
AFI POV
Menjadi seorang wanita adalah seindah-indahnya anugerah yang telah Allah limpahkan kepadaku. Atas nikmat Allah yang telah Ia berikan kepadaku menuntutku untuk menjadi seorang hamba-Mu yang patuh terhadap segala apapun yang Kau perintahkan.
Hari-hari disetiap mengikisnya umur, membuatku mengerti, betapa berharganya hidup dan betapa bernilainya waktu jika saja aku sia-sia kan untuk mengikuti hawanafsu.
Padahal, tempat kekal dan tempat pulang yang sebenarnya adalah kampung akhirat yang kekal selalu.
Aku bukanlah wanita baik, aku hanya berusaha untuk membuat diriku menjadi lebih baik dari hari-hari sebelumnya yang pernah kulewati. Walau terkadang, Allah mengujiku berupa nikmat dunia dan berbagai rintangan hidup sebagai sarana perbekalan untuk pulang ke kampung akhirat nanti.
Tentang seberapa tangguh dan kuatnya aku dalam menghadapinya dengan kesabaran dan keikhlasan. Sebab, aku yakin. Allah tidak akan ingkar dengan janji-Nya.
Kesempatan berupa nafas yang masih berhembus, jantung yang masih berdetak, dan otak yang selalu terbenak akan aku optimalkan ikhtiar dalam ke-ikhlas-an.
Dengan harapan meninggal dalam keadaan Husnul Khatimah ataupun mendapatkan pendamping hidup yang akan menjadi imam dan menuntunku sampai ke-Jannah.
Namun ternyata Rabb memberiku imam yang sebenarnya tak pernah ingin rasanya kumiliki. Rasa syukur tetap ku tanamkan dalam hati berkat imam yang sudah Rabb beri, tapi sukar sekali kudapati dari jauh palung hati bahwa aku belum bisa untuk menerima takdir yang telah Allah anugerahi.
Aku hanyalah seorang hamba, dan tugasku hanyalah percaya terhadap takdir yang sudah Allah gariskan. Bahwa akan ada masa indah atas usaha yang nanti terbayarkan dan doa pasti terkabulkan.
Bandar Lampung, Lampung
01 April 2022
Gemercik hujan memecah keheningan bumi Kota Bandar Lampung. Menjadi penyebab betapa sejuknya dini hari ini. Pukul 03.35 dengan tepatnya aku terbangun. Beranjak dari pulau kapuk dan sesegera mungkin mengambil air wudhu. Langsung melaksanakan Solat Tahajud dan bermunajat kepada Rabb-nya semesta alam perihal hajat-hajat yang terkubur dalam hati.
"Bismillahirrahmanirrahim. Ya Rabb, Malik, Illah. Tak ada zat yang patut ku ibadahi melainkan kepada Engkau, Ya Allah."
Lirihku berdoa.
"Aku tau, semua ini hanyalah titipan, kesehatan, harta, hingga jiwa yang telah Kau berikan padaku ya Allah, akan kembali pada-Mu dalam waktu yang sudah ditentukan. Karna sungguh, Solat ku, Ibadahku, hidup hingga matiku benar benar ku ikhlaskan hanya untuk-Mu ya Allah. Maka, biarkan aku menjadi hamba-Mu yang selalu taat hingga dipenghujung titik pengahabisan nyawa."
Waktu tak lama berselang, rasa sedih datang menghunjami hatiku. Aku menahan isak tangis. Kutahan habis-habisan yang tersangkut ditenggorokan. Walau sebenarnya aku ingin menangis sejadi-jadinya malam ini.
Peristiwa kemarin benar-benar membuat hatiku sakit. Tentang seorang pahlawanku yang tega membentak diriku dihadapan umum untuk pertama kalinya, dan kurahap itu pula bentakan terakhir dari beliau untukku.
"KAMU GA PANTAS JADI ANAKKU!"
Bentakan dari sesosok laki-laki paruhbaya masih teringat dalam benak.
"GA USAH SOK SUCI KAMU!!! PERCUMA BERHIJAP BEGITU TAPI MASIH MENGHINA ORANGTUA!!! "
Bentakan itu berlanjut teringat dalam benak.
"Percuma... "
"Percuma... "
"Percuma... "
Ucapku lirih.
Tangisku sudah tak terbendung lagi. Kututup rapat-rapat mulutku penuh harap isak tangis ini janganlah sampai terdengar orang dirumah.
Dengan menahan tangis, aku berusaha untuk melanjutkan munajatku,
"Aku tau aku adalah seorang anak perempuan yang kurang mengontrol amarahku, terimalah ampunanku ini yang telah membuat orangtuaku semarah itu padaku. Aku merasa diriku ini sangatlah hina, telah melukai hati ayah, dan tiadalah berani aku meminta ampun dihadapan ayahku sendiri. Maka kepada-Mu lah aku meminta ampun ya Allah."
