
****
"KADZAB!! DUSTA KAMU!!! AKHIRAT LEBIH PENTING KATAMU?! HANYA PENGAKUAN SAJA TIDAK CUKUP, KADZAB! GUNAKAN SEMUA YANG KAU PUNYA UNTUK MEMENUHI PANGGILAN ILLAHI RABBI!!!! "
Teriak Abdad setengah mati memegangi perutnya yang tengah robek.
Darah mengucur tiada hentinya, jasadnya sudah tak kuasa, namun qalbu nya masih kokoh mempertahankan keimanannya.
"PERJUANGANKU INI, TIDAK SEBANDING DENGAN PERJUANGAN RASULULLAH!!! AKU TAK AKAN GONTAI!!! "Lanjut Abdad geram dengan temannya yang sudah berkhianat.
" HARTA, KELUARGA, JIWA, DEMI ALLAH!!! "
Tak berselang lama, kepala Abdad dipenggal oleh temannya. Darah mengucur diantara kepala dan leher yang terpisah. Memuncrat ke mana-mana termasuk mengenai wajah teman Abdad yang masih menatap kosong ke jasad Abdad.
"KYAAAA"
Teriak Caira mencoba menutupi matanya dengan tangan.
Teman Caira sempat terkejut berkat teriakan Caira.
"Lebay sekali kamu, Caira. Itu hanya film. "
Jelas temannya dengan wajah datar menatap film yang tertayang di laptop berukuran sedangnya.
"P-pause! pause filmnya, Nabil!!! "
Perintah Caira masih menutupi wajahnya dengan tangan.
Teman Caira bernama Nabil menggelengkan kepala. Keringat dingin membasahi kulit putih langsat Caira. Tubuhnya bergetar, merasa ketakutan. Nabil pun langsung memencet icon pause untuk menghentikan filmnya, dan langsung memencet close folder bernamakan 'Aku suka gore'.
"Sudah, nih, Caira. Jangan takut lagi, dan maafkan aku. "
Ucap Nabil masih meng-otak-atik laptopnya.
Caira pun menurunkan tangannya yang sedari tadi menutupi wajahnya. Dia menghela nafas, dan kemudian menyeka bulir keringat dingin yang tersisa.
"Kenapa kamu ngga bilang dulu kalau film itu ada unsur psycoplac nya?! "
Tanyanya membelalakkan mata pada Nabil.
"Pffttt, aku ingin meracunimu dengan film gore. Dan aku berharap suatu waktu kamu akan menyukai film gore."
"ME-MENYUKAI KATAMU?! "
Sambar Caira tambah heboh.
Nabil pun tertawa.
"Nonton aja gamau, apalagi menyukai! Gaje banget kamu! "
Caira cemberut dan mengalihkan pandangan dengan sebal.
Nabil masih tertawa kecil.
"Iya-iya. Aku gak bakal ajak kamu nonton gore lagi, deh. Nanti kita nonton Spongebob, ya! "
Ucap Nabil sembari menarik lengan atas baju Caira masih tertawa kecil.
"Nah, gitu, dong~"
Nabil dan Caira pun saling bertukar senyum. Mereka berdua adalah sepasang sahabat sejak mereka duduk di bangku SMP. Soal akademik mereka berdua kompak, soal public speaking juga tak kalahnya, selalu menjuarai lomba public speaking antar sekolah. Walau perihal genre film mereka tak kompak, namun mereka berdua tetap menutupi kekurangan masing-masing.
Sementara itu, disisi lain, Afi duduk termangu dikursi tamu ruang kepala sekolah. Kursi yang cukup untuk 2 orang dan terletak dekat dengan tembok kanan ruangan. Sudah 30 menit dia menunggu konfirmasi dari kepala sekolahnya. Perihal mengapa dia harus memenuhi panggilan kepala sekolah. Dia mencoba menghibur dirinya supaya tidak bosan menunggu. Mulai dari mengecek ponsel, berharap ada teman yang bisa dia ajak chating. Terlebih menunggu Crysta membalas pesannya perihal dia yang masih menunggu konfirmasi dari kepala sekolah.
Afi melihat kepala sekolah yang sedari tadi sibuk mengetik-ngetik keyboard laptopnya. Ingin rasanya Afi menanyakan mengapa dia dipanggil kepala sekolah. Takut Afi salah informasi bahwa benar atau tidaknya dia mendapat informasi dari Caira saat dia berada dikelas sekitar 35 menit lalu. Namun ada rasa ragu pada diri Afi bahwa bertanya terus-terusan pada kepala sekolah hanya akan mengganggu beliau.
Afi tetap menguatkan tekadnya untuk berani bertanya. Dan dia pun mulai berbicara,
"Maaf, Pak. Sebenarnya apakah bapak mem-"
"Assalamu'alaikum.. "
Afi sedikit terkejut karena melihat sesosok pria berjas hitam tengah menyela ucapannya.
"Waalaikumsalam. Silahkan masuk, Pak Profesor. "
Jawab Bapak Kepala Sekolah melirik kearah pria tadi sambil tersenyum.
"eh? siapa itu? " Afi membatin masih memandang pria itu melangkahkan kakinya memasuki ruangan.
