NICE TO MEET YOU IN JANNAH

NICE TO MEET YOU IN JANNAH
EPISODE 11 FLASHBACK (What's This?)



Laki-laki yang berdiri agak jauh didepannya masih melangkahkan kakinya kedepan dengan langkah kecil. Seperti ada yang membisikkan padanya bahwa jatuh dari gedung lantai 3 adalah hal yang menyenangkan.


Dia sama sekali tidak memggubris peringatan keras dari Afi.


"KUMOHON! JANGAN MELANGKAH LAGI! JANGAN MATI! "


Ucap Afi dengan napas yang terengah-engah. Bulir keringat mulai keluar dari dahi dan pelipisnya. Pikiranya sekarang penuh dengan kepanikan.


Lagi. Laki-laki itu tetap tidak mendengarnya lagi.


"HIDUP! TETAPLAH HIDUP DEMI MI INSTAN YANG KAMU SUKAI! DEMI SEEKOR KUCING YANG KAMU PELIHARA! DEMI KOPI YANG TIAP PAGINYA KAMU TEGUK!"


"KUMOHON! TETAPLAH HIDUP! SESEPELE APAPUN ITU ALASANNYA!! "


Teriak Afi bertubi-tubi.


"HEY, NONA! BERHENTI! "


Teriakan salah seorang security tak jauh dari Afi berdiri membuatnya kalangkabut kebingungan. Terlebih laki-laki misterius gila itu terus melangkah kedepan.


"AH, SIAL! "


Umpat Afi yang kemudian cepat berlari menghampiri laki-laki tersebut.


Sampai dekat, dan tiba-tiba saja Afi tidak bisa mengendalikan kecepatan langkah kakinya supaya tidak menabrak laki-laki didepannya.


"Tidak! Jangan mati didepan mataku! Kumohon! Tetaplah hidup!"


Batin Afi berharap dia tidak akan menabrak laki-laki itu dan mendorongnya jatuh dari gedung lantai 3. Afi langsung memejamkan matanya. Hati kecilnya sangat berharap untuk tidak ingin melihat seseorang mati didepannya, bahkan karenanya.


Namun, tiba-tiba saja,


Grep!


Afi terkejut karena pikiran negatif yang menghantuinya ditengah rasa bingung tadi membuyar seketika. Dia mulai membuka matanya. Nampak laki-laki misterius gila itu memeluknya.


3 orang security telah sampai dibalkon dan menyaksikan kejadian disitu.


Afi dengan cepat melepas pelukan dari pria didepannya. Pipinya merah karena malu.


"Ap-apa-apaan ini?! "


Protes Afi melotot dan mendongak kearah wajah laki-laki itu yang tingginya sekitar 180 cm. Afi hanya bisa menangkap matanya yang tajam, karena laki-laki tersebut menutup wajahnya dengan masker berwarna hitam.


Napas Afi masih terengah-engah, dia langsung mengatur ritme napasnya supaya kembali normal.


"Kenapa kau ingin mati, hah?! "


Tanya Afi tegas. Dia mengerutkan dahi karena menahan cahaya matahari siang menjelang sore yang menyorot matanya.


"Aku tahu, hidup di dunia memanglah sulit, mengejar dunia pula gak akan ada habisnya, penuh derita seperti luka yang terus ditaburi garam tiada habisnya, "


"Mengejar dunia gak akan ada puasnya, wujudnya nyata namun semu. Semakin banyak dikejar, semakin banyak pula yang diinginkan. Tak pernah ada kepuasan dalam mengejar dunia. Kesibukan dalam mencari pundi-pundi harta membuat manusia lupa tujuan sebenarnya mereka hidup di dunia ini. "


Afi masih melanjutkan,


"Dunia sejatinya bukan tempat yang abadi. Semua orang sepakat bahwa pada akhirnya manusia akan mati. Tapi, meski begitu, janganlah mati! M-maksudnya, janganlah mati terlebih dulu! Tunggu sampai Allah sendiri yang mencabut nyawamu! "


Ceramah Afi hingga sedikit tergagap. Laki-laki itu diam sedetik, dan pada detiknya lagi dia terkekeh. Dan diapun angkat bicara,


"Apa yang kamu bicarakan ini, bocil? "


Kata-katanya membuat hati Afi sekejap terbakar,


"Dengarkan aku! Jangan berharap pada dunia! Dan jangan pernah berharap pada manusia! Itu semua membuatmu sakit! Berharaplah pada yang menciptakan keduanya! "


Afi menjawab ucapan laki-laki itu. Dia lalu meraih lengannya, menatap sendu wajahnya, dan lanjut berkata,


"Tetaplah hidup, kumohon! "


Pinta Afi dengan sangat dengan mata yang penuh harap.


Laki-laki itu terlihat keheranan dengan tingkah seorang gadis dihadapannya.


"SECURITY! "


Teriaknya memanggil security.


Salah seorang security menjawabnya,


"Iya, Pak! "


Afi terkejut dan membelalakan matanya. Laki-laki itu kemudian melepaskan tangan Afi dibarengi dengan dia berbicara,


"Bawa bocil ini. "


"Siap, Pak! "


Jawab security dengan sigap.


"Hah? Barusan ini apa?!"


Batin Afi bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


Laki-laki itu melirik Afi sekilas, lalu pergi meninggalkannya.


Afi diam terpaku disana. Matanya masih terbelalak, bibirnya terbuka sedikit, dan merasa begitu bingung dengan apa yang sesungguhnya terjadi.


Terdengar langkah salah seorang security menghampiri Afi, dan memegang lengannya.