
...17. ...
...TERLAMBAT...
...Is ze te onwetend, of ben ik degene die te veel om me geeft?...
...•••...
Senja sedang merebahkan tubuhnya di atas ranjang sembari membaca komik horor kesukaannya. Ponselnya yang sedang dia isi daya terus berbunyi berkali-kali, tetapi gadis itu tidak berniat untuk mengangkatnya. Dia malas bergerak menuju meja belajarnya tempat ponselnya berada
Karena si penelepon tak kunjung berhenti dan Senja juga jadi terganggu, gadis itu pun beranjak untuk mengangkat ponsel tersebut. Tanpa melihat siapa nama peneleponnya, Senja langsung menggeser tombol berwarna hijau ke atas yang ada pada layar ponselnya.
"Hal-"
"Siapa?"
"Gue, calon imam lo."
Senja menjauhkan ponselnya dari telinga. Ia melihat nama si pemanggil bertuliskan "Agum-nya Senja". Dia berdecak saat membaca nama yang tertulis tersebut.
"Sorry, gue enggak lihat."
"Gue tebak, lo pasti lagi baca komik-"
"Kenapa?"
"Lo enggak bisa diajak basa-basi banget, sih, Senja."
"Gue matiin, ya?"
"Eh, tunggu dulu! Gue, kan, belum ngomong."
"Cepatan ngomong!"
"Sabar, Senja, sabar. Yang sabar, pantatnya makin lebar, hahaha!"
"Enggak lucu!"
"Siapa yang ngelucu coba?"
Ingin rasanya Senja segera mematikan sambungan telepon tersebut.
"Besok pagi, lo gue jemput."
"Enggak bias. Gue-"
"Enggak usah banyak alasan, Rain besok berangkat bareng Arnav."
"Tau dari mana?"
"Karena gue udah nanya ke Rain duluan."
"Gue berangkat sendiri aja. Gue enggak suka telat."
"Gue tau. Makanya besok gue jemput jam enam pagi, biar lo enggak telat."
"Lo hampir setiap hari telat, ya, Gum."
Agum, yang notabenenya masih anak baru sudah berani telat, bahkan tidak hanya sekali atau dua kali. Alasan cowok itu juga selalu sama, "Mbok lupa membangunkan dirinya."
Basi.
"Kalau untuk lo, besok gue enggak akan telat. Gue enggak nerima penolakan."
"Emang sejak kapan lo mau nerima penolakan?"
Nyatanya, memang begitu. Senja sering menolak ajakan Agum. Ia juga sering mengusir cowok itu supaya tidak mengganggunya. Tetapi, yang namanya Agum, tetaplah Agum. Keras kepala.
"Itu lo tau .... Ngomong-ngomong, udah malam, nih. Sana tidur-"
Tuttt tuttt tuttt ....
Tanpa menjawab cowok itu, Senja langsung memutuskan sambungan secara sepihak. Tidak lama kemudian, ponselnya kembali bergetar. Kali ini ada pesan masuk.
[Agum-nya Senja]
Gak sopan ya lo
main matiin aja gak pake salam lagi.
[Me]
Lo, kan, nyuruh gue tidur.
[Agum-nya Senja ]
Ucap salam dulu baru matiin
[Me]
Lupa.
Assalamualaikum.
Puas lo?!
[Agum-nya Senja ]
Gak
Gak puas gue
Lo gak ikhlas
[Me]
Gue ikhlas, Agum.
Pokoknya, besok jam enam lo harus udah ada di depan rumah.
[Agum-nya Senja ]
Siap laksanakan
[Me]
Assalamualaikum, Agummm.
[Agum-nya Senja]
Nah gitu dong
waalaikumsalam Senja sayang
Mimpiin gue ya
Senja hanya membaca balasan Agum tanpa berniat ingin membalas. Dia lalu kembali melanjutkan membaca komiknya yang sempat terhenti gara-gara panggilan Agum yang menurutnya tidak penting.
***
Seperti janji Agum semalam, cowok itu benar-benar datang menjemput Senja. Tetapi, bukannya pukul enam pagi, cowok itu malah datang pukul tujuh pagi. Sebenarnya, Senja ingin langsung berangkat sendiri tadi. Namun, sialnya, ponsel Agum tidak bisa dihubungi. Alhasil, dia tetap menunggu cowok itu untuk menjemputnya.
Agum yang baru sampai di pekarangan rumah Senja memandang gadis itu dari atas sampai bawah. "Kok, lo pakai celana?"
