
Kota Tanjung Karang, Lampung
01 April 2022
"Aku berangkat, Bu. "
Ucap Afi sambil mencium tangan ibunya.
"Iya, semoga dapat yang terbaik. " Ibu tersenyum hangat pada Afi.
Afi kembali menghadap ke depan rumah, melihat ayah yang sudah bersiap mengantarnya untuk sekolah. Sepintas kejadian tidak mengenakan mengenai Afi yang dibentak ayahnya di depan banyak orang beberapa hari lalu kembali datang dalam benaknya. Namun Afi membuang jauh-jauh pikiran itu, tidak mau harinya diawali dengan pikiran yang negatif dan tentunya menyayat hati.
Afi berjalan menghampiri ayah yang sudah menaiki motor, dan ia pun langsung duduk dibelakangnya.
Ada rasa canggung yang hebat antara dia dengan ayahnya. Sudah tidak seperti biasanya. Hubungan Afi dengan Ayahnya tidak sehangat yang dulu.
"Afi sudah sarapan? "
Ucapan ayahnya sontak membuyarkan pikiran Afi.
"Sudah, ayah. "
Jawab Afi singkat.
Ayah pun mulai menghidupkan mesin motor, dan langsung pergi melesat menuju tempat Afi sekolah.
***
SMA Negeri 9 Bandar Lampung
Sekolah formal yang terletak di Jl. Panglima Polim no. 18 Segala Mider, Kec. Tanjung Karang, Bandar Lampung.
Afi melangkahkan kakinya melewati gerbang sekolah. Langkahnya terhenti sejenak. Pohon-pohon sejauh mata Afi memandang telah basah berkat hujan tengah malam. Udara sejuk di pagi hari seakan menyapanya dengan penuh kebahagiaan. Memberikan energi positif yang terserap dalam tubuh Afi.
Afi menghela nafasnya, merasa pagi ini benar-benar pagi yang menyenangkan.
"Kalau ingin bahagia hari ini, kamu harus mengawali pagimu dengan pikiran dan tindakan yang positif. Semangat Afi! "
Batin Afi memotivasi diri dilanjut dengan selembar senyum manisnya.
Afi kembali melangkahkan kakinya. Menghadapkan pandangannya kedepan, dan melanjutkan perjalanan untuk pergi ke kelas.
Namun tak lama langkahnya terhenti. Pandangannya teralih pada kedua siswi yang posisinya berada tidak jauh dari tempat parkir motor sebelah kanannya hendak berjalan mendekat.
Afi kemudian memandangi wajah-wajah 2 sosok siswi yang sangat dia kenal tadi berjalan menghampirinya.
"Afiii"
Sapa temannya berlari cepat mendului teman yang lainnya.
"Jangan lari-lari gitu, kamu ga malu apa banyak ikhwan diparkiran ngeliatin kamu? "
Afi langsung menegurnya.
Temannya langsung menepuk pundak Afi.
"Yang penting pakaianku tertutup, hehehe"
Jelas teman Afi menyengir dan disusul tawa kecilnya.
Afi menggeleng,
"Justru itu, Crysta. Pakaian tertutup harus digenapi dengan sikap yang anggun. "
"Sikap yang anggun katamu? "
Teman Afi bernama Crysta tersebut mengernyitkan dahi dan disusul tawa kecilnya.
"Kau ngga tau apa? dirimu itu jauh dari kata anggun tau! "
Lanjut Crysta sambil menyubit pipi Afi.
"Aku itu anggun banget loh, "
Afi tak melanjutkan. Crysta lalu menatap Afi dan masih mengernyitkan dahi.
"Anggun yang tertunda. "
Lanjut Afi disusul tawanya yang hampir terdengar keras.
"Yeee, bisa aja kamu, Afi. "
Crysta kembali mencubiti pipi Afi sambil tertawa.
"Aw, sakit, sakit, Crysta! "
"Tembem banget pipi kamu, Afi. Pengen deh kapan gitu aku coblos pipi mu pakai jarum"
"Iri bilang bos."
Crysta dan Afi pun langsung tertawa bersamaan.
"Kalian dari tadi ketawa-tawa begitu, ga liat apa di sekitar kalian banyak anak yang sedari tadi terfokus pada kalian? "
Sela teman lainnya yang sudah dihadapan Afi dan Crysta.
Afi dan Crysta langsung tersadar, sedari tadi mereka tidak melanjutkan perjalanan untuk ke kelas dan malah cengengesan diantara anak-anak yang melewati mereka.
"Sepertinya yang ga anggun sesungguhnya itu kita berdua, Crysta. "
Lirih Afi dengan wajah datar menghadap Crysta.
