NICE TO MEET YOU IN JANNAH

NICE TO MEET YOU IN JANNAH
EPISODE 10 FLASHBACK (Unknown Boy)



...Kamu hadir seolah membawa seribu kunci....


...Dan memaksaku untuk memilah dan memilih salah satu diantaranya....


...Sebagai pembuka hatimu yang sebenarnya penuh teka-teki....


...Suatu masa dimasa silam, aku terlalu mengharapkanmu,...


...walau sebenarnya kutahu, bersamamu hanya membuat luka yang padu. ...


Bandar Lampung, pukul 14.00.


Di Taman Kota Bandar Lampung.


Jauh setelah libur panjang sekolah.


Angin semilir menyibakkan jilbab babypink gadis berkulit putih bersih. Sorot mata dengan iris cokelat pekatnya menambah kesan manis. Bibir mungil pink seperti bunga sakura yang sedang bermekaran dimusim semi. Pipinya sedikit menggembung, chubby, menambah kesan imut yang lekat pada gadis itu. Tak lupa gamis babypink dengan aksen putih yang dia kenakan menghadirkan kesan cantiknya. Cantik, manis, imut, dia punya semuanya.


Tadinya sebelum libur panjang, ia berkulit sawo matang karena sering berkegiatan diluar ruang. Seperti pramuka, paskibra, hingga kursus Bahasa Inggris yang sudah menjadi rutinitas sehari-seharinya.


Namun, setelah libur panjang akhir semester lalu, dia jadi suka berada dirumah karena memang semua kegiatan diluar ruangannya dihentikan dulu. Dia juga jadi rajin merawat tubuh nya, yang semulanya masa bodo dengan keadaan fisiknya, sekarang mulai diperhatikan secara intens.


Gadis itu berdiri tepat dibawah pohon linden. Angin semilir kembali hadir mengelus lembut kulit wajahnya. Juga membawa daun-daun pohon linden yang mulai mengering.


Nampaknya gadis tersebut sedang menunggu ojek online yang telah dia pesan.


Waktu tak berselang lama, pesanannya datang.


"Dengan Mba Afi, Ya? "


Tanya tukang ojek memastikan.


Gadis bernama Afi itu mengangguk.


"Benar, Pak. "


"Oke, siap. "


Afi langsung naik dibelakang tukang ojek. Dan motor ojek online melesat meninggalkan tempat.


"Ke Gramedia ya, Pak. "


Ucap Afi mengingatkan tempat yang ingin dia tuju.


"Oke, Mbak. "


Jawab tukang ojek singkat.


Perjalanan ditempuh selama 45 menit, hingga Afi sampai di tujuan. Setelah melakukan pembayaran keojek online, dia langsung memasuki gedung Gramedia yang berdiri kokoh dihadapannya. Gadung oval cat dasar putih berlantai 3, dengan balkon atas yang tampaknya sedang direnovasi, belum diberi pagar pembatas.


Afi mengecek catatan dihpnya. Nampak jelas list buku yang ingin dia beli. Setelah melewati kasir, dia langsung pergi ke lantai 2 gedung, karena buku yang dia cari ada disana. Sampai disana, Afi melintasi berbagai rak-rak buku.


"Duh, dimana sih buku itu ditaruh?"


Gerutu Afi masih si buku mencari buku yang akan dia beli.


Selangkah demi selangkah kakinya berjalan pelan, meniti tiap-tiap rak buku setinggi diatas tinggi badannya, berharap cepat mendapatkan bukunya.


Dia lalu melihat salah seorang karyawan laki-laki tidak jauh dari tempatnya berdiri.


"Apa tanya karyawan langsung saja, ya? "


Batin Afi memerhatikan karyawan itu.


Afi berfikir sejenak, lalu memutuskan.


