NICE TO MEET YOU IN JANNAH

NICE TO MEET YOU IN JANNAH
EPISODE 4



Afi menelan ludah kasar. Lagi-lagi dia dibuat panik oleh perkataan yang telah Tata ucapkan barusan. Hatinya sangat cemas, saking cemasnya sampai dia menggenggam tangannya sendiri.


"Bagaimana kalau Crysta benar-benar akan berpikir aneh-aneh padaku setelah Rey menceritakan hal yang sama sekali tidak ingin aku dengar? "


Batin Afi bertanya-tanya dengan bola mata yang menengok kanan kiri karena perasaannya begitu cemas.


"Hey, Afi? Peristiwa apa? Kenapa kamu malah kepanikan begitu? "


Crysta semakin penasaran dengan peristiwa apakah dimasa lalu yang membuat Afi hingga terlihat cemas seperti itu.


Afi berusaha untuk membuat dirinya tenang.


"A-anu, p-peristiwa yang biasa aja kok! "


Afi tergagap.


Crysta mengernyitkan dahi,


"Eh? Kalau biasa saja kau tidak akan sepanik itu, Afi. "


"B-benar loh! "


Afi menyahut dengan mata yang berbinar menatap Crysta


"Baiklah, baiklah, Afi. Ceritakan peristiwa biasa itu. "


Pinta Crysta dengan penuh harap pada Afi dengan rasa penasarannya.


Afi semakin panik.


Crysta pun melanjutkan ucapannya,


"Aku ini sahabatmu, loh, Afi. Kamu kalau ada masalah apa-apa pasti cerita ke aku. Masalah keluarga sampai masalah tersepele pun kamu ceritakan kepadaku. "


Afi masih saja kepanikan, dan dia berusaha untuk bersikap biasa saja namun selalu sulit dia kendalikan.


Melihat Afi yang kepanikan, membuat Rey tertawa kecil. Pandangan Crysta lalu tertuju pada Rey.


"Kalau Afi tidak mau menceritakan, baiklah, aku akan mendengarnya sendiri dari Rey. Iya kan, Rey? "


"Boleh, Crys. Lagipula ini ceritanya biasa saja. Dan kamu juga pasti sudah tahu. "


Jawab Rey dilanjut senyumnya.


Afi menatap kosong ke meja yang ada didepannya. Benar-benar membuat dia panik. Ingin sekali rasanya dia menghilang tiba-tiba dari tempat itu. Atau jika saja dia dapat merubah waktu, dia pasti akan cepat merubahnya apabila peristiwa hari ini dia hadapi. Namun waktu tetaplah waktu, akan tetap terus berjalan, tidak dapat dirubah, bahkan tidak dapat dihentikan. Akan terus bertambah dan tidak akan berkurang.


Afi masih menatap lekat kearah mejanya.


"Jadi saat kelas 9 lalu, saat jam istirahat kelas lebih tepatnya, kami berada dikelas, Crys. Hanya berdua saja. Tidak lama, datang seorang siswa laki-laki dan dia langsung mengatakan bahwa aku dan Afi berpacaran. "


Jelas Rey dengan nada yang datar.


Afi bingung, lalu membatin,


"Apakah itu yang dimaksud 'peristiwa antara aku dan dia' ketika kelas 9 lalu? "


"Namun kau tau sendiri kan, Crysta. Afi tidak akan pernah berpacaran. Dan mustahil juga aku memiliki hubungan seperti itu dengan Afi. "


Lanjut Tata sambil menatap kosong kedepan.


Crysta memasang wajah datar. Dia sangka itu adalah peristiwa yang tidak pernah Afi ceritakan karena saking malunya Afi jika dia menceritakannya. Namun peristiwa itu sudah pernah Afi ceritakan padanya.


Crysta langsung angkat bicara,


"Cerita itu? "


Rey mengangguk.


Crysta menghela nafas panjang.