"Biar lo enggak perlu pinjamin gue hoodie lo lagi."
Agum berdecak. Kebanyakan wanita akan sangat senang dan suka jika dipinjamkan jaket atau hoodie oleh pacar mereka. Tetapi, hal itu tidak berlaku bagi Senja Agnesia. "Cewek lain suka dipinjamin hoodie sama pacar, lo doang yang enggak."
"Ya udah, sana, lo pacaran sama cewe lain itu," balas Senja sembari memakai helm.
"Lo cemburu?"
"Apa itu cemburu?" tanya Senja balik.
Agum mencolek ujung hidung Senja yang mancung. "Sok-sokan enggak tau. Kalau cemburu, bilang aja."
"Apaan, sih? Cepet jalan!" Senja memukul pundak Agum keras agar cowok itu segera berhenti mengoceh.
"Masih pagi udah galak aja!" gumam Agum dari balik helmnya.
Agum segera menghidupkan mesin motornya untuk segera menuju sekolah sebelum Senja, pacarnya yang galak, jutek, dan dingin itu mengamuk.
***
Yang namanya Agum, tetaplah Agum. Kebiasaannya yang suka terlambat sampai kapan pun akan terus terlambat. Senja menatap pagar sekolah yang sudah terkunci rapat. Di pos satpam tidak ada yang menjaga, entah ke mana satpam yang biasa menjaga tersebut.
Senja beralih menatap Agum yang sedang menampakkan wajah biasa saja. Catat! Cowok itu tidak panik saat mengetahui bahwa pagar sudah dikunci. Dia malahan mengajak Senja untuk bolos saja.
"Santai aja, Sen, Bu Nurleli pasti belum masuk."
Bu Nurleli adalah guru Bahasa Inggris. Guru satu itu sering sekali terlambat masuk kelas. Kadang Agum merasa geram pada guru yang sudah tua itu. Jika Agum yang terlambat masuk kelas, pasti dia selalu dihukum. Ingin rasanya Agum juga menghukum guru itu jika terlambat masuk dalam kelas.
Senja tidak menanggapi Agum. Gadis itu sedang kesal saat ini. Jika di depan Senja ada batu, sudah pasti batu itu akan melayang di kepala Agum.
"Ayo ikut gue." Agum menarik lengan Senja setelah dia memarkirkan motornya di warung yang ada di depan SMA Eternity.
Senja yang sedang malas berdebat hanya menurut mengikuti cowok itu sampai mereka berhenti di belakang sekolah.
"Sekarang lo naik, biar gue bantuin." Agum menjulurkan tangannya agar Senja bisa menaiki tembok belakang sekolah yang biasa ia panjat saat terlambat.
Senja mengabaikan tangan Agum. Gadis itu lebih memilih untuk menarik kursi kayu rusak yang ada di sekitar situ. Kemudian ia menaiki kursi kayu itu untuk membantunya memanjat tembok itu sendiri, tanpa bantuan Agum.
"Ada untungnya juga pakai celana,' batin Senja.
Agum memandang tangannya sendiri, lalu dia kibas-kibaskan di udara."Gue lupa kalau pacar gue itu beda dari yang lain," gumamnya pada diri sendiri. Setelah itu, Agum mengikuti Senja yang sudah masuk dalam pekarangan sekolah.
***
Suasana di dalam kelas XII IPA 1 sama seperti biasanya. Ribut tak terkendali. Terlebih lagi, Bu Nurleli belum juga masuk, padahal bel sudah berbunyi dari sepuluh menit yang lalu.
"Senja sama Agum kok lama banget, sih, datangnya?" gerutu Rain untuk yang kesekian kalinya.
"Mereka, kan, naik motor. Masa kejebak macet juga, sih?"
"Agum, kan, emang langganannya terlambat," timpal Aber yang sedang menyalin PR Bahasa Inggris Syifa.
"Paling tuh bocah lagi ngajak Senja bolos," ujar David yang sedang merapikan meja guru yang berantakan karena ulahnya.
"Di kamus Senja, enggak ada, ya, yang namanya kata bolos." Rain menatap dua orang itu kesal. Terlambat saja Senja tidak suka, apalagi harus bolos.
Ceklek!
Mereka semua refleks melihat ke arah pintu yang terbuka.
"Pintu kenapa pake acara ditutup?!" gerutu Agum kesal.
Senja bernapas lega saat tiba di kelas karena ternyata Bu Nurleli belum masuk.
