
...18. ...
...DUKA...
...Aku sibuk merindukan, kamu sibuk menenangkan. Tetapi, anehnya, bukan aku yang kamu tenangkan....
•••
Duka sedang menyelimuti keluarga Nisa. Setelah beberapa hari Mama Nisa koma pasca kecelakaan yang dialami, wanita itu akhirnya dipanggil oleh sang Maha Pencipta hari ini. Pemakaman pun dilakukan di hari yang sama. Beberapa guru serta teman-teman kelas Nisa turut hadir di pemakaman untuk menguatkan gadis berambut sebahu itu. Senja, Rain, dan Agum pun juga datang. Mereka masih mengenakan seragam sekolah lengkap karena langsung ke pemakaman sehabis pulang sekolah. Tidak pulang terlebih dahulu.
Sementara Arnav, cowok itu sudah beberapa hari ini tidak masuk sekolah karena menemani Nisa. Bahkan, sekarang, di depan mata Rain, pacarnya itu sedang memeluk Nisa yang tengah menangis sembari mengusap nisan mamanya. Untuk beberapa hari ini, Rain mengalah dan membiarkan Arnav berada di dekat Nisa. Sebab, dia juga tahu bagaimana rasanya kehilangan salah satu orang tua. Tetapi, setelah ini, tidak akan dia biarkan Nisa dekat-dekat lagi dengan Arnav.
Setelah pemakaman selesai, orang-orang pun mulai berhamburan pergi meninggalkan area pemakaman. Begitu juga dengan Nisa yang akhirnya mau pulang setelah dipaksa oleh Papanya dan juga Arnav.
"Kalian duluan aja," kata Rain pada Agum dan Senja.
"Lo mau ke mana?" tanya Senja.
"Gue mau samperin Arnav bentar."
Senja mengangguk, lalu menuju parkiran bersama Agum.
Rain menghampiri Arnav yang berjalan di belakang Nisa dan juga Papa Nisa. "Arnav," panggil Rain saat ia berhasil meraih tangan cowok itu. "Kamu mau pulang?" tanyanya yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Arnav.
"Aku pulang bareng kamu, ya," pinta gadis itu.
"Aku enggak bisa antar kamu, aku harus antar Om sama Nisa pulang dulu."
"Ya udah, kamu, kan, bisa antar aku sekalian. Lagi pula, kita searah." Rain menatap Arnav, berharap cowok itu mengatakan “iya”.
"Rain, kamu tadi ke sini sama Senja dan Agum, kan? Pulangnya sama mereka juga, ya?" jawab Arnav lembut, berharap gadis berambut cokelat itu mengerti.
"Tapi, aku pengennya diantar kamu. Beberapa hari ini kita juga belum ketemu, kan? Aku kangen sama kamu."
Rain bukan egois. Hanya saja, dia sedang membutuhkan cowok itu. Selama beberapa hari ini, mereka belum bertemu, bahkan bertukar kabar saja tidak.
"Tolong, dong, kamu ngertiin aku kali ini aja. Aku harus nemenin Nisa, dia lagi butuh aku sekarang." Suara cowok itu terdengar seperti sedang memohon. Memohon untuk menemani gadis lain pada pacarnya sendiri.
"Aku juga lagi butuh kamu sekarang, Nav," batin Rain lirih.
Rain lalu mengangguk, mengiyakan apa yang cowok itu katakan.
"Enggak apa-apa, Rain, biarin aja. Nisa cuma teman Arnav, enggak lebih. Lo enggak boleh cemburu," batin Rain lagi. Dia berusaha meyakinkan dirinya sendiri meskipun rasanya sulit.
"Tapi, besok kamu sekolah, kan?" tanya Rain.
Lagi-lagi Arnav hanya memberi anggukan. Kemudian, ia beranjak pergi menghampiri Nisa dan Papa Nisa yang sudah menunggu di dalam mobilnya.
