Over Ons

Over Ons
SENJA DAN ARNAV.



...10. ...


...SENJA DAN ARNAV....


...Tentang kita berawal dari pertolongan yang aku berikan padamu yang kemudian malah kamu salah artikan....


•••


Jam baru menunjukkan pukul 05.40, tetapi Arnav sudah bangun dan duduk di depan vila. Cowok itu memakai hoodie tebal karena hawa dingin daerah Puncak sangat menusuk sampai ke tulang. Cowok itu hanya diam memandang embun pagi yang sedikit menutupi pemandangan.


Ceklek!


Pintu yang Arnav tutup tadi kembali terbuka, memperlihatkan seorang gadis dengan rambut terkucir rapi. Ia mengenakan setelan joging yang dibalut dengan jaket tebal.


"Eh, lo udah bangun?" Senja sedikit terkejut melihat Arnav yang tengah duduk sambil memperhatikan dirinya.


"Mau ke mana?" tanya Arnav.


"Gue mau joging sebentar."


Arnav bangkit dari duduknya."Gue mau ngomong sesuatu sama lo."


Senja mengernyit, "Ngomong apa?"


"Enggak di sini."


***


Sudah hampir lima menit Senja dan Arnav berdiri di pinggir danau dan mereka berdia masih saja terdiam. Arnav belum juga membuka suara. Senja sesekali menoleh pada kekasih sepupunya itu, tetapi tidak ada tanda-tanda bahwa ia akan membuka percakapan lebih dulu.


"Mau ngomong apa" tanya Senja akhirnya.


Arnav menghembuskan napas pelan, kemudian ia memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong hoodie yang dia kenakan, lalu menatap Senja. Tepat di matanya.


"Mau sampai kapan lo-"


Senja yang paham ke mana arah pembicaraan Arnav langsung menyanggahnya cepat. "Kita udah pernah bahas ini, dan gue enggak mau bahas lagi."


"Gue enggak suka lihat lo dekat-dekat sama Agum," kata Arnav dengan nada suara yang terdengar jelas tidak suka.


"Gue dekat sama siapa pun,itu bukan urusan lo," Senja membalas dengan ketus.


"Jelas itu urusan gue, Senja," nada suara cowok itu mulai meninggi.


Arnav mendekat, lalu memegang kedua bahu Senja erat. "Lo tau, kan, gue masih cinta sama lo."


Senja menggelengkan kepalanya cepat, menepis tangan Arnav yang tanpa permisi berada di pundaknya.


"Lo gila? Lo pacar Rain, Arnav. Sepupu gue!"


"Rain, Rain, dan selalu Rain yang lo pikirin. Pernah enggak sekali aja lo mikirin perasaan gue? Gue tau, Sen, lo masih punya perasaan yang sama ke gue."


"Enggak. Gue udah enggak punya perasaan apa-apa sama lo," bantah Senja.


Munafik. Arnav tau betul Senja berbohong. Arnav sangat mengenal perempuan di depannya ini. Senja Felicia, gadis yang dia cintai sejak masih di bangku SMP dulu. Sampai akhirnya Rain muncul dan merusak semuanya.


"Kalau aja Rain enggak ada, kita pasti bisa sama-sama terus, kan, Sen-"


Plak!


Senja menampar Arnav dengan keras. Rain jelas tidak salah di sini, tidak seharusnya Arnav berbicara seperti itu di depan Senja mengenai sepupunya itu.


"Bisa-bisanya lo ngomong gitu di depan gue?!"


"Emang iya, kan, Sen?! Coba aja waktu itu lo enggak nyuruh gue nolongin dia, ini semua enggak bakal terjadi."


Senja terdiam. Ia kembali mengingat kejadian tiga tahun lalu, saat hari pertama mereka MOS di SMA LITA. Semua ini jelas adalah kesalahannya sendiri, bukan Rain. Rain tidak tahu apa-apa.


