
"Al, pemandangannya indah ya" gumam Merlina yang masih dapat didengar Aldrian
"Gak salah kan gue ngajak lo kesini" jawab Aldrian. Ya, Aldrian mengajak Merlina di sebuah taman yang sepi dengan pemandangan yang bisa dibilang wow!
"Iya. Makasih lo udah bawa gue kesini" ucap Merlina dengan senyumannya. Kali ini bukan senyum jahil ataupun senyum menyebalkan yang gadis itu tunjukkan pada Aldrian. Tetapi senyuman tulus yang membuat hati Aldrian menghangat
"Mer, lo gak takut kalo semuanya bakal berubah dan menimbulkan kisah baru antara kita?" Tanya Aldrian
"Bahasa lo ih" Merlina terkekeh sebentar "Enggak. Gue yakin itu gak akan terjadi" sambung Merlina
"Kenapa lo bisa se yakin itu Mer? Gue aja gak yakin" tanya Aldrian
"Karna kita udah kenal, deket, temenan, canda bareng, ketawa bareng, sahabatan, bahkan udah kek sodara juga dari TK" jawab Merlina. Aldrian menganggukkan kepalanya dengan ragu
"Mer, pulang yuk. Mau hujan nih" ajak Aldrian. Merlina hanya mengangguk. Mereka kembali berjalan menuju mobil
Di mobil, suasana nya begitu hening. Tidak ada canda tawa seperti biasanya. Mereka sama sama terbuai dalam pikiran masing masing. Bahkan sampai di rumah Merlina pun suasana tetap hening
"Makasih ya Al. Gak mampir dulu nih?" tawar Merlina pada Aldrian
"Eum, enggak deh. Oiya Mer, bilangin ke tante Davira. Dapet salam dari Aldrian yang ganteng hehe" ucap Aldrian sambil nyengir yang membuat Merlina berdecak sebal
"Iya iya. Dasar ke pedean!" ucap Merlina
"Ok gue pulang dulu" ucap Aldrian dengan senyuman menyebalkan khas Aldrian. Setelah Aldrian pergi, Merlina masuk ke dalam rumah dengan senyum merekah
---
"Kira kira Bedak Marina lagi apa ya?" pikir Aldrian
"Eh? Ngapain juga gue mikirin si Bedak" ntahlah. Aldrian sendiri juga tidak tau mengapa sekarang ia banyak memikirkan Merlina bukan Sabrina lagi
Apakah benar ketakutannya selama ini terjadi? Tapi tidak mungkin kan kalau Aldrian mulai memiliki rasa dengan Merlina
Aldrian mengusap wajahnya dengan gusar. Kenapa selalu bayangan Merlina yang muncul di benak Aldrian?
Aldrian pun keluar dari kamarnya menuju ke ruang keluarga. Terlihat Mama dan Papa nya bercanda ria di depan televisi
"Eh anak Mama yang paling ganteng" ucap Davina, Mama Aldrian sambil terkekeh yang membuat Papa nya menoleh
"Gantengan juga Papa" ucap Sturgeon, Papa Aldrian
"Papa kan udah tua, gantengnya juga udah pudar. Sekarang yang ganteng itu ya Aldrian lah" sahut Aldrian sambil menaik turunkan alisnya
"Hush kamu tuh! Gini gini banyak cewek yang nempel sama Papa loh" balas Sturgeon dengan percaya diri
"Oh gitu. Terus Papa juga ladenin? Hmmm berani gitu ya dibelakang Mama" geram Davina dengan mata tajam
"Eh enggak. Bukan gitu Ma" ucap Sturgeon
"Mama gak mau tau! Nanti malem Papa gak boleh tidur sekamar sama Mama!" ucap Davina lalu pergi menuju dapur
Sontak Aldrian tertawa terbahak bahak melihat wajah memelas sang Ayah tersayang
"Durhaka kamu sama Papa! Papa gusar gini kamu malah ketawa" ucap Sturgeon sengit lalu menyusul Davina di dapur yang membuat Aldrian tertawa semakin kencang
"Aduh punya Papa sengklek ya gini" ucap Aldrian menghentikan tawanya
---
Merlina sendiri tidak tau, mengapa ayahnya ini begitu sensi jika anak anaknya ingin berprofesi sebagai dokter. Terlebih lagi ayahnya ini menjadi pemarah setelah Nenek Merlina atau tepatnya ibu kandung William meninggalkan dunia untuk selamanya
"Sekali lagi ayah tanya sama kamu! Apa untungnya jadi dokter hah?!"
