NICE TO MEET YOU IN JANNAH

NICE TO MEET YOU IN JANNAH
EPISODE 5



Afi benar-benar terkejut dibuatnya. Dia lalu melepaskan tangannya dari ranting tersebut, diikuti oleh Rey.


Dia kemudian melangkahkan kakinya mendekati Afi dan Rey. Hingga dia sampai diantara keduanya.


"BERANI SEKALI KAMU!! DASAR JALANGG!!! WANITA MURAHAN!!! "


Teriak gadis itu lagi sambil menunjuk-nunjuk Afi dengan telunjuknya. Afi langsung menundukkan kepala.


"Kamu kenapa sih, Freya?!! Jangan berbuat seenaknya seperti itu! "


Rey angkat bicara memarahi gadis tersebut.


Seketika, bel masuk pun berbunyi. Anak-anak mulai bergegas untuk memasuki ruang kelas mereka masing-masing.


Afi tau bel berbunyi, namun dia tidak berani untuk menghentikan kejadian itu, hatinya tak kuasa membendung rasa perih dan sakit akibat hinaan dari seorang gadis yang memang sebenarnya dia adalah kekasihnya Rey.


"APA KATAMU? BERBUAT SEENAKNYA?! BUKANNYA DIA YANG BEGITU HAHH?!! "


Lagi-lagi gadis itu menunjuk-nunjuk Afi.


*Tidak menyangka, anak-anak kelas 9 sudah memasuki kelas. Mereka melihat kejadian itu dan kebanyakan dari mereka berdiri terpaku melihatnya, seperti Caira dan juga Crysta. Mereka keheranan dan bingung sebenarnya sedang terjadi kejadian apa selama mereka pergi ke kantin.


Sementara sebagian kecil anak lainnya duduk di bangku mereka. Kejadian yang benar-benar tidak mengenakan. Rey menyadari bahwa anak-anak dikelasnya sudah pada memasuki kelas. Dia mencoba untuk menenangkan seorang gadis yang sekarang ini berdiri didepannya*.


"Frey.. "


Ucap Rey lirih menatap wanita itu.


"KENAPA? KAMU KENAPA MALAH MEMBELA DIA SIH?! KAMU SUKA SAMA DIA YA?!! TERNYATA BENER YA KATA RIAN! KALIAN BERDUA MEMANG SUDAH PACARAN DIBELAKANGKU!!!"


Teriak gadis yang di panggil Freya itu kembali bertubi-tubi. Membuat suasana yang benar-benar tidak mengenakan. Rey semakin dibuat terkejut, kemudian dengan sekilas dia melihat Afi menunduk murung dan merasa sangat tersakiti.


Rey kemudian menghela nafasnya, dan meraih lengan gadis tersebut.


"Sudahlah, sayang. Jangan marah-marah begitu."


Ucapnya pada gadis itu, dan dia pun melanjutkan,


"Maaf, Frey. Aku tadi mengganggunya. Aku hanya merasa bosan saja, Freya, bukan apa-apa. Aku ga bakal juga suka sama dia. "


Jelas Rey menatap sendu pada gadis yang dia panggil Freya.


Gadis itu mulai meneteskan air mata. Membuat Rey cemas dan meraih lengan gadis itu satunya lagi, sembari berkata,


"Aku cuma sayang sama kamu, Frey. Lihatlah kalau tidak percaya. Aku menyatakan ini dihadapan teman-teman. "


Freya masih menangis.


"Udah jangan nangis lagi, ya. Ini udah bel masuk, nanti kalau ada guru masuk gimana? Tenang saja, Frey. Aku masih menjaganya, dan ga bakal merusak perasaan ini untuk kamu. "


Ucap Rey yang mulai berhasil menenangkan wanitanya, Freya.


Freya hanya mengangguk.


"Udah, cepet balik, sayang. "


Pinta terakhir Tata dengan sangat.


Freya akhirnya berhenti menangis. Dia malu-malu membalikkan tubuhnya, dia mengetahui bahwa pandangan para siswa dan siswi disana tertuju padanya, membuatnya tertuntut untuk cepat bergegas pergi meninggalkan ruangan yang bukan kelasnya itu.


