NICE TO MEET YOU IN JANNAH

NICE TO MEET YOU IN JANNAH
EPISODE 9 FLASHBACK (Why Should Him?!)



Pukul 06.45


"Andaikata semua kehidupan ini menyakitkan, maka di luar sana pasti masih ada sepotong bagian yang menyenangkan


Kemudian kau akan membenak pasti ada sesuatu yang jauh lebih indah dari menatap rembulan di langit. Kau tidak tahu apa itu, karena ilmumu terbatas. Kau hanya yakin, bila tidak di kehidupan ini suatu saat nanti pasti akan ada yang lebih memesona dibanding menatap sepotong rembulan yang sedang bersinar indah."


Gadis berkulit sawo matang tapi manis tengah mengucapkan kata-kata yang dia baca lewat web hpnya. Ia duduk manis didepan teras kelas tempatnya ujian.


Tas ransel masih terpakai dipundaknya, dia sengaja untuk tidak langsung memasuki kelas dulu karena dia ingin menghirup udara pagi yang segar kala itu.


"Darwis? "


Tanya Caira yang ternyata sedari tadi duduk disampingnya.


"Iya, Caira. Aku suka banget baca kata-kata kias begini. "


Caira mengangguk pelan sambil melihat web yang temannya baca.


"Kamu gak ada keinginan membuat kata kias begini, Afi? Di web gitu, kan lumayan dapet penghasilan"


Apa yang Caira kata kan barusan memang sepenuhnya benar. Namun Afi masih belum ada niatan untuk melakukan itu.


"Kapan-kapan saja deh, Caira. "


Afi memencet tombol close dari hpnya.


Caira meliriknya sedikit sinis, Afi tahu, namun dia hanya diam dan menghela nafas.


"Aku mau fokus dengan sekolah ku dulu. "


Jelas Afi yang kemudian menampakkan selembar senyum tipisnya.


"Ya sudah, Afi. Itu hakmu, aku hanya memberikan masukan ke kamu saja. "


"AFIIII! "


Suara teriakan dari seorang gadis yang sangat mereka kenal menyela pembicaraan mereka.


Afi dan Caira langsung menengok ke arah sumber suara. Terlihat Crysta sedang berlari menghampiri mereka dari arah gerbang sekolah.


"Ya Allah, Crysta. Kok lari-lari gitu sih. "


Kritik Caira masih memandangi temannya sedang membungkukkan tubuhnya dengan tangan yang menyangga dilutut.


Crysta terengah-engah. Dia mengatur deru nafasnya.


Afi penasaran apa yang membuat Crysta sampai berlari begitu.


"Kenapa, Crys? "


"Huft..."


Crysta menghela nafas panjang sambil menegakkan tubuhnya menghadap kedua temannya.


"Kamu duduk sama siapa? "


Tanya Crysta pada Afi.


Afi mengerutkan dahi merasa heran.


"Kenapa nanya begitu? "


"Sudahlah, duduk dengan siapa kamu? "


Afi menggeleng,


"Gak tau. "


Sontak Crysta menggandeng tangan Afi dan mengajaknya memasuki ruang kelas. Afi kebingungan sebenarnya ada apa dengan tempat duduknya.


Crysta mencari-cari dimana kartu peserta ujian Afi yang dipasang dimeja, dari barisan meja pertama hingga ketiga dari depan. Afi masih bingung dibuatnya.


"Memangnya kenapa sih, Crys? "


"Ah! Ketemu! "


Mendengar ucapan Crysta, Afi langsung melihat meja yang ditunjuk Crysta tepat didepan mereka.


"Yah, ternyata kita agak jauh an duduknya, Afi. Aku gak bisa tanya kamu deh. "


"Yaudah gapapa, Crys. "


"Ngomong-ngomong kamu duduk dengan siapa ya? "


Langsung saja Crysta melihat meja disamping meja Afi. Dan tertera kartu peserta disana dengan nama 'Reyhan Yudhistira Prahtama'


Afi dam Crysta terkejut. Mata mereka terbelalak. Crysta memandang wajah Afi.


"Kamu duduk dengan ulzaang! "


Seru Crysta dengan suara yang agak keras.


Beberapa murid yang sudah hadir menengok ke arah mereka. Afi menarik lengan baju Crysta.


"Kenapa heboh begitu?! "


"M-maaf! "


Crysta menundukkan kepalanya kebawah merasa malu.


Afi menaruh ranselnya dibangku dan mulai duduk. Dia mengalihkan wajahnya kearah lain.


Laki-laki bernama Rey itu sampai dimejanya yang tepat disamping kanan meja Afi. Dia sempat melihat Afi sedetik, dan pada detiknya lagi dia menaruh ransel dan duduk.


"Apa-apaan ini, aku paling anti jika duduk dengan laki-laki. "


Batin Afi menahan ekspresinya.