"Lah, kok bener. "
Tambah Crysta cengengesan dan memukul punggung Afi.
"Uhuk."
Afi terbatuk kecil berkat pukulan jail Crysta.
"Udah-udah, ayo kita langsung ke kelas! Pembagian raport sebentar lagi akan dimulai! "
"Oke, Seirin!"
Seru Afi dan Crysta bersamaan.
Afi, Crysta, Seirin dan dua teman lainnya pun pergi ke kelas. Afi dengan Crysta berada dikelas XII IPS 1, sedangkan Seirin dengan kedua teman akrab mereka berada dikelas XII IPA 1.
Kelima sahabat itu termasuk kedalam siswi paling berprestasi disekolah. Afi dengan Crysta yang selalu berebut Rank 1, sedangkan Seirin dan kedua teman lainnya selalu masuk Rank 3 besar.
Terlebih lagi dengan Afi. Anak dengan talenta yang multi, aktif, berhati lembut (walau sedikit bar bar), dan pernah menjadi siswi terjenius berkat dia memenangkan lomba
'The Jenius Best of The Best' tingkat Internasional dalam bidang akademik Bahasa Inggris dan mempresentasikannya dengan berbahasa Inggris pada audiens, sekaligus membawa nama baik sekolahnya.
Membuatnya disegani oleh banyak orang, terlebih Afi memiliki wajah berparas cantik, bertubuh sedikit kurus namun ideal, tinggi badannya pun 160cm, termasuk tinggi yang ideal bagi anak perempuan usia 17 tahunan. Kecantikan, kecerdasan, serta kebaikan menjadikannya Mostwanted sekolah.
Para anak laki-laki selalu mencoba mendekatinya. Namun selalu gagal. Pernah terjadi peristiwa Afi diajak untuk berpacaran oleh seorang siswa dikantin sekolah.
***
Ketika Afi sedang asik memakan baso bersama Crysta. Laki-laki itu perlahan berdiri didepan meja kantin yang Afi tempati.
"Afi, kamu itu cantik bersinar bagaikan bulan dimalam hari. Bibirmu pink alami, sepink bunga Whirls, dan matamu indah bagaikan manik crystal biru tosca"
Ucap puitis laki-laki tersebut membuat hampir semua pandangan siswa-siswi dikantin terfokus pada Afi.
Afi pun mulai terganggu dengan ungkapan-ungkapan puitis laki-laki yang berada tepat didepannya.
"Senyummu menunjukan betapa keibuannya dirimu.. "
Crysta yang berada disamping Afi pun malu-malu menunduk berusaha menutupi wajahnya. Afi hanya diam dan melanjutkan makannya walau masih terdengar laki-laki itu masih menuturkan puisi-puisinya.
"Usir lah laki-laki ga jelas itu! "
Bisik Crysta pada Afi.
"Biarkan saja dia, nanti juga lelah sendiri. "
Jawab Afi biasa saja.
"Kau ngga malu Afi? kita jadi pusat perhatian anak-anak kantin!"
"Hmm.. "
Jawab Afi sangat singkat.
"Jawaban apa itu?!, ayo cepat hentikan di-"
Belum sempat Crysta melanjutkan, Tiba-tiba terdengar ucapan laki-laki didepan mereka yang benar-benar membuat mereka terkejut.
"Afi, maukah kamu berpacaran denganku? "
Seketika kedua bola mata Afi dan Crysta membulat besar, terbelalak.
"Harom desu. "
Jawab Afi kembali merasa santai.
Crysta sontak menoleh dan menatap Afi.
Suasana kantin jadi semakin riuh. Laki-laki itu merasa urat nadinya terputus. Sangat malu.
Salah satu teman laki-laki tersebut mengucap lirih sambil menutupi wajahnya dengan telapak tangan,
"Bukan temen gue! bukan temen gue! "
****
Dari peristiwa tersebut sampai sekarang tidak ada laki-laki yang berani menembak Afi dihadapan umum.
Adapun yang masih mencoba mendekati Afi, hanya sekedar untuk merasa dekat saja namun tetap saja yang namanya berlian, tetaplah berlian. Tidak boleh ditaruh dijalan sembarangan. Afi selalu tegas menghindari komunikasi dengan laki-laki yang mendekatinya, kecuali jika ada unsur syar'inya.
Setelah pembagian raport, tepatnya waktu istirahat, Afi dan Crysta masih tetap didalam kelas. Mereka lebih betah dikelas dari pada keluar kelas. Ke kantin pun hanya sekedar makan dan kembali kekelas, tidak sampai berlama-lama di kantin sampai waktu istirahat habis.