Anak-anak yang sedari tadi berdiri terpaku disana mulai berjalan menuju bangku mereka masing-masing dan mendudukinya.


Pandangan Afi menatap kosong ke lantai. Benar-benar peristiwa yang memalukan baginya. Di hina di hadapan anak-anak kelasnya adalah peristiwa yang sangat dia tidak sangka-sangka bahkan tidak pernah terpikirkan.


Afi langsung teringat kata-kata Freya dan kekasihnya itu yang menghunjami hatinya.


"Wanita jalangg..., aku juga tidak menyukainya... "


Lirih Afi pada dirinya masih menatap kosong kearah lantai.


"Aku juga tidak pernah menyukaimu, Rey. Namun entah mengapa setiap kamu bersama dengannya, ada sesuatu yang bergejolak jauh dari palung hati sana. Aku tidak ingin menyukaimu, sama sekali, jauh dari pikirku. "


Batin Afi dengan perasaan campur aduk antara sedih, murung, dan sakit tengah mengulitinya.


"Aku tidak pernah menyukaimu...., aku tidak pernah menyukaimu..., tidak pernah, Rey. "


Lirih Afi lagi.


Crysta dan Caira kemudian menghampiri Afi. Mereka berdua tidak percaya dengan ucapan Freya yang tadi telah menghina-hina Afi di hadapan banyak anak.


Sama sekali tidak percaya dengan perkataan Freya.


"Afi... "


Panggil Caira.


Afi lalu menegakkan kepalanya kedepan. Terlihat dua sosok sahabat yang begitu dia cintai menatap nya dengan tatapan hangat dan ikut sedih melihat wajah Afi yang sedih juga.


"Afi, aku tau wanita itu hanya mengucapkan hal-hal yang dusta! Aku percaya padamu, Afi! "


Timpa Crysta mencoba tersenyum pada Afi walau wajahnya juga masih ikut sedih.


Afi hanya diam termangu. Kesadarannya seolah hilang dari akalnya. Berharap kehadirannya juga menghilang kala itu. Malu. Sangatlah malu dan sakit.


****


Tring!!!


Bel pulang terdengar. Anak-anak kelas XII pergi meninggalkan kelas, begitu juga dengan Afi dan Crysta.


Mereka bertukar sapa setelah berpisah karena beda jalur jalan menuju rumah mereka masing-masing.


Di perjalanan, Afi yang tengah dibonceng oleh ayahnya, mulai berbicara pada ayahnya,


"Ayah, besok aku akan ke UNILA bersama Crysta. "


Tanya ayah dengan suara yang hampir tidak terdengar berkat angin yang melewatinya bersama dengan Afi.


"Aku ingin dia menemaniku untuk daftar, ayah. Lagipula dia ada kepentingan untuk membeli buku di Gramedia, Tanjung Karang sana. "


Jelas Afi terus terang.


"Lalu? kalian mengendarai apa untuk pergi kesana? "


"Kami sudah memesan ojek online, uang saku beasiswa dari lomba juga masih ada, ayah, jadi tenang saja. "


"Baiklah, hati-hati untuk besok. "


Ucap ayah dengan peduli pada Afi. Hati Afi mulai terenyuh karena ucapan rasa peduli ayah padanya. Walau kejadian beberapa hari lalu membuat hatinya sakit karena ayahnya, dia tidak akan membenci sesosok laki-laki yang telah berjuang menghidupinya dengan banting tulang mencari nafkah.


Afi pun tersenyum dan berkata,


"Baik, ayah. "


Motor yang ayah kendalikan melesat cepat menuju rumah. 7 menit berlalu, aku dan ayah sampai dirumah.


"Assalamu'alaikum.. "


Afi mengucap salam sembari melepas sepatunya diteras rumah. Tidak lama datang seekor kucing Afi. Kucing kesayangan Afi yang dia temukan dipinggir jalan sekitar setahun yang lalu di perjalanan pulang dari sekolah. Bertubuh gemuk dengan warna rambut putih bersih.