Pria itu bertubuh tinggi ideal, termasuk ideal namun jika dibandingkan dengan Afi, Pria tersebut jauh lebih tinggi 20cm dibanding Afi. Benar! sekitar 180cm.
"Pasti tamu, siapa lagi kalau bukan tamu. Ngomong-ngomong dia masih terlihat muda, kenapa dipanggi 'Pak'? Ah, sudahlah. Mungkin cuma babyface. "
Afi masih membatin.
Notifikasi pesan dari ponsel Afi pun berbunyi. Afi cepat membuka notifikasi pesan tersebut. Ternyata pesan dari Crysta.
"Afi? Masih lama, kah? Pelajaran ketiga akan dimulai."
Isi pesan Crysta yang membuat Afi ingin cepat-cepat bicara dengan kepala sekolah.
Afi baru mau angkat bicara, sudah didului oleh kepala sekolah.
"Silahkan duduk, Pak. "
Ucap Kepala Sekolah pada Pria yang beliau panggil Professor itu.
"Baik, pak. Terima kasih. "
Jawab pria tersebut.
Afi panik.
"Duduk? duduk dimana? Lantai? Apakah tubuhku ini tidak terlihat oleh Bapak Kepala Sekolah? Atau malah pria itu nanti duduk disebelahku?! Kursi ini ngepas banget untuk 2 orang! astaghfirullah.. "
Batin Afi terus-terusan.
Pria itupun mulai duduk tepat disamping Afi.
Psssss...
Tubuh Afi terasa kempis seperti ban dalam motor yang bocor, serta wajahnya mulai panas dan memerah seperti kepiting rebus.
"Oh! Afi. Maaf, nak, membuatmu menunggu lama. Jadi begini, nak Afi. Itu Pak Professor pemilik perusahaan 'Gramedia Grand Indonesia' dan beliau yang mengelola serta mengatur semua toko Gramedia di seluruh Indonesia. Untuk namanya, sudah tertera di name tagnya. " Jelas sedikit Kepala Sekolah.
"Oh begitu, ya. Lalu apa urusanku dengan Professor ini? Bukannya duduk berdampingan dengan orang berpangkat tinggi begini kurang sopan? Terlebih lagi beliau seorang ikhwan! "
Afi masih dalam batin.
"Tampan juga.. "
Kata hati Afi otomatis berbicara sambil sekilas memandang wajah professor itu.
"EH?! ASTAGHFIRULLAH! "
Teriak Afi dalam hati mencoba menyadarkan dirinya.
"Maaf, Pak Professor. Kursinya hanya itu, jadi terpaksa bapak duduk dengan nak Afi disitu, ya, hehe. "
Lanjut beliau tersenyum dan menyipitkan mata.
Afi semakin merasa tidak nyaman. Dia ingin cepat-cepat pergi dari ruangan itu. Canggung sekali rasanya.
"Tidak apa-apa, Pak. Lagian ini pun anak kecil. "
Ucap Professor itu dilanjut tawa kecilnya dan disusul tawa Kepala sekolah juga.
Sontak Afi yang mendengarnya langsung sedikit melotot,
"Anak kecil katanya?! "
Batin Afi lagi.
Dia sudah tidak tahan berada di ruangan itu, terlebih duduk berdampingan dengan ikhwan. Afi benar-benar memberanikan diri untuk mengajukan pertanyaan. Dia menelan ludah, lalu berbicara.
"M-maaf, pak. Bapak memanggil saya kemari perihal apa ya, Pak? "
Tanya Afi mencoba menahan rasa gugup.
Kepala sekolah pun mendehem sedetik dan pada detiknya lagi beliau mengatakan,
"Afi, kamu adalah siswi yang sangat berprestasi. Sudah mendapatkan puluhan medali dan sertifikat kejuaraan sebagai bukti kongkrit kamu siswi yang cerdas,"
"Terlebih dalam bidang Bahasa Inggris, kamu sangat menguasainya baik Inggris Creatif maupun Profesional. Sampai namamu terdengar hampir 1/4 provinsi. 3 hari lalu bapak dapat informasi dari Karyawan Gramedia Grand Indonesia bahwa Pak Professor ingin merekrutmu nanti ketika kamu sudah lulus untuk langsung menjadi sekretaris pribadinya."
"Bapak memanggilmu kemari untuk berdiskusi dengan Professor tersebut, Afi. Bagaimana, nak Afi? Mau ikut berdiskusi dulu dengan Pak Professor? "
Jelas dengan terus terangnya Bapak Kepala Sekolah.
"APA?! DIREKRUT JADI SEKRETARIS PRIBADI SEORANG PEMILIK PERUSAHAAN TOKO BUKU TERKENAL SE- INDONESIA?! "
Teriak Afi dalam hati. Afi tak sadar sedang memasang wajah panik dan ekspresi terkejutnya yang menjadi-jadi.
"Gimana, nak Afi? Mau? "
Tanya Bapak Kepala Sekolah lagi menegaskan Afi.
Afi pun menelan ludah kasar. Menatap kosong kearah lantai keramik putih ruangan. Mencoba berpikir dengan keras.