Rain menatap nanar punggung Arnav yang makin menjauh dari pandangannya. "Kenapa, sih, Nav? Makin hari, kamu makin jauh dari aku. Kamu kayak bukan Arnav yang aku kenal dulu."
Tanpa sadar, bulir air mata terjatuh. Cepat-cepat Rain menghapusnya dengan telapak tangan. Setelahnya, ia menghampiri Senja dan Agum. Dua orang itu pasti sudah menunggu lama.
***
Rain tidak menjawab Agum, gadis itu langsung masuk ke dalam mobil cowok itu. Setelahnya, Rain membuka kaca mobil sambil berkata, "Cepat masuk!" lalu dia tutup kembali kaca mobil tersebut.
"Dih, yang nunggu lama gue, kok, yang marah dia? Sepupu lo, tuh, Sen," Agum berdecak kesal. Senja lalu ikut masuk dan duduk di samping Rain.
"Lo, kok, duduk di belakang, sih, Sen?" tanya Agum.
"Lebih nyaman di sini," jawab Senja.
Agum menatap dua sepupu itu secara bergantian. "Lo berdua pikir gue supir lo apa?"
"Muka lo sama supir rada mirip," sahut Rain.
"Lo buta atau rabun? Asal lo tau, kata Bunda, gue anaknya yang paling ganteng," balas Agum dengan percaya diri.
Rain memutar bola matanya. Memangnya orang tua mana yang mengatakan anaknya jelek? "Ya pastilah bunda lo ngomong gitu. Lo, kan, anak satu-satunya."
"Itu lo tau." Dia sedang malas berdebat dengan Rain. Agum beralih melihat Senja. "Senja, lo duduk di sini, dong," pinta Agum sembari menunjuk bangku di sebelah pengemudi.
"Lo mau anter kita balik atau enggak?" tanya Senja dengan nada mengancam. "Kalau enggak, biar gue cari taksi aja."
"Untung gue sayang sama lo, Sen. Kalau enggak, udah gue tinggalin di pinggir jalan," gerutu Agum sembari berjalan cepat, lalu masuk ke dalam mobilnya kemudian menyalakan mesin mobil meninggalkan area pemakaman yang sudah mulai sepi.
***
Senja sudah menampakkan warna oranyenya yang cerah, pertanda hari sudah mulai sore. Matahari yang bertugas hari ini akan segera digantikan oleh bulan. Senja berlari menaiki anak tangga menuju sebuah kamar yang ada di sebelah kamarnya, kamar Rain. Senja langsung membuka pintu cokelat tersebut tanpa mengetuknya terlebih dahulu, membuat Rain yang tengah rebahan langsung mengangkat kepalanya terkejut saat melihat pintu yang dibuka secara tiba-tiba.
"Lo kebiasaan, ya, Senja," kesal Rain.
"Lupa, buruan ganti baju." perintah Senja pada Rain.
"Mau ke mana? Gue lagi malas keluar, lagi enggak mood juga." Rain kembali merebahkan tubuhnya. Kali ini, sambil memeluk bantal dan gulingnya. Kemudian dengan mata terpenjam, ia berkata, "Gue juga ngantuk, mau tidur."
"Ke rumah sakit, Rain," Senja mendekat ke arah Rain, lalu menarik bantal dan guling yang dipeluk gadis itu.
"Males, ih. Lo aja sana sendirian." Rain kembali memeluk gulingnya "Gue titip salam aja buat Kak Kevin sama Om Dokter."
"Rain!" Nada suara Senja berubah menjadi lebih tinggi dan hal itu sangat menyeramkan di telinga Rain. Jika nada suara Senja sudah seperti itu, artinya sebentar lagi gadis itu akan marah.
Rain bangun. "Isss! Oke, oke, ayo ke rumah sakit."
"Cepatan ganti bajunya, Kak Kevin udah lama nunggu di bawah." Setelah itu, Senja langsung keluar, tidak lupa ia tutup kembali pintu cokelat kamar tersebut.
To be continued
•••