Over Ons

Over Ons
Mulai berubah



...14. ...


...MULAI BERUBAH?...


...Jangan benci, katanya. Nanti nyesal, terus sedih. Terus bencinya malah makin bertambah. Marah aja, enggak apa-apa. Nanti dianya minta maaf, marahnya pasti selesai....


...•••...


Saat ini, kelas XII IPA 1 sedang hening dan fokus karena mereka tengah ulangan Seni Budaya. Tempat duduk mereka juga dibuat jarak oleh Bu Nunung agar tidak bisa menyontek. Guru yang menyebalkan, bukan?


Selain menjadi guru BK, Bu Nunung juga mengajar pelajaran Seni Budaya.


"Ssstt! Ber, nomor lima jawabannya apa?" Agum berbisik sembari mengangkat lima jarinya pada Aber.


Aber melihat ke depan, memastikan Bu Nunung tidak akan berjalan ke belakang. "Memamerkan hasil karya seni seperti lukisan, ukiran, gambar dan-"


"Apa, sih? Enggak dengar gue, Ber!"


"Memamerkan hasil karya seni seperti-"


"Suara lo kecil banget, bangsat!"


"Namanya juga nyontek, ******!" Aber kembali melihat kertas ulangannya. "Memamerkan hasil karya seni seperti lukisan, ukiran-"


"LO NGOMONG ATAU KUMUR-KUMUR, SIH, BER? ENGGAK JELAS BANGET!" Agum berseru dengan suara keras.


Aber melihat ke depan, semua tatapan sudah tertuju pada Aber dan juga Agum, termasuk Bu Nunung yang sedang berjalan ke arah mereka.


"Kamu nyontek lagi, Agum?"


"Hah? E-enggak, k-kok, Bu ... Ibu jangan fitnah, dong," bantah Agum, tidak ingin mengaku.


"Udah mau lulus masih saja nyontek kamu!" sela Bu Nunung.


"Saya enggak nyontek, Bu."


"Bohong dia, Bu! Tadi saya lihat mereka berdua bisik-bisik, Bu!" sambar David.


Agum menatap kesal David. "Temen durhaka, ya, lo!" gerutu Agum.


"Kertas kamu tidak akan saya terima. Nilai ulangan kamu hari ini saya kasih lima," ujar Bu Nunung tegas.


Agum mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. "Alhamdulillah, lumayan dapat nilai lima."


"Dih, dapat nilai lima, kok, bangga?" Rain menyahut keheranan.


"Jelas, lah! Belum tentu juga gue nanti dapat lima kalau ngerjain nih soal, paling dapat tiga," ujar Agum dengan tidak tahu malu.


"Malu dong lo sama pacar!" Mahmud menimpali.


"Agum punya pacar? Siapa pacar Agum?" tanya Bu Nunung penasaran.


"Cieee, Ibu kepo, ya?" goda Agum dengan cengirannya.


"Senja, Bu!" jawab Aber.


Bu Nunung langsung menatap Senja tidak percaya. Sementara Senja, dia hanya fokus pada kertas ulangannya seakan tidak mendengar apa-apa.


"Alah, enggak mungkin Senja mau sama kamu."


"Lho, kenapa, Bu? Saya, kan, ganteng, perhatian, baik, rajin salat, dan rajin menabung!" ujar Agum dengan gaya sok kerennya.


"Otak kamu kurang." Satu kelas sontak tertawa karena perkataan Bu Nunung.


"Bu Nunung yang tersayang, Ibu enggak boleh ngomong kayak gitu. Nanti kalau saya sukses, gimana? Nanti Ibu nyesel pernah ngomong gitu sama saya."


"Baguslah kalau kamu sukses, berarti omongan saya manjur buat kamu, orang tua kamu juga jadi bangga."


Agum melirik Senja sebentar. "Berarti calon istri saya nanti juga bangga, dong, Bu?"


"Sekolah dulu kamu yang benar, baru mikirin istri!"


Baru saja Agum ingin kembali menjawab, tetapi sudah disela terlebih dahulu oleh Bu Nunung. "Ssstt, udah kamu diam. Yang lain lanjutin ulangannya!"