***


Siang itu, matahari sangat terik. Rain sedang dihukum keliling lapangan oleh salah satu panitia MOS karena gadis itu kembali berulah. Senja berusaha membujuk kakak seniornya untuk menyudahi hukuman Rain.


"Kak, biar saya aja yang gantiin Rain," pinta Senja lagi untuk yang ke sekian kalinya.


Kakak senior Senja dan Rain keheranan. "Dia yang salah kenapa kamu yang mau gantiin?"


Bug!


Senja menoleh ke arah lapangan yang sudah dikerumuni beberapa siswa-siswi. Senja dan kakak seniornya langsung berlari ke arah kerumunan itu. Ternyata, Rain sudah tidak sadarkan diri di sana.


"Rain, Rain, bangun!" Senja menepuk-nepuk pipi Rain. Gadis itu mengedarkan pandangannya, mencoba mencari sosok yang bisa menolong sepupunya. Selang beberapa detik kemudian, pandangannya berhenti.


"Arnav," lirih Senja.


Atas permintaan Senja, Arnav langsung menggendong Rain dan membawa gadis itu ke UKS. Setelah Senja mengoleskan minyak angin pada Rain, ia pergi keluar untuk membelikan Rain minum dan meminta Arnav menjaga sebentar sepupunya itu.


Saat Senja kembali, Arnav sudah tidak ada di sana. Sementara Rain, gadis itu juga sudah sadar dan tengah terduduk di atas ranjang.


"Lo dari mana?" tanya Rain dengan suara parau.


"Gue abis ke kantin, beliin lo minum." Senja membuka botol minum yang dia beli dan memberikannya pada Rain.


Rain meneguk minuman tersebut hingga tersisa setengah.


"Cowok yang nemenin gue tadi, dia yang gendong gue ke UKS, ya, Sen?" tanya Rain dengan wajah berseri, padahal mukanya sedang pucat.


"Iya, kenapa emang?"


Rain hanya menggeleng pelan dengan senyuman yang penuh arti.


Beberapa hari sejak kejadian Rain pingsan, gadis itu tak berhenti menanyakan Arnav. Ia bahkan berusaha mencari tahu tentang cowok itu. Tak lama waktu berselang, tiba-tiba Rain mengatakan bahwa dia menyukai Arnav. Niat awal Senja untuk memperkenalkan Arnav sebagai pria yang dia cintai kepada sepupunya itu pun diurungkannya.


"Kita udahan aja, ya, Ar," ucap Senja."Kita jangan ketemu lagi. Lupain semua perasaan kamu sama aku. Aku juga bakal lupain semua perasaan aku ke kamu."


Arnav jelas terkejut. Ia pikir, Senja mengajaknya bertemu untuk menjawab pernyataan cintanya beberapa hari yang lalu, tetapi ternyata tidak. Baru saja dia akan memulai status baru dengan Senja dari kata teman menjadi pacar, tetapi gadis itu malah ingin menyudahi hal yang bahkan belum mereka mulai sama sekali.


"Kenapa? Apa alasannya?" nada bicara cowok itu langsung berubah seketika.


"Rain, sepupu aku, dia suka sama kamu. Aku mau kamu balas perasaan dia."


"Enggak. Kamu enggak bisa nyuruh aku lupain kamu dan seenaknya malah minta aku untuk balas perasaan sepupu kamu itu."


Arnav mengerti dengan jalan pikiran gadis di depannya itu. Bisa-bisanya Senja menyuruhnya untuk menerima perasaan sepupunya yang sama sekali belum dia kenal.


"Aku mohon, kali ini aja kabulin keinginan aku, Ar. Cuma Rain yang aku punya. Aku mau dia bahagia."


"Kamu mau dia bahagia dengan cara ngorbanin perasaan orang lain gitu? Itu artinya lo egois Senja!"


