Over Ons

Over Ons
AGUM DAN BUNDA



...5.  ...


...AGUM DAN BUNDA...


...Patah hati seorang pria adalah saat melihat cinta pertamanya terbaring lemah. Mirisnya, dia tidak bisa melakukan apa-apa selain berdoa....


...•••...


Hari ini, langit begitu cerah. Tidak ada awan hitam yang biasanya menutupi sang langit. Hanya ada awan putih yang menghiasi langit hari ini. Warna langit yang tadinya berwarna biru cerah kini sudah digantikan oleh sang senja dengan warna oranyenya yang begitu cantik dan indah.


Agum menyusuri koridor salah satu rumah sakit. Cowok itu masih menggunakan seragam sekolah, lengkap dengan tas yang masih berada di punggungnya. Matanya menangkap sosok gadis yang mengenakan kemeja dengan seluruh kancingnya terbuka, menampilkan dalaman kaus hitam polosnya. Agum sangat mengenal gadis itu. Dengan segera, ia melebarkan langkahnya untuk memastikan siapa gadis itu. Sepertinya, gadis itu adalah gadis yang hampir satu hari ini tidak ada kabarnya.


"Senja," panggil Agum.


Senja menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah sumber suara.


"Lo ngapain di sini?" tanya Agum saat sudah berdiri di sebelah Senja.


"Gue habis jenguk teman," jawab Senja dengan wajah yang sedikit terkejut melihat kehadiran Agum di rumah sakit.


"Terus, tadi lo sama Rain kenapa enggak masuk?"


Pagi tadi, Senja dan Rain tidak masuk sekolah. Saat Agum bertanya pada Arnav, cowok itu malah mengatakan bahwa ia tidak mengetahui hal tersebut.


"Oh, itu gue—" Senja menghentikan kalimatnya. Pikirnya, buat apa juga dia memberi tahu Agum?


Agum menaikkan sebelah alisnya, menunggu jawaban dari Senja.


"Itu ... tadi ada acara di restoran nyokap, jadi gue sama Rain ikut bantuin," jawab Senja akhirnya. "Lo sendiri ngapain di sini?" Senja balik bertanya.


Agum mengerutkan keningnya. Tumben. Ini pertama kalinya Senja bertanya pada Agum."Bunda gue di rawat di rumah sakit ini" jelas Agum. "Lo mau jenguk bunda gue juga, enggak?"


Tanpa menunggu jawaban dari Senja, Agum langsung menarik lengan gadis itu. Senja yang terkejut karena ditarik paksa itu pun hanya menurut tanpa protes, seperti biasanya.


***


Tok! Tok! Tok!


Agum mengetuk salah satu pintu putih yang berada di lorong rumah sakit, lalu membukanya pelan. Di dalam sana, terlihat wanita paruh baya sedang terbaring lemah di atas ranjang. Terdapat juga seorang pria paruh baya berkacamata tengah duduk di samping ranjang sambil menggenggam salah satu tangan wanita itu.


Agum memasuki ruangan serba putih itu, diikuti Senja yang berjalan di belakangnya. Pria paruh baya tadi melepas genggamannya dan berdiri, kemudian Agum mencium tangan   pria tersebut. "Ayah, kenalin, ini teman sekolah aku," Agum memperkenalkan Senja pada pria yang di ketahui adalah Ayah Agum.


Senja langsung menyalam tangan ayah Agum. "Senja, Om," Senja memperkenalkan dirinya sembari sedikit membungkuk dengan sopan.


"Saya Rommy, ayah Agum," balas ayah Agum sembari tersenyum. "Kalau gitu, Ayah keluar dulu, kalian di sini aja. Om keluar dulu, ya, Senja," pamitnya pada kedua remaja itu.


Setelah Rommy keluar, hening tiba-tiba mendominasi di dalam ruangan yang serba putih itu. Hanya ada suara tetesan infus di ruangan tersebut. Senja diam, tidak bertanya soal kondisi bunda Agum atau alasan cowok itu malah mengajak dirinya menjenguk bundanya. Sementara Agum, ia hanya diam menatap wajah pucat bundanya. Tatapan Agum sangat berbeda. Baru kali ini Senja melihat tatapan sedih terpancar wajah cowok yang selalu ceria itu.


