
...11. ...
...JADIAN...
...Ketika rasa sedih dan rasa senang bercampur jadi satu. Sedih kemudian senang. Senang kemudian sedih. Sakit jadinya....
•••
Setelah melewati perdebatan yang cukup panjang, akhirnya Rain, Ratna, dan Agum pulang dengan satu mobil. Sementara Senja pulang bersama Agum, atas paksaan Rain tentunya. Mereka sudah dalam perjalanan pulang untuk kembali ke Jakarta. Selama perjalanan, tidak ada percakapan di antara Senja dan Agum. Agum fokus menyetir, sedangkan Senja fokus dengan ponsel di tangannya.
Agum menoleh, melihat Senja sebentar, lalu kembali fokus dengan jalan di depannya.
"Senja," panggil Agum.
"Hmm?"
"Kalau dipanggil, tuh, jawabanya, 'APA? IYA, KENAPA?' bukan, 'Ham, hem, ham, hem, doang." Agum menekan beberapa kata yang dia ucapkan.
Senja melirik Agum sebentar, lalu kembali fokus pada benda persegi di tangannya.
"Senja," panggil Agum lagi.
"Hmm?"
"Senja?"
"Apa?"
Agum langsung tersenyum mendengar jawaban dari gadis berponi yang duduk di sampingnya itu.
"Lo suka spageti, ya?"
"Iya."
"Lo sayang banget sama Tante Ratna?"
"Iya."
"Lo sesayang itu sama Rain?"
"Iya."
"Lo mau enggak jadi pacar gue?"
"Iya."
CHITT!
Agum langsung mengerem mobilnya dengan mendadak karena mendengar jawaban Senja. Apa gadis itu sadar dengan jawabannya barusan? Padahal, tadi dia hanya iseng. Tetapi, ternyata malah di terima.
"Lo mau mati?" maki Senja. Hampir saja kepalanya terluka. Jika saja tangan Agum tidak menahan bahunya, badannya sudah pasti akan terpental ke depan.
"Hah? A-apa? Lo sadar, kan, Sen, sama jawaban lo barusan?" tanya Agum tidak percaya.
"Lo pikir gue mabuk?" tanya Senja sewot.
"Jadi, lo sadar?"
"Berarti sekarang kita pacaran, dong?" ujar Agum heboh, "Kok, lo mau? Emm, bukan, maksud gue, apa alasan lo nerima gue?" tanya Agum dengan raut wajah berseri-seri.
"Lo butuh banget alasan?"
"Enggak juga, tetapi gue penasaran."
"Ya udah. Kalau gitu, enggak jadi."
Agum memegang tangan Senja. "Eh, jangan, dong. Baru jadian masa langsung putus? Kan, enggak lucu."
Senja tertegun melihat senyum yang terpancar di wajah Agum. Senyum itu terlihat begitu tulus. Apakah pilihannya menerima Agum sudah tepat? Pria di depannya ini sangat baik, Senja jadi takut menyakiti Agum. Tetapi, hanya ini satu-satunya jalan.
Drettt! Drettt! Drettt!
"Halo?"
"....."
"Iya, saya ke sana sekarang."
"....."
Setelah sambungan telepon, terputus raut wajah Agum berubah. Cowok itu buru-buru menyalakan mesin mobilnya kembali."Kita ke rumah sakit dulu. Bunda aku tiba-tiba drop," kekhawatiran terdengar jelas dari suara cowok itu.
Senja tidak menjawab. Gadis itu cukup terkejut mendengar pernyataan Agum barusan mengenai bundanya. Ditambah lagi, Agum tadi menggunakan panggilan 'aku', bukan 'gue'.
***
Sesampainya mereka di rumah sakit, ternyata sudah ada ayah Agum yang menunggu di depan pintu ruangan Bunda. Bersamaan itu pula dokter keluar dari ruangan Bunda.
"Gimana keadaan Bunda saya, Dok?" tanya Agum tidak sabaran.
Dokter tersebut menghembuskan napas pelan, lalu menjelaskan sedetail mungkin kondisi bundanya Agum saat ini. Bunda mengidap penyakit kanker otak stadium akhir dan kanker tersebut sudah menyebar ke berbagai jaringan otaknya. Di tambah lagi, bundanya Agum juga mengalami penyakit serangan jantung sejak tiga tahun lalu. Dokter kembali mengingatkan untuk tidak membuat Bunda terkejut atau mengatakan hal-hal yang bisa mengganggu pikiran Bunda nantinya.
Senja menatap Agum, gadis itu jadi bingung harus mengatakan apa. Agum yang ceria itu ternyata memiliki beban pikiran yang begitu berat untuk dihadapinya selama ini. Belum lagi kebenaran yang baru saja Senja ketahui bahwa ternyata hubungan Agum dan sang ayah tidak sebaik yang ia kira. Pantas saja, saat pertama kali menjenguk bundanya, Agum begitu berbeda saat berinteraksi dengan Ayahnya. Mereka terlihat asing saat itu.
Ternyata, ayah Agum pernah berselingkuh di saat kondisi bundanya sedang buruk-buruknya. Lalu, saat kondisi bundanya sudah membaik, wanita itu dikejutkan dengan kabar suaminya yang berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Hal itu membuat bunda Agum mengalami serangan jantung. Selama tiga tahun itu pula hubungan Agum dengan sang ayah tidak lagi berjalan baik. Agum kecewa dengan ayah yang selalu dia banggakan. Ayahnya memang sudah minta maaf dan sudah mengakhiri hubungannya dengan selingkuhannya itu, tetapi tetap saja, Agum sudah terlanjur kecewa.
Karena kondisi Bunda yang tidak stabil, mereka tidak diperbolehkan untuk masuk. Oleh sebab itu, Senja dan Agum duduk di kursi yang ada di depan ruangan Bunda. Sementara ayah Agum, ia pergi entah ke mana setelah perdebatannya dengan Agum tadi.
Agum duduk membungkuk sembari menautkan kedua tangannya yang ia letakkan di atas lutut. Senja ingin menghibur Agum, tetapi ia bingung bagaimana caranya. Setelah hanya diam memperhatikan Agum beberapa menit, Senja meletakkan tangannya di atas kedua tangan Agum yang bertaut.
"Aku takut Bunda kenapa-napa," lirih Agum sangat pelan, tetapi tetap dapat didengar jelas oleh Senja.
Senja mengeratkan genggamannya. "Enggak perlu takut. Bunda kamu pasti baik-baik aja. Bunda kamu udah bertahan sampai sejauh ini, itu artinya dia pasti bisa lewatin ini semua, kan?"
Senja tidak tahu, entah apa yang mendorong dia untuk mengatakan itu pada Agum, bahkan menggenggam tangan cowok itu juga. Tetapi, Senja paham betul bagaimana perasaan Agum saat ini. Hanya saja, kondisinya berbeda. Kala itu, Senja pernah di posisi ini, saat kehilangan papa dan juga mamanya. Senja kembali mengingat orang tuanya. Sudah lama dia tidak datang ke makam kedua orang tuanya itu.
Agum membawa Senja dalam pelukannya, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher gadis itu. Tenang dan damai. Itulah yang Agum rasakan saat ini, apalagi saat Senja juga membalas pelukannya.
To be continued
•••