Setelah mengatakan itu, Arnav pergi meninggalkan Senja yang sudah menangis. Senja ingin egois, dia ingin memiliki Arnav. Tetapi, dia tidak bisa.


"Maafin aku, Ar," gumam Senja lirih.


"Ini salah gue, Ar," lirih Senja. "Tapi, Rain tulus sayang sama lo, Ar. Selama tiga tahun ini apa enggak cukup buat lo untuk cinta sama Rain juga?"


Arnav menatap manik mata Senja. "Gue sayang sama Rain, tapi gue cinta sama lo Senja."


Egois memang. Tetapi, begitulah manusia.


***


Agum sudah duduk manis di meja makan sambil menikmati nasi goreng buatan Ratna. Sementara Ratna, setelah memasak sarapan tadi, dia kembali ke kamar untuk mandi dan bersiap-siap untuk pulang siang nanti.


Rain menghampiri Agum dan duduk di samping cowok itu, lalu mengambil nasi gorengnya.


"Enggak tau. Gue bangun, dia udah enggak ada. Senja mana?" tanya Agum juga. Ia sembari melihat ke arah pintu kamar Senja dan Rain.


"Gue juga enggak tau, kayaknya dia pergi joging," jawab Rain, kemudian ia memakan nasi gorengnya.


"Ngomong-ngomong, kenapa lo-mmh!"


"Kunyah dulu, Hujan!" perintah Agum karena Rain berbicara dengan mulut yang penuh dengan makanan. Kemudian, Agum menggeser air minum pada Rain agar lebih dekat dengan gadis itu.


"Kenapa lo kayak enggak suka gitu sama Arnav?" tanya Rain lagi setelah meneguk airnya.


"Gue masih normal makanya enggak suka sama cowok."


"Ih, bukan gitu maksud gue!"


"Lo mau tau?"


Rain mengangguk serius.


"Karena pacar lo itu-" Agum menggantungkan kalimatnya. "Kepo banget, sih, lo." Agum lalu kembali melanjutkan makannya.


Rain memukul pundak Agum keras. "Anjir, ya, lo, Gum. Gue udah serius juga."


"Hahaha! Lagian lo ngapain nanya begitu ke gue? Enggak penting banget."


"Ya udah, gue ganti pertanyaannya." Rain kembali menyuapi nasi goreng ke mulutnya sembari memikirkan pertanyaan untuk Agum.


"Nanya mulu, lagi wawancara lo?" protes Agum. Rain mengangkat sendoknya ke depan wajah Agum, mengisyaratkan agar cowok itu diam.


"Kenapa lo bisa suka sama Senja?" Kali ini, Rain menatap Agum dengan serius.


"Karena dia adalah Senja."


"Mana ada jawaban kayak gitu," gerutu Rain, kesal karena setiap pertanyaan yang ia berikan tidak dijawab dengan serius oleh pria beralis tebal itu.


"Ada, itu barusan gue jawab begitu," balas Agum. "Terus ngapain lo ajak gue ikut ke sini?" Agum bertanya balik.


"Biar bisa deketin Senja, dong. Kurang baik apa coba gue sama lo? Gue sampe bantuin lo biar bisa dekat sama Senja, padahal gue enggak suka sama lo," ujar Rain membanggakan diri sendiri.


"Lo kurang sopan sama gue. Lagian, yang minta bantuan lo siapa? Gue bisa sendiri, kok."


"Lo benar-benar enggak-" Rain tiba-tiba menutup mulutnya, lalu berlari ke arah dapur yang terdapat wastafel, kemudian memuntahkan isi perutnya.


"Huek! Huek! Huek!"


Agum yang melihat Rain muntah langsung menghampiri gadis itu. Ia membantu menahan rambut panjang Rain agar tidak terkena muntahannya sendiri seraya menepuk-nepuk punggung pelan gadis itu.


"Lo kenapa?"


"Gue enggak-huek! Huek!" Gadis itu kembali memuntahkan isi perutnya.


"Keluarin aja semuanya."