"Biar lo panik, lah!" balas Mahmud heboh.
"Gimana? Panik, enggak? Panik, enggak?" timpal David.
"Ya panik, lah! Ya kali enggak," sambung Aber. Mereka bertiga lalu tertawa senang.
"Siapa yang panik?" tanya Bu Nurleli yang sudah berdiri di ambang pintu.
Senja langsung menuju tempat duduknya.
"Eh, Ibu. Pagi, Bu. Makin cantik aja si Ibu," ujar Agum dengan cengirannya
"Bisa aja kamu, Agum," balas Bu Nurleli dengan malu-malu. Guru yang satu itu memang gampang dirayu dan dipuji. "Kamu baru datang?" tanya Bu Nurleli dengan lembut.
Agum mengangguk. "Saya duduk dulu, ya, Bu." Setelahnya, cowok itu segera duduk di kursinya.
Bu Nurleli lalu duduk di kursinya. "Yang tidak mengerjakan PR, silakan berdiri."
"Mampus gue!" batin Agum
Agum berdiri pelan. "Emm ... anu, Bu. Itu ... anu ... saya ...."
Bu Nurleli mengeryit, "Kenapa anu kamu?"
"Hehe, anu ... buku PR saya ketinggalan, Bu."
"Sekarang kamu hormat di lapangan!" perintah Bu Nurleli, tak terbantahkan.
"Tapi, kan, Bu-"
"Keluar sekarang!"
Percuma saja Agum memuji guru tua itu tadi kalau ujung-ujungnya dia tetap dihukum.
***
Rain sedang menunggu Arnav di depan perpustakaan sembari memainkan ponselnya. Cowok itu sedang mengembalikan buku yang dia pinjam. Tak lama, setelah melihat Arnav sudah keluar dari perpustakaan, Rain beranjak dari duduknya.
"Kayaknya aku enggak bisa antar kamu pulang," kata Arnav.
Rain mengernyit, "Kenapa?"
"Tadi Mama telepon, nyuruh aku jemput Nisa di rumah temannya. Soalnya Mama Nisa kecelakaan."
"Ya udah, enggak apa-apa."
Ingin rasanya Rain melarang Arnav, tetapi tidak mungkin. Nisa sedang tertimpa musibah. Dia harus mengerti sebagai teman sekolah. Rain juga tidak mau jika dia dan Arnav kembali ribut lagi hanya karena Nisa nantinya.
"Aku cariin kamu taksi, ya," tawar Arnav.
"Enggak usah, aku cari sendiri aja."
Arnav mengusap kepala Rain lembut. "Kamu enggak marah, kan?"
"Enggak, ngapain juga marah. Nisa, kan, lagi ada musibah," jawab Rain sambil tersenyum tulus. "Tapi, lain kali enggak bakal aku bolehin. Hari ini pengecualian."
"Maaf, ya," ujar Arnav tiba-tiba.
"Kamu hobi banget minta maaf. Sebanyak itukah salah kamu sama aku?"
"Banyak, Rain, banyak banget. Kalau lo sampai tau, belum tentu lo bakal maafin gue kayak biasanya," batin Arnav.
Arnav tersenyum tipis. "Pengen aja, biar kamu enggak marah."
Rain mengerucutkan bibirnya sebal. Sesering itukah dia marah? pikirnya.
"Ya udah sana pergi, hati-hati. Ingat, jaga hati juga," ujar Rain sembari menunjuk dada Arnav.
"Iya, aku pergi, ya. Nanti kalau kamu udah sampai rumah, kabarin aku."
Rain mengangguk sambil tersenyum.
Setelah Arnav pergi, Rain merogoh kantong rok sekolahnya, mengambil ponsel untuk menelepon seseorang.
"Halo, Kak? Kak Kevin di mana?"
"Lagi di jalan, baru pulang dari kampus."
"Kakak bisa jemput aku di sekolah, enggak?"
"Bisa. Kamu tunggu, ya."
Setelah sambungan telepon berakhir, Rain kembali memasukkan ponselnya ke dalam kantong, lalu melangkahkan kakinya menjauhi perpustakaan.
***
Senja menatap jengkel Agum yang sedang memboncengnya. Cowok itu sedang cosplay menjadi anak kecil yang sedang main motor-motoran atau sedang menjadi pembalap abal-abal tidak tentu arah.
