NICE TO MEET YOU IN JANNAH

NICE TO MEET YOU IN JANNAH
EPISODE 13 FLASHBACK (Please, Someone Save Me!)



Afi keluar mobil dan menutup pintu mobil. Terlihat cukup ramai orang-orang berpakaian formal disana. Dia melihat laki-laki misterius itu melepas hoodienya lalu dia serahkan pada seorang wanita cantik disampingnya. Laki-laki itu tampak masih berumur 19-20 tahun. Masih muda. Begitu juga dengan wanita disampingnya, nampak berumur antara 18-20 tahun.


"Apa keadaanmu mendingan? "


Tanya wanita tersebut sembari menatap laki-lakinya yang nampak tidak memerdulikannya.


Laki-laki itu membalikkan tubuhnya kebelakang, kearah Afi.


"Apa yang kau lihat, bocil? Ayo ikuti aku! "


Perintahnya.


Tanpa pikir panjang, Afi mengikutinya dibelakang. Wanita cantik tadi melirik sinis pada Afi. Afi hanya berjalan sambil menundukkan kepalanya. Merasa sangat malu, bingung, dan juga cemas bercampur jadi satu.


Dia mencemaskan orangtuanya dirumah, takut orangtuanya pula mencemaskan dirinya.


Afi masih mengikuti si laki-laki misterius. Hingga, sampai didepan pintu utama lantai dasar gedung, nampak seluruh karyawan yang tadinya duduk mengerjakan pekerjaan masing-masing dipc mereka, kemudian berdiri dan memberikan rasa hormat serta sapaan hangat.


"Selamat sore, pak Professor. "


Ucap mereka hampir bersamaan.


"Professor? jadi laki-laki ini seorang Professor perusahaan Gramedia? "


Batin Afi tidak menyangka.


"Sepertinya orang itu dihormati sekali, setinggi apa pangkat seorang Professor di Perusahaan Gramedia? Apakah dia yang tertinggi? Oh, Tidak! Jika memang aku melakukan suatu kesalahan padanya, hukuman apa yang dapat menimpaku? "


Afi membatin berkali-kali pada dirinya sendiri.


Laki-laki itu kemudian masuk kedalam lift, diikuti dengan Afi. Didalam lift hanya ada mereka berdua. Laki-laki itu memencet tombol lift yang menunjukkan angka 6.


Afi sangat merasa canggung.


Laki-laki itu hanya diam tanpa sepatah kata.


Ting!


Bunyi pintu lift menutup dan lift berjalan keatas. Canggung, begitu canggung yang Afi rasakan. Hingga, tak lama waktu berselang,


Ting!


Pintu lift terbuka dan laki-laki itu melangkahkan kakinya keluar, Afi kembali mengekor.


Seorang laki-laki berjas hitam, berwajah tampan, dan rambut di belah samping mendekati laki-laki yang dipanggil Professor. Professor berhenti sejenak.


"Ada yang bisa saya bantu, Professor Galang? "


Tanyanya.


"Tolong panggilkan Direktur Penerbitan. "


Ucap Professor yang kemudian dijawab oleh laki-laki tadi.


"Baik, Professor. "


Professor menengok ke arah Afi.


"Ikuti aku. "


Professor langsung berjalan kembali hingga memasuki sebuah ruangan kaca namun tertutup oleh tirai berwarna cream dan gold bercampur padu.


Terlihat ada meja besar dengan buku-buku, dokumen sampai pc terletak di meja tersebut. Lengkap dengan sebuah kursi kerja yang terletak didekat meja. Juga dengan sevuah kursi sedang berhadapan dengan kurainya yang dipisahkan oleh meja.


Professor itu kemudian duduk di kursi kerja. Nampaknya ini adalah ruangan khusus miliknya. Afi berkali-kali berpikir keras ada apa sebenarnya yang terjadi sampai-sampai dia dibawa ke tempat itu? Bahkan sampai ke ruangan khusus seorang Professor perusahaan.


"Duduklah."


Afi kemudian duduk dikursi yang menghadap ke Professor.


Professor itu menatap seorang gadis cantik mungil didepannya sembari melipat kedua tangan diatas meja.


Afi menundukkan kepalanya. Situasi saat ini berubah menjadi perasaan takut tapi tidak menghilangkan rasa bingungnya juga.


"Kau tahu apa yang sudah kau lakukan? "


Tanya Professor masih menatapnya.


Afi menggeleng. Professor mengerutkan dahinya.


"Bisa-bisanya seorang manusia tidak mengakui bahwa dia adalah manusia. "


Afi bingung. Dia masih diam.


"Dia bicara apa, sih? "


Batinnya mulai kesal.


"Kau melakukan kesalahan, "


Professor tidak melanjutkan kata-katanya.


Afi belum angkat bicara.


"Dan kesalahan itu cukup besar. Bisa-bisa orangtuamu aku panggil juga kesini. "


Mendengar kata-kata Professor barusan, Afi terkejut. Dia lalu mengangkat kepalanya tegak, memberanikan diri menatap wajah Professor.


"Maaf, Professor. Kesalahan apa yang sudah saya lakukan? "


"Kau berani menatap wajahku? "


Sontak Afi menundukkan kepalanya.


"Sekali lagi, maaf, Professor. "


Kedua tangan yang dia pangku dia satukan dan dia genggam erat-erat. Dia menggigit bibirnya.


"Tamatlah riwayatku! "


Batinnya mengaduh.


Professor menghela nafas diikuti tubuhnya yang dia jatuhkan kesenderan kursi kerjanya yang empuk.


Tidak lama,


Tok! Tok! Tok!


Terdengar seseorang mengetuk pintu ruangan.


"Silahkan, masuk. "


Izin Professor.


Pintu terbuka, dan seorang laki-laki berwajah tampan, berkulit putih agak gelap, rambut yang dia belah tengah dan mengenakan kacamata minus oval, juga mengenakan jas hitam memasuki ruangan.


"Siapa lagi ini? "


Afi menelan ludah kasar. Hanya dia sendiri disana, tidak ada seorangpun yang mengenalnya. Jika memang benar dia melakukan kesalahan, setidaknya dia butuh dukungan dari seseorang.


Namun percuma, mana ada orang yang bisa membelanya. Perusahaan ini tunduk pada laki-laki yang sekarang ini ada dihadapannya, siapa yang berani menentang keputusan seorang Professor Perusahaan besar dan terkenal ini? Sangat mustahil bilapun ada.