Over Ons

Over Ons
SUDAH DIMULAI



...6. ...


...SUDAH DIMULAI...


...Semua manusia perlu waktu. Waktu untuk bertemu, waktu untuk mengenal, waktu untuk mencintai, waktu untuk mengungkapkan, dan waktu untuk menerima....


...•••...


Senja, Rain, Agum, dan juga Arnav sudah berada di kantin untuk mengisi perut mereka. Lalu, seperti biasa, sebelum ke kantin, Rain dan Agum ribut terlebih dahulu. Rain tidak mau Agum ikut bergabung bersama mereka bertiga ke kantin. Sudah jelas Agum jelas tidak mau kalah, ia bersikeras ingin ikut bergabung.


Alhasil, sepanjang koridor menuju kantin, kedua orang itu berdebat dan membuat mereka berempat menjadi pusat perhatian. Senja akhirnya memperbolehkan Agum untuk ikut bergabung. Karena jika tidak begitu, perdebatan dua orang yang sama tetapi tidak sejenis itu pasti akan terus berlanjut hingga bel istirahat berakhir.


"Sen, kok lo bolehin Agum gabung ke kita, sih?" tanya Rain. Saat ini, Agum dan Arnav sedang mengantre membeli makanan, sedangkan Senja dan Rain duduk menunggu pesanan mereka.


"Udah, sih, biarin aja," ucap Senja tidak peduli.


"Enggak bisa dibiarin gitu aja, dong. Gua enggak suka sama dia!"


"Kalau lo emang enggak suka sama dia, terus ngapain lo paksa gue untuk suka sama dia?" Senja heran, jelas-jelas Rain tidak menyukai Agum, tetapi sepupunya itu masih saja terus-terusan menjodoh-jodohkan dirinya dengan Agum. Rain juga sering memaksa Senja agar membuka hatinya. Tak berhenti sampai di situ, bahkan Rain juga memaksa Ratna untuk membujuk Senja.


"Hehe ... kalau itu, lain cerita, Senja," jawab Rain dengan cengirannya. "Ah! Atau gue sama Arnav pindah aja kali, ya, biar lo bisa berduaan sama Agum?"


Senja melotot. Galak. "Enggak!"


Rain terkekeh mendengar respons Senja yang benar-benar sangat tidak menyukai usulannya. Di sisi lain, setelah mengantre cukup lama, Agum dan Arnav akhirnya datang dengan nampan yang berada di tangan mereka masing-masing. Agum duduk di samping Senja, sedangkan Arnav duduk di samping Rain.


"Lo berdua pasti lagi saling cerita soal gue, ya?" tebak Agum dengan penuh percaya diri.


Rain memutar bola matanya malas. Pria yang satu itu memang memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi, hampir sama seperti Rain.


Senja melihat bingung isi mangkok yang Agum berikan. "Gue enggak pesan bakso."


"Gue yang pesenin. Gue lihat lo makan mie mulu tiap hari. Enggak sehat," jawab Agum.


"Belum apa-apa udah ngatur," sindir Rain seraya menerima botol Aqua yang diberikan Arnav.


"Mau minum aja botolnya harus dibukain. Patah tangan lo!?" Agum balik menyindir Rain.


"Arnav itu pacar gue! Jadi, ya, wajar kalau dia bukain minum gue."


"Senja itu calon pacar gue! Jadi, ya, wajar gue peduli sama kesehatan dia," balas Agum tak mau kalah.


Senja melotot saat mendengar perkataan Agum barusan. Sejak kapan ia jadi calon pacar cowok itu? Ditatapnya pria yang duduk di sebelahnya itu, sedangkan yang ditatap masih saja berdebat dengan Rain.  Salah satu dari mereka tidak ada yang mau mengalah. Melihat hal tersebut membuat Senja menggeleng-gelengkan kepalanya. Kemudian, ia mengalihkan pandangannya dan segera memakan baksonya. Ia tidak berniat menghentikan perdebatan Agum dan Rain kali ini, biarkan saja dua orang itu ribut.


"Mimpi lo ketinggian kalau mau jadi pacar sepupu gue!" cibir Rain.