Rey masih melanjutkan,


"Lalu setelah itu.. "


"Sudahlah, itu sudah pernah Afi ceritakan padaku. Ah, ga asik! Kukira itu peristiwa yang sangat asik antara kau dengan Afi! Lagipula soal itu, aku tau lanjutannya. Seluruh angkatan kelas 9 lalu mengetahui rumor itu, kan? "


Sahut frontal Crysta menyela bersama pertanyaan yang dia lontarkan.


Rey melihat kearah lawan bicaranya itu lalu mengangguk lagi.


Crysta kemudian melemparkan pandangannya pada Afi. Terlihat Afi melototkan matanya kearahnya. Sontak Crysta terkejut.


"Astaghfirullah, Afi! Kenapa melototi ku seperti itu?! "


Kejut Crysta menepuk pelan pundak Afi.


"Asal ceplos saja kamu ya, Crysta. "


Bisik Afi dengan tatapan mata yang membulat merasa kesal dengan kata-kata frontal dari sahabatnya sendiri.


"E-eh? Astaghfirullah! "


Ucap Crysta langsung menepuk dahinya sendiri.


Mata Crysta lalu berbinar dan melanjutkan kata-kata nya lagi,


"Maafkan aku, Afi! Aku kelepasan! "


Bisik Crysta pada Afi.


Rey mendengar bisikan kedua siswi tersebut. Tingkah Afi membuat tawanya pecah seketika.


Pandangan Afi dan Crysta teralih kembali pada Rey.


"Hue? Kamu kenapa, Rey? "


Crysta bertanya pada Tata berharap jawaban Rey adalah tidak mendengar bisikannya dengan Afi.


"Sungguh ceroboh sekali kamu, Crysta! "


Rey mulai menjawab,


"Hahaha, tidak, Crys. Aku hanya teringat peristiwa yang aku ceritakan tadi. Setelah anak seangkatan kelas 9 tau rumor itu, setiap harinya kulihat Afi selalu diwawancarai oleh para siswi. Dan setiap itu juga, aku melihat pipi Afi selalu memerah. Lucu saja. "


Jelas Rey di samping tawa nya.


Dari perkataan yang Rey lontarkan barusan, membuat wajah Afi memerah. Jauh dari dalam hatinya masih saja dia rasakan adanya rasa ketidak nyamanan.


Tiba-tiba saja Afi angkat bicara,


"Aku hanya malu, tau! "


Rey tambah tertawa.


Afi kemudian menggandeng tangan Crysta.


"Ayo, Crysta! Kita ke teras kelas saja! "


Ucapnya dilanjut tubuhnya yang mulai berdiri, kemudian bergegas keluar kelas sembari menarik lengan Crysta.


"Lucu katanya? Ada-ada saja! "


Batin Afi dengan wajah masih memerah.


***


Peristiwa itu...


Benar-benar membuat Afi malu.


Peristiwa yang benar-benar ingin Afi lupakan sepanjang waktu dia hidup sejak dini sampai sekarang ini.


Hatinya bergejolak, mengganjal. Tidak nyaman rasanya. Afi selalu saja berusaha untuk menghapus peristiwa itu dari benaknya. Namun usahanya selalu saja nol. Benar-benar melekat rekat dalam benaknya. Sulit sekali terlepas.


Afi tidak pernah mempermalukan dirinya sendiri, namun peristiwa itu tetaplah terjadi. Kala itu, ketika jam istirahat sekolah dibangku kelas 9 SMP tempat Afi sekolah, Afi masih duduk dibangkunya. Melihat anak-anak berhamburan pergi meninggalkan kelas. Termasuk sahabat-sahabatnya. Sebelum meninggalkan kelas, salah satu sahabatnya menawarkannya untuk pergi ke kantin bersama.


"Afi, ke kantin yok! "


Afi menggeleng,


"Ngga, Crys. Kamu bareng Caira saja ke kantinnya. Aku sengaja ngga ke kantin karena lagi menghemat uang saku. Dan aku juga sudah membawa bekal."