Lihat saja sekarang, cowok itu mengendarai motornya dengan badan membukuk sekali ke depan layaknya pembalap, Sesekali, Agum juga memelankan laju motornya, tetapi kemudian ia rem lagi secara pelan. Begitu seterusnya sampai Senja bosan duduk di belakang cowok itu. Jika begini terus, kapan mereka sampai?
Senja memukul pundak Agum keras. "Agum, jangan bercanda!"
"Gue lagi enggak bercanda, gue lagi nyetir motor ini."
Senja menghela napasnya panjang. "Yang bener nyetirnya!"
"Ini gue udah bener, Senja. Kurang bener apa lagi coba?" tanyanya dengan tubuh yang makin membungkuk.
"Otak lo kurang bener!" batin Senja.
Senja kembali memukul pundak Agum berkali-kali dengan keras. "Berhenti!"
Agum menoleh ke belakang sebentar, lalu kembali fokus ke depan. "Apanya yang berhenti?"
"Motor lo!"
"Jalannya lagi rame, mana bisa berhenti."
Senja berdecak sembari memperhatikan jalanan. Jalan sesepi ini malah dibilang ramai, dasar Agum. Rasanya Senja ingin menjambak rambut cowok itu sekarang juga, tetapi tidak bisa karena cowok itu sedang memakai helm.
"Berhenti, enggak?!"
Agum akhirnya meminggirkan motornya dan berhenti.
"Lo turun," perintah Senja setelah dia turun dari atas motor Agum.
Agum menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuknya. "Siapa? Gue?"
"Iya, cepetan turun!"
Agum pun turun dari atas motornya, lalu digantikan oleh Senja yang langsung menaiki motor cowok itu."Cepetan naik!"
"Lo mau bawa motor gue? Serius?"
Bukannya naik, Agum malah bertanya. Agum lalu menggelengkan kepalanya cepat. "Enggak, enggak, nanti kalau motor gue lecet gimana?" Agum takut jika nanti Senja menabrak atau jatuh ke selokan. Bisa-bisa, motor kesayangannya ini jadi lecet gara-gara Senja.
Senja menatap Agum tajam. "Lo mau motor lo yang lecet atau lo yang lecet?" tanya Senja dengan nada mengancam.
Harusnya nama Senja diganti menjadi Senja si Tukang Ancam Agnesia. Agum baru sadar ternyata gadis yang berstatus pacarnya itu hobi sekali mengancam.
"Bagus guenya yang lecet, lah. Masa, motor gue?" Agum mengusap bagian depan motornya.
"Cinta pertama gue itu bunda, cinta kedua gue si Motor. Kalau lo, cinta ketiga dan terakhir gue."
"Gue enggak nanya," balas Senja sinis.
"Gue, kan, ngasih tau, biar lo bisa tau. Jadi, lo tau, walaupun gue cinta sama lo, gue lebih cinta sama motor gue," jelas Agum.
"Buruan naik!" Suruh Senja lagi, tidak sabaran.
Bukannya naik, Agum malah melihat ke arah kaki Senja. "Kaki lo pendek, Senja. Turun, biar gue aja. Gue janji bawa motornya serius. Lo juga bakal gue seriusin, kok. Jadi, lo tenang aja."
"Lo, kok, malah body shaming?" tanya Senja kesal. Untuk ukuran perempuan, Senja termasuk tinggi. Agum dan motornya hanya sedikit lebih tinggi daripada dirinya.
"Gue bukan body shaming, tapi kenyataannya emang gitu, kan?"
"Naik atau gue tinggal?"
Benar, kan, Agum bilang, pacarnya memang berbeda dari yang lain. Bisa-bisanya Senja mengatakan itu pada Agum, terbalik. Bukankah seharusnya Agum yang mengatakan hal tersebut pada Senja? Apalagi yang sedang Senja gunakan adalah motor Agum. Tidak sadar diri memang.
Agum akhirnya naik. Baiklah, kali ini Agum memilih mengalah pada Senja. Itu lebih baik daripada ditinggalkan di pinggir jalan seperti ini.
"Benar-benar lo, Senja."
Tanpa memberi aba-aba, Senja langsung menancapkan gasnya, membuat cowok itu sedikit terkejut. Lalu, ia pun refleks melingkarkan tangannya di pinggang Senja. Sementara Senja, gadis itu hanya mengabaikan Agum yang sudah menerutuki dirinya di belakang.
"Anjir, untung gue sayang sama lo, Senja," gerutu Agum.
To be continued
•••