Setelah beberapa menit terdiam, Senja akhirnya membuka suara. "Bunda lo sakit apa?"


"Bunda sakit kanker," jawab Agum, masih tetap menatap wajah sang bunda.


Senja menatap Agum. Dia terkejut dengan jawaban Agum barusan, lalu mengutuk dirinya sendiri atas pertanyaan yang dia lontarkan. Ada apa dengan dirinya? Tidak biasanya Senja tidak sepenasaran ini, apalagi sampai harus bertanya pada Agum. Biasanya, Senja akan diam saja sampai Agumlah yang terlebih dahulu membuka suara dan memberitahunya.


"Kenapa ini mulut gak mau diam sih hari ini, biasanya juga diam aja." Batin Senja.


Agum mengalihkan pandangannya pada Senja. Ia tau Senja merasa tidak enak karena pertanyaan yang dilontarkannya  barusan. "Udah dari lama Bunda sakit kanker," kata Agum lagi. Kemudian, ia duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut seraya menggerakkan tangannya ke udara, menyuruh Senja untuk ikut duduk di sebelahnya.


"Gue ajak lo ke sini karena gue pengen aja, biar gue enggak sendirian," ujar Agum, seakan tau isi kepala Senja. Saat Senja sudah duduk di sebelahnya, ia bertanya, "Lo enggak marah karena gue ajak ke sini, kan?"


Senja menggeleng pelan. Buat apa juga dia marah? Senja juga sedikit bingung saat mendengar perkataan Agum yang tidak ingin sendirian. Bukankah ada ayahnya yang juga ikut menemani sang bunda?


Tok, tok, tok!


Suara ketukan pintu kembali terdengar dan kembali dibuka, ternyata itu ayah Agum. "Ayah mau pulang ke rumah dulu untuk ambil perlengkapan Bunda," kata pria itu setelah menutup pintu ruangan. "Kamu jagain Bunda dulu, ya."


"Enggak usah, biar aku aja yang ambil. Sekalian antar Senja pulang," ujar Agum, karena hari sudah mulai gelap. Dia harus mengantar Senja pulang.


"Senja sudah mau pulang?" tanya ayah Agum pada Senja.


"Iya, Om, sudah mau malam."


"Ya sudah, kamu antar Senjanya dulu. Barang-barang Bunda sudah si Mbok susun, tinggal kamu ambil aja di kamar," kata ayah Agum memberi tahu.


"Senja pamit, ya, Om." Senja pamit, tidak lupa menyalam tangan pria paruh baya itu, lalu diikuti oleh Agum.


Rommy menepuk pundak Senja pelan. "Terima kasih, ya, Senja, udah mau jenguk Tante."


"Ah, iya, Om. Tadi Senja juga sekalian jenguk teman," balas Senja sembari tersenyum tulus.


"Hati-hati bawa motornya, Gum," Rommy mengingatkan putranya dan  hanya dibalas anggukan kecil oleh Agum.


"Kita ke rumah gue dulu, ya. Abis itu, baru gue antar lo balik," kata Agum saat mereka sudah sampai di parkiran rumah sakit. Senja hanya menganggukkan kepalanya setuju.


Agum ke rumahnya terlebih dahulu untuk mengambil barang bundanya lantaran rumahnya itu adalah rute pertama yang akan mereka berdua lewati. Jadi, setelah mengantar Senja, ia bisa langsung ke rumah sakit tanpa harus berputar arah lagi.


***


Motor Agum berhenti di depan sebuah rumah dengan empat lantai. Halaman rumah tersebut sangat luas, beberapa mobil mewah juga tersusun rapi di bagasi yang tidak ada penutupnya. Senja lalu memperhatikan Agum dari atas sampai bawah. Penampilan Agum sangat sederhana, berbanding terbalik dengan keadaan rumah cowok itu yang sangat mewah. Motor ninja yang Agum gunakan juga sama dengan beberapa murid SMA Eternity lainnya. Agum juga tidak pernah membawa mobil ke sekolah.