Arnav memberikan tisu pada Rain untuk mengelap bibir dan juga baju bagian depan gadis itu yang basah karena tumpahan air ketika sedang minum. "Udah, makan. Enggak capek apa debat mulu?"


"Lo lama-lama jadi kayak asistennya si Hujan dibanding jadi pacar,"kata Agum pada Arnav. Ia heran melihat perilaku Arnav pada Rain. Tadi di kelas, cowok itu mengikatkan tali sepatu Rain, tadi membukakan tutup botol Aqua, dan barusan memberikan tisu.


Senja yang tadinya asyik makan, segera mengehentikan aktivitasnya dan menatap Agum. Begitu juga dengan Arnav dan Rain yang menatap cowok berambut ikal berantakan itu dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Tak lama, tawa Rain meledak, disusul oleh Senja dan Arnav yang mulai terkekeh kecil.


"Astaga, Gumgum, lo enggak pernah pacaran?" Di sela-sela tawanya yang tak kunjung reda, Rain bertanya kepada Agum. Ia tidak habis pikir dengan cowok berambut ikal itu. Sebab, semua yang disebutkan oleh cowok itu barusan adalah hal biasa yang sering dilakukan saat seseorang sedang berpacaran.


"Enggak."


Tawa Rain kembali membahana ketika mendengar jawaban Agum. "Senja juga enggak pernah pacaran, tapi dia enggak sebego lo, tuh!"


Agum mengerutkan keningnya, bingung. Entah apa yang lucu sehingga Rain tertawa seperti itu.


"Sen, percaya, deh, sama gue. Kalau nanti lo beneran pacaran sama Gumgum, dia pasti bakalan bucin banget sama lo!" Setelah berkata seperti itu, Rain berdiri sambil mengangkat  makanan dan juga minumannya. "Nav, kita cari kursi lain aja, yuk! Biarin dua orang yang enggak pernah pacaran ini pdkt."


"Lo bohong, kan?" tanya Senja setelah Rain dan Arnav pindah tempat duduk. Senja tidak percaya jika Agum tidak pernah pacaran. Sampai saat ini, sering sekali menggodanya, Senja masih beranggapan bahwa Agum adalah cowok playboy. Tetapi, kalau diingat-ingat lagi, Senja belum pernah melihat cowok itu menggoda perempuan lain selain dirinya.


"Ngapain gue bohong coba? Gue emang enggak pernah pacaran," ujar Agum dengan bangga.


"Jadi, seharusnya lo seneng. Karena nanti yang bakal jadi pacar pertama gue itu lo." Agum menunjuk Senja dengan jari telunjuknya, nada suara cowok itu juga sedikit menggoda. Lalu, dia pun mencubit hidung mancung Senja.


"Enggak ada yang mau jadi pacar lo," ucap Senja dengan tegas.


Agum tersenyum tipis, kemudian mendekatkan duduknya dengan Senja. "Ada, dan orang itu adalah lo."


***


TENG! TENG! TENG!


Suara bel pulang sekolah menggema ke seluruh penjuru SMA Eternity. Para murid berbondong-bondong keluar dari kelas masing-masing. Ada yang langsung pulang, ada yang singgah ke kantin lebih dulu, dan ada jugayang sekadar nongkrong di warung depan sekolah.


Sama halnya seperti Rain, gadis itu tidak langsung pulang. Ia sedang menuju perpustakaan untuk mencari Arnav karena cowok itu sudah tidak ada di kelasnya. Rain menghentikan langkahnya saat melihat Arnav sedang berbincang dengan seorang perempuan. Perempuan itu adalah musuh bebuyutannya, Nisa.


Nisa tampak memberikan sebuah kotak makanan berwarna putih pada Arnav dan cowok itu menerimanya sambil tersenyum. Dua orang itu juga tampak berbincang. Tidak butuh waktu lama, Rain langsung berjalan cepat ke arah dua orang tersebut. Ia menarik kotak makan yang berada di tangan Arnav, lalu melemparnya ke lantai, membuat isi kotak makanan tersebut berserakan ke mana-mana.


"RAIN, LO GILA, YA?!" pekik Nisa. Gadis itu benar-benar terkejut atas kedatangan Rain yang tiba-tiba. Nisa menatap makanan pemberiannya untuk Arnav yang sudah berserakan.