"Kayaknya gue masuk angina, deh," ujar Rain setelah muntahnya berhenti.


"Mana ada masuk angin muntah-muntah kayak gitu>" sanggah Agum. "Masuk angin tuh harusnya kentut-kentut."


Rain menerima tisu yang Agum berikan untuk mengelap mulutnya. "Enggak lucu!"


"Yang lagi ngelucu siapa coba?!"


"Rain, lo kenapa?" tanya Senja yang baru saja datang bersama Arnav.


Senja dan Arnav menghampiri Rain yang masih berdiri di dekat wastafel, lalu mereka berdua membantu memapah gadis itu untuk duduk di kursi meja makan.


Agum pun kembali duduk di tempatnya semula. "Abis muntah-muntah."


"Kok, bisa?" tanya Arnav pada Agum.


"Lo nanya gue?" Agum menunjuk dirinya sendiri, Arnav mengangguk. "Mana gue tau, emang gue dokter?" ujar Agum sewot.


"Lo apain? Kenapa bisa muntah" tanya Senja.


"Gue hamilin."


Senja, Rain, dan Arnav seketika membulatkan mata mereka.


"Bercanda gue, serius amat. Lo cemburu, ya, Sen?" Agum tertawa senang.


Senja tidak menjawab, gadis itu memilih fokus pada Rain.


"Gue enggak apa-apa, Senja," kata Rain pada Senja, berusaha menenangkan sepupunya yang terlihat sangat cemas itu.


"Enggak apa-apa gimana? Muka kamu pucat gitu," sela Arnav yang sudah duduk di sebelah Rain.


"Hamil kali lo, Rain," celetuk Agum dengan entengnya. "Lagian lo, sih, Nav, pacaran sampai tengah malem."


"Mulut lo mau gue gampar?" seru Senja galak.


"Kalau aja badan gue enggak lemes, udah gue tendang lo keluar dari sini."


"Tuh, kan, Rainnya lemas. Berarti beneran hamil."


"Lo kali yang hamil," timpal Arnav pada Agum.


"Kalau gue hamil, berarti lo bapaknya, ya?" balas Agum pada Arnav.


Senja kemudian mengajak Rain untuk masuk ke kamar supaya sepupunya itu bisa beristirahat daripada harus mendengarkan celotehan Agum yang tidak jelas dan tak akan ada habisnya. Setelah Senja dan Rain benar-benar masuk ke dalam kamar, Agum memandang Arnav penuh selidik. Agum pun memutuskan untuk mengikuti Arnav dari belakang. Ia fokus mengikuti Arnav yang ke dapur untuk mengambil minum sampai kembali ke meja makan. Setelahnya, Agum duduk di samping cowok itu.


Arnav menaikkan sebelah alisnya. "Lo ngapain ngikutin gue?"


"Abis dari mana lo sama Senja?"


Arnav meneguk minumannya hingga tandas. "Gue dari danau. Senja habis joging."


"Kenapa masuknya bareng?"


"Ketemu di depan pintu."


"Kok lo santai banget?" tanya Agum lagi.


Arnav mengeryit bingung. "Santai gimana?"


"Rain pacar lo, kan?"


Arnav mengangguk.


"Terus kenapa lo kelihatannya enggak cemas lihat dia sakit barusan?"


Arnav memutar bola matanya malas. Jadi, apakah dia harus heboh dan panik tidak jelas? Bukannya kelihatan cemas, malah jadi terlihat lebay menurutnya.


"Jadi, kalau gue cemas atau khawatir, lo harus tau gitu?"


"Ya enggak juga, tapi setidaknya muka datar lo itu harus bisa menunjukkan rasa-" Agum mengehentikan kalimat yang akan dia katakan.


"Oh, iya, gue lupa. Lo, kan, minim ekspresi."


Setelah mengatakan itu, Agum pergi meninggalkan Arnav sendirian.


To be continued


•••