"Benar kata orang, jangan nilai orang dari penampilannya saja," batin Senja.


Senja mengikuti Agum masuk ke dalam rumah berlantai empat itu. Saat masuk, Senja langsung dapat melihat beberapa foto yang tersusun rapi di dinding dan juga di rak-rak khusus foto.


"Den Agum udah pulang?" tanya Mbok yang bekerja di rumah Agum.


"Iya, Mbok,” jawab Agum pada wanita yang rambutnya sudah sedikit memutih itu. “Barang Mama di mana, ya?"


"Bentar, Den. Mbok ambilkan dulu." si Mbok kemudian berlalu menuju sebuah kamar.


"Senja, gue ke atas bentar, ya." Agum lalu meninggalkan Senja dan menuju lantai dua, tempat kamarnya berada.


Senja kembali mengalihkan pandangannya pada foto-foto yang ada di sebuah rak. Ada banyak foto Agum yang diambil saat sedang berada di rumah sakit bersama bundanya, salah satu foto ada yang diambil saat cowok itu berulang tahun, juga saat ia mengenakan seragam SMP sambil memeluk bundanya dengan sebuah piala di tangan kecilnya. Senja memperhatikan wajah Agum kecil dengan saksama. Dia merasa pernah melihat wajah itu. Kening Senja mengerut, seakan sedang berpikir dan bertanya pada dirinya sendiri.


Merasa tidak mengingat sesuatu, Senja kembali melihat ke arah barisan rak selanjutnya. Ada beberapa piala juga di rak tersebut, semua piala itu atas nama Agum yang memenangkan perlombaan bernyanyi, bermain gitar, dan juga beatbox. Piala itu semua dia dapatkan sejak SD hingga SMA kelas X. Tidak ada piala tahun kemarin ataupun tahun sekarang.


Apa Agum sudah berhenti mengikuti perlombaan musik, ya? pikir Senja. Ratna juga sempat bercerita bahwa Agum memang sering datang ke restoran mereka untuk bernyanyi dan bermain gitar. Kata Ratna, suara Agum sangat bagus, apalagi saat cowok itu memainkan gitar.


Senja berhenti melihat-lihat foto saat mendapati Agum turun dari tangga dan sudah mengganti baju sekolahnya dengan pakaian yang lebih santai. Cowok itu memakai hoodie putih polos yang mirip dengan warna kulitnya yang juga putih. Agum lalu mengambil tas yang lumayan besar dari tangan si Mbok.


"Agum pamit, ya, Mbok. Pintunya jangan lupa di kunci," pesan Agum, kemudian ia menghampiri Senja dan mereka berdua keluar menuju garasi. Karena hari sudah malam dan Agum membawa tas yang lumayan besar, ia memutuskan untuk membawa mobil.


"Lo mau bawa mobil?" tanya Senja saat melihat Agum membuka pintu salah satu mobil yang berwarna putih.


"Iya, kenapa emang?"


"Lo bisa bawa mobil?" tanya Senja memastikan.


Agum tertawa mendengar pertanyaan Senja, ide jahil tiba-tiba muncul di kepalanya. "Lo pernah liat gue bawa mobil, enggak?" tanya Agum sembari menyenderkan tangannya di atas pintu mobil yang sudah terbuka.


Senja menggeleng.


"Terus ngapain lo mau bawa mobil?" tanya Senja heran.


"Karena lagi pengen," Agum menghampiri Senja dan mendorong gadis itu pelan untuk segera masuk ke dalam mobil.


Senja memberontak tidak mau masuk. “Enggak, enggak. Gue pulang naik taksi aja kalau gitu."


"Ayo, dong, Sen. Temanin gue belajar bawa mobil," pinta Agum dengan wajah yang dibuat semelas mungkin.


"Lo gila? Gue enggak bisa bawa mobil dan gue belum mau mati," ujar Senja, emosi dengan tingkah Agum yang menurutnya aneh.