Aku menangis sejadi-jadinya. Mengeluarkan rasa pilu yang sungguh mendalam. Berbulir-bulir air keluar dari mata, membasahi kuyup pipiku. Kenapa tega sekali aku melukai hati pahlawan yang membesarkanku. Yang rela kerja sampai larut pantang menyerah. Yang rela tak membeli kepentingannya demi kepentingan anak dan isterinya.
Mengapa bisa setega itu aku?! Mengapa?!!
****
Kota Metro, Lampung
20 Februari 2019
Ayahku, Pahlawanku.
Ayah benar-benar membawa pengaruh besar dalam hidupku. Sejak aku kecil sampai aku berumur 17 tahun sekarang ini. Dari Sekolah Dasar aku dibesarkan oleh nenek, sebab ayah dan ibu pergi merantau ke Bangka Belitung.
Baru menginjak SMP bersamaan dengan keadaan ekonomi yang mulai membaik, ayah dan ibuku memutuskan untuk bekerja di Lampung sembari mengasuh kedua adikku.
Ayahlah yang selalu memberi motivasi tentang siapa sebenarnya aku. Pandai secara akademik, soal menggambar, public speaking, hingga soal spiritual telah aku kuasai dan terus aku gali.
Ayah salah satunya sosok yang selalu membuatku menanamkan sikap untuk selalu berusaha dan pantang menyerah, setelah ibu yang membuatku akan kesadaran hati dan mental harus kuat dan tegar demi mengalahkan kerasnya hidup.
Ayah rela menjual mobil hasil kerja kerasnya hanya untuk membiayai aku menuntut ilmu dipesantren. Masih tertanam dalam benak memori dikala ayah datang ke pesantren hanya untuk menjenguk anak pertama perempuannya.
Waktu itu selepas solat subuh berjamaah, aku tak sengaja melihat sosok laki-laki paruhbaya tengah duduk di kursi tunggu. Dan akupun mengenali sosok itu. Rambut hitam legam, kulit sawo matang, dengan wajah yang teduh masih lekat melekat dalam memoriku.
Ya. Itu ayahku.
"Ayah? "
Lirihku sambil mengamati sosok itu. Tak perlu pikir panjang, aku langsung berjalan cepat menghampiri sosok yang kukenal sebagai ayah itu.
Setelah sampai, ternyata benar, itu ayah. Ayah memandangku dengan wajah sumringah dan menampakan selembar senyum tipisnya. Aku berdiri tepat di hadapan ayah.
"Ayah daritadi nungguin aku disini?"
"Iya. Ayah nunggu Afi dari jam 2 pagi."
Jawab ayah dengan keadaan mata yang kemerah-merahan.
"Kenapa ayah ga bobo dulu tadi? "
tanyaku berlanjut masih menatap wajah ayah yang mengeriput.
Ayah tersenyum dan menjawab,
"Gak apa-apa, Afi. Nanti kalo ayah bobo, Afi gatau kalo ayah kesini. Karna Afi juga kan ga boleh bawa HP, jadi ayah lebih baik nunggu disini. Gak apa-apa ayah ga tidur, yang penting ayah bisa ketemu sama anak perempuan tercantiknya ayah."
Jelas manis ayahku disusul tawa kecilnya.
Hatiku terenyuh mendengar perkataan ayah. Rasa kasih sayangnya benar-benar beliau limpahkan kepada anaknya. Aku mengerutkan mulut, lemas, dan terharu dengan sikap ayahku terhadapku.
"Ayah harusnya bobo dulu tadi ditempat penginapan khusus"
"Ngga Afi, nanti Afi gatau kalo ayah kesini. Apa ayah kedepannya kalo nunggu Afi bobo dikursi tunggu ini aja ya biar Afi nya tau kalo ayah jenguk Afi" sela ayah.
Aku menghela nafas sejenak,
"Aku gamau ayah nunggu malem-malem disini. Udah dingin, ayah juga ga tidur. Pokoknya Afi ga mau!"
Ucapku memalingkan pandangan dan melipat tangan didepan dada.
"Afi baru dateng loh, masa tiba-tiba nyambut kedatangan ayah dengan perasaan kesal begitu."
"Tau ah." ketusku.
"Afi, jangan ngambek gitu dong sama ayah. Afi tega ya ngambek sama ayah."
Aku melepas lipatan tanganku tadi.
"Abisnya ayah kenapa coba kesini malem-malem, udaranya dingin gini nunggu diluar, terus ga tidur. "
Aku kembali menatap mata ayahku yang masih kemerah-merahan itu.
"Hehehe ayah abis ada acara di daerah dekat Kota Metro. Jadi, sekalian ayah nyempetin kesini untuk jenguk Afi. Ayah kangen sama Afi, atau jangan-jangan Afi ga kangen ya sama ayah? pengen ayah cepet cepet pulang? "
"Ayah gapeka ihh"
Sela ku ketus sambil melipat kedua tangan kembali. Aku mengerutkan mulut dan membuang muka.