"Sudahlah, cari sendiri saja. Tahu sendiri diriku ini canggung dengan laki-laki! Lagipula biasanya buku itu diletakkan di rak ini kan. "


Pekik batin Afi pada dirinya sendiri. Dia mencari-cari buku yang dia memang dia cari dirak buku yang terletak tepat dihadapannya.


Krak!


Sontak Afi terkejut setelah dia merasa menginjak benda keras barusan. Afi langsung melihat ke benda itu. Dia tambah terkejut.


"Hp?! Astaghfirullah! Ponsel siapa ini?!"


Batin Afi penuh panik.


Afi panik, jantungnya berdebar, dan tubuhnya sedikit gemetar. Dia menengok kekanan, kiri, depan memastikan tak ada yang melihat tindakannya barusan. Perhalan, Afi meraih ponsel yang 1/3 touchscreennya sudah retak, tidak! Sudah tergolong remuk.


"Ya Allah! Aku mohon bantulah aku. Aku benar-benar gak sengaja! "


Afi sangat merasa bersalah. Dia mengerutkan dahinya merasa kebingungan.


"Kira-kira dimana pemiliknya? Kenapa bisa jatuh sembarangan disini? "


Ucap Afi sembari menengok kesana kemari siapa tahu pemilik ponsel yang dia genggam masih dekat.


Afi memerhatikan kerusakan touchscreen hp itu.


"Ini sih, sudah remuk parah. "


Gumam Afi miris melihat touchscreen ponsel itu lagi.


Namun dibalik layar ponsel yang retak, rupanya layar ponsel itu membuka sebuah aplikasi pesan dan tertera pesan yang masih menjadi draft.


Susah payah Afi mencoba membaca isi pesan draft itu.


"Tolong aku.. "


Setelah membaca awal teks pesan, Afi membelalakkan matanya.


"Tolong aku, siapapun itu... "


"Aku berada diattt, agghh apa ini?! "


Masih susah payah Afi membaca teks pesan draft itu karena terhalang retakan touchscreen ponsel.


"Attt, at apa ini? atas? balkon? DIATAS BALKON?! "


Afi kembali membelalakan matanya. Dia langsung menegakkan kepalanya.


Terkejut dengan isi pesan draft pada ponsel yang tak sengaja dia temukan disitu, entah siapa pemiliknya.


"Apakah diatas ini? "


Ucap Afi pelan sambil menengok ke langit-langit gedung.


Afi kembali melanjutkan membaca pesan draft,


"Aku mohon tolong. Aku akan mati. "


"Dia meminta pertolongan, sebenarnya apa yang terjadi?! Kalau aku ke atas balkon apakah diizinkan oleh pihak Gramedia disini? Aghh! Tentu saja diizinkan jika ini memang darurat Afi! Apa salahnya mengecek dulu! "


"Lalu, kalau memang benar ada orang yang dalam bahaya diatas balkon, sejak kapan orang itu disana?! Apakah sudah lama?!!"


Afi berkali-kali berbicara dengan dirinya sendiri dengan perasaan campur aduk.


Dia cepat berlari menuju kasir dengan tangan yang masih menggenggam ponsel tadi. Hingga sampai, dia langsung menerobos antrian costumer disana. Namun tindakannya dihalangi oleh security yang memegang cukup kuat lengan atas nya.


Afi terkejut,


"Lepas kan pak! "


"Anda melanggar aturan gedung, Nona. Jangan seenaknya menerobos antrean, kau tahu costumer itu semua menung-"


"AGHH LEPASKAN! "


Teriak Afi menyela pembicaraan security tadi. Dia mencoba melepaskan cengkraman tangan besar security yg melingkar dilengan atas nya.


"Hey! Lepaskan! biarkan aku bicara! Jangan seenaknya berlaku kasar pada perempuan muda begini! "


Tanpa pikir panjang, security itu langsung melepaskan.


Napas Afi terengah-engah. Dia mengatur ritme napasnya.


"Izinkan aku pergi ke balkon atas! Ada seseorang yang meminta pertolongan disana! "


Pinta Afi penuh harap.