Agum langsung tertawa kencang karena ucapan dan juga ekspresi gadis itu. "Hahaha! Astaga, Sen! Lo pintar, tapi mudah banget dibohongin, sih?"


"Apaan, sih, lo!" Senja memukul pundak Agum keras. Ia bukan mudah dibohongi, tetapi wajah Agum sangat meyakinkannya tadi. Sepertinya, Agum memang ahli berbohong.


"Gue bisa bawa mobil, kok. Tadi gue cuma bercanda. Udah, cepetan masuk." Agum membukakan pintu bagian penumpang untuk Senja. Gadis itu pun masuk ke dalam mobil tersebut, disusul Agum yang juga ikut masuk dan duduk di kursi pengemudi.


***


Pagi tadi, Senja dan Rain tidak masuk sekolah. Sementara Arnav, ia tidak mendapat kabar apa pun dari Rain maupun Senja. Biasanya, jika Rain tidak masuk, gadis itu akan selalu mengabarinya. Tetapi, tidak ada kabar sama sekali hari ini. Arnav juga sudah menelepon dan mengirimkan pesan pada Rain dan Senja beberapa kali. Namun, tetap tidak ada balasan dari kedua gadis tersebut.


Karena tak kunjung mendapat kabar, Arnav memutuskan untuk pergi ke rumah Rain. Ternyata, rumah itu kosong, tidak ada siapa-siapa di dalamnya. Arnav memilih menunggu dan duduk di kursi teras rumah. Beberapa menit menunggu, sebuah mobil berwarna putih datang, Arnav beranjak dari duduknya. Ternyata, yang keluar dari mobil itu adalah Senja.


"Lo udah lama di sini?" tanya Senja saat ia sudah sampai di teras rumah.


"Lumayan," jawab Arnav singkat. "Itu tadi siapa?"


"Agum," jawab Senja. "Lo ke sini nyari Rain, kan?"


Arnav mengangguk sebagai jawaban.


"Rain sama Mama kayaknya belum pulang dari restoran."


"Tadi lo sama Rain kenapa enggak masuk?" tanya Arnav.


"Tadi ada acara di restoran Mama, jadi gue sama Rain bantuin di sana," jelas Senja. "Kenapa enggak telepon Rain aja?"


"Gue udah chat dan telepon lo sama Rain, tapi enggak kalian angkat."


Senja sedikit mengerutkan dahinya, kemudian ia mengambil ponsel dari belakang kantong jeans berwarna navy-nya. Gadis bergaya tomboi itu memang tidak pernah membawa tas saat keluar. Ribet, menurutnya. Setelah selesai mengecek ponselnya, Senja berkata, "Handphone-nya gue silent."


"Ya udah. Kalau gitu, gue samperin Rain ke restoran aja." Belum sempat Arnav beranjak, sebuah mobil berwarna hitam masuk ke dalam pekarangan rumah. Ternyata, itu adalah mobil Ratna. Setelah diparkirkan, Rain dan Ratna turun dari mobil tersebut. Arnav langsung menghampiri ibu dan anak itu. Setelahnya, ia mencium tangan Ratna.


"Nak Arnav udah lama di sini?" tanya Ratna sembari tersenyum ramah.


"Lumayan, Tan," jawab Arnav, pandangannya tertuju pada Rain yang sedang menatapnya.


Ratna memandang Rain dan Arnav secara bergantian "Pasti mau ketemu Rain, ya? Ayo masuk, kalian ngobrolnya di dalam aja," ajak Ratna.


"Rain di teras aja sama Arnav, Ma," kata Rain.


Ratna mengangguk mengerti. Dua anak muda itu pasti tidak mau diganggu. Segera Ratna menggandeng lengan Senja dan mereka berdua pun masuk ke dalam rumah, meninggalkan dua remaja itu untuk mengobrol. Setelah Ratna dan Senja masuk, Rain berjalan cepat ke arah Arnav dan memeluk cowok itu erat. Rain menghirup aroma tubuh kekasihnya. Sangat wangi,  itulah kesan pertama saat gadis itu pertama kali bertemu Arnav.