"Hehehe yaudah, ayah pulang ya. "
Ucap ayah dilanjutkan beranjak dari kursi tunggu.
Aku dengan cepat menarik tangan ayah dan mencegahnya untuk pergi.
"Ayah.. " Aku merengek pada ayah.
Ayah kemudian cengengesan. Dan menghadapkan tubuhnya didepanku.
"Ayah jangan pulang, "
Ucapku sambil menunduk kebawah.
"Afi kangen banget sama ayah. Kenapa ayah ga peka gitu sama Afi. Afi marah karna itu untuk kebaikan ayah. Afi marah karna ayah ga bobo dan memilih duduk diluar ruangan yang dingin kek gini. Afi gamau setelah ayah pulang jenguk Afi, malah bikin ayah sakit, dan Afi gamau ayah sakit."
Ucapku terus terang pada ayah.
Ayah kemudian tersenyum manis dan mengusap kepalaku yang masih tertutup kain mukenah.
"Iya Afi sayang, bidadari kecilnya ayah."
"Ayah udah makan? "
aku langsung menyela dengan pertanyaan. Aku kembali menatap ayahku.
Ayah menggeleng.
"Belum"
"Kok belum ayah, ayah ga bawa bekal? "
"Ngga dong Afi, ayah awalnya kan cuma ingin pergi ke acara dekat sini."
"Yaudah, Afi belikan makanan ya! Mumpung Afi masih ada pegangan. "
Aku mulai tersenyum kepada ayah.
"Emang berapa pegangannya? "
ucapnya sambil melepaskan tangannya dari kepalaku.
"Tinggal 10 ribu, ayah. Tapi seenggaknya cukup untuk bikin ayah kenyang. Aku belikan ya? ayah mau apa? sehabis ini aku mau langsung ke kamar untuk mengambil uang, menaruh alat solat dan bergegas membelikan ayah makanan di kantin asrama. "
Penuh ceria aku mengucapkannya pada ayah.
"Ayah gamau, ayah langsung pulang aja, Afi. "
setelah mendengar jawaban dari ayah tadi, aku langsung melemas kembali.
"Kok begitu sih, ayah. "
"Ayah mau langsung pulang, nanti ibu nyariin loh kok ayah belum pulang. Ayah mau ngabarin ibu juga kendala dengan ponsel. Karna baterai ponsel ayah sudah habis. "
Aku langsung berfikir sedetik, dan detik selanjutnya akupun menganggukkan kepala perlahan.
"Yaudah ayah gak apa-apa kalo mau langsung pulang. Padahal Afi pengen makan bersama ayah pagi-pagi begini sembari cerita tentang pengalaman Afi selama di pesantren sebulanan ini. "
"Hehe, iya Afi lain waktu saja. Nanti kalau ayah sama ibu berkunjung, Afi bisa langsung cerita banyak-banyak ke ayah dan ibu. Adek-adek juga bakal ayah ajak kok. "
Jelas ayah.
"Dan Afi juga hanya punya uang 10 ribu kan? "
Lanjut ayah dengan pertanyaannya.
Akupun mengangguk.
"Itu Afi pegang aja uangnya, untuk sarapan pagi ini. Insya Allah siang nanti ayah kirimkan uang saku ke tabungan pondok untuk Afi ketika memerlukan apa-apa."
Aku hanya mengangguk pelan sambil agak menundukkan kepala.
"Jangan lemes gitu dong. Bidadari kecilnya ayah yang selalu ceria mana nih, kok karakternya jadi begini."
Ucap ayah membuyarkan pikiranku yang berkelut dalam rasa sedih karena ayah ingin bergegas pulang.
"Senyum dong."
Ayah mengusap kepalaku lagi sambil tersenyum tulus kepadaku. Membuatku untuk membalas senyuman ayah.
"Iya ayah. Ayah hati-hati ya di perjalanan."
"Iya Afi. Afi jaga dirinya ya, jadi anak perempuannya ayah yang baik hati, sopan santun, dan tentunya wanita yang sholehah."
"Pastinya dong ayah, hehehe."
Seru ku dengan menatap ayah disusul tawa kecil.
"Ayah pulang dulu ya, nak."
Ayah menjulurkan tangan kanannya untuk memberi salim kepada anaknya. Aku langsung salim mencium tangan yang mulai berkeriput itu. Tangan pejuang yang hendak membahagiakan anaknya.
Ayah berjalan menjauh dari titik aku berdiri.
"Calm down, Dad. Nice too meet you in the point of success of your Little Angel."
Aku membatin, tersenyum sembari fokus memandang sosok ayah yang berjalan semakin jauh dariku. Mulai remang-remang menjauh dari pandanganku. Hingga, hilang lekas berkat tembok bangunan asrama lain yang menghalangi mataku untuk memandang.