Miaw..


Kucing tersebut mengeong ketika melihat majikannya telah pulang kerumah.


"Kitty! Si gemoy ku! "


Ucap Afi menimang kucing kesayangannya dan langsung memeluk kucing tersebut.


"Waalaikumsalam, "


Jawab ibu Afi dengan suara yang bersumber dari ruang tamu.


Afi langsung masuk kedalam rumahnya sambil menggendong kucing tersebut. Menemui ibunya dan langsung mencium tangan sesosok wanita berumur 40 an tersebut.


"Bu, Afi sudah terima raport. "


Ucap Afi tersenyum pada ibunya sambil melepaskan


tangan ibunya. Senyum Afi kemudian dibalas, dan kemudian ibunya bertanya.


"Bagaimana dengan nilainya? "


"Alhamdulillah, Bu. Afi sangat senang melihat nilai Afi di akhir semester ini! "


Seru Afi yang kemudian disusul oleh ayahnya yang masuk kedalam rumah dan duduk disofa ruang tamu.


"Alhamdulillah, Afi. Ibu ikut senang mendengarnya. "


Ucap Ibu disusul senyuman hangatnya.


"Oiya, besok Afi mau ke UNILA, Bu, bersama Crysta. Soal kendaraan, aku sudah memesan ojek online. "


"UNILA yang di Bandar Lampung itu kah, Afi? "


"Iya, Bu. "


Ibu Afi sedikit mengendurkan senyumannya, Afi langsung menyambung kata-kata nya lagi,


"Ibu jangan khawatir, Afi ini sudah dewasa loh! Afi juga bareng temen kesananya. Afi janji, Afi bakal sampe rumah sebelum pukul 17.00! "


Afi benar-benar meyakinkan ibunya.


"Oalah, iya, Afi. Hati-hati ya, Nak. Udah, sekarang kamu ganti baju dulu, bersih-bersih tubuh, solat, dan juga makan siang. "


"Siap, Bu! "


Seru Afi sambil mengangkat tangan kanannya untuk hormat pada ibunya. Sedangkan tangan kiri Afi masih menggendong kucingnya. Ibu Afi terkekeh kecil lalu tersenyum.


Setelah Afi melaksanakan semua yang diperintahkan ibunya tadi, Afi menjatuhkan tubuhnya dikasur miliknya.


Dia kemudian meraih ponsel yang tidak berada jauh darinya, membuka ponsel tersebut, dan langsung mengetik pesan yang dia tujukan pada Crysta.


"Haloo~. Besok mau beli buku apa nih kamu, Crys? "


Isi pesan Afi yang telah dia kirimkan pada Crysta.


"Tentu saja aku akan membeli buku novel dan juga manga-manga yang aku sukai dong, Afi! "


"Widih! Setelah kamu selesai baca, gantian aku baca ya! "


"Ye! Iya-iya! "


"Oke, aku jadi ga sabar menunggu hari esok! Ingin sekali rasanya cepat-cepat mengunjungi toko buku yang sudah tidak aku kunjungi selama 5 tahun terakhir ini! "


"Hahaha, ngomong-ngomong gimana kalau kita ketemu Pak Profesor yang kamu temui tadi disekolah? "


Pesan dari Crysta barusan membuat Afi tersadar.


"Benar kata Crysta, jika aku bertemu Profesor itu besok, apa yang akan terjadi? "


"Hehehe, tidak akan bertemu dengan Profesor itu, Crys. Beliau adalah orang penting, ada perihal apa beliau terjun ke toko miliknya begitu, jika ada keperluan, pasti dia menyuruh asistennya atau pegawainya yang lain. "


"Hahaha, iya juga, ya! Yahh, intinya besok kita akan healing, aku rindu berkeliling kota Tanjung Karang! "


"Aku juga! "


Dan begitulah isi chat yang Afi dan Crysta bicarakan. Tentang Profesor itu, Afi berharap tidak akan berjumpa dengannya. Semoga saja.