
Afi kebingungan dengan apa yang terjadi. Security yang tengah memegang lengannya membawanya turun balkon hingga ke lantai dasar gedung Gramedia. Dia melihat laki-laki misterius tadi berjalan juga didepannya.
"Lepaskan aku! "
Mohon Afi dengan nada tinggi. Namun permohonannya tidak digubris oleh security dan laki-laki gila didepannya.
Afi dibawa keluar gedung dan melihat laki-laki itu masuk kedalam mobil Mercedes Benz. Security yang menyeretnya membuka kan pintu tengah dan mendorong Afi masuk kedalam mobil.
"Ap-apa ini? Kau mau menculikku?! Hah?! Sebenarnya ada apa dengan semua orang di Gramedia?!! "
Afi melihat didalam mobil hanya ada dia dan laki-laki misterius itu.
"Kamu! Kamu kenapa sih?! Ada apa denganmu?! Turun kan aku dari mobil!! "
Tanya histeris Afi pada laki-laki yang mulai mengemudikan mobilnya.
Afi mencoba untuk membuka-buka pintu mobil namun percuma saja, semua pintu mobil sudah dikunci otomatis. Dia langsung menengok ke arah laki-laki itu.
"Kau siapa sih?! Jangan-jangan kau, "
Afi belum melanjutkan.
"PEDOFIL! KAU PEDOFIL KAN?!!! "
Teriak Afi.
Laki-laki tersebut memejamkan matanya, merasa sangat terganggu dengan gadis yang kini dia bawa kesuatu tempat.
"Apa yang sebenarnya terjadi, aku bingung, kenapa tidak ada seorang pun yang menolongku! Ada apa dengan semua orang! Dan kamu, siapa kamu sebenarnya?! "
Tanya Afi begitu serius.
Laki-laki itu melirik kearah kaca kecil yang terpantul kewajah Afi. Dia langsung menginjak rem mobil, perlahan mobil terhenti. Dia lalu melepas hoodie yang menutup kepalanya dan juga melepas maskernya.
Nampak terlihat dengan jelas wajah putih bersihnya, alis tebal, hidung mancung, dan rambutnya yang dia belah samping kanan. Wajahnya sangatlah teduh, seperti nya rembulan purnama dimalam hari bisa cemburu dengan kesempurnaan wajahnya.
Dia menengok ke arah Afi. Afi terkejut.
"Aku, "
Laki-laki itu tidak melanjutkan kata-katanya, kemudian menghadapkan kepalanya kedepan seperti semula. Dia langsung menginjak gas mobil dan mobil dengan cepat melesat meninggalkan tempat.
"Hei! Kau mau bilang apa tadi? "
"Lupakan."
"Cepatlah katakan! "
"Jelaskan saja disini! "
"Didalam mobil bukanlah tempat yang kondusif untuk bicara serius denganmu. "
"Lalu, dimana? "
Tanya Afi membelalakan matanya.
"Diam, dan lihat saja dengan tenang. "
"TENANG?! BAGAIMANA BISA TENANG KALAU KEADAANNYA BEGINI DASAR LAKI-LAKI ANEH! "
Sontak laki-laki itu mengerem mobil tiba-tiba. Tubuh Afi terdorong kedepan.
Dia menengok kearah Afi lagi dengan wajah sebal.
"Diam, bocil."
Afi mengedipkan matanya dua kali menatap wajah laki-laki yang kini juga menatapnya. Laki-laki itu lalu menghadapkan kepalanya lagi kedepan dan menginjak gas.
Afi terdiam sejenak, lalu membatin,
"Bocil katanya? Dia terlihat seperti orang yang berpangkat tinggi. Namun apakah itu yang dilakukan orang berpangkat tinggi untuk menyelesaikan masalah? Lagipula masalahnya dimana? Paling tidak jelaskan dulu aku melakukan sebuah kesalahan apa kek! "
Batin Afi merasa jengkel lalu mendengus kesal bersamaan pandangannya yang dia lempar ke jendela kanan mobil.
Laki-laki itu melirik kearah kaca tadi. Dia melihat wajah Afi yang penuh dengan rasa kesal. Dia lalu tersenyum evil dilanjut matanya yang fokus kedepan kembali.
Mobil cepat melesat. Tidak lama, sekitar 15 menit mobil berhenti didepan sebuah perusahaan besar. Afi sempat takjub melihat bangunan seperti tower kaca menjulang tinggi keatas langit.
Laki-laki tersebut melepas sabuk pengamannya dan melihat Afi masih memandangi gedung besar didepannya.
"Tunggu apalagi? Cepat keluar! "
Perintahnya membuyarkan ketakjuban Afi barusan. Dia lalu membuka pintu mobil dan keluar.
"Dasar laki-laki misterius, gila, aneh, kasar, tak punya hati! "
"Cepat keluar, atau aku kunci dari luar. "
"I-iya-iya aku keluar!"
Sahut Afi yang kemudian membuka pintu mobil dan menginjakkan kakinya ke halaman ber-paving blok.