
Laki-laki itu masih menatap tajam kearah Afi yang masih bersimpuh disana.
"Kau..., "
Namun laki-laki tersebut tidak melanjutkan perkataannya. Dia tahu, dia sangat dikenal oleh masyarakat kota Tanjung Karang disana sebagai seorang penerus perusahaan terbesar di Indonesia.
Terlebih sekarang ini dia berada di cabang toko perusahaannya. Dia tidak mau membuat masyarakat yang mengenalnya dengan baik berubah menjadi menilai dia sebagai laki-laki yang keras dan tak punya perasaan karena membentak seorang gadis di hadapan umum.
"Siapa dia? "
Bisikan salah satu pengunjung bazzar disana tak sengaja didengar oleh telinga laki-laki bergelar professor tersebut.
"Kau tak kenal dia? Dia anak dari Pak Arjuna Aldebaran pemilik perusahaan Gramedia se Indonesia tau! Namanya Galang Aldebaran, bukan?!"
Bisik pengunjung lainnya menjawab.
Laki-laki itu berusaha untuk mengontrol amarahnya. Dia kemudian mengulurkan tangan kanannya ke arah Afi dan sedikit membungkukkan tubuhnya. Bermaksud untuk membantunya berdiri.
Bersamaan dengan itu, datang seorang wanita berumur 22 tahun, rambut bergelombang hitam dibawah bahu, berbaju dress mini merah tengah memanggil professor.
"Galang! "
Otomatis pandangan Afi dan Profesor teralih ke sumber suara.
Afi cepat mengalihkan pandangannya lagi pada tangan Profesor yang masih mengulur. Dan Afi berkata,
"Ah, maaf. Pak."
Pandangan Profesor itu kembali menengok ke arah Afi.
"Saya masih mampu berdiri sendiri. "
Lanjut Afi mulai berdiri.
Profesor menarik tangannya yang sengaja dia ulur tadi dan menegakkan tubuhnya.
"Anak ini memang kurang diajari bagaimana menghargai bantuan orang lain. "
Batin Profesor langsung mengerutkan dahinya. Merasa begitu marah dibuatnya.
"Sayang.. "
Panggil wanita 22 tahun tadi lagi sambil berjalan menghampiri Profesor.
Hingga wanita itu sampai disamping Profesor, dia langsung memegangi tangan Profesor seraya berkata,
"Galang sayang~ Kenapa kau malah inisiatif membantu gadis itu untuk bangun? Dia kan masih bisa bangun sendiri loh!~"
Rengek wanita itu dengan nada manja pada Profesor.
Profesor tidak menggubrisnya. Dia masih lamat-lamat menatap wajah Afi.
Afi hanya diam terpaku. Wajahnya sedikit menunduk kebawah.
"Sabar, Afi. Menghadapi orang bermesra-mesraan begini kamu sudah ahli. "
Batin Afi dilanjut menelan air liurnya.
Wanita itu sadar bahwa Profesor terus memandangi wajah seorang gadis dihadapannya.
"Sayang~ Kenapa diam saja? Paling tidak kamu marahi dia supaya dia lebih berhati-hati lagi. "
Profesor masih diam.
Wanita itu langsung berbicara pada Afi dengan nada meninggi,
"Heh anak kecil! Lain kali hati-hati kalau jalan! Sudah punya sepasang mata dan sepasang kaki pun kau masih menabrak orang sampai jatuh begitu! "
Afi masih terdiam. Peristiwa dirinya dipermalukan untuk yang ketiga kalinya. Pertama karena laki-laki teman SMP nya dulu, kedua karena ayahnya, dan ketiga karena sesosok laki-laki yang terbilang penting serta terkenal dikalangan masyarakat Kota disana.
Semuanya karena laki-laki.
Kata-kata dari mulut Afi tiba-tiba saja terlontar,
"Lagi pula yang jatuh bukan dia saja. Aku juga ikut terjatuh. "
Lirih Afi menatap kosong kebawah. Kata-kata itu tak sengaja saja terlontar dari mulut Afi. Afi cepat-cepat menutup mulutnya karena sadar apa yang baru saja dia ucapkan.
Afi menghadapkan wajahnya ke depan. Terlihat Profesor dan juga wanita itu tengah memasang wajah marah padanya. Mereka menatap tajam kearah Afi.
Afi kembali menelan ludah. Namun sekarang ini dengan kasar. Keringat dingin mulai keluar dari tubuhnya. Mengucur dari dahi dan mengaliri pelipisnya.
"Berani sekali kau melawan perkataanku!! "
Wanita itu tambah geram.
"Sudah tidak langsung meminta maaf, ini malah berani menatapku dan Profesor! Cepat minta maaf dan berlututlah!!! "
Perintah wanita itu.
Afi masih diam dan menatap kedua orang dewasa didepannya.
