak. "Eitss, Karena tadi lo ke sini sama gue, itu artinya lo juga pulang sama gue."


Agum dengan cepat lagi meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Senja sebelum gadis itu protes untuk menolak.


"Sttt, gue enggak menerima penolakan. Udah malam, cewek enggak baik pulang sendirian, apalagi malam-malam kayak gini."


To be continued


•••