"Kamu jadi lanjut di UNILA atau UI? "
"Aku lebih mau ke UI, Crysta. Namun gak mau juga jauh-jauh dari domisili."
"Berarti UNILA, dong? kan yang deket."
"Maybe yes. "
Jawab Afi dilanjutkan dengan membuka ponselnya.
"Kamu sendiri, Crysta? jadi kerja diluar Lampung? "
Tanya Afi kembali pada Crysta
"Gak tau juga, Afi. "
Wajah Crysta sedikit cemberut.
"Kalau gak minat keluar Provinsi, lebih baik didalam Provinsi, aja, Crys. Biar kita ngga kejauhan. Apa kamu gak bakal kangen sama aku? "
Afi ikut cemberut. Crysta menatap wajah Afi.
"Afi, nanti kalau kamu selesai S1, mau lanjut kerja kan? "
"Aku berniat ambil Magister, Crys. Pengen jadi dosen Bahasa Inggris. Yah, walau syarat jadi dosen itu minimal S1, namun aku memang sudah merencanakan untuk menempuh pendidikan lebih jauh lagi. "
Afi pun mulai tersenyum.
"Keren lah~, kamu juga kan selalu menduduki Rank 1, prestasimu banyak, terlebih ketika kamu menang juara 1 di lomba jenius akademik tingkat internasional itu, kamu multitalent juga, Afi. Insya Allah kamu bakal jadi wanita karir yang luar biasa! "
"Ah, kamu. Jangan terlalu memuji begitu! Kamu juga luar biasa kok! "
Ucap Afi meyakinkan dengan positif pada Crysta.
"Iya, Afi. Aku pengen kuliah sebenarnya, namun orangtuaku tidak mengizinkan, kamu tau sendiri kan? "
Jelas Crysta kembali cemberut.
"Iya, Crys."
Jawab singkat Afi.
"Bagaimanapun kamu tetap keren, Crys. Mentalmu luarbiasa! Bisa menerima permintaan orangtuamu yang ngga sesuai keinginanmu, namun kamu tetap patuh terhadap perintah orangtuamu. Kerja juga perlu mental yang kokoh, loh! "
Lanjut Afi meyakinkan Crysta untuk memberi semangat padanya.
"Makasi ya, Afi."
Crysta tersenyum hangat menatap Afi.
"Oiya, Afi. Setelah jadi dosen? Kamu menikah kan ya? Atau ngga dulu? Terus nikahnya kapan dong?~, Btw kamu nikah umur berapa?... "
Suasana hangat jadi meluntur karna banyaknya pertanyaan yang dilontarkan Crysta tentang 'p e r n I k a h a n' pada Afi. Wajah Afi pun datar. Matanya sayu. Crysta masih saja melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang terbilang tabu ketika Afi dengar.
"Sudahlah, Crysta. Soal nikah itu nanti saja, kalau sudah sukses."
"Lah kalo nikahnya nunggu sukses, terus kalo ga sukses-sukses kapan nikahnya dong? "
Pertanyaan Crysta barusan menyadarkan Afi. Benar juga apa yang dikatakan Crysta.
"Bener juga, ya. Kok aku belum merencanakan hal itu ya, Crys. Tumben kamu pandai. "
Seru Afi dengan mata berbinar.
"Aku itu memang pandai, tau! "
Crysta pun tegas berucap sambil menampakkan jari jempol tangannya dan mengedipkan sebelah matanya.
"Hmm, nikah, ya.. "
Gumam Afi.
"Yasudah, Afi, jangan terlalu dipikirkan untuk sekarang ini. Pikirkan dulu tentang bagaimana nanti kamu masuk ke campusmu. "
Jelas Crysta kembali tersenyum. Afi pun mulai tersenyum juga.
"Iya, Crysta. "
"Afi, kamu dipanggil Kepala Sekolah. "
Ucap salah satu siswi kelas XII IPA 1 menyela, lebih tepatnya teman Seirin yang bernama Caira.
Afi dan Crysta pun langsung terbingung-bingung dengan informasi tersebut.
"Kira-kira perihal apa ya, Caira? "
"Kurang tau, Afi. Ketika aku pergi ke kantor untuk mengumpulkan laporan ujian praktek, tiba-tiba dapat amanah dari Kepala Sekolah padamu untuk memenuhi panggilan beliau."
Crysta dan Afi saling menatap.
"Kamu kan bukan termasuk siswi yang bermasalah, Afi. Tenang saja. "
"Iya, Crysta, akupun berpikir begitu."