"Rain, kamu apa-apaan, sih?!" Arnav juga tidak kalah terkejutnya dari Nisa.


Rain menatap Nisa sinis. "Lo yang gila! Ngapain lo ngasih Arnav makanan? Mau lo pelet?"


"Jaga mulut lo, ya! Yang ada lo yang udah pelet Arnav, makanya dia mau nerima lo jadi pacar—"


Rain menarik rambut Nisa dengan keras sehingga membuat gadis itu tidak bisa menyelesaikan perkataannya. Walaupun begitu, bisa dipastikan bahwa perkataan Nisa itu sangat tidak penting untuk didengar lebih lanjut.


Nisa tidak tinggal diam, dia ikut membalas dengan menarik rambut Rain. Arnav yang melihat hal itu pun berusaha memisahkan kedua gadis tersebut. Arnav menarik lengan Rain agar gadis itu berhenti. Setelah tangannya terlepas, Nisa juga ikut melepaskan tangannya dari rambut Rain.


Rain menepis tangan Arnav dengan kasar, lalu menatap cowok itu dengan sorot mata marah.


"Kamu kenapa marah-marah enggak jelas kayak gini, sih?!" bentak Arnav dengan suara yang sedikit meninggi.


Rain, Arnav, dan Nisa sekarang sudah menjadi pusat perhatian beberapa murid yang melintas di koridor. Bahkan, sampai ada yang keluar dari perpustakaan akibat keributan yang dihasilkan oleh mereka bertiga.


"Enggak jelas kamu bilang?" ulang Rain dengan suara yang sudah mulai bergetar.


"Emang enggak jelas, kan?! Seenaknya kamu buang makanan pemberian Mama Nisa dan bersikap kasar kaya tadi!" Tatapan Arnav berbeda. Cowok itu jelas sedang marah saat ini. "Sekarang kamu minta maaf sama Nisa"


"Enggak! Aku enggak mau! Aku enggak salah! Yang salah itu dia karena kegatelan sama kamu!" Rain menunjuk Nisa dengan jari telunjuknya. Dia tidak merasa bersalah. Untuk apa dia harus meminta maaf pada Nisa?


"Rain! Mulut kamu bisa kamu jaga, enggak?!" Arnav menatap tajam Rain. "Dan stop bertingkah kaya anak kecil!" lanjut cowok itu.


***


Senja dan Agum masih berada di kelas. Senja tidak langsung pulang karena siang ini ada pembahasan soal olimpiade dengan gurunya. Arnav juga ikut turut serta dalam pembahasan tersebut.


"Lo, kan, udah mau lulus, ngapain ikut olimpiade lagi?" tanya Agum agar bisa mengobrol dengan Senja.


"Pengen aja," jawab Senja singkat.


"Ngomong enggak berbayar kali, Sen. Apa susahnya lo jawab, ‘Gue pengen buat guru-guru bangga sama gue, sebelum gue pergi’ kayak begitu?" ucap Agum, sedikit kesal karena jawaban Senja yang selalu saja singkat. Padahal, kan, ngomong itu gratis, tidak berbayar.


BRAKKK!


Senja dan Agum sama-sama terkejut saat pintu kelas dibuka paksa oleh Rain. Wajah gadis itu sudah memerah, rambutnya juga sudah berantakan. Rain mengambil tasnya yang sengaja dia tinggalkan di kelas karena ingin menunggu Senja dan Arnav tadi.


Senja menarik pelan lengan Rain. Sepertinya, ada yang tidak beres dengan sepupunya itu. "Lo kenapa, Rain?"


Bukannya menjawab, Rain malah menangis. Lalu, tiba-tiba Arnav datang. Cowok itu berjalan pelan menghampiri Rain. Melihat hal tersebut, gadis itu langsung beranjak pergi tanpa menoleh ke arah Arnav sama sekali.


Arnav yang hendak mengejar Rain pun ditahan oleh Senja. "Biar gue yang nyusul Rain. Lo di sini aja," ucap Senja, lalu ia keluar menyusul Rain.


