
Suasana ruangan memang sejuk berkat AC yang terpasang disana. Namun seluruh tubuh Afi terasa sangat panas. Begitu panasnya sampai wajahnya masih memerah. Afi juga masih melotot dan menatap kosong kearah lantai. Mencari-cari jawaban yang tepat dalam benak.
"Afi? "
Panggil pria itu pelan.
Pikiran Afi langsung membuyar. Afi berusaha sebisa mungkin untuk tidak merasa gugup.
"Eh, em-maaf, Pak. "
"Iya, tidak apa-apa. Saya masih menunggu jawabanmu. "
Ucap Profesor itu padanya.
Afi akhirnya menemukan jawabannya. Ya. Dia ingin menjadi dosen Bahasa Inggris dan ingin kuliah sampai magister dengan kurun waktu yang cepat. Dia tidak ingin membuang-buang waktunya untuk bekerja menjadi sekretaris privat seorang Profesor. Itu pasti juga akan membuatnya kerepotan sebagai seorang wanita karena bekerja berdampingan dengan seorang ikhwan. Lagipula dia sama sekali tidak ada niatan untuk bekerja dikantor.
"Hmm..., Sebelumnya saya mohon maaf, Pak Profesor. Bukanya saya tidak mau bekerja, namun planning saya setelah lulus ini hanya ingin fokus kuliah saja, tidak ada niatan dengan bekerja. "
"Akhirnya lancar berbicara juga.. "
Afi langsung terus terang dilanjut batinannya.
Profesor itupun mengerutkan dahi, baru kali ini tawarannya ditolak. Menjadi sekretaris seorang profesor adalah jabatan yang sangat diinginkan wanita. Terlebih jika profesornya juga tampan. Banyak sekali wanita yang mencoba untuk mendaftarkan dirinya menjadi sekretaris Profesor pemilik toko buku terkenal se-Indonesia itu. Sekitar ada 1500 wanita dalam setahun yang mendaftar. Namun selalu saja gagal.
Profesor memasang wajah muram. Benar-benar marah karena tawarannya ditolak oleh seorang siswi SMA kelas 3. Dia tidak ingin harga dirinya jatuh begitu saja karena penolakan tersebut.
"Andai kau tau, banyak wanita yang ingin menjadi seorang sekretaris seorang profesor. Mereka rela memenuhi syarat yang membebani namun mereka selalu saja aku tolak. Kesempatan ini hanya sekali dalam seumur hidupmu. "
Jelas Profesor masih muram membuat Afi merasa takut.
"Maaf, Pak Profesor. Saya masih teguh pada planning yang sudah saya rancang sejak 3 tahun lalu. Sekuat apapun Pak Profesor meyakinkan, saya tidak akan melenceng dari planning saya. "
Afi melembutkan nada bicaranya. Berharap tidak akan terjadi apa-apa.
Bapak Kepala Sekolah hanya tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana.
"Hehehe, coba dipikirkan lagi, nak Afi. Ini benar-benar kesempatan emas! "
Yakin Bapak Kepala Sekolah.
"Sudah, Pak. Terima kasih sudah meluangkan waktu dan tempatnya. Urusan saya hanyalah ingin menawarkan, jika cortumer menolak, tanggungjawab saya sudah selesai. Terkhusus oleh anak kecil ini. "
Ucap Profesor menambah suasana yang tidak mengenakan.
"Keputusanku memang benar-benar tepat. Profesor ini hanya pangkat saja yang tinggi, tidak dengan rasa menghargai pendapat orang lainnya. Jika saja aku menerima tawarannya, bisa habis juga darahku nanti. Benar-benar menakutkan! "
Batin Afi yang kemudian menelan ludah dengan kasar.
"Oh! Sama-sama Pak Profesor! "
Jawab Bapak Kepala Sekolah dilanjut tawa kecilnya.
Afi pun berdiri, dan menghadapkan kepalanya menuju Bapak Kepala Sekolah, kemudian berbicara,
"Saya keluar dulu, Pak. Terima kasih ya,Pak. Pak Profesor juga, Terima kasih banyak atas tawarannya. "
Afi menoleh ke arah Profesor yang tengah menatapnya tajam. Sontak Afi tertekan, dan kemudian dia melangkahkan kaki untuk keluar.
"Assalamu'alaikum."
Ucap terakhir Afi.
"Sama-sama. Waalaikumsalam. "
Profesor menjawab dengan datar sambil melipat kedua tangannya didepan dada.
Afi akhirnya keluar dari ruangan tersebut.
"Anak kecil itu unggul karena cantiknya saja, tidak dengan pemikirannya. "
Lanjut datar Profesor pada Kepala Sekolah.
"Hehehe, dia siswi yang luar biasa pandai, Pak Profesor. "
Afi ternyata masih didepan ruangan itu. Tidak sengaja pula dia mendengar ucapan terakhir Profesor.
