Now

Now
BAB 14 - kisah cinta silvi



"Gue rasa dia juga suka ke lo"


"Gue harap begitu,lu gaakan nyeritain kisah lo?"


"Nanti aja deh besok malam gimana?udah malem besok kerja"


"oke boleh"


"gue anter ke rumah lo ya"


"boleh"


Gue pun pulang di anter oleh silvi.Gue pun sampai di depan rumah.


"bentar bentar ko gue kaya tau tuh mobil,dito?"


"iya gue serumah"


"what serius ko bisa"


"nanti gue ceritain deh tapi jangan bilang anak anak kantor ya sara pun kayanya gatau kalau dito tinggal di rumah gue"


"yaudah,babay"


"bay"


Gue pun masuk rumah gue liat dito lagi mengerjakan sesuatu di shofa.gue pun ikut duduk di shofa


"om ngerjain apa?"


"ini tadi belum beres"


"ohh,mau lii bantu"


"gausah mending kamu istirahat aja cape besok kerja lagi"Menepuk nepuk kepala gue


astaga pengen kaya gini terus gue,gue pun tersenyum dengan tingkahnya dan terburu buru kekamar untuk tidur.


"tidur nyenyak gue"


Paginya gue berangkat bareng ayah karena dito berangkat terlebih dulu untuk mempersiapkan meeting hari ini.


"Bun kenapa dito duluan kan harusnya lii yang nyiapin kenapa ga dibangunin?"


"Bunda juga udah kasih saran buat bangunin kamu tapi katanya ga tega biarin aja"


Gue pun terdiam kadang suka bingung pagi ini dia uwu siang nya kaya kutub malem nya uwu paginya kaya kutub . Secepat itu mood dia berubah.


***


"Power poin yang kamu buat sudah selesaikan"


"sudah"


"oke ayo"


Katanya gue dan dito kali ini bakal ngadepin seseorang yang sangat sangat terhormat pemilik perusahaan terbesar sebandung raya.


Gue pun nunggu di dalam ruangan,kali ini ayah ga ikut meeting dia sedang berkomunikasi dengan bagian pemasaran yang sebentar lagi akan ada produk launching.


Akhirnya datang 3 orang pria yang ternyata salah satunya adalah vero.Dia tersenyum melihat gue seneng dong gue ternyata kerjasama sama perusahaan sahabat gue sendiri.


Presentasi pun telah selesai dan mereka pun setuju untuk bekerja sama dengan perusahaan gue dan menanda tangani kontrak nya.kitapun saling berjaba tangan.


"Gue tunggu lu di luar"ujar vero


"oke"


akhirnya selesai juga.


"pa dito, boleh ga saya bertemu teman saya di luar"


"boleh silahkan"


Gue pun menghampiri vero di luar


"lahh ko bisa sihh lu kerja sama,sama perusahaan gue"


"Om gue ko bukan gue,ternyata selain ganteng vero juga berwibawa ya.presentasi gue di kelas aja kalah sama dia"


"nahh lo tu tau haha"


"sialan,gaakan ngasih tau gue ruangan lo yang mana?"


"boleh ayo"


Gue dan vero pun berkeliling kantor dan akhirnya berhenti di kantin dan masih kosong karena jam istirahat masih setengah jam lagi.


"oke juga perusahaan lo"


"perusahaan bokap gue kali"


"Gimana lo udah punya temen kerja disini"


"Ada"


"yahh gue tersaingi"


silvi pun menghampiri gue dan vero


"elo"


"elo"


"kalian saling kenal?"


"dia itu mantan temen gue cuman temen gue udah meninggal" ucap vero


"masih pacar bukan mantan" sanggah silvi


"ko bisa beda gitu ceritain dong ke gue"


"jadi dulu gue pacaran sama temenya vero bernama andy kita dulu satu smp cuman vero aja yang beda SMA,gue dulu lagi berantem sama andy adu mulut di WhatsApp sampai akhirnya dia telponan sama gue minta maaf soal kesalahan dia gue gatau kalau dia lagi sakit gue kekeh ga maafin dia terus gatau kenapa dia matiin telponnya tiba tiba.Dan kata ibunya dia terjatuh saat lagi telponan di tangga dia terjatuh ke bawah sampai ada pendarahan di kepalanya dan takdir berkata lain dia ninggalin gue .gue nyesel banget coba aja gue dulu ga rewel"seketika silvi meneteskan air matanya


"maafin gue nyuruh lu cerita"


"gapapa ko lii,itu kenapa gue belum bisa buka hati"


"ahaa kenapa kalian ga coba deket gitu"goda gue


"gamungkin belum bisa gue lupain"


"apaan si lo"


"yaudah kalian berdua disini aja gue ada kerjaan"


Niatnya si gue mau ngecomblangin silvi sama vero semoga aja berhasil.


Gue pun kembali ke ruangan gue.


"siang pa,udah makan?"


"belum"


"yaudah gih sana ke kantin dulu"


"kamu ga makan?


"udah tadi sama temen"


"ko ga nawarin saya?"


"ya ga inget"


"cihh"dia pun beranjak dari tempat duduknya pergi ke luar ruangan.


Hari pun terus berlalu udah 3 hari ini dito dingin banget ke gue.dia cuman ngasih gue kerjaan dan berbicara hanya seputar pekerjaan.Gue bingung perasaan gue ga punya salah apapun sama dia.Mungkin mood dia lagi ga baik kali ya.


...- sara-...


"Lii lu mau nemuin gue ga jam istirahat di kantin?"


^^^"Boleh"^^^


ada apa tumben dia ngechat gue ngajak ketemu.


"hay lii"


"hay ka sara,kenapa?"


"gue mau cerita boleh?"


"boleh"


"sebenarnya gue sering sakit hati liat kedekatan kalian tapi masih bisa gue kontrol tapi gatau kenapa akhir akhir ini dia ga pernah lagi balas chat gue bahkan ngobrol secara langsung itu udah gaada"


"sama ko ka sara emang om dito akhir akhir ini sibuk banget,aku aja sekertaris nya jarang bicara sama dia"


"tapi lu ga suka kan sama dito?"


"emm gimana ya ka kalau suka si mungkin iya"


"jadi lo selama ini suka ke dito?"


"sebenernya lii suka jauh sebelum dia di kenalin sama ka sara"


"cihh sialan"


"lii gamau sebenarnya bilang lii suka tapi semakin lii mendem ke ka sara,samakin sakit hati lii dengan curhatan ka sara"


"kenapa ga bilang dari awal"


"lii selalu pengen bilang tapi lii takut bakal ngelukain hati ka sara tapi ternyata hati lii juga sakit kalau ka sara gatau gimana perasaan lii.Bagai mana lii gabaper dito selalu buat lii nyaman di deketnya"


"sialan baru nemu gue temen se brengsek lo,tapi gaapa apa kita bersaing secara sehat"


"lii gasuka bersaing,lii cuman mau ikut alur kemana li harus berjalan.kalau semisal dia milih ka sara lii ikhlas ko gapapa selagi lii masih punya jalan buat kehidupan lii bisa terus maju"


Dia pun pergi meninggalkan gue,gatau apa yang gue bilang itu bener atau salah setidaknya gue udah jujur ke diri sendiri dan dia.Tapi gue ngerasa gue bajingan bisa bisanya gue nusuk dia dari belakang.Tapi gue ikhlas kalau semisal emang mereka berjodoh gue sadar saat denger cerita silvi


'yang paling sakit itu ketika ditinggalkan dengan sebenar benarnya ditelan oleh tanah,bahkan hanya ingin sekedar melihat wajahnya itu menjadi hal yang mustahil'