NICE TO MEET YOU IN JANNAH

NICE TO MEET YOU IN JANNAH
EPISODE 14 FLASHBACK (Calm, Baby)



Afi diam, masih berharap tidak ada sanksi atau hukuman yang diberikan oleh professor.


Laki-laki yang dipanggil Direktur Penerbitan tadi berdiri disamping Afi.


"Tolong aku, maaakk"


Rengek Afi dalam hati.


"Duduklah, Direktur Chandra. "


Direktur tersebut menarik kursi kerja yang ada dipojok ruangan dan menaruhnya disamping Afi.


"... " Direktur itu pun duduk tanpa menjawab.


"Apa yang bisa saya bantu, Pak Professor? " Tanyanya sambil memangku kaki kanan diatas kaki kirinya dengan tangan yang melipat didepan dada.


Melihat hal itu, Professor menjawab,


"Apakah itu moral yang kau punya untuk berbicara pada Professor Perusahaan?"


Direktur terkekeh pelan.


"Ada yang lucu? "


"Jangan terlalu kaku. "


Jawab santai direktur dilanjut tawa kecilnya.


"Aku memang tidak tahu menahu tentang pangkat dalam perusahaan. Namun bukankah itu perilaku yang tidak sopan jika berhadapan dengan atasan perusahaan? "


Batin Afi tiba-tiba.


Professor mengerutkan dahinya.


"Ada apa kau memanggilku adikku yang manis? "


"Tentunya karna suatu hal"


Direktur sedikit memiringkan kepalanya disertai ekspresi yang penasaran.


"Hal apa itu? "


Pandangan direktur teralih pada gadis kecil disampingnya.


Dia tertawa kecil lagi.


"Apakah ada kaitannya dengan anak ini? "


Afi menelan ludah kasar dan meremas kain bajunya.


Professor menghela nafas dan berbicara,


"Sekitar beberapa bulan lalu aku dapat kabar dari Lampung News jika ada seorang gadis berbakat sampai booming di social media. Dengan merendahkan diri aku langsung menemui kepala sekolahnya untuk merekrut gadis tersebut menjadi sekretaris pengganti perusahaan Gramedia"


Pandangan Professor memaku pada Afi.


"Namun dengan lancang dan tanpa moral anak ini menolak ku mentah-mentah tanpa dicerna terlebih dulu"


Pandangan direktur ikut terpaku pada Afi. Afi tidak berani mengangkat kepalanya, perasaan takut mulai menjamahi pikirannya.


"Jangan takut gadis kecil, kamu akan menjadi seorang sekretaris perusahaan besar di Indonesia setelah kamu lulus nanti, oh iya, setelah lulus SMA kamu lanjut kuliah kan? "


Tanya Direktur dengan lembut masih tersenyum sampai matanya menyipit.


Afi melirik sinis kearah direktur itu.


"Hehe~" Tawa kecil direktur yang dibuat-buat masih tersenyum.


"Aku yakin dengan potensi dan bakat yang kamu miliki itu akan kamu manfaatkan untuk tetap melanjutkan sekolah tinggi kan~"


"Jangan melakukan hal bodoh kak. "


Ucap Professor menyela sambil menyilangkan tangannya, dia masih menampakkan mimik wajah yang tidak mengenakan, merasa jengkel.


"Aku lebih senior darimu, Galang. "


Jawab Direktur melemparkan senyuman pada adiknya.


Professor Galang memalingkan pandangan.


"Gadis kecil, coba pikirkan, jika kamu bekerja sebagai sekretaris perusahaan kamu akan mendapatkan berbagai keuntungan, baik dalam hal nominal gaji yang kami berikan, relasi teman-teman baru yang hebat dan meng-asyik-kan, sampai ke-famous-an yang akan kamu dapatkan~ "


Direktur melanjutkan,


" Kau tahu kan kalau Perusahaan kami adalah perusahaan besar sampai Go Internasional? Terlebih jika kamu partisipasi dalam perusahaan itu, menjadi sekretaris juga, jabatan sekretaris disini sangat diidam-idamkan oleh banyak para wanita~ Coba pikirkan baik-baik dulu tawaran dari Professor Galang padamu, ingat, kesempatan hanya datang satu kali dan jangan sampai kamu menyesal~


Afi kembali menundukkan kepalanya, menatap kedua kakinya. Dalam benak, dia berpikir kembali soal tawaran dari Professor Galang.


"Tidak hanya itu, kamu bisa bekerja berdampingan dengan Professor Galang yang tampan loh~"


Sontak Professor terkejut dan merasa geli mendengar perkataan Direktur.


"Diam atau kau aku usir, kak! "


"Yah, walau terkadang menjengkelkan, namun keuntungan yang kamu dapatkan akan melebihi rasa jengkelmu~"


Lanjut Direktur disertai bintang-bintang kecil berkilauan bermunculan disekitarnya.


"Menjadi sekretaris dari Pak Professor Galang ya? "


Setelah sekian lama Afi mengangkat bicara.


Direktur tersentak sedikit, detik selanjutnya dia kembali tersenyum,


"Tentu! "


"Baiklah, mendengar dari berbagai macam kelebihan bekerja disini, saya memutuskan, "


Professor bersama kakaknya yaitu Direktur Penerbitan menatap Afi lamat-lamat.


Afi mengangkat kepalanya,


"Sudah pasti saya akan, "


****