Over Ons

Over Ons
Biologi



...12. ...


...BIOLOGI...


...Padahal aku tau jika kamu tidak menaruh perasaan. Tetapi bodohnya aku malah menaruh perasaan itu, dan mirisnya lagi aku kemudian berharap....


•••


Arnav sedang serius membaca buku. Entah buku apa yang cowok itu baca sampai tidak sadar jika Rain sudah duduk di depannya sembari menopang dagu dan menatap ke arahnya dengan wajah berbinar-binar.


"Lagi belajar aja ganteng banget," gumam Rain. Tetapi, tidak didengar oleh Arnav.


Arnav mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk membaca buku, lalu kembali menundukkan kepalanya. Tersadar akan sesuatu, Arnav kembali mengangkat kepalanya, menatap tajam Rain yang sedang tersenyum manis padanya.


"Kamu sejak kapan di situ?" tanyanya sedikit terkejut.


Rain mengangkat tangan kirinya yang dilingkari jam tangannya. "Sejak setengah jam yang lalu"


"Kenapa diem aja?"


"Sejak kapan aku bisa diem? Kamunya aja yang fokus banget baca. Baca buku apa, sih, emang?" Rain lalu mengambil buku yang Arnav baca tadi.


Rain membolak-balikan halaman buku Biologi tersebut dengan cepat. Tidak ada yang menarik di buku ini. Entah kenapa Arnav bisa sangat fokus tadi.


"Tadi di kelas udah belajar Biologi, ke perpus malah baca buku Biologi lagi. Sesuka itu kamu sama si Biologi ini?" Kelas Arnav hari ini memang memiliki jadwal pelajaran Biologi.


Arnav terkekeh. Rain seakan sedang cemburu pada buku Biologi sekarang. "Aku, kan, pengen jadi dokter, jadi wajar suka sama si buku Biologi ini."


Arnav memang memiliki cita-cita menjadi seorang dokter. Tetapi, cowok itu masih belum menentukan ingin menjadi dokter spesialis apa. Rain sempat menyarankan pacarnya itu untuk menjadi dokter spesialis ginjal saja. Tetapi, Arnav belum memutuskan pilihannya. Masih bingung, katanya.


"Lebih suka aku atau si Biologi?"


"Kamu," jawab Arnav cepat.


Rain kembali menopang dagunya, "Terus, kamu mau punya anak berapa nanti?"


"Kok, jadi bahas anak?"


"Sistem reproduksi, cara ****** membuahi sel telur, perkembangan dan pertumbuhan bayi dalam rahim. Itu ada di pelajaran apa?" ucap Rain bertubi-tubi.


"Biologi."


"Nah! Jadi, wajar, dong, kalau aku bahas anak. Soalnya berhubungan."


"Yang barusan kamu sebutin tadi, emangnya kamu ngerti?"


Rain menggeleng cepat.


"Belajar yang benar dulu, baru bahas anak"


"Belajar mah gampang," katanya enteng.


"Cita-cita kamu apa?"


"Masa kamu lupa, sih? Aku, kan, udah pernah kasih tau ke kamu." Rain mengerucutkan bibirnya sebal.


"Jadi istri aku?" tanya Arnav memastikan. "Itu bukan cita-cita, Rain."


"Sama aja. Cita-cita artinya impian dan harapan, kan? Impian dan harapan aku itu, ya, jadi istri kamu."


Arnav terkekeh kecil. Jika sudah berdebat seperti ini, Rain paling jago. Giliran sudah menyangkut pelajaran, gadis itu akan diam seribu bahasa.


"Kamu pasti belum makan makanya ngomongnya makin ngelantur."


"Emang belum, soalnya aku tadi langsung susulin kamu ke sini."


"Ya udah. Ayo ke kantin," ajak Arnav.


Rain merentangkan tangannya di depan Arnav, meminta cowok itu untuk menggandengnya. Tanpa menunggu lama, Arnav menggenggam tangan kecil gadis yang memakai blazer rajut warna merah muda itu hari ini. Senyum di wajah Rain makin terlihat cerah tatkala Arnav menggenggam erat tangannya. Mereka lalu berjalan beriringan menuju kantin.