Jelas Afi.


"Baiklah kalau begitu, kami duluan ya, Afi! "


Ucap sahabatnya yang lain.


"Iya, Caira. "


Tak berselang lama, Afi membuka bekal yang dia bawa dan memakannya. Nikmat sekali dia rasakan masakan ibu yang begitu dia cintai itu.


"Bekal dari kasih sayang seorang ibu itu beda banget ya rasanya, enak sekali! "


Batin Afi tersenyum sembari melahap satu suapan nasi beserta lauknya.


"Kamu kenapa ngga keluar bersama temanmu, Afi? "


Tanya sosok laki-laki yang suaranya sangat Afi kenali.


Afi sebenarnya tau, laki-laki itu juga jarang keluar kelas. Namun dia kira juga laki-laki itu bakal keluar kelas untuk menemui wanitanya di kelas samping. Yah, ntahlah, apa kemauan laki-laki itu, jelas Afi tidak memerdulikannya walau sesungguhnya dia merasa teriris melihat laki-laki itu bersama dengan wanitanya.


Afi menengok ke arah sumber suara yang memanggilnya sedetik, dan pada detiknya lagi dia fokus pada bekalnya dan memakannya sesuap.


"Ngga, aku-nyam, pengen makan bekal, nyam-nyam.. "


Ucap Afi sembari mengunyah.


"Hihi, kalau makan ya makan, kalau bicara ya bicara. Nanti kamu tersedak. "


Protes laki-laki itu.


"Hmmm... "


Jawab Afi dengan singkatnya.


Afi masih sibuk menikmati bekalnya, sementara laki-laki itu, mencari cara untuk mengganggu Afi. Suka sekali dia untuk mengganggu Afi. Ntah karena tidak ada kerjaan lain, atau ada 'hal yang lain'.


Laki-laki itu kemudian mengambil sepotong tangkai kayu kecil berukuran 40 an cm, dan dia arahkan ke wadah bekal Afi. Menggeser-gesernya. Afi sangat merasa terganggu. Dia yang seharusnya tenteram memakan bekal, ini malah dibuat sebal karena ulah usil laki-laki menyebalkan tersebut.


"Kamu kenapa sih, Rey? "


Tanya Afi sebal.


"Kenapa loh, Afi? Hehe~"


"Gak jelas banget kamu! "


Laki-laki bernama Rey itu masih mengganggu Afi dengan menggeser-geser wadah bekal Afi.


"Diem, Rey! Usil banget kamu! Aku mau menghabiskan bekal ku! "


Tata hanya tertawa cekikikan.


"Gatau lah! "


*Ketus Afi langsung menggeser bekalnya lebih jauh dari jangkauan ranting yang Rey gunakan untuk mengganggunya. Namun tetap saja, Rey selalu membuat Afi merasa terganggu. Dia memainkan ranting itu pada buku-buku tulis Afi diatas mejanya, hingga buku itu terjatuh. Afi tak kuasa lagi menahannya.


Dia kemudian menarik ranting itu dari tangan Rey. Namun Rey berhasil menahannya. Mereka berdua pun saling tarik-menarik rantingnya hingga tidak sengaja tangan Rey menyentuh tangan Afi*. Tak berselang lama, terdengar teriakan seorang gadis pada mereka.


"DASAR WANITA JALANGG!!! "


Teriak seorang gadis itu dari pintu kelas. Rey dan Afi begitu terkejut melihat gadis yang mereka kenal, terlebih lagi Rey.


Gadis itu memasang wajah marah, sangatlah geram melihat Afi dengan Rey berdua dikelas dan ternyata asik bercanda bersama seperti itu. Hatinya terasa panas diikuti oleh wajahnya yang merah padam seperti semua darah yang ada ditubuhnya telah mendidih.