Wanita itu melanjutkan dengan nada suara yang keras,
"KALAU TIDAK MAU KAU HARUS MERASAKAN AKIBATNYA!!! "
Dia mengangkat tangannya dan tangan itu bersiap untuk menampar wajah Afi. Cepat-cepat Afi memejamkan matanya dan menunduk.
"Vina! "
Ucap Profesor sambil mencegah tangan wanita itu untuk menampar wajah Afi.
Sontak wanita yang dipanggil Vina terkejut. Tidak menyangka perbuatan pembelaannya terhadap Profesor malah dicegah oleh Profesor itu sendiri.
"Siapa perempuan itu? Pacar Profesor? Keras sekali dia. "
Bisikan pengunjung wanita lagi-lagi terdengar ditelinga Profesor.
Afi membuka matanya perlahan. Merasa bahwa dirinya terselamatkan dari tamparan wanita yang baru saja dia jumpai itu.
Vina kemudian menatap wajah Profesor yang ber-aura tidak mengenakan.
Profesor melepaskan tangannya.
"Jangan memperpanjang masalah. "
Tambah Profesor lagi.
"T-tapi sayang, "
"Sudahlah, ayo kita segera masuk ke mobil. "
Sebelum meninggalkan tempat, Profesor menatap tajam kearah Afi sedetik, dan pada detik selanjutnya dia melangkah pergi serta diikuti oleh Vina.
Vina juga ikut menatap tajam kearah Afi. Didalam hatinya benar-benar telah dia tumbuhkan sebuah dendam pada seorang gadis kecil yang membuatnya merasa bahwa sikap Profesor menjadi aneh kala itu.
Sebab kali ini aksi pembelaan Vina dihadang oleh Profesor sendiri. Sebelumnya, Profesor tidak pernah menghadang perbuatannya walau sampai menampar seorang wanita.
Setelah mereka berdua pergi dan dilanjutkan oleh pengunjung yang ikut berkerumun sedari tadi mulai menghambur kembali ke aktivitas masing-masing.
Crysta yang tadinya kedalam toko untuk melakukan pembayaran, kini sudah berada di dekat Afi.
"Ya Allah, Afi. Apa itu tadi?"
Crysta langsung melontarkan pertanyaannya.
"Hmm, lupakan. "
Afi tak melanjutkan.
Afi mengalihkan topik sembari melihat sekantung plastik putih berisikan buku-buku dan struk yang sudah tertempel diplastik.
"Iya, Afi. Sebab yang mengantri banyak sekali. Oh, iya. Buku Pengetahuan Sastra Inggrismu mana? Ketemu? "
Afi mengalihkan pandangan matanya kesamping dan menjawab,
"Tidak jadi aku beli deh. Nanti saja. "
"Hmm, baik lah kalau begitu, Afi. Yah, walau agak disayangkan sih, tapi mau gimana lagi itu keputusanmu sendiri."
Crysta bicara menatap lantai gedung.
"Eh, ngomong-ngomong tadi juga aku melihat hampir seluruh pandangan tertuju padamu dan kedua orang dewasa yang berada di hadapanmu. "
Sahut Crysta tiba-tiba.
"Kau tidak melihat kejadian sebelum wanita dewasa itu menghampiri? "
Crysta mengernyitkan dahi merasa bingung karena dia tidak mengetahui kejadian apa sebelumnya.
"Sebelum wanita dewasa tadi mengahampiri? kejadian? kejadian apa, Afi? "
"Sudah, sudah, nanti saja kuceritakan. Kita tidak usah berlama-lama disini! "
Afi sengaja mengalihkan topik dan langsung meraih lengan Crysta. Tanpa berlama-lama, Afi bersama Crysta langsung bergegas meninggalkan tempat itu.
****
Waktu dipercepat hingga Afi sampai dirumahnya pada pukul 17.35 WIB. Dia benar-benar lelah dengan perjalanannya hari ini. Tidak, bukan hanya lelah. Namun sampai membuat otaknya terus menyangkut peristiwa ketika dia dibazzar tadi sore.
"Selfhealing yang tertunda."
Batinnya.
Namun dia telan pahit-pahit peristiwa tersebut, dan terus dia usahakan agar menghilang dari benaknya secara permanen.
Setelah dia bersih-bersih tubuh dan usai solat isya, Afi langsung membaringkan tubuhnya ke kasur. Begitu nyaman dan nikmat dia rasakan malam itu. Aliran darahnya begitu tenang dalam tubuh, serta deru nafas yang teratur.
Diikuti oleh suasana malamnya yang sunyi dan damai. Hanya ada suara TV yang ibu Afi tonton. Sedangkan ayahnya sedang lembur kerja menjadi mekanik disebuah bengkel montir di Kota Tanjung Karang, sementara kedua adiknya sudah tidur.
Nyaman dan tenang sekali dia rasakan. Namun tiba-tiba saja kejadian tadi sore hadir kembali.