Arnav sedikit terkejut. Ia mengawasi sekitar, takut ada tetangga yang melihat mereka. Setelah dirasa aman,  barulah Arnav membalas pelukan gadis itu.


"Aku kangen," gumam Rain dalam pelukan Arnav.


Arnav mengusap rambut kekasihnya. "Aku telepon kenapa enggak diangkat?"


Rain mendongak menatap Arnav, tetapi kedua tangannya masih setia memeluk pinggang cowok itu. "Handphone aku baterainya habis. Dari kemarin belum aku charger, hehehe ...." jawab Rain dengan cengiran.


Tak lama, Rain melepas pelukannya dan mengajak Arnav untuk duduk di kursi teras.


"Kamu kangen sama aku, enggak?"


Arnav menggenggam tangan Rain yang dia letakkan di atas meja. "Kangen," jawab cowok itu singkat.


Satu kata itu mampu membuat pipi Rain mengembang sempurna dan membuat kupu-kupu beterbangan di perutnya. Sepele memang, tetapi sangat berarti untuk gadis itu.


"Hari ini kamu ke mana aja? Biasanya, kamu selalu ngabarin aku,"


Rain memang tidak pernah tidak mengabari Arnav. Gadis itu akan selalu memberitahu kegiatan-kegiatannya selama satu hari atau tempat-tempat yang ia kunjungi dan singgahi.  Bahkan, Rain juga ikut menceritakan tentang Senja pada Arnav. Seperti biasa, Arnav akan selalu menjadi pendengar yang baik.


"Tadi kamu pasti udah tanya sama Senja, jadi kamu udah tau," jawab Rain, ia sedang malas berbicara panjang lebar.


"Tapi, aku mau dengar langsung dari kamu," ujar Arnav sembari menatap mata Rain.


Rain menceritakan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh dirinya dan juga Senja hari ini. Arnav mendengarkan cerita Rain tanpa berniat memotong cerita gadis itu. Tangan kiri Arnav masih setia menggenggam tangan Rain, sedangkan tangan kanannya bergerak memegang pipi gadis itu.


"Pipi kamu anget, muka kamu juga pucat." Arnav meneliti wajah gadis itu, lalu tangannya berpindah ke dahi Rain. "Kamu sakit?"


Rain mengambil tangan Arnav dari dahinya, kemudian ia menggenggam tangan dingin cowok itu. "Enggak, kok. Kayaknya, aku cuma kecapaian aja karena satu hari penuh bantuin Mama."


Arnav berdiri dari duduknya. "Ya udah, aku pulang, ya. Kamu istirahat."


Rain menarik tangan Arnav, "Jangan pulang dulu. Aku, kan, masih kangen," rengek Rain manja.


"Besok, kan, di sekolah kita ketemu, kamu istirahat aja dulu."


"Tapi—"


"Enggak ada tapi-tapian, Rain," sela Arnav cepat.


"Ya udah, deh." Rain berdiri, lalu merentangkan kedua tangannya. "Tapi, peluk dulu."


Arnav langsung memeluk Rain. Mereka berpelukan cukup lama sampai akhirnya Ratna datang menghampiri dua remaja itu.


"Ekhm!" Ratna berdehem. Rain langsung melepaskan pelukannya pada Arnav.


"Mama," Rain kesal karena Ratna datang di waktu yang tidak tepat.


"Udah pelukannya?" tanya Ratna dengan nada menggoda.


Rain menggandeng lengan Ratna. "Mama, ih, kayak enggak pernah muda aja."


"Udah malam, kamu harus istirahat, Sayang," kata Ratna sembari mengusap rambut panjang kecokelatan Rain yang sedikit ikal di ujungnya.


"Ya udah, Tante. Arnav pamit, ya," Arnav mencium tangan Ratna sebelum pergi.


"Iya, kamu hati-hati di jalan," balas Ratna.


"Nanti kalau udah sampai, kabarin aku, ya!" pesan Rain pada Arnav.


Setelah Arnav meninggalkan pekarangan rumah, Rain dan Ratna masuk ke dalam rumah untuk segera beristirahat.


To be continued


•••