***


"Bisa-bisanya lo enggak simpan nomor gue, Senja."


Sejak pagi tadi sampai jam istirahat, Agum masih saja meributkan hal yang menurut Senja tidak penting.


"Jangankan nomor lo, nomor gue aja enggak Senja simpan," timpal Rain.


"Coba sini gue lihat handphone lo" Agum meletakkan tangannya di depan wajah Senja.


Senja mengernyit. "Buat apa?"


"Mau gue lihat, lah. Mana?"


Malas berdebat dengan Agum, Senja akhirnya memberikan ponselnya pada cowok itu.


Agum melihat kontak yang ada di ponsel Senja, hanya ada satu nomor yang gadis itu simpan, nomor Ratna. Beberapa nomor yang ada pada panggilan masuk dan keluar, gadis itu biarkan tanpa menyimpan nomor tersebut. Mungkin saja Senja hafal, pikir Agum. Setelah menyimpan nomornya sendiri, Agum mengembalikan ponsel itu pada sang pemilik.


"Tuh nomor gue, udah gue simpen. Kalau ada apa-apa ,hubungin gue."


"Ini minuman kamu." Belum sempat Arnav memberikan minuman tersebut pada Rain, Agum sudah menarik minuman tersebut secara tiba-tiba. Setelahnya, kekasih Senja itu langsung menenggak minuman tersebut dengan seenaknya.


"Kenapa malah lo yang minum?"


"Rain, ka,n enggak pernah minum yang kayak ginian. Daripada dibuang, lebih bagus buat gue," ujar Agum setelah meneguk minuman tersebut hingga sisa setengah.


Arnav mengernyit, kemudian memandang Rain dengan penuh tanya.


"Aku minum, kok!" jawab Rain cepat saat melihat Arnav yang menatapnya dengan tajam.


"Bohong banget lo. Selama gue sekolah di sini, enggak pernah, tuh, gue lihat lo minum yang bersoda dan teman-temannya si soda ini. Kecuali air putih,"


Kenyataannya memang begitu. Agum tidak pernah melihat Rain ataupun Senja meminum air selain air putih.


"Senja juga selalu beliin lo air putih, kan? Iya, kan, Sen?" lanjut Agum.


Senja mengangguk setuju.


"Lo sering minum yang bersoda, Rain?" tanya Senja. Raut wajah gadis itu seketika berubah.


"Enggak sering, kok, cuma boba."


"'Cuma' lo bilang? Kapan? Gue, kok, enggak pernah lihat?"


Agum dan Arnav jadi bingung melihat Senja yang tiba-tiba marah pada Rain hanya karena perihal minuman.


"Pasti pas keluar bareng Arnav, kan?" Senja mengalihkan pandangannya pada Arnav. "Kalau Mama tau gimana?"


"Makanya jangan lo kasih tau, dong," gumam Rain.


"Senja, ini cuma minuman bersoda. Bukan alkohol. kenapa lo kayak marah gitu?" tanya Agum heran. Berbagai cara sudah Agum coba untuk membuat Senja marah, tetapi tidak pernah berhasil. Namun, hanya gara-gara Rain yang minum Boba, gadis itu malah marah.


"Lo juga dilarang Mama, Senja," balas Rain tidak mau kalah.


"Iya, gue tau. Dan lo sebagai pacarnya seharusnya tau, Ar. Kenapa malah Agum yang lebih tau?" lanjut Senja marah.


"Gue bukan cenayang yang bisa tau,tanpa harus dikasih tau. Dan jangan bandingkan gue sama Agum," raut wajah Arnav terlihat tidak suka.


"Gue aja bisa tau tanpa dikasih tau" ujar Agum mengompori.


"Ini kenapa jadi ribut begini, sih? Lo juga, Gum, jangan kompor, dong!" Rain menatap tiga orang itu bergantian. "Makan tuh makanan kalian, bentar lagi udah mau bel."


***


Hari Minggu siang ini begitu panas, apalagi di jam makan siang seperti ini. Matahari terasa begitu lebih terik karena berada tepat berada di atas kepala. Setelah dari rumah sakit, Agum langsung menuju Raina's Resto untuk mengisi perut dan juga memuaskan dahaga.


Saat Agum sampai, di restoran itu ternyata sudah ada Arnav juga. Cowok itu duduk di salah satu meja bersama Rain tentunya. Agum langsung menghampiri dua orang itu dan duduk di sana. Tidak lama kemudian, Senja datang. Gadis berponi itu dipaksa oleh Ratna untuk duduk bergabung dengan Rain, Agum, dan Arnav.


"Lo ngapain ke sini?" tanya Senja setelah dia duduk di samping pria berambut ikal atau lebih tepatnya rambut dengan model messy itu.


"Ke restoran mau ngapain lagi kalau bukan makan, Senja?" Agum melirik Arnav yang hanya diam sembari mendengarkan celotehan Rain. "Terus lo ngapain di sini?"


"Suka-suka pacar gue, lah, mau ke sini atau enggak!" balas Rain sewot. "Lo yang ngapain ke sini?"


"Kan gue udah bilang, gue sering ke sini. Lo berdua aja yang enggak tau."


Selain karena tidak jauh dari rumah sakit tempat bundanya dirawat, restoran ini juga begitu nyaman dan estetik tentunya. Terlebih lagi, pengunjung di sini bisa bernyanyi sebebas dan sepuasnya.


Agum melihat Senja dan Rain secara bergantian, dua gadis itu sudah memakai baju yang sama dengan para pegawai restoran lainnya. "Lo berdua enggak lanjut kerja?"


"Enggak bakal dibolehin Mama kalau lo berdua masih ada di sini," jawab Senja yang duduk dengan tangan yang dilipat di depan dada.


"Jadi, lo mau gue pergi gitu?" tanya Agum.


Senja hanya mengedikkan kedua bahunya. Tanpa dijawab pun Agum pasti sudah tau jawabannya.


"Oh, iya, aku mau nanya sesuatu sama kamu." Rain menegakkan duduknya yang sempat bersandar pada sandaran kursi. "Kamu dulu satu SMP sama Senja, ya? Satu kelas juga, kan?"


Senja membulatkan matanya, terkejut karena Rain tiba-tiba bertanya hal itu pada Arnav. Senja menatap Arnav, berharap cowok itu tidak mengatakan apa-apa.


"Kamu tau dari mana?" Arnav balik bertanya sembari melirik Senja.


"Aku lihat di buku tahunan SMP Senja ada foto kamu. Kenapa kamu enggak pernah cerita?"


"Aku lupa."


"Emang lo enggak satu SMP juga sama Senja?" tanya Agum pada Rain.


"Enggak. Gue homeschooling," jawab gadis itu tanpa melepas pandangannya dari Arnav.


"Dih, gaya banget lo homeschooling segala."


Rain menatap Agum kesal. Senja yang sadar perubahan wajah sepupunya itu menendang kaki Agum pelan agar diam.


Agum mengangkat kedua tangannya ke udara. "Oke, gue diam. Anggap aja gue enggak ada."


Ting!


Ponsel Arnav berbunyi, menandakan ada sebuah pesan masuk.


Rain mendekatkan wajahnya pada ponsel cowok itu, penasaran. "Siapa?"


Setelah membaca pesan tersebut, Arnav kembali memasukkan benda persegi itu ke dalam kantong celananya, lalu beranjak dari duduknya. "Dari teman. Aku pergi dulu."


Rain ikut berdiri dari duduknya. "Ke mana?"


"Ketemu teman aku."


"Teman yang mana?" tanya Rain lagi.


"Banyak nanya banget, sih, lo, Hujan. Biarin aja, sih, dia pergi." Agum jadi kesal sendiri melihat tingkah Rain yang seperti sedang mengintrogasi Arnav.


"Suka-suka gue, dong. Arnav, kan, pacar gue."


"Cuma pacar, bukan istri." Agum melirik Arnav yang masih berdiri, bukannya beranjak pergi. "Udah, lo sana pergi. Ngapain masih berdiri di situ?'


"Lo lagi datang bulan, ya, Gum? Sensi banget." Rain menggandeng lengan Arnav, "Biar aku antar sampai parkiran, ya?"


Arnav mengangguk mengiyakan.


"Lebay banget gitu aja pake dianterin," komentar Agum.


Senja menggeleng-gelengkan kepalanya. Pria yang duduk di sampingnya ini benar-benar cerewet.


"Gimana keadaan Bunda lo?" Tanya Senja.


Walaupun Agum terlihat baik-baik saja, Senja tau bahwa cowok itu sedang tidak baik-baik saja sekarang. Cowok itu jelas sedang banyak pikiran. Kemarin malam Agum menelepon Senja dan memberitahukan bahwa kondisi bundanya kembali memburuk. Hal itu membuat Agum kepikiran. Ditambah lagi, dokter mengatakan adanya banyak kemungkinan-kemungkinan yang tidak ingin dia tahu dan dengarkan malam itu.


"Udah mulai stabil," jawab Agum singkat.


"Lo udah baikan sama Ayah lo?" Senja bingung dengan dirinya sendiri saat ini. Entah kenapa, dia sekarang lebih sering bertanya pada Agum tentang keluarganya, apalagi setelah mengetahui beratnya beban yang harus cowok itu pikul sendiri.


Agum meneguk jus alpukatnya sebelum kembali bersuara,"Belum."


"Gue enggak mau ikut campur dalam masalah keluarga lo. Cuma, harusnya lo juga ngerti gimana perasaan ayah lo sekarang, Gum," Senja berkata. "Selama tiga tahun ini, Om Rommy udah cukup menyesal atas perbuatannya. Bunda lo lagi sakit dan ditambah lo juga jauhin Om Rommy. Gue yakin Om Rommy udah cukup tersiksa akan perbuatan dia di masa lalu."


"Kalian berdua udah sama-sama terluka, Gum, jadi jangan lo tambah luka itu. Lo harus coba untuk berdamai sama masa lalu ayah lo. Semua orang pasti pernah buat salah, termasuk Om Rommy." Senja yang sadar mata Agum mulai berkaca-kaca segera menarik cowok itu ke dalam pelukannya. Ia menepuk-nepuk pelan punggung Agum, menyalurkan kekuatan lewat tangannya.


"Lo boleh marah, tapi jangan pernah benci," lanjut Senja.


Senja tau bagaimana rasanya kehilangan kedua orang tua di waktu yang bersamaan. Dan yang di alami oleh Agum tidak jauh berbeda dengannya.Kedua orang tua Agum ada, tetapi seperti tidak ada. Bundanya yang sakit, menghabiskan waktu di rumah sakit tanpa menemani dan melihat tumbuh kembang Agum. Kemudian ayahnya yang dengan Sengaja Agum jauhi, karena marah. Mungkin.


***


Rain menarik ujung baju Arnav saat cowok itu akan masuk ke dalam mobilnya. "Kamu kenapa?"


Arnav mengernyit bingung. "Kenapa apanya?"


"Akhir-akhir ini sikap kamu beda. Kamu ada masalah?" Rain menatap mata cowok itu dengan tajam.


"Enggak. Aku enggak ada masalah. Perasaan kamu aja mungkin," katanya.


Ini bukan hanya perasaan Rain saja, kenyataannya memang begitu. Beberapa minggu terakhir ini, sikap Arnav mulai berubah dan itu sangat terlihat jelas. Rain berusaha mencari apa yang salah dari dirinya hingga Arnav sampai seperti itu. Tetapi, dia tidak menemukan hal yang salah pada dirinya.


"Ada yang kamu sembunyikan dari aku?" tanya Rain lagi.


Ponsel Arnav kembali berbunyi. Kali ini bukan chat, melainkan panggilan telepon. Cowok itu melihat layar ponselnya sebentar, lalu kembali memasukkannya ke dalam kantong celana tanpa mengangkat panggilan tersebut.


"Enggak ada, Rain," Arnav mengusap pipi Rain lembut. "Aku pergi dulu, teman aku udah nungguin."


Rain mengangguk pelan. Setelah mobil Arnav benar-benar hilang dari pandangannya, dia kembali masuk ke dalam restoran.


...To be continued...


...•••...