"Aduh! Kenapa otakku selalu saja berorientasi untuk memutar kejadian-kejadian gak enak begitu sih! "
Ucap Afi mengaduh sembari memegangi kepalanya.
Tak lama waku berselang, ibu Afi mengetuk pintu kamar Afi.
Tok tok tok
"Afi.. "
Panggil sosok ibunya lembut.
"Eh, iya, Bu. Masuk saja. "
Jawab Afi sambil memastikan keadaannya baik-baik saja dan duduk dikasurnya.
"Ingat, Afi. Afirmasi dirimu! Kamu harus membuat ibu bahagia melihatmu! Jika kamu tersenyum maka ibu juga tersenyum! "
Batin Afi meng-afirmasi dirinya untuk terus semangat sambil mengepalkan kedua tangannya didepan dada.
Ibu nya langsung membuka pintu kamar. Perlahan masuk kekamar Afi, dan duduk di ranjang kasur Afi.
Afi menampakkan selembar senyum hangatnya. Menampilkan bahwa dia benar-benar sangat menyayangi ibunya dengan ketulusan.
Walau dia tau, sebuah senyuman saja belum cukup untuk membalas limpahan jasa sesosok wanita hebat yang tengah membesarkannya dan membuatnya menjadi wanita yang terus berprogres.
Ibu Afi membalas senyuman hangat itu.
Beliau pun berkata,
"Maaf ibu mengganggumu, Afi. Ibu hanya ingin menatap putri pertama ibu dimalam terakhir putri tersebut tidur ditempat ini. "
Afi melemahkan senyumannya. Kata-kata ibu tersebut membuat hatinya tersentuh.
"Kok senyumannya luntur begitu. Jangan sedih dong. "
Ucap Ibu Afi sembari meraih tangan anaknya.
"Kamu besok sudah pergi ke kost-an untuk kau tinggali. Kau pergi juga perihal menuntut ilmu dan meraih cita-cita besarmu. Lagi-lagi cita-cita yang ingin kau capai itu untuk orangtuamu, kan. "
Ibu masih melanjutkan,
"Ibu sangat berterima kasih padamu, Nak. Sudah bersungguh-sungguh bertanggungjawab menjadi anak perempuan pertama dikeluarga kita. Usahamu itu sudah cukup membuat ibu bahagia. Ibu ga perlu uang darimu, Nak. Walau itu hasil dari kerjakerasmu. Pakailah uang itu untuk kebutuhan mulai sendiri."
"Ngga begitu dong, Bu. Harus kasih! "
Sahut Afi makin melunturkan senyumannya.
Ibu Afi terkekeh kecil dan mengelus kepala putri pertamanya,
"Afi sudah hebat menjadi anak cerdas dan mendapatkan beasiswa untuk biaya sekolah selama SMP, SMA, bahkan ketika mau masuk kuliah saat ini. Itu sudah sangat membantu meringankan beban orangtuamu, Nak. "
Ibu Afi melepaskan tangannya dari kepala anaknya.
"Yasudah, cepat istirahat. Besok kamu harus bangun pagi-pagi untuk menyiapkan barang-barang yang ingin kamu bawa. "
Afi langsung tersadar bahwa besok juga dia akan langsung pergi ketempat kost nya dan menata barang-barang bawaannya disana.
"Baik, Bu. Afi mau tidur dulu ya. Ibu juga, istirahat dan jangan terlalu memikirkan Afi, Ya! Afi sudah besar loh sekarang~"
Afi kembali menampakkan senyumannya sambil menyilangkan tangan kedepan dada.
Ibu Afi terkekeh kecil lagi.
"Sebesar apapun angka usiamu, kau ibu anggap masih seperti seorang gadis kecil. "
Ibu melanjutkan lagi,
"Ibu pergi tidur ya, Afi. "
"Iya, Bu. "
Afi dan ibunya bertukar senyuman. Dilanjut ibu Afi yang langsung pergi keluar dan menutup pintu kamar Afi.
Afi menghela nafas dan berkata,
"Oke, Afi. Besok kau harus menghadapi tantangan hidup lagi! "
Sontak ingatan tentang Profesor yang Afi temui tadi sore kembali terputar.
Wajah Profesor yang selalu terlihat marah dan tidak mengenakan ketika sesorang melihatnya.
"Eh, tapi tadi dia.. "
Batin Afi ketika teringat sikap peduli Profesor tersebut
Tentang Profesor yang mengulurkan tangannya untuk membantu Afi berdiri. Afi masih ingat wajah itu. Putih bersih, teduh, dan wajah yang menghangatkan dikala menampilkan wajah yang tidak sedang marah.
Afi langsung menjatuhkan tubuhnya tengkurap. Menenggelamkan nya ke bantal yang empuk sambil menekan pelan kepalanya dengan kedua telapak tangannya.
"Ah, kacau! Kau memikirkan apasih, Afi! "
Pekik Afi pada dirinya sendiri dengan pipi yang memerah.