***


Senja menghentikan langkahnya saat melihat Rain yang sedang duduk di kursi koridor lantai satu yang sudah sepi. Setelah menghampiri Rain, ia kemudian  ikut duduk di samping sepupunya itu. Senja diam beberapa saat. Tak lama, ia mulai bertanya mengenai persoalan yang terjadi.


Rain menjelaskan semuanya pada Senja sambil menangis, tentang kejadian antara dirinya Arnav dan juga Nisa tadi. Setelah mendengar penjelasan dari sepupunya itu, Senja tidak bertanya apa-apa lagi. Mereka sama-sama diam, menikmati keheningan yang tiba-tiba tercipta.


Senja paham betul jika sepupunya ini amat sangat mencintai Arnav. Dan juga, bukan tanpa alasan Rain sangat membenci Nisa dan cemburu jika Arnav bersama gadis itu. Nisa adalah teman Arnav sedari kecil. Rumah mereka juga bersebelahan. Baru SMA ini mereka satu sekolah. Nisa juga menyukai Arnav. Tetapi, Arnav tidak memiliki perasaan lebih terhadap Nisa. Dia hanya menganggap Nisa sebatas teman kecilnya, tidak lebih. Tetapi, tetap saja hal itu membuat Rain takut.


"Rain, gue tau lo cemburu. Tapi, sebelum lo kenal sama Arnav, dia udah lebih dulu kenal Nisa." Senja mencoba memberi pengertian pada Rain. Setiap Rain dan Arnav bertengkar seperti ini, Senjalah yang akan jadi penengah di antara pasangan itu. "Lagi pula, itu masakan mamanya Nisa. Seharusnya, lo tanya dulu. Enggak seharusnya lo buang. Wajar kalau Arnav marah sama lo," lanjut Rain.


Inilah salah satu alasan  Senja tidak mau membuka hati untuk seseorang. Selain karena takut ditinggalkan, Senja juga malas menghadapi keributan-keributan seperti ini. Ia tidak mau membuang-buang waktunya untuk salah paham dan ribut nantinya.


Rain diam. Hal yang dikatakan Senja benar adanya. Rain sadar betul jika dia terlalu berlebihan. Tetapi, itu semua hanya karena Rain kehilangan Arnav. Arnav lebih dari cinta pertama untuk Rain, bahkan walaupun cowok itu cuek pada dirinya sekalipun.


"Gue mau pulang" hanya itu yang keluar dari mulut Rain setelah lama dia terdiam.


"Gue ambil tas dulu," Senja berdiri karena ingin ikut pulang jika bersama sepupunya.


"Enggak. Lo, kan, ada pembahasan soal," tolak Rain. Senja selalu saja seperti itu, selalu mendahulukan Rain daripada dirinya sendiri. "Gue juga pengen ke restoran Mama."


"Kalau gitu, gue telepon Kak Kevin aja, ya?" Senja lalu merogoh kantong roknya untuk mengambil ponselnya.


***


Setelah orang yang menjemput Rain datang, Senja langsung kembali menuju kelas. Ternyata, di dalam kelas sudah ada dua guru yang akan melakukan pembahasan soal bersama dirinya dan juga Arnav. Sebelum duduk, Senja meminta maaf pada dua guru tersebut lebih dulu karena sudah datang terlambat.


Setelah hampir dua jam berkutik dengan soal-soal pembahasan, mereka akhirnya selesai. Dua guru tadi juga sudah keluar.


"Tadi Rain gimana?" tanya Arnav pada Senja yang sedang memasukkan buku serta alat tulisnya ke dalam tas.


"Jangan tanya sama gue," Senja melirik Arnav sekilas. "Gue balik duluan,"


"Biar gue antar," tawar Agum yang tiba-tiba saja sudah berdiri di ambang pintu kelas.


Senja melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah pukul tiga sore dan pria berkulit putih itu masih belum juga pulang ke rumahnya. Senja lalu menatap Agum lurus. "Kok, lo belum pulang?"


Agum masuk ke dalam kelas, lalu mengandeng tangan Senja. "Biar bisa pulang sama lo."


Senja hendak kembali bersuara, ingin menolak ajakan Agum, tetapi cowok itu malah meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Senja supaya gadis itu diam.