***


Senja dan Agum sudah berada di kantin. Jika pasangan baru pada umumnya akan romantis, lain halnya dengan Senja dan Agum. Dua orang itu tampak sedang berdebat, lebih tepatnya Agum yang banyak bicara.


"Kemarin ngomongnya pakai 'aku kamu', sekarang 'lo gue'. Gimana, sih, lo, Senja."


"Lo juga sama!"


Agum menyengir, "Namanya juga belum terbiasa"


Senja memutar bola matanya malas. Kalau Agum saja tidak terbiasa, apalagi dirinya yang bahkan hampir tidak pernah berbicara menggunakan kata 'aku' dan 'kamu'.


Agum menggelengkan kepalanya heran. Gadis di depannya ini sangat suka dengan mie."Lo makan mie mulu. Lo tau, kan, mie instan itu enggak sehat?"


"Woi, Senja!" panggil Agum dengan suara besar.


"Kenapa, sih?" tanya Senja kesal, dia sangat merasa terganggu dengan suara Agum.


Agum menghela napasnya. Ia harus sabar. Beginilah risiko menyukai gadis cuek dan galak.


"Gue bilang, mie instan itu enggak sehat," ulang Agum.


"Iya, gue tau."


"Terus kenapa masih dimakan?"


"Karena gue suka."


"Kalau sama gue, suka juga, enggak?"


Agum memandang Senja penuh harap, berharap gadis di depannya ini menjawab "iya".


Cowok itu lalu meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Senja saat gadis itu akan bersuara.


"Sttt, enggak usah dijawab. Gue tau jawaban lo."


Agum jelas tahu Senja belum memiliki perasaan apa-apa padanya. Entah apa alasan gadis itu menerima Agum. Jujur, dia penasaran. Tetapi, dia tidak ingin mendengar jawaban dari Senja sekarang, takut gadis itu berbohong.


Namun, tidak apa-apa. Agum tahu Senja butuh waktu dan ia akan memberikan Senja waktu tersebut.


"Ekhem! Ekhem! Yang baru jadian, masih anget banget, nih!" Arnav yang mendengar perkataan Rain langsung menatap Senja penuh dengan pertanyaan.


"Ngapain lo berdua duduk di sini?" tanya Agum tidak suka. "Ganggu tau, enggak?!"


"Hellowww! Apa kabar sama lo yang kemarin-kemarin sering gangguin gue pas lagi pacaran sama Arnav?" balas Rain.


"Pede banget lo, orang gue gangguin Senja."


"Terserah lo, deh, terserah." Rain mengalihkan pandangan pada Senja, "Temenin gue, yuk, Sen!"


"Mau ke mana? Tadi kamu bilang laper?" tanya Arnav.


"Udah enggak laper. Ayo, Sen!" Rain menarik-narik lengan Senja tidak sabaran.


Setelah Senja dan Rain pergi, tatapan Arnav beralih pada Agum. Cowok itu menatap Agum dengan sinis.


Agum menaukan alisnya "Kenapa lo liatin gue gitu? Suka lo sama gue?"


Arnav tidak menjawab, cowok itu malah melenggang pergi.


"Kenapa, sih, tuh bocah?" gerutu Agum.


***


"Iya, Dok."


"....."


"Udah Senja coba."


"...."


"Terus gimana, dong, Dok?"


"....."


"Iya, iya, Dok. Makasih, Dok."


"....."


Setelah sambungan telepon terputus, Senja tiba-tiba dikejutkan oleh seseorang yang memegang bahunya dari belakang. "Agum?" Senja memegang dadanya, kaget.


"Lo lagi nelepon siapa? Dokter? Dokter siapa?" tanya Agum penasaran.


"Hah? Enggak, gue lagi telepon teman gue. Namanya Doki," jawab Senja asal.


Agum mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. "Rain ke mana?"


"Lagi ke toilet."


"Ya udah. Ayok ke kelas," Agum menarik tangan Senja untuk ke kelas bersama.


To be continued


•••