" Cantik katanya? Profesor itu memang kurang dalam menghargai seseorang! Kamu pandai, Afi! Keputusanmu sangatlah tepat! "
****
"Aku tidak menyangka sesosok orang tinggi pangkat pun bisa seenaknya begitu, Afi. Tawarannya memang bagus, namun keputusanmu itu lebih bagus! "
Yakin Crysta yang duduk disebelah Afi.
Afi lalu menghela nafas panjang dan menenggelamkan kepalanya diantara kedua tangannya yang dia lipat diatas meja.
Gumam Afi dengan nada suara yang lemas.
"Sudahlah, jangan dipikirkan, Afi. Pikirkan saja kuliahmu nanti! "
"Iya, Crysta. Oh iya, ngomong-ngomong kenapa kau chat aku kalau tadi masuk pelajaran ketiga? Kita kan sudah bagi raport. "
Afi masih melemaskan nada suaranya.
Crysta yang mendengar pertanyaan Afi pun langsung menjawabnya,
"Maaf, Afi. Bu Indah tadi masuk aku kira akan belajar, eh ternyata selang beberapa menit kemudian aku tersadar bahwa kita tadi pagi baru saja bagi raport, hehehe~"
Crysta menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Yasudah kalau begitu, tidak apa-apa. Jangan meminta maaf. Aku juga tadi lupa kalau kita sudah bagi raport. Saking tegang dan gugupnya aku diruang Kepsek tadi sampai-sampai bikin aku nggak fokus. "
"Dasar kita! Hahaha~"
Sahut Crysta disambung tawanya.
Afi kemudian mengangkat kepalanya dan menengok kearah sahabatnya yang duduk disampingnya.
"Oh iya, Crys. Besok aku akan pergi ke UNILA untuk mendaftar. Kau mau ikut? "
"Whoaa? UNILA? Oke! Aku ikut! "
Jawab Crysta dengan seru.
"Baiklah."
Ucap Afi singkat.
Afi dan Crysta langsung bertukar senyum.
Beberapa detik kemudian, datang seorang siswa laki-laki bersama dengan kedua temannya. Laki-laki tersebut bisa dikatakan laki-laki yang berparas tampan, dengan tinggi badan sekitar 178 cm, tubuh ideal, dan cerdas dalam pelajaran Matematika.
Dia juga jago bermain game online. Terlebih lagi game FPS. Pernah ditawarkan oleh Squad Game Battleground untuk menjadi seorang Pro Player, namun dia tolak. Sebab dia hanya ingin menjadi Streamer Game di Channel Youtubenya saja, bukan menjadi seorang Pro Player.
Tempat duduk laki-laki itu diseberang kiri barisan tempat duduk Afi. Tepat disamping Afi.
Afi pernah dekat dengan laki-laki itu ketika dia kelas 9 SMP. Namun sekarang ini tidak lagi karena Afi memang benar-benar ingin menghindari laki-laki secara intens.
Crysta langsung mendekati Afi dan berbisik,
"Kamu masih suka sama Tata? "
Afi menggeleng.
"Kenapa? Dia keren gitu, loh. "
"Namanya juga hati, Crys. Sudah mati rasa, gaada rasa apapun lagi sama laki-laki. "
Afi menjawab lirih pada Crysta.
"Ngeri dong, suka sama perempuan berarti kamu, Afi?! Heee, bisa-bisanya aku punya teman yang aneh seperti ini! "
Ucap Crysta dengan nada suara yang keras.
Afi langsung kepanikan dan menutup mulut Crysta.
Laki-laki itupun menoleh kearah Afi. Tertawa kecil dan berbicara,
"Afi kan memang aneh. "
Pandangan Afi dan Crysta lalu tertuju pada laki-laki bernama Rey tersebut. Tanpa sengaja, Afi dan Rey bertatapan, membuat Afi langsung memalingkan pandangannya ke arah lantai.
"Mana ada aku aneh. "
"Kamu itu aneh. Berbicara dengan siapa, tapi menghadap kemana. Atau memang lagi bicara dengan lantai? "
Tambah Rey disusul tawanya.
Afi hanya terdiam. Lagi-lagi wajahnya memerah. Walau kata-kata Rey termasuk menghina, jauh dipalung hati Afi terdalam sana, ada sesuatu yang bergejolak, tidak nyaman, dan benar-benar sulit dikendalikan.
"Kamu ingat peristiwa itu, Afi? Saat kita SMP? "
Tanya Rey yang langsung membuat Afi terkejut dan membelalakan bola matanya.
"Peristiwa?! Peristiwa apa itu Rey?! M-maksudnya, Afi?!!"
Sahut Crysta penasaran dengan lanjutan dari perkataan Tata.
Afi masih dalam keadaan terkejut dan membelalakan matanya. Peristiwa itu, benar-benar tidak akan pernah bisa Afi lupakan. Peristiwa tentang dirinya, bersama laki-laki yang pernah Afi taruh hati padanya namun terhalang oleh sesosok perempuan. Peristiwa yang masih membekas permanen dalam benak.