"Sttt. Gue enggak nerima penolakan." Senja menepis tangan Agum kasar. Namun, cowok itu malah terkekeh. "Gua tau tadi lo diantar sama calon mertua gue, jadi lo pasti enggak bawa motor, kan?"


Senja membulatkan matanya. Ia tidak salah dengar, kan? Cowok itu baru saja menyebutkan bahwa Ratna adalah calon mertuanya.


Agum kembali memegang pergelangan tangan Senja dan menariknya keluar sebelum gadis itu kembali protes. Tidak lupa Agum pamit pada Arnav yang hanya diam memandang mereka berdua dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan.


***


Bukannya mengantar Senja pulang, Agum malah membawa gadis itu ke sebuah taman yang tidak jauh dari sekolah mereka. Senja sempat menolak, tetapi Agum jelas tidak mau mengalah. Di sinilah mereka sekarang, duduk di salah satu kursi taman sambil menikmati es krim yang mereka beli dari salah satu pedagang di taman itu. Agum terus melontarkan pertanyaan, cowok itu tampak sangat penasaran dengan gadis bernama Senja Agnesia itu.


"Sejak gue masuk sekolah, gue lihat lo selalu panik kalau Rain kenapa-kenapa. Apa lagi kalau tuh bocah lagi berantem, sampai-sampai lo ikutan masuk ruang BK. Sesayang itu lo sama si Hujan?"


Agum heran karena Senja seperti benar-benar menjaga Rain. Bahkan, Senja pernah sampai ikut berkelahi untuk membela Rain. Itu juga pertama kalinya Senja, si juara umum, berurusan dengan guru BK. Padahal, Rain hanya mementingkan dirinya sendiri. Kira-kira itulah pandangan Agum setelah beberapa bulan mengenal  kedua saudara sepupu tersebut.


"Karena Rain sepupu gue," jawab Senja tanpa menoleh ke arah Agum. "Dan, cuma Rain sama Tante Ratna yang gue punya, cuma mereka yang selalu ada buat gue," lanjut gadis itu.


Untuk pertama kalinya, Agum mendengar Senja menyebut Ratna dengan sebutan Tante, bukan Mama. Ini juga kali pertama Senja berbicara lebih dari tiga kata pada Agum.


"Dan sekarang lo punya gue," timpal Agum dengan raut wajah serius, tidak seperti biasanya.


Senja memandang Agum, berusaha mencerna apa yang baru saja cowok itu katakan. Agum tiba-tiba menggenggam tangan Senja yang berada di atas pahanya. Cowok itu memejamkan matanya, lalu menghembuskan napasnya panjang, seperti sedang mengumpulkan keberanian.


"Kalau gue bilang gue sayang dan mulai cinta sama lo, kira-kira lo percaya, enggak, Sen?" Agum menatap manik mata Senja dalam.


Senja menggelengkan kepalanya dengan wajah datar, "Enggak."


Agum membulatkan matanya tidak percaya, bisa-bisanya Senja menjawab dengan satu kata dan juga gelengan kepala. Padahal, Agum sudah mati-matian mengumpulkan keberanian untuk mengutarakan isi hatinya. Detak jantungnya saja sudah berdetak tidak karuan sedari tadi.


Agum itu tidak pernah serius, dan ia juga  hobi sekali mengganggu Senja. Jadi, wajar jika Senja tidak percaya dengan hal yang Agum katakan barusan. Selama ini, setiap Agum mengatakan


"calon pacar", hal itu hanya Senja anggap sebagai candaan cowok itu saja.


"Gue serius, Senja," ujar Agum lagi. Wajah cowok itu seketika berubah menjadi serius.


Senja tertegun. Sepertinya, Agum benar-benar sedang berada di mode-seriusnya sekarang. Dengan perlahan, ia melepas tangannya yang masih di genggam oleh cowok berambut ikal itu.


"Ayo, pulang." Senja bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Agum yang masih terdiam di tempat ia duduk.


Agum tidak merasa kecewa ataupun sedih atas jawaban dan juga respons yang Senja berikan. Dia paham Senja butuh waktu. Tentu saja ia akan memberikan gadis itu waktu.


To be continued


•••