Rey mengeluarkan papan ujian dan pensil dari ranselnya. Dia hanya diam.


Afi melihat murid-murid kelas dan nampaknya sebagian besar dari mereka menatap kearah Afi dan Rey.


"*Canggung banget, kenapa harus duduk dengan dia??! Rasanya ingin menghilang saja dari sini!"


"Ah, apa sih lebay banget kamu Afi*! "


Batin Afi melanjutkan. Afi kemudian mengeluarkan papan ujian, pen, pensil, peruncing, dan penghapusnya lengkap. Tidak peduli apa kata anak kelas.


Sedangkam Rey sibuk menghitamkan rangkaian bulatan lembar jawaban.


Sampai dia terhenti sejenak. Dia lalu menjawil seorang gadis depannya yang sepertinya sudah cukup dia kenal.


Gadis itu menengok kebelakang, kearah Rey tepatnya.


"Kenapa? "


"Pinjem penghapus. "


Jawab Rey.


Gadis itu lalu memberikan penghapus pada Rey dan Rey pakai.


Afi bingung, dimejanya sudah tersedia penghapus begitu jelas namun masih repot-repot meminjam dengan yang lain.


Afi membatin,


"Ini manusia tahu tidak sebenarnya ada penghapus didekatnya. Penghapus segede itu masa gak terlihat? "


"Ngomong-ngomong, kenapa aku peduli? Toh itu haknya mau pinjam ke siapa saja. "


Lagi-lagi Afi membatin,


"Apa aku ini memalukan ya? sampai-sampai dia tidak mau meminjam barang padaku yang lebih dekat. Duh! apa sih Afi! Di bilang juga itu haknya dia! "


Aneh, sangat aneh yang Afi rasakan. Walau begitu, Afi berusaha untuk menghiraukannya.


Waktu dipercepat sampai waktu istirahat. Afi ingin duduk di teras kelas, dia langsung keluar dari kelasnya. Tapi ternyata Rey sudah duduk disitu. Dia sedang asyik bercanda dengan teman-temannya.


Afi mengurungkan niatnya, dia lalu mengajak Caira dn Crysta pergi kekantin hingga waktu istirahat selesai.


Ketika ingin masuk kelas, Afi merasa Rey yang masih duduk di teras kelas sedang memandanginya, karena penasaran dia langsung melihat Rey untuk memastikan. Dan ternyata mata Afi dengan mata Rey saling bertatapan. Sontak Afi memalingkan pandangannya dan masuk ke kelas.


"Mungkin kebetulan saja. "


Batin Afi.


6 hari ujian telah dilalui. Hari-hari ujian yang sekaligus menguji mental Afi, hari-hari mata Afi dengan Rey sering bertemu tanpa disengaja, hari-hari dimana Afi mau duduk, selalu saja telah didului oleh Rey. Sebal sekali Afi rasakan.


"Apakah ini kebetulan?! Kebetulan yang hampir tiap hari?! "


Batin Afi penuh rasa sebal.


Hingga dihari ke 7 ujian, hari sabtu pada tepatnya, seperti biasa ujian berlangsung.


Lembar Soal telah diterima Afi. Dan dia tahu bahwa mata ujian kala itu adalah Penjas, pelajaran yang tidak pernah dia sukai.


"Ya Allah, walau aku tahu materi Penjas selalu diulang-ulang dari SD, tapi yang namanya tidak suka ya tetap tidak suka. "


Afi menggerutu pelan.


Rey mendengarnya dan terkekeh kecil. Membuat Afi sedikit terkejut jika gerutunya didengarkan oleh Rey.


Ujian berlangsung, ditengah ujian, Rey memain-mainkan jepitan kertas papan ujiannya. Hingga,


Tak!


Jari telunjuknya terjepit cukup keras. Rey merintih pelan. Afi terkekeh kecil, menutup mulutnya mencoba menahan tawa. Rey menengok ke arah Afi dan tersenyum hangat.


Afi tersadar bahwa dia telah terkekeh. Afi yang selalu tampil profesional dan jutek dengan laki-laki manapun, bisa-bisanya menunjukan tawanya pada laki-laki disampingnya.


"Aku ngga suka dikeadaan seperti ini, merepotkan, dan aku ngga suka yang merepotkan. "


Batin Afi.


Tring!


Bel pulang berbunyi. Semua murid Di kelas bergegas membereskan alat tulis mereka dan memasukkannya kedalam tas masing-masing.


Rey keluar kelas terlebih dulu, namun tak jauh pula dari Afi yang berada dibelakangnya.


"Rey, kamu cocok sama Afi! "


Ucap seorang laki-laki merangkul pundak Rey.


Rey hanya diam tak merespon apapun.


Afi menatap punggung Rey sejenak, kemudian dia berjalan sambil sedikit menundukkan kepalanya dengan wajah yang masih menaruh perasaan bingung.