Melihat kegaduhan itu, security lainnya pun datang. Semua pandangan orang dilantai 2 tertuju pada Afi.


"Jangan bercanda, Nak. Mana ada orang yang pergi ke balkon atas. Tempat itu berbahaya karena belum dipasang pagar pembatas. "


"Tolong! Cek dulu balkonnya!"


"Nak, jangan bicara yang tidak-tidak! Tidak ada orang yang pergi ke balkon! Keamanan Gramedia sangatlah ketat. CCTV dimana-mana, jika ada yang pergi keatas pasti sudah terekam jelas, dan seharusnya sebelum kamu mengetahuinya, kami sudah dulu mengetahuinya! "


Seorang wanita penunggu kasir angkat bicara,


"Apa salahnya kita mengeceknya dulu, Pak? "


"Kau meragukan keamanan Gramedia sama saja kau meragukan diriku yang sejak 7 tahun terakhir bertugas dengan sungguh-sungguh! "


Afi mendengus kesal.


" Kesombongan gak bakal menyelesaikan segalanya. "


Batin Afi dengan wajah merasa sangat kesal.


"Baiklah kalau kalian tidak mau mengeceknya! Biarkan aku saja! "


Afi langsung bergegas mencoba lari menuju balkon, namun langkahnya langsung terhenti karena security itu dengan sigap mencengkran lengannya kembali.


"Hey! Nak! Jika kau susah diberi peringatan maka kami akan berlaku keras! "


Perintah security itu dengan nada suara yang meninggi.


Tak ada jalan lain lagi selain, Afi kemudian menggigit keras tangan security itu dan menendang selangkangannya. Security tersebut mengerang kesakitan. Afi memanfaatkan waktu itu untuk berlari keatas balkon. Sementara security lainnya mencoba menghentikan Afi yang kini menaiki tangga menuju atas balkon.


"Bodoh sekali anak itu! Lantai balkon masih belum sepenuhnya sempurna untuk dia pijaki, dan belum diberi pagar pembatas! Otomatis itu sangat berbahaya! " Keluh salah satu dari 3 security yang masih berlari menuju atas balkon.


Alhasil Afi berhasil keatas balkon. Benar kata pegawai Gramedia tadi, atas balkon tidak ada pagar pembatas. Gedung berbentuk oval itu sangatlah mengerikan jika berada diatas balkon tanpa pagar, terlebih Afi tak sengaja melihat kearah bawah gedung.


"Sial! Ketinggian adalah kelemahanku! "


Namun sekuat hati dia melawan rasa takutnya. Dia melangkah kedepan denga hati hati dan tiba-tiba Afi dibuat sangat terkejut dengan sesosok laki-laki memakai hoodie hitam dengan penutup kepala. Sosok laki-laki itu menghadap kearah depan bawah gedung.


"APA YANG KAU LAKUKAN DISITU?!! " Teriak Afi yang berada sekitas 10 meter dari sosok yang masih berdiri terpaku penuh kepanikan.


Klotak! klotak! klotak! klotak!


Terdengar derap langkah kaki dibawah balkon seperti dekat dengan Afi. Namun didepannya ada sesosok laki-laki yang masih saja diam terpaku dan tidak menjawab teriak Afi. Benar-benar diam seribu bahasa.


Pandangan Afi sempat tertuju pula pada bungkus-bungkus makanan instan yang berserakan dipinggir kanan balkon.


Laki-laki itu melangkahkan kakinya kedepan, lebih dekat dengan ujung gedung. Afi semakin panik, dia sangat kebingungan, apa yang harus dia lakukan dengan waktu yang mendesak seperti ini.


Namun suara derap langkah dari bawah balkon juga terdengar semakin dekat.


Dengan napas yang terengah-engah dan bola mata yang masih terbelalak, Afi memegangi kepalanya kuat.


"Apa yang harus kulakan?!!! "


Batin Afi penuh kebingungan.