"Bisa menjadi pelindung yang memberikan pertolongan pertama bagi keluarga" batin Merlina dengan mata yang berkaca kaca. Tapi dengan sekuat tenaga, Merlina berusaha menahan air matanya
Merlina sendiri bingung mengapa ia ingin sekali menjadi dokter. Padahal dahulu, dia sangat ingin menjadi penulis hebat seperti Andrea Hirata dan Tere Liye
Mungkinkah ini semua karna Merlina begitu menyayangi Neneknya yang notabenya adalah Ibu kandung sang ayah? Neneknya memang meninggal karena buta dan stres yang terus menghantui tetapi anehnya Merlina malah ingin menjadi dokter spesialis anak
"Kenapa diem hm? Lagian ya, gimana kamu bisa mengobati pasien kamu kelak kalo kamu sendiri punya penyakit yang rawan?" sinis William. Ya, ayahnya benar. Merlina memang memiliki penyakit yang bisa dikatakan rawan karna pada dasarnya penyakit itu beresiko kematian. Tetapi apa salahnya jika Merlina berharap ingin menjadi dokter?
"Sudahlah. Ayah capek bicara sama kamu. Awas aja kalo kamu ketauan sama Ayah belajar tentang kedokteran kayak tadi! Ayah gak segan segan ambil seluruh fasilitas kamu!" ancam William lalu melenggang pergi
Selama ini memang Merlina belajar tentang ilmu kedokteran di sela sela kesibukannya dalam mempersiapkan ujian dan itu Merlina lakukan secara diam diam
Merlina mendongak. Air matanya sudah tak sanggup ia tahan. Setetes demi setetes air matanya pun turun
"Andai ada Bunda disini. Pasti Bunda bakal belain Merlina" gumam Merlina disela tangisnya. Merlina menarik nafasnya dalam dalam
Merlina beranjak menuju kamar dengan air mata yang semakin deras. Merlina berusaha tidak mengeluarkan bunyi bunyi yang akan membuat siapapun tau kalo dia sedang menangis. Merlina tidak ingin terlihat lemah
Tanpa diketahui Merlina, William mengintip dari balik pintu kamarnya
"Maafin Ayah nak. Ayah terpaksa" ucap William dengan suara lirih
Dikamar, Merlina terus menangis sambil menatap foto masa kecilnya yang berada di gendongan Nenek tercinta
"Nek, kenapa Nenek ninggalin Lina secepat ini? Nenek tau gak? Sekarang Ayah jadi pemarah sejak Nenek pergi" lirih Merlina
"Nek, Lina kangen Nenek. Nenek gak kangen Lina ya? Kok Nenek gak pernah datengin Lina di mimpi Lina aih Nek? Apa Nenek udah gak sayang lagi sama Lina?"
"Nek, Lina minta maaf kalo ada salah sama Nenek. Lina juga minta maaf karna sekarang, Lina jarang dateng ke tempat peristirahatan Nenek" Merlina menarik nafasnya dalam dalam
Ia tak sanggup melanjutkan ucapannya, tapi Merlina tidak menyerah. Ia berusaha agar semua yang ia simpan dapat keluar dari mulutnya dan tersalurkan pada sang Nenek tersayang
"Nek, Nenek tau? Lina selama ini merasa cuma Nenek yang menyayangi Lina setulus hati. Nek, apa 3 hari itu adalah pertanda yang gak Lina sadari?" Otak Merlina kembali berputar. Memutar kembali memori yang telah terpendam seiring berjalannya waktu
Memori yang begitu menyeramkan bagi Merlina kini terlintas di benak Merlina. 3 hari itu. 3 hari dimana saat Merlina home alone. Dan 3 hari itu juga ada sang pengetuk pintu misterius
TBC
Hayooo siapa nih pengetuk pintu misteriusnya? Sebenarnya apa sih yang terjadi?
Ikutin terus dong ceritanya
Jangan lupa vote and